Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Kejahatan


__ADS_3

Pertemuan dewan direksi Star Jewelry pun kembali di gelar. Kepulangan Felix menjadi hal mengejutkan bagi semua kalangan. Pasalnya pihak kepolisian meenyatakan pria itu sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Bahkan kepergiannya ke Milan pun tidak terdeteksi sistem bandara waktu itu. Atau lebih tepatnya datanya sudah dihilangkan oleh Xuan.


Kepemimpinan Star Jewelry resmi dipegang oleh kakak beradik itu. Meski Alea menyatakan ingin mundur dari jabatannya. Sebab begitulah perjanjiannya. Tugasnya selesai setelah satu tahun atau jika Felix pulang. Dan jawaban yang diterima Alea membuat gadis itu seketika menjadi ragu.


Melihat Orion mengatakan akan melepaskannya membuat hati Alea sedikit, entah kata apa yang mampu menggambarkan rasa yang Alea rasakan saat ini. Bukankah dia selama ini selalu berusaha menolak kehadiran Orion di hatinya. Kenapa sekarang rasanya berat untuk berpisah dengan pria menyebalkan yang telah mengambil mahkotanya. Terlebih ekspresin Orion begitu santai saat mengatakan ingin memulangkannya.


Alea seketika meragukan kata cinta yang sering terucap dari bibir pria 27 tahun tersebut. "Dia pasti hanya menipuku. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia pasti pergi." Gerutu Alea. Ada rasa pedih saat gadis itu teringat perbuatan Orion padanya.


"Dia pasti hanya memanfaatkanku." Alea menegakkan kepalanya, dua bola mata Alea membulat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. "Siapa yang memanfaatkanmu?"


"Bukan siapa-siapa. Aku hanya merasa jadi orang bodoh di sini." Kesal Alea berlalu meninggalkan Orion yang seketika mencekal tangannya. Satu sifat Alea yang tidak Orion suka. Kekanakan dan suka menyimpulkan secara sepihak tanpa bertanya pada yang lain.


"Selesaikan dulu amarahmu baru pergi. Berapa kali kukatakan, beritahu aku kalau aku melakukan kesalahan." Kata Orion sembari menatap dalam mata Alea. Pria itu tahu benar, hanya dirinya yang bisa membuat Alea meledak-meledak tanpa sebab yang jelas.


"Tidak! Kau tidak buat kesalahan. Aku yang salah." Orion memejamkan mata, menahan diri agar kepalanya tetap dingin. Tidak ikut panas seperti wanita yang berada dalam cekalannya.


"Alea...."


"Al, tuan Felix...uuppsss sorry."


Atika berbalik cepat begitu melihat posisi Orion dan Alea. Berpikir kalau dirinya sudah mengganggu kemesraan pasangan itu.


"Aku akan ke sana Tika. Kebetulan aku juga ingin bicara padanya." Alea menepis cekalan tangan Orion padanya. Meninggalkan Orion yang hanya bisa diam melihat sikap Alea. Dia belum menemukan cara untuk mengatasi sifat Alea yang satu ini.


"Ada apa tuan Felix....kakak ingin menemuiku?" Alea seketika mengubah panggilannya. Felix sendiri memang meminta Alea untuk memanggilnya kakak. Usia mereka terpaut jauh, jadi tidak masalah jika menggunakan panggilan itu. Terlebih Felix sudah berulangkali berpikir, Sera jelas tidak mungkin kembali. Karena itu dia akan coba menerima Alea sebagai adik.


Kesedihan Felix tak terkira besarnya saat tahu Sera sudah tiada, tapi melihat Alea, Felix seperti melihat sosok Sera dalam diri Alea. Tanpa bermaksud melupakan sang adik. Felix akan menganggap Alea seperti adiknya sendiri.


"Ini soal kepulanganmu. Kau yakin ingin pulang?"

__ADS_1


Alea mengangkat wajahnya, melihat langsung wajah tampan Felix, pria itu punya kharisma yang luar biasa. Menjadi CEO Star Jewelry sangat cocok untuk Felix.


"Aku ingin pulang." Ada keraguan dalam jawaban Alea. Terlebih wanita itu berujar sembari menundukkan wajahnya. Dan Felix yang peka bisa menangkap hal itu.


"Ada masalah dengan Orion?" Alea seketika menggeleng, meski itupun masih menyiratkan ketidakpastian.


"Kenapa kamu masih belum mau menerimanya? Aku mengenalnya lebih dari 15 tahun, dan kami menghabiskan waktu hampir 7 tahun bersama. Aku mengenalnya dengan baik. Dia belum pernah memasukkan satu nama wanita pun ke dalam hatinya. Bahkan ketika dia mengatakan menyukai Sera, aku yakin itu hanya perasaan sesaat."


Alea terdiam, kenapa juga Felix jadi membahas dirinya dan Orion.


"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan padanya. Terlebih aku merasa tidak pantas untuknya." Akhirnya jawaban itu yang terucap dari bibir Alea.


"Kau lebih dari sekedar pantas untuk bersanding dengannya. Di banding dia, dirimu sepuluh kali lebih baik. Bahkan lebih. Dia akan segera menghadapi fase terberat dalam hidupnya. Aku harap kamu tidak berpikir untuk pergi darinya."


Felix menatap lurus pada Alea. Masa-masa sulit Orion akan segera datang. Sebab dia harus berjuang melawan dirinya sendiri, saat dia dihadapkan pada kenyataan kalau orang tuanya adalah biang kerok dari semua masalah yang timbul di keluarga Athaya.


Air mata Alea mengalir tanpa diminta, tidak tahu kenapa hal itu terjadi. Terlebih saat Felix tiba-tiba memeluk dirinya.


"Maafkan kami telah melibatkanmu dalam keributan keluarga ini." Kata Felix lirih. Pria itu sadar banyak hal berat yang sudah Alea lalui selama sepuluh bulan ini.


Ditambah wanita itu telah bekerja keras untuk Star Jewelry. Sepuluh bulan cukup untuk membuktikan kalau Alea bisa memimpin perusahaan itu. Mengatasi masalah dengan berbagai jalan keluar yang membuat banyak orang tercengang. Alea banyak membuat kejutan. Ditambah ide-ide Alea yang segar dan baru dalam bidang design perhiasan. Alea punya bakat dan potensi dalam hal ini.


"Saat ini pulanglah dulu. Kamu tahu kan ada beberapa hal yang harus kami selesaikan. Kami cemas dengan keselamatanmu. Setelah ini selesai kembalilah, bantu aku mengurus tempat ini."


"Kakak jangan bercanda. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak punya hak." Alea menatap sekeliling ruangan kerja milik Felix.


"Tapi kemampuanmu membuktikan kamu pantas berada di sini."


Alea dan Felix saling pandang. Sungguh nyaman berada di samping Felix. Pria itu memberikan perlindungan seorang kakak yang sesungguhnya. Padahal Alea hanyalah orang lain, orang yang seharusnya disalahkan karena kematian Sera. Tapi Felix tidak berpikir seperti itu. Pria itu justru merasa bersalah pada dirinya.

__ADS_1


"Akan kupikirkan nanti. Bagaimanapun aku lebih suka melukis. Bisnis hanya membuat kepalaku pusing."


"Tapi kamu suka uang, dan bisinis ini kamu tahu benar berapa keuntungannya."


"Ya...ya...katakan saja aku matre. Karena memang iya." Alea melengos sembari membalas ucapan Felix. Sang kakak tersenyum sambil mengusap puncak kepala Alea.


"Tidak ada orang matre yang mengaku matre melalui lisan, tapi orang matre dinilai dari tindakannya. Kamu bilang kamu matre, tapi untuk mendapatkan materi kamu bekerja keras. Itu bukan matre namanya tapi realistis. Materi didapat dengan bekerja keras, bukan dengan mencuri milik orang lain. Itu bedanya."


"Entahlah Kak, aku pusing." Felix terpingkal-pingkal mendengar jawaban asal Alea.


"Mau dengar ceritaku selama di Milan?" tanya Felix tiba-tiba. Pria itu sudah mengambil duduk di samping Alea. Senyum Alea mengembang dengan kepala manggut-manggut antusias. Felix sungguh pandai mengubah mood Alea.


Di balik pintu, Orion membalikkan badan, pergi dari sana secara diam-diam. Ucapan Felix soal masa terberat dalam hidupnya akan segera datang sepertinya benar. Axa dan An sedang melacak sebuah rumah sakit jiwa di pinggiran kota. Di mana ada tanda-tanda jika orang tua Sera berada di sana.


"Jika mereka berhasil ditemukan, habis kalian!" Orion sendiri tidak akan memberi toleransi pada apa yang sudah orang tuanya lakukan. Salah tetap saja salah. Dia tidak peduli bahkan jika itu adalah orang tuanya.


"Aku tidak peduli apa alasan kalian melakukan ini. Sebab yang kalian lakukan adalah sebuah kejahatan. Dan Sera jelas sudah jadi korbannya."


****



Kredit Pinterest.com


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2