
Kredit Pinterest.com
Di bawah langit malam bertabur bintang, tampak dua orang yang tidur saling berpelukan. Sebenarnya tidak sengaja, tahu sendiri Alea kalau tidur tidak bisa diam. Awalnya keduanya sibuk berdebat. Sebab Orion yang suka menggoda Alea menolak tidur di lantai. Pria itu kekeuh ingin tidur di kasur single yang mungkin untuk Orion cuma muat separuh badannya.
Hingga Alea yang kesal memilih tidur di balkon belakang. Merebahkan diri di sofa, siapa sangka jika Orion menyusulnya. "Ayolah, Al. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Terlalu terbuka di sini."
Ucapan Orion tidak mendapat bantahan dari Alea, sebab hari ini dia sangat lemas. Berapa kali dia muntah. Untung saja saat Orion datang, dia tidak sedang muntah-muntah.
"Al...."
"Emmm..."
"Pulang ya. Kalau tidak mau pulang ke rumah Athaya, pulang ke apartemen ya."
"Aku mau kuliah. Tanggung." Alea mulai memejamkan mata. Rasanya nyaman sekali bisa tidur. Meski tempatnya sempit. Tubuh tinggi besar Orion sungguh memakan tempat.
"Kan bisa berangkat dari apartemen. Atau aku carikan kamar yang lebih besar. Kostmu yang sekarang kecil sekali. Kata Axa untuk bernafas saja rasanya sesak. Ya..Alea...Al..."
Orion menoleh, senyum di bibir pria itu terlihat samar. Perlahan Orion meletakkan lengannya di bawah kepala Alea. Menjadikannya bantal untuk Alea. Wanita itu tampak damai dalam tidurnya.
"Jangan pergi dariku, Al. Melihatmu membuatku tenang." Bisik Orion lantas mencium kening Alea penuh cinta. Bagi Orion tidak masalah jika Alea selalu sewot saat melihatnya. Asalkan wanita itu tidak menjauhinya. Itu cukup bagi Orion. Dia percaya Alea hanya belum tahu cara mengungkapkan perasaan hatinya.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Alea terlalu gengsi untuk menerima cinta Orion. Ditambah dia sendiri masih ragu dengan perasaannya pada Orion.
Pagi menjelang, Orion mengerjapkan mata. Mentari sudah terbit di ufuk timur. Pria itu menoleh dan mendapati Alea tidak ada dalam dekapannya. Padahal semalam Alea tidur sambil memeluk dirinya. Sepanjang malam tanpa mengubah posisi. Nggak pegel sama semutan Al 🤭🤭
__ADS_1
"Al...Alea....." Orion masuk ke dalam villa, sambil mengucek mata. Nyawanya belum berkumpul semua. Pria itu mencari ke sana ke sini, sampai menemukan secangkir kopi di atas meja makan. "Dah cosplay jadi istri dia." Kekeh Orion sambil meminum kopinya. Pria itu manggut-manggut. Kopi buatan Alea sesuai seleranya.
Pria itu membuka pintu kamar mandi, tidak ada orang. Sampai insting membuat Orion mencari koper Alea.
"Oh shiitt!!! Dia kabur lagi!" Orion masuk ke kamar mandi,, mencuci wajahnya. Lalu keluar dari sana. Pria itu langsung menghubungi Xuan dan Axa. Dua pria di seberang langsung menepuk dahi bersamaan. Berpikir kalau Alea senang sekali main petak umpet.
Orion melajukan mobilnya meninggalkan villa penginapan itu. Setelah bertanya pada resepsionis. Petugas resepsionis tentu bingung bagaimana Orion bisa masuk. Heran, petugas itu hanya bisa menggelengkan kepala. Namun begitu, Orion tidak melakukan proses check out.
Saat mobil Orion menuruni bukit. Alea sudah duduk manis di dalam bus. Setelah meminta taksi yang mengantarnya menurunkannya di halte bus terdekat. Tempat selanjutnya yang ingin Alea kunjungi adalah pantai. Dia tidak berencana menginap, karena malam ini dia akan pulang ke kontrakannya. Dan kemungkinan akan menemui Nika.
Bagaimanapun Orion sudah mengatur skenario kalau Alea tengah magang ke Milan. Jadi dia tinggal bilang magangnya selesai. Nika yang dua tahun lebih tua dari Alea sudah lulus kuliah. Sesuai kemampuan dan kompetensinya Nika bisa magang di Star Jewelry.
Alea menarik nafasnya dalam. Busnya sampai di pantai paling dekat. Wanita itu memesan satu kamar di salah satu penginapan di tepi pantai. Sekedar untuk merehatkan tubuh juga meletakkan koper. Sayang, alat lukisnya tidak bisa dia bawa. Peralatan lukis milik Alea tengah dikirim ke alamat kamar kostnya.
Tinggg
"Pantai?" Orion menyeringai, lihat saja setelah ini akan Orion ikat kaki dan tangan Alea agar tidak kabur lagi. Setidaknya membuat wanita itu berhenti melarikan diri.
Kali ini satu jam perjalanan diperlukan Orion untuk sampai di tempat Alea. Mengabaikan rasa perih akibat lapar di perutnya, Orion memacu kendaraannya ke pantai yang berada di sebelah utara kota itu. Orion merutuki kebodohannya sendiri, kenapa semalam dia tidak mengaktifkan GPS Alea. Itu akan memudahkan mereka mencari Alea.
Saat Orion dipusingkan oleh urusan Alea. Dua sepupu yang baru saja melakukan rekonsilisasi, tampak sedang berdiskusi serius. Mereka bertemu di ruang kerja Felix. Felix sempat protes kenapa juga harus bertemu di tempatnya. Nanti Mario KW curiga. Namun Darrel justru beranggapan sebaliknya.
"Biarkan saja dia tahu aku berkunjung ke tempatmu. Nanti aku tinggal ngomong kalau aku memata-mataimu. Gampang kan. Dia pasti percaya."
Felix memicingkan mata. "Kau tidak berencana membelot padaku kan?"
"Astaga. Baru kemarin kita baikan. Sekarang kau sudah menuduhku selingkuh. Lebih parah dari orang pacaran." Elak Darrel.
__ADS_1
"Sama-sama jomblo dilarang gelud woi."
"Kau yang jomblo. Aku mah tidak."
Felix berdecih mengejek. Dia tahu kalau Darrel hanya punya wanita penghibur sebagai teman. "Cari satu yang benar lalu menikah. Itu lebih baik." Felix memberi saran. Darrel melengos mendengar ucapan Felix.
"Katakan itu untuk dirimu sendiri." Balas Darrel lirih. Meski begitu, kata-kata Darrel langsung membuat Felix bungkam. Dia teringat seorang wanita yang sudah merawatnya hampir lima tahun. Wanita yang punya tempat khusus di hatinya.
Felix mengalami benturan di kepala dan mengalami cedera pada tulang belakang saat jatuh ke air terjun. Hal itu membuat saraf kakinya jadi lemah. Hampir divonis lumpuh.
Valdy yang menemaninya saat itu sangat bingung. Dia membawa Felix ke rumah sakit terdekat dari tempat mereka jatuh. Valdy sempat pulang ke rumahnya. Ingin meminta bantuan, saat itulah dia mendengar ucapan sang ayah yang mengatakan kalau dia sudah berhasil menyingkirkan Felix.
Karena itu Valdy jadi takut pada sang ayah, sekaligus merasa bersalah hingga dia bertekad untuk menyembuhkan Felix untuk menebus kesalahan Abraham. Satu hal juga membuat Valdy ragu membawa Felix pulang yakni saat media mengumumkan kematian Felix juga dirinya. Valdy remaja sangat bingung saat itu. Ditambah Felix mengalami depresi akibat dirinya yang tidak bisa berjalan. Hal itu yang menghambat proses penyembuhan Felix. Apalagi depresi Felix langsung masuk level akut.
Selain merawat Felix, Valdy juga harus mencari uang untuk membiayai pengobatan Felix. Seharusnya Valdy membawa Felix kembali ke rumah Athaya. Namun Valdy tidak melakukannya. Dia takut disalahkan, dia juga takut kalau Abraham akan kembali melukai Felix jika tahu Felix masih hidup. Padahal dia bisa meminta bantuan polisi saat itu, tapi Valdy tidak sampai memikirkan hal tersebut.
Saat itu Valdy berada dalam dilema. Hingga akhirnya remaja itu memutuskan menanggung semua sendiri. Bekerja serabutan apa saja selama beberapa bulan, Valdy akhirnya bertemu seorang pria berkebangsaan Italia yang tengah berada di kota itu. Melihat keuletan Valdy pria itu jadi tertarik untuk mempekerjakan Valdy. Dari situlah awal mula Valdy mengubah identitasnya menjadi Orion yang berarti sang pemburu, lalu mulai belajar menjadi hacker. Satu pekerjaan yang bisa dia lakukan sambil menjaga Felix.
***
Orion dan Felix, bestie sejak dulu 🤭🤭
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya. Terima kasih.
***
__ADS_1