
Dua orang spesialis kejiwaan langsung didatangkan oleh Made Irawan ke villa yang ditempati Axa dan An. Hanya dokter itu yang dipercaya oleh Orion. "Tidak bisa, Rion. Kita tidak bisa membawanya pulang sekarang. Keadaan mereka...." An tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Melihat ke arah Meida yang sejak tadi menjerit histeris, dan Mario yang hanya diam dengan tatapan kosong, serta bibir menyebut nama Felix dan Sera tiada henti.
Di ujung sana, Orion mengepalkan tangannya. Pria itu merasa sangat bersalah, apa yang sudah orang tuanya lakukan sangat keterlaluan. Pada akhirnya Orion hanya bisa menangis tanpa suara, saat jeritan Meida tanpa An sadar terdengar oleh Orion.
"Kalau begitu rawat mereka dulu. Konsultasikan dengan dokter itu. Bagaimana baiknya. Kita ikuti arahan mereka."
Orion menutup panggilannya. Pria itu lantas menundukkan wajah, menyembunyikannya dalam dua telapak tangan besarnya. Orion menangis sejadi-jadinya. 8 tahun ayah dan ibunya membuat ayah juga ibu Felix hampir gila. Mereka dikurung, diberi obat yang membuat keduanya berhalusinasi.
Orion merasa bersalah, sangat bersalah. Bahkan saat dia menyelamatkan Felix, itu pun rasanya tidak cukup untuk menebus kesalahan orang tuanya. Apa dia harus membantu Felix seumur hidup untuk mengganti penderitaan yang sudah orang tuanya sebabkan? Orion bertanya pilu dalam hati.
Tidak ada yang tahu bagaimana terpuruknya Orion saat ini. Pria itu merasa tidak berguna, merasa bersalah sekaligus tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Di sisi Axa dan An. Dua pria itu menarik nafasnya lega melihat Mario dan Meida tertidur pulas dalam pengaruh obat tidur. "Kita harus memindahkannya ke rumah sakit. Mereka harus mendapat perawatan khusus." Seorang dokter bicara pada An.
"Apa bisa disembuhkan?" Axa menyambar untuk bertanya.
"Seharusnya bisa. Tapi kita perlu merealisasikan apa yang selama ini jadi halusinasi mereka." Dokter itu menjawab. Axa dan An saling pandang. Menjadikan nyata apa yang mereka bayangkan. Itu artinya Felix dan Sera harus hadir di sini.
"Ngomong-ngomong yang mereka panggil itu siapa? Anaknya?"
"Iya dok, masalahnya yang bernama Sera itu sudah meninggal. Baik kami ikut arahan dokter, kita akan pindahkan mereka ke rumah sakit dokter Made." Dua dokter itu mengangguk paham. Malam itu juga, dua mobil langsung berangkat menuju rumah sakit dokter Made. Dua jam perjalanan dari ibukota, satu jam dari tempat Axa dan An sekarang. Tapi hanya di tempat dokter Madelah, Orion percaya dan hanya di sanalah Orion bisa menempatkan penjaga untuk menjaga Mario dan Meida.
Selesai dipindahkan, Axa dan An langsung mengatur penjagaan ketat di sana. Ruangan VVIP, di sayap kanan rumah sakit, diubah menjadi kamar khusus untuk Mario dan Meida. Dokter Made sendiri yang turun tangan langsung untuk mempersiapkan semua.
"Terima kasih, Dok. Kami tidak tahu harus berterimakasih dengan cara bagaimana?" An berucap penuh haru.
__ADS_1
"Sudah semestinya aku membantu. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas budi Orion dan Felix." Made membalas tak kalah haru. Ada kisah tersendiri antara mereka bertiga hingga mereka menjadi begitu akrab, bersahabat bahkan seperti saudara.
Ketiganya melihat ke arah Mario dan Meida yang tidur di bed pasien, sengaja dijadikan satu ruangan, keduanya suami istri, mereka punya bounding khusus, dan itu akan digunakan oleh dokter kejiwaan untuk mencoba mengurangi efek halusinasi pada keduanya.
"Pulanglah. Aku akan mengatur semuanya. Berikan saja aku foto orang yang harus aku waspadai." Pinta Made pada Axa dan An.
"Orangnya sama dengan rupa mereka, Dok. Mereka melakukan operasi plastik untuk mengecoh yang lain. Lalu memasukkan yang asli ke RSJ, gila gak tu." An berujar gemas. Ingin rasanya meremat wajah palsu Abraham dan Belia. Tidak peduli bahkan jika mereka orang tua Orion.
"Keterlaluan." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir dokter Made.
"Lebih parahnya lagi, mereka yang merencanakan kecelakaan Sera dan membuatnya meninggal. Untungnya ada Alea waktu itu. Jika tidak, kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan." Geram An.
"Kalau begitu kalian tidak boleh lengah soal Alea. Meski dia kembali ke kehidupannya, bahaya masih bisa mengancamnya." Made memperingatkan.
"Orion berencana memulangkannya ke Milan. Alea akan tinggal di rumah Orion untuk beberapa waktu sampai kami bisa menuntaskan masalah ini. Tapi melihat keadaan mereka. Mungkin kita perlu sedikit waktu untuk membuat mereka... setidaknya mengenali satu sama lain." Axa memberi pertimbangan.
Setengah mengantuk, keduanya bergantian mengemudi. Awalnya semua berjalan lancar, sampai di satu tikungan. Setengah jam sebelum sampai ke ibu kota, Axa yang kebagian menyetir merasa ada yang aneh dengan mobil mereka.
"Kenapa?" tanya An yang melihat kepanikan Axa.
"Sorry, aku pikir pinggangmu akan bertambah parah sakit."
"Axa sialan!" maki An tanpa basa basi saat mobil itu meluncur cepat tanpa hambatan di turunan yang lumayan dalam, karena rem blong.
"Patah pinggang atau mati. Pilihlah." Axa dengan santai membuka pintu mobil dan melempar diri ke aspal jalanan. Pria itu seketika meringis merasa perih dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Axa!! Kau benar-benar minta dihajar ya." Tak jauh beda, meski harus mengumpat dulu, tapi An melakukan hal yang sama dengan Axa. Dua pria itu berguling-guling di jalan raya. Mereka mengumpat bersamaan, sebelum akhirnya tertawa bersama, sampai akhirnya keduanya berteriak bersamaan, "Boooommmm." Saat mobil itu menabrak pembatas jalan lalu meledak.
__ADS_1
Dua orang itu masih bisa tertawa seperti orang gila di tengah jalanan, dengan latar belakang mobil terbakar. Asap membumbung tinggi, hitam serta meninggalkan bau bahan bakar yang menyengat.
"Siapapun mereka, aku bersumpah akan kukuliti mereka hidup-hidup." Maki Axa.
"Ya...ya....lakukan itu nanti, sekarang urusi dulu pinggangku. Aaaargghhh, ampun deh. Dua kali kepentok cor semen sama aspal. Kagak jadi ganas gue nanti di ranjang." Oceh An tidak karuan.
Dugghhhh
"Semprul! Apaan sih? Sakit tahu!" Protes An saat Axa justru menendang pinggangnya.
"Biar kagak bisa anu sekalian!" Otak Axa mulai konslet.
Dua pria itu terkapar di tengah jalan raya, nafas keduanya terengah-engah. Tidak ada yang bicara untuk beberapa waktu, keduanya malah sibuk menatap langit malam bertabur bintang.
"Ternyata kata Alea benar ya. Langit malam sangat cantik." Axa mengangguk, mengiyakan ucapan An.
"Sudahlah, ayo hubungi mereka. Bilang kita mengalami kecelakaan saat pulang dari sidak. Bisa buat menutupi kecurigaan tukang kepo itu."
Axa meraih ponselnya, lantas melaporkan kecelakaan yang mereka alami. "Bolehlah untuk tidur satu atau dua jam." Dua pria itu lantas memejamkan mata, benar-benar tidur.
****
Hore author kesurupan, crazy up buat Orion 🤣🫢
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Tara tengkyu.
****
__ADS_1