Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Pertunjukan


__ADS_3

Orion menatap tajam pada tiga orang yang berdiri kikuk di hadapannya. Bisa-bisanya Xuan, Axa dan Nika salah masuk kamar lalu menangis heboh, karena pasien di kamar itu meninggal. Tanpa melihat dulu pasiennya siapa. Mereka mengira itu Alea.


"Bagaimana bisa kalian melalukan kesalahan seperti itu? Bikin malu aja!" bentak Orion kesal.


"Axa no salah pencet lantai." Tuduh Xuan.


"Alah elu juga gak periksa, tahu-tahu ikutan mewek abis di kamar orang." Axa tidak mau disalahkan. Sementara Nika buat masa bodoh saja. Dia lebih tertarik dengan keadaan Alea yang terlihat lemah.


"Bagaimana ceritanya? Memangnya benar ya....kamu keguguran?" Nika berbisik di akhir kalimat. Alea mengangguk pelan sebagai jawaban. Nika seketika menutup mulutnya, tidak percaya.


"Jangan tanya lagi!" Potong Alea penuh penekanan. Sebab dia tahu, dengan tingkat kekepoan Nika yang melebihi Dispatch, gadis itu akan lebih tertarik membahas bagaimana dia bisa hamil.


"Gitu sih. Kan pengen tahu rasanya begitu." Nika langsung memasang tampang cemberutnya.


"Kepo? Praktek gih sama Axa. Biar tahu rasanya." Kompor Alea.


"Yo mana boleh. Belum halal woi."


"Nah tu tahu, halalin dulu makanya. Jangan seperti aku." Wajah Alea berubah sendu. Dia tahu kesalahan yang sudah dia perbuat. Dan mungkin ini jalan paling baik untuk mereka semua. Termasuk calon bayi dalam kandungan Alea.


"Kata ibu, kalau ada pria yang ingin melamar kita, lebih baik diterima. Itu tandanya mereka serius sama kita, juga dia tidak mau menambah daftar dosa karena pacaran. Pria seperti itu sudah langka sekarang Al."


Alea terdiam, dia teringat Orion. Berapa kali pria itu mengajaknya menikah. Namun dirinya masih belum mau menerima.


"Aku bisa lihat, dia sangat serius padamu. Axa bilang, Orion belum pernah pacaran atau dekat dengan wanita manapun kecuali Sera. Itupun dia lakukan karena amanah Kak Felix."

__ADS_1


Alea kembali merenung. Apa sudah waktunya dia menerima Orion. Malam itu mereka tidur di rumah sakit. Meminta bed tambahan, Xuan dan Axa saling pandang sengit. "Awas kalau lu pegang-pegang gue!" Xuan memberi peringatan pada Axa yang mulai melepaskan jas dan kemejanya. Pemandangan yang membuat Nika seketika protes.


"Ngapain kamu?!" Tanya Nika.


"Belum tahu ya neng. Pacarmu ini kalau tidur nakedd, alias telanjang." Bola mata Nika membulat, mendengar info terbaru dari Xuan. Tidak pakai baju? Yang benar saja. "Alah bukannya banyak pria melakukannya. Itu bagus buat kesehatan." Axa membela diri. Melepaskan gasper, lalu memakai kembali kemejanya.


"Orion saja begitu."


"Jangan bawa-bawa aku!" Potong Orion sambil membenarkan letak kepala Alea dalam pelukannya. Keduanya tidur di bed Alea yang cukup luas. Nika seketika menaikkan selimutnya sampai ke kepala. Dia sendiri juga kalau tidur tanpa memakai pakaian dalam. Sama juga.


"Cepet tidur! Batasnya jam 8." Orion secara khusus sudah meminta visit untuk Alea dilakukan di jam itu. Tahu benar kalau teman-temannya itu bisa bangun siang kalau ada kata libur. Tak lupa pria itu mengunci pintu kamar. Bisa heboh rumah sakit kalau mereka tahu kelakuan ajib teman-temannya saat tidur.


Di tempat lain, Tea mencak-mencak tidak karuan. Setelah mendapati video dirinya tengah beraksi melayani pelanggannya tersebar. Wanita itu segera menghubungi MR J. Dosen kampus yang biasa dia mintai tolong kalau ada masalah di kampus. Dengan imbalan tubuh Tea tentunya.


Tea kembali marah, saat dosen hot itu menolak membantu, sebab dia sendiri juga ada dalam video itu meski wajahnya di blur. Mr J tidak mau terlibat lebih jauh dalam masalah ini. Tea jelas semakin frustrasi di buatnya. Mana dia ada pelanggan malam ini. Mau tidak mau Tea harus profesional. Wanita itu berjalan menuju kamar si tamu yang harus dia layani.


Tanpa Tea tahu, Xuan sudah melayangkan surat permintaan pengeluaran untuk Tea. Dengan dalih kelakuan Tea bisa merusak citra baik kampus tersebut. Juga mencoreng reputasi baik kampus. Desakan juga datang dari beberapa donatur kampus. Bisa dipastikan Tea akan dikeluarkan dari kampus.


Hari berganti, keadaan Alea mulai membaik. Wanita itu terpaksa melalui prosedur kuret atau kuretase, satu tindakan untuk membersihkan jaringan dari dalam rahim. Dalam kasus Alea untuk menghindari infeksi akibat sisa keguguran tidak keluar semua.


Wanita itu sesekali meringis menahan perih dan rasa tidak nyaman di perutnya. Tiga hari Alea di rawat. Dalam pada itu, banyak teman Alea yang menjenguk wanita itu di rumah sakit. Saat itulah mereka bisa melihat rupa Orion yang mengaku sebagai tunangan Alea.


"Kalian sadad gak sih? Pacarnya Alea mukanya sama kayak tunangnya Serafina Athaya?" Seorang teman Alea menyadari kemiripan itu. Namun yang lain juga menanggapi kalau Alea saja mirip Sera, jadi bisa jadi pacar mereka juga mirip. Satu kesimpulan konyol yang diambil seorang teman Alea. Sembarangan memang. Tapi teman yang lain mengangguk setuju.


"Kalian bisa menjalani progam perencanaan kehamilan setelah tiga bulan." Alea dan Orion saling pandang, lantas menggaruk kepala masing-masing, mendengar saran dari dokter sebelum pulang.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau merencanakan kehamilan tiga bulan lagi." Gerutu Alea setelah Orion memindahkannya ke mobil.


"Ya siapa tahu tiga bulan lagi status kita sudah berubah, jadi boleh deh bikin debay lagi." Kata Orion asal.


Sementara itu, Messa berdiri berkacak pinggang dengan wajah memerah, menahan marah. Dia pikir omongan temannya yang mengatakan kalau pacarnya menunggu di luar itu hanyalah candaan. Nyatanya salah. Masalahnya yang dia temukan adalah Darrel yang tengah menunggunya.


"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Messa tanpa basa basi.


"Halo baby, sudah selesai kerjannya. Baru mau aku samperin ke atas." Balas Darrel dengan senyum lebar seperti iklan pasta gigi Pepsodenntt.


Messa seketika memutar matanya malas. Bagaimana sebelumnya, pacarnya yang super perfect, tapi kelakuan seperti bangkai, busuk.Tidak termaafkan oleh Messa, kini dia dipertemukan dengan seorang pria yang melebihi bayangannya untuk dijadikan pacar. Namun nyatanya satu pepatah yang mengatakan tidak ada yang sempurna di dunia memang benar adanya.


Lihatlah Darrel, tampan, tajir, body bagus. Tapi minus kelakuannya menjadi kekurangan pria itu. "Mau ngapain kemari?" tanya Messa malas. Beberapa hari ini, Messa merasa memiliki sesaeng fans yang membuat kepanya pusing. Darrel selalu muncul dan datang ke rumah sakit, tepat sebelum shift kerjanya selesai.


"Aku mau mengajakmu ke satu tempat. Mau lihat satu pertunjukkan menarik malam ini?" Tawar Darrel pada Messa.


"Pertunjukkan? Bioskop? Film? Gak ah, aku capek. Gak mood mau nonton." Tolak Messa.


"Tapi ini lebih seru dari film-nya Vin Diesel yang paling baru." Bujuk Darrel. Dia yakin Messa akan bersedia nonton pertunjukkan itu.


Ha? Pertunjukkan apa maksud Darrel. Messa seketika memasang wajah siaganya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalka jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2