Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Kita Sama


__ADS_3

Tangan Orion bergetar, membaca data yang baru saja Xuan berikan. Raut wajah pria itu juga berubah drastis. Tidak percaya, marah juga sedih. Semua rasa itu menjadi satu. Mata Orion bahkan berubah merah, pria itu ingin menangis menahan amarah dan pilu di hati.


"Kau yakin? Semua ini valid?" tanya Orion dengan suara bergetar. Orion langsung berbalik, menghindari tatapan penuh tanya dari Xuan atas perubahan ekspresi wajah Orion setelah dirinya mengangguk, mengiyakan pertanyaan sang atasan.


"Kenapa kalian melakukan itu? Kenapa?!" Orion benar-benar tidak habis pikir kenapa orang itu bisa melakukan hal sekeji itu.


"Lalu bagaimana dengan yang asli?"


Xuan menundukkan kepala. Orion memejamkan mata. "Apa ada kemungkinan mereka membunuhnya lebih dulu, lalu mereka menggantikan tempatnya."


"Kemungkinan itu yang paling besar." Tubuh Orion melemas. Pria itu tidak tahu harus bagaimana lagi. "Pantas saja mereka tidak pernah menunjukkan rasa sayang pada Sera. Sebab mereka hanyalah seorang penyusup. Orang lain yang menyamar masuk untuk hidup enak atau entah apa tujuan mereka yang sebenarnya." Orion mengepalkan tangannya. Ini sebuah pukulan berat untuk Orion.


Hening beberapa saat menyelimuti tempat itu. Xuan, meski dia tidak tahu kenapa Orion begitu shock melihat laporan itu, tapi pria itu membiarkan Orion untuk menenangkan diri. "Lalu apa rencana kita selanjutnya?" Xuan memberanikan diri bertanya. Setelah melihat Orion bisa menguasai diri.


"Aku pikir mereka tidak akan berani menyentuh Alea. Jadi mungkin tujuan mereka hanya ingin hidup enak. Tapi kita harus tetap waspda. Jangan sampai mereka menyentuh Alea dan Beni. Yang lain aku tidak terlalu peduli."


"Adnan dan Vano bisa menjaga diri. Sedang Darrel dan Mikayla, mereka saja setali tiga uang dengan orang itu. Jadi biarkan saja."


Orion mengangguk setuju dengan usul Xuan.


*


*



Kredit Pinterest.com


Mobil Orion berhenti di depan sebuah rumah. Satu hunian sederhana terbuat dari papan. Dengan warna putih dan abu-abu menjadi catnya. Sederhana tapi sangat asri, nyaman dan menenangkan. Pria itu turun, naik melalui tangga kayu. Lantas duduk di kursi yang ada di teras samping rumah tersebut.


Orion menyandarkan tubuhnya di kursi kayu, menengadahkan kepalanya lalu memejamkan mata. Sekelebat kenangan soal rumah itu muncul di benak Orion. Di mana tawa dan canda menghiasi rumah tersebut. Hari-hari yang keluarga itu lalui sangat bahagia. Orion sesaat tersenyum mengingatnya. Hingga lembaran laporan dari Xuan mengubah senyum Orion jadi tangisan. Pria itu menangis tersedu.


"Bagaimana bisa kalian berubah? Bukankah kalian dulu yang mengajarkan kalau kita tidak boleh dendam, meski orang itu berbuat jahat pada kita. Tapi kenapa? Kenapa justru kalian sendiri yang merusak ajaran kalian!".

__ADS_1


Tangis Orion terdengar begitu putus asa. Dia terlihat sangat kecewa pada pemilik rumah itu. "Eh tuan Valdy, anda kembali?" Satu suara membuat Orion menoleh lantas buru-buru mengusap kasar air matanya. Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat ke arah Orion.


"Saya kebetulan sedang ada bisnis di sini. Jadi sekalian mampir untuk melihat rumah ini. Terima kasih sudah merawatnya untukku." Balas Orion.


Perempuan itu tersenyum. Mungkin wanita itu mengira kalau Orion menangis karena teringat kedua orang tuanya. "Tidak masalah tuan. Kami juga mau berterima kasih, karena tuan sudah mengizinkan rumah ini digunakan untuk tempat berkumpul para warga kalau ada pertemuan."


"Itu lebih baik Bi, daripada tidak digunakan sama sekali. Senang jika rumah ini ada yang menghuni."


Orion memang tidak berniat tinggal di sini, jika urusan Star Jewerly selesai. Orion akan tinggal sampai Felix kembali, tapi jika masalah bertambah, bisa jadi dia akan mengundur kepulangannya ke Milan, sampai semua beres.


"Oh iya tuan. Beberapa waktu lalu ada orang yang berkunjung ke sini. Saya tidak kenal mereka, tapi sepertinya mereka hafal tempat ini."


Orion mengerutkan dahinya. Datang ke rumah ini? Si perempuan menjelaskan kalau mereka bahkan bertanya siapa pemilik rumah ini. Sesuai perintah Orion, si perempuan di suruh menjawab jika rumah itu milik orang luar negeri yang sudah membelinya.


"Apa mereka marah?" Si wanita menjawab iya. Orion tersenyum, rupanya mereka masih ingat dengan rumah ini.


Orion meninggalkan rumah itu setelah berpesan pada si wanita untuk tidak memberitahukan soal dirinya pada siapapun. Wanita itu langsung membuat tanda tutup mulut, setelah satu amplop coklat tebal Orion berikan pada perempuan itu.


"Uang....kau benar-benar berkuasa." Gumam Orion lalu melajukan mobilnya melalui jalanan berumput hijau, meninggalkan rumahnya sendiri.


*


*


Suara Nika kembali terdengar. Alea langsung membalikkan badan. Bola mata Alea membulat melihat Nika yang langsung menghentikan gerakannya. Dengan penampilannya sekarang, Nika jelas tahu kalau dia adalah Sera. Atasannya di kantor.


Yang membuat Alea semakin gugup adalah ayah dan ibunya yang berjalan di belakang Nika. "Alea...itu kan Alea, Pak." Ibu Alea berlari ingin menyongsong Alea.


"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Alea panik. Gadis itu justru terpaku di tempat, tanpa bisa bergerak dari sana. Bisa Alea lihat binar rindu yang nampak di bola mata ibunya.


"Ibu, ayah...aku merindukan kalian." Bisik Alea lirih.


"Bibi, dia bukan Alea, dia adalah Bu Sera, atasanku di kantor." Terdengar suara Nika menjelaskan. Ibu Alea langsung terperangah. Tidak mungkin dia salah mengenali putrinya. Itu Alea bukan Sera.

__ADS_1


"Dia Alea Nika buka Sera atau siapapun itu."


"Tapi Bi, kenyataannya begitu. Aku saja salah mengenalinya, bahkan tes DNA sudah dilakukan, dia Serafina Athaya, CEO Star Jewerly. Tunangan tuan Orion Harasya Alexander." Ibu Alea menutup mulutnya tidak percaya. Wanita itu menatap lekat pada Alea yang hanya bergeming di tempatnya. Mata Alea berkaca-kaca. Hampir saja tumpah air mata gadis itu.


"Maaf Bu, kami salah mengenali Anda. Mereka sangat merindukan anak mereka. Saya juga merindukannya, dia teman baik saya. Permisi." Nika menggiring ayah dan ibu Alea dari sana. Ayah Alea tampak tidak ingin beranjak dari sana. Sampai tarikan dari ibu Alea membuat pria itu melangkah pergi dari sana. Satu tatapan penuh kerinduan kembali menghunjam hati Alea.


*


*


"Sudah menemukannya?" Orion melempar


headset bluetooth-nya saat Xuan belum bisa menemukan Alea. Pria itu melajukan mobilnya cepat, membelah jalanan ibu kota yang mulai merayap malam. Alea berpamitan ingin jalan-jalan ke mall. Gadis itu tidak sabar menunggu Orion, hingga pergi sendiri mengendarai mobilnya.


Dan kini setelah dua jam, tidak ada kabar apapun dari gadis itu. Rasa cemas seketika menghantam Orion. Bagaimana jika hal buruk menimpa Alea? Bagaimana jika ada orang yang berbuat jahat pada gadis keras kepala itu?


Beberapa pikiran tidak baik berseliweran di benak Orion. Ke mana lagi dia harus mencari, jika hacker sekelas Xuan saja bisa kehilangan jejak Alea. Sampai satu panggilan masuk dari Axa.


Orion terdiam saat Axa bicara dari seberang sana. "Aku tahu tempat itu." Orion melempar ponselnya. Lalu dengan cepat memutarbalikkan mobilnya, menuju ke sebuah tempat yang Axa sebut.


"Aku harap kau baik-baik saja."


Beberapa waktu kemudian, di tempat lain, Alea tampak menyandarkan tubuh di mobilnya. Tanpa dia tahu, Orion juga sudah sampai di sana. Bisa Orion lihat kalau Alea tampak sedih. Melihat hal itu. Orion berpikir akan membiarkan Alea dulu. Pria itu memarkirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dari tempat Alea, tapi Orion masih bisa melihat Alea dengan jelas. Keduanya sama-sama menyandarkan tubuh mereka ke mobil masing-masing.



Kredit Pinterest.com


"Apa kau juga merasa sedih hari ini? Kalau begitu kita sama." Batin Orion yang menundukkan wajahnya. Sama seperti Alea yang melakukan hal tidak berbeda dengan Orion. Sebab gadis itu sedang menangis.


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2