
Alea mengubah posisinya, hingga gadis itu kini menatap lurus ke depan. Alih-alih melihat Vano yang asa di depannya. Pandangan Alea justru terpaku pada Orion yang tengah menatapnya tajam. Surprise...begitulah kira-kira arti tatapan Orion pada Alea. Bukannya takut, Alea justru menyeringai. Alea balik memberikan pandangan menantang pada sang tunangan. Tatapan keduanya kembali bertemu setelah Alea menenggak satu gelas wine yang Vano tuangkan padanya.
Orion tentu terkejut. Dia sendiri tidak bisa pergi sebab dia sedang mendengarkan ocehan Xia Lin soal rencananya yang ingin masuk Star Jewerly. Setelah peringatan keras dari Orion soal kejadian di malam pertunangan Orion, Xia Lin mengaku kalau dia bersalah. Xia Lin ingin minta maaf dan makan malam ini adalah tanda permintaan maaf Xia Lin pada Orion.
"Kau menyukai saladnya?" tanya Vano melihat Alea makan saladnya dengan ekspresi aneh. Satu buah strawberry Alea sengaja tunjukkan pada Orion. "Dasar gadis gila. Apa dia ingin mati!" Batin Orion sempat panik, namun kecemasan itu sirna setelah Alea meletakkan strawberrynya, Alea berujar kalau dia tidak suka strawberry pada Vano.
Orion mau menyimpan ponselnya, tapi urung. Detik berikutnya dia mengirim pesan pada Alea. "Pulang sekarang atau kuseret kau!" Ancam Orion dengan gigi menggeletuk menahan amarah, sebab Alea mengabaikan peringatannya. Xia Lin dan Vano menatap aneh pada Orion dan Alea, tanpa tahu dua orang itu sejak tadi berseteru dalam diam, tanpa suara.
Orion meraup wajahnya kasar saat tubuh Alea mulai limbung, terhitung ada 5 gelas wine yang Alea minum. Dan toleransi Alea pada minuman beralkohol sangatlah rendah.
"Sera kau mabuk, ayo aku antar pulang." Vano mencegah Alea yang ingin menuangkan wine lagi. Wajah gadis itu memerah, dengan sorot mata sayu. Jangan lupakan tubuh Alea yang sudah tidak bisa duduk dengan tegak. Di dalam ruangan, Orion benar-benar tidak bisa menahan diri, apalagi setelah Vano tampak mendekati Alea yang bersandar di sofa, dengan mata setengah terpejam.
"Sera, apa kau tahu kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu." Vano mengungkapkan perasaannya. Di sisi lain, Alea terdengar tertawa cekikikan dengan bibir sesekali mengumpat Orion. "Orion brengsek! Tukang bohong! Rubah jantan sialan!" gumam Alea tidak jelas.
Vano yang tidak paham hanya tersenyum melihat tingkah lucu Alea, menggemaskan sekali saat mabuk. Pria itu menatap penuh minat pada bibir Alea yang terlihat kemerahan. Sangat menggoda. Pria itu perlahan memajukan wajahnya. Ingin mengecap rasa manis dari bibir Alea. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi "braaakkk" dan satu tarikan Vano rasakan pada kerah jasnya.
"Kupatahkan tanganmu jika berani menyentuhnya!" Kata Orion penuh amarah. Vano jelas terkejut dengan kemunculan Orion, pun dengan Xia Lin yang seketika menutup mulut melihat tangan Orion yang terkepal ingin menghajar Vano.
"Hentikan Orion!" Teriakan Xia Lin membuat Orion urung memukul Vano, pria itu menghempaskan tubuh Vano ke sofa. Orion lantas menggendong tubuh Alea yang sudah tak sadarkan diri, keluar dari sana.
"Jangan pernah mendekati Sera lagi!"
Tangan Vano mengepal saat pintu menutup kembali, dan Orion menghilang di baliknya bersama Alea. "Brengsek!!!" Maki Vano tanpa basa basi.
"Sudahlah, lupakan dia. Besok kita pikirkan cara untuk mengacaukan hubungan mereka." Hibur Xia Lin. Vano menatap ke arah Xia Lin yang malam itu sengaja berdandan seksi untuk menarik perhatian Orion yang nyatanya tidak berpengaruh sama sekali pada tunangan Alea itu.
Tanpa kata pria itu mendorong jatuh tubuh Xia Lin ke sofa, lalu menciumnya brutal. Xia Lin tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, gadis itu menyambut serangan Vano tak kalah liar. Keduanya berciuman dengan panas, bergumul di atas sofa.
__ADS_1
Aksi bertukar saliva itu bertambah brutal saat lidah keduanya saling bertaut. Menyesap kenikmatan satu sama lain. Dalam ruangan itu dua insan yang dilanda kesal meluahkannya dengan adu bibir.
*
*
"Bisa diam tidak?!" Orion bertanya kesal pada Alea yang sejak tadi menggoyangkan kakinya. Tubuh Orion jadi tidak seimbang dengan kelakuan gadis itu.
"Orion brengsek! Tukang bohong!" Maki Alea setengah sadar. Orion sendiri tengah membawa Alea pulang ke apartemennya yang hanya berjarak sepuluh menit dari tempat makan tadi. Suara pintu yang dibuka membuat Alea membuka matanya sedikit. Saat itu aroma parfum Orion masuk ke hidung Alea.
"Kenapa aromamu jadi seperti dia sih." Protes Alea pada Orion yang dia pikir Vano.
"Aku bukan Vano, aku Orion." Orion berucap sambil membuka pintu kamarnya. Sampailah mereka di kamar dengan nuansa hitam yang mendominasi.
Abaikan langitnya yang terang ya geess, anggap saja malam 🤭🤭🤭
"Mana mungkin tukang tipu itu ada di sini. Dia sedang makan malam dengan rubah betina menyebalkan itu." Balas Alea sengit. Gadis itu langsung meringkuk begitu merasakan empuknya kasur Orion. Sementara Orion hanya diam mendengar ocehan Alea. Hingga lambat laun pria itu menyadari ucapan Alea seperti orang yang tengah cemburu.
"Apa kau cemburu padaku?" tanya Orion yang sudah naik ke atas kasur. Posisi pria itu ada di atas tubuh Alea yang miring.
"Cemburu? Aku cemburu pada rubah betina itu? Ciiiihh tidak level! Aku hanya heran. Kenapa Orion tertarik pada rubah itu?"
"Dia seksi lo." Pancing Orion setengah tertawa.
"Seksi apanya? Body kerempeng kek papan gilasan cucian begitu. Seksi tu Nika." Lah kok racauan Alea malah merembet ke mana-mana sih.
__ADS_1
"Ooohhh.... kalau sama Nika bolehlah."
"Gak boleh, Nika sudah sama Axa. Jangan ganggu mereka.Awas ya!"
"Lalu aku harus ganggu siapa dong?" tantang Orion. Tidak ada jawaban. Alea mulai tidur. Tapi Orion yang tidak puas membalik tubuh Alea. Hingga posisi gadis itu tepat berada di bawah tubuh Orion.
"Al...Alea....bangun dulu. Jawab aku, jika kau tidak bangun. Aku akan mengganggu hubungan Axa dan Nika. Bagaimana?" Berhasil! Alea seketika membuka mata, mendengar pancingan Orion. Tanpa di duga, Alea menarik kerah kemeja Orion hingga wajah keduanya tidak berjarak, hanya hidung mereka saling bersentuhan yang jadi penghalang.
"Aku akan menghajarmu jika kau berani mendekati Axa dan Nika." Orion tersenyum mendengar jawaban Alea. Orion menekuk dua lengannya hingga tubuh pria itu menghimpit tubuh Alea. Jari Orion terulur merapikan rambut Alea yang menutupi wajah gadis mabuk itu.
"Aku jadi penasaran bagaimana kau akan menghajarku, hmmm...aku ingin tahu apa yang Alea lakukan saat dia sedang cemburu." Mata Orion menatap sendu pada Alea. Keduanya bertatapan untuk beberapa waktu hingga Alea semakin menarik kerah Orion, sampai bibir keduanya bertemu.
"Jangan mendekati Axa dan Nika!" ancam Alea dengan bibir gadis itu menempel pada bibir Orion.
"Jadilah milikku dan aku tidak akan mendekati Axa dan Nika atau siapapun di luar sana. Aku hanya akan jadi milikmu seorang."
Tanpa ragu Orion mulai mencium bibir Alea. Dia yang sudah menahan diri selama ini, sepertinya tidak lagi bisa melakukannya. Terlebih Alea yang mabuk juga kehilangan kendali. Gadis itu membalas tiap ciuman dan menyambut tiap pagutan yang Orion berikan padanya. Keduanya terlibat pergumulan panas di ranjang besar Orion. Satu hal yang mungkin akan membuat Alea menyesal keesokan harinya. Satu kesalahan sudah Alea lakukan, dan Orion yang telah menyalahi aturan dalam perjanjian kerjasama mereka.
"Tidak boleh ada perasaan dalam kontrak ini."
Nyatanya Orion sudah menjatuhkan hatinya pada Alea. Gadis pengganti untuk Sera.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
*****