Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Rubah Betina


__ADS_3

Alea merasakan tubuhnya melayang untuk sesaat. Gadis itu menduga kalau dirinya akan segera jatuh berguling di tangga. Namun yang terjadi selanjutnya, Alea merasakan ada tangan yang menahan pinggangnya, dengan satu tubuh menopang dirinya. Alea selamat. Saat gadis itu mendongak dilihatnya wajah Orion yang terlihat....cemas.


Wow, pria itu rupanya bisa menampilkan raut wajah cemas, selain wajah dingin bin jutek, menyebalkan tapi tampan.


"Kau tidak apa-apa?" Suara Orion terdengar kaku untuk ekspresi orang yang sedang khawatir. Untuk sejenak Alea ngeblank. Sampai teriakan si manager keuangan membuat Alea kaget.


"Ampun! Ampun! Datanya ada di flash disk di kantong celanaku."


Alea dengan cepat berdiri sendiri, membiarkan Orion mendekati pria yang sudah dipiting oleh Axa. Orion mencari di saku celana pria itu, menemukan sebuah benda kecil di sana. Orion mengambil foto benda itu. Mengirimkannya pada Xuan untuk diperiksa.


Orion berbalik, kembali mendekat ke arah pria itu. Dan "bughhhh" satu pukulan Orion layangkan pada pria itu. Alea bahkan sampai menutup mulutnya. Tidak percaya kalau Orion bisa memukul orang.


"Sekali lagi kau muncul di hadapan kami. Habis kau!"


Pria itu membulatkan mata, terkejut karena Orion tidak membunuhnya. "Bunuh saja aku! Sama saja kau melepaskanku. Mereka tetap akan memburuku!" teriak pria itu frustrasi.


"Kalau begitu, katakan saja pada kami siapa mereka?!" Kali ini Alea kembali dibuat tidak percaya, mendengar suara Axa yang begitu dingin dan sarat akan ancaman.


Glek! Pria itu menelan ludahnya. Gara-gara lidahnya sendiri, sekarang dia seperti menelan buah simalakama. Dijawab bencana, tidak dijawab sama saja, tornado yang bakal datang melanda. Haisshhh, pria itu bingung setengah mati dibuatnya.


Aarrgghhhhh, pria itu mengerang saat Axa mengusakkan sepatunya di punggung pria yang sudah terbaring tengkurap di lantai. "Katakan saja, maka kau akan selamat, aku akan mengirimmu ke tempat di mana mereka tidak bisa menemukanmu." Pria itu mengangkat wajahnya, memandang wajah Orion yang sudah berjongkok di hadapannya.


"Aset, itu adalah data fiktif."


Orion menggeram marah, lantas tanpa ampun menendang tubuh pria itu sampai menghantam dinding di seberang sana. Satu laporan dari Xuan membuat Orion naik darah. Di seberang sana, si pria meringis kesakitan dengan Axa terus mengawasi. "Katakan di mana datanya atau aku akan melemparmu dari sini!"


Ancam Orion, mendorong tubuh si manager keuangan ke arah pagar pembatas. Alea berusaha mencegah namun Axa menahan Alea agar tidak ikut campur urusan Orion. Axa hafal betul kalau Orion sedang marah, pria itu tidak bisa diganggu, bisa fatal akibatnya.


"Tapi nanti dia bisa mati," Alea berkata panik.


"Lihat saja dulu."


Orion mendorong tubuh pria itu, tangan Orion memegang satu tangan orang tersebut. Si manager keuangan berteriak ketakutan, sesekali melirik ke bawah, di mana kendaraan berlalu lalang tanpa henti.


"Jangan lepaskan, aku mohon! Jangan lepaskan! Aaaarrgghhh!" pria itu berteriak keras saat Orion melepaskan pegangannya lantas menariknya kembali. Wajah pria itu langsung pias.


"Katakan! Aku tidak punya kesabaran lebih untuk menghadapi tikus seperti kalian. Bekerjasama denganku atau kulempar kau ke bawah sana!" teriak Orion.

__ADS_1


Alea memundurkan langkah, melihat tidak berperasaannya Orion. "Gila! Orang ini sama sekali tidak punya rasa kasihan." Alea memegang lehernya, teringat bagaimana kuatnya cekikan pria itu di lehernya beberapa waktu lalu. Bekasnya sampai memerah, bahkan Alea harus menggunakan foundation untuk menghilangkan jejak kemerahan di lehernya. Atau semua orang akan menganggapnya sebagai kissmark. Padahal dirinya belum pernah bersentuhan dengan pria manapun dalam 22 tahun kehidupannya.


"Katakakan, brengsek!" teriakan Orion kembali terdengar. Kali ini pria itu sudah sepenuhnya bergelantungan di udara, dengan Orion hanya memegang tangannya.


"Tolong jangan lepaskan aku! Anak istriku menunggu di rumah!" mohon pria itu ketakutan.


"Oooo, kau punya anak istri rupanya. Ax, hubungi anak buahmu, suruh mereka mengambil mereka. Aku dengar kau punya anak gadis 20 tahun. Pasti laku jika dijual ke rumah bordir."


"Jangan! Aku mohon jangan sentuh mereka! Akan kuberitahu, akan kuberitahu!" teriak pria itu panik luar biasa. Antara ajal dan keluarga tentu pria itu memilih keluarganya.


Tak berapa lama satu kalimat yang diyakini sebagai password terucap dari bibir pria itu. "Kau dengar itu Xuan."


Terdengar kekehan dari ujung sana. Dalam sekejap, Orion melepas pegangannya pada manager keuangan itu. Menarik ear piece-nya, lantas menginjaknya dengan kasar.


Alea kembali dibuat tak percaya dengan sisi lain dari Orion, meski sejak awal Orion sudah menampilkan dirinya yang kejam dan tidak berbelas kasih. Namun melihat dengan mata kepala sendiri, membuat tubuh Alea merinding. Gadis itu penasaran dengan nasib si pria tadi. Alea baru saja akan melihat, tapi Axa sudah lebih dulu menarik tangannya. Mengajaknya pergi dari sana. Karena Orion sudah lebih dulu pergi.


"Xa, dia bagaimana?"


"Apa lagi...matilah."


Tidak ada jawaban, yang ada hanya Axa yang kembali menarik tubuh Alea, menuruni tangga. Masuk ke mobil dengan Orion yang sudah menunggu di sana. Beuhhh, wajah Orion seperti ingin menelan orang bulat-bulat. Seereeemm, bre.



Kredit Pinterest.com


Mobil tersebut melaju meninggalkan tempat itu, kembali ke kantor. Alea menelisik tempat di mana pria itu Alea perkirakan jatuh. Namun tidak ada apapun di sana. Bersih, noda darah juga tak terlihat.


"Ini aneh." Gumam Alea lirih. Suara lirih Alea membuat Orion menoleh, menatap ke arah Alea yang mengerutkan dahi. Tengah berpikir keras, apa yang sudah terjadi pada pria itu.


"Apa yang kau pikirkan?" suara Orion terdengar dingin seperti biasa.


"Errr, orang tadi mati ya?" Alea bertanya ragu.


Orion mengalihkan pandangannya dari Alea. Diam, tanpa menjawab. Melihat hal itu, Alea langsung manyun. "Tadi nanya, giliran direspon dia diam saja. Membingungkan juga menyebalkan," lirih Alea.


"Dia tidak mati, tenang saja."

__ADS_1


Alea menoleh ke arah Orion. Dilihatnya pria itu tengah melihatnya tajam.


"Lalu....."


"Bisa tidak kau sedikit mengontrol rasa kepomu itu. Kadang-kadang, terlalu penasaran itu juga tidak baik. Bisa jadi itu akan mencelakakanmu," bisik Orion di telinga Alea.


Tubuh Alea kembali dibuat merinding disko karena ulah Orion. Haisshh, pria ini pandai sekali memanfaatkan keadaan. Dua orang itu saling pandang untuk sesaat. Sampai dering ponsel Orion membuyarkan suasana itu.


Orion menerima panggilan, yang sepertinya dari An. Sejenak Orion melihat ke arah Alea.


"Jauhkan dia." Satu perintah Orion berikan dengan An langsung menjawab iya.


"Hubungi pelayan rumah Athaya, suruh mereka mengirim pakaian untuk Alea. Kita akan bekerja lembur sampai masalah ini selesai. Tidak akan pulang sebelum kau bisa menyingkirkan mereka."


Axa mengangguk paham. Meski Alea kembali mengerutkan dahinya. Tidak pulang? Lembur. Alahai, ini lebih parah dari disuruh revisi makalah sepuluh kali. Alea menggerutu dalam hati.


"Oh iya, Xia Lin sudah menunggu di lobbi sejak sepuluh menit lalu." Axa memberi info.


"Siapa Xia Lin? Tidak ada dalam data, nama Xia Lin."


Orion mendengus kesal. Mengambil laptop dari ruang penyimpanan di depannya. Menguliknya sebentar, lantas memberikannya pada Alea.


"Pelajari dan hindari dia kalau bisa." Alea mengerutkan dahinya, mendengar perintah aneh Orion.


"Dia adalah...."


"Saingan Star Jewelry. Ahhh, salah. Perusahaan kakaknya yang suka berkompentisi dengan SJ. Xia Lin, pemilik studio pemotretan sebenarnya. Tapi berhati-hatilah saat dekat dengannya. Dia seperti rubah betina yang pandai mencari muka dan bermain kata."


Orion memperingatkan Alea soal Xia Lin.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2