
Buugghhhh
Suara pukulan terdengar. Axa menyeringai puas, bisa menyalurkan rasa marah pada orang yang sudah membuat Alea sesak nafas. Gadis itu masih memakai masker oksigen bahkan setelah dua jam sejak kejadian tadi.
Dengan bantuan Xuan, orang yang membuat kerusuhan di ruang kerja Alea bisa ditangkap. Meski An dan Axa harus berlarian untuk mengejar orang itu
"Katakan siapa yang menyuruhmu?!" Sosok Axa benar-benar menakutkan. Berdiri menjulang di depan seorang pria yang duduk terikat di sebuah kursi.
"Jangan harap aku akan memberitahumu!"
Satu pukulan mendarat di wajah pria itu. Axa kembali menyeringai. Dia sangat suka menghajar orang yang susah diajak untuk bekerjasama.
"Kau mengaku saja. Sebelum bos kami sendiri yang turun tangan." An berucap santai. Pria itu berdiri, bersandar pada dinding di samping pintu masuk ke tempat itu. Sebuah gudang yang berada di sekitar Star Jewelry. Heran sekali, tidak ada orang yang tahu soal tempat itu. Bahkan tempat itu bisa dilihat dari ruang kerja Alea.
"Ciihhhh!!!" Orang itu meludah ke lantai, meremehkan perkataan An. Axa dan An saling pandang. "Baik jika itu yang kau mau!" Axa mengambil pistol yang ada di pinggangnya. Satu tembakan Axa lepaskan, membuat si pria itu merinding ketakutan.
"Jika kau pikir, kami main-main dengan ucapan kami. Kau salah. Kami tidak pernah main-main." Perkataan Axa penuh intimidasi dan ancaman.
Axa meletakkan pistol tersebut di pelipis pria itu. "Kau tidak mau bicara, tidak masalah. Aku tinggal membunuhmu. Lalu mengirimkan mayatmu ke keluargamu."
Pria itu melotot mendengar ancaman Axa. Keluarganya tidak ada yang tahu kalau dia berprofesi sebagai pembunuh bayaran. "Bagaimana? Atau kau ingin aku membawa putri sulungmu. 18 tahun, sepertinya sangat nikmat untuk kutiduri semalaman." Bisik Axa lagi.
Di belakang Axa, An membuat gerakan muntah Axa meniduri wanita? Yang benar saja. Atau pertanyaannya lebih ke... memang bisa? Sebab selama ini Axa dikenal begitu cuek dan dingin pada makhluk seksi berjuluk wanita.
"Jangan! Jangan kau sentuh putriku! Dia tidak bersalah."
Ciihhh, giliran Axa yang meludah. Baru diancam begitu saja sudah ketakutan. "Seharusnya kau tahu kalau kami, para targetmu juga bisa menargetkanmu balik. Sama, kau punya keluarga. Kami juga."
"Kau mengancam keluarga kami. Kami bisa menghancurkan keluargamu!"
__ADS_1
Pria itu menelan salivanya susah payah. Baru kali ini dia tertangkap saat beraksi. Tidak tanggung-tanggung. Pria itu bahkan belum sempat menyentuh targetnya, tapi dia sudah diikat di sini. Dijadikan samsak hidup sejak tadi. Dan sekarang sebuah pistol sudah mengancam hidupnya. Ditambah teror juga datang untuk anak dan istrinya.
Sepertinya orang yang jadi sasarannya kali ini bukan orang sembarangan. Terbukti dari Axa dan An yang terlihat begitu profesional dan punya skill bertarung yang handal. Hanya dua orang, dan dia sudah dibuat tak berkutik. Tidak bisa melawan atau menghindar.
"Bagaimana? Mau bicara atau anak buah kami yang lain meluncur ke tempatmu, mengambil putri sulungmu. Atau menjual istrimu ke rumah bordir?"
"Jangan! Aku mohon! Aku mohon jangan ganggu mereka."
"Katakan pada kami siapa?" An berkata tidak sabaran. Pria itu baru saja akan bicara, bersamaan dengan Orion masuk ke tempat itu. "Kita ubah rencananya. Aku ingin memberikan shock terapi pada mereka." Ucap Orion menatap lurus pada pria yang sudah babak belur karena dihajar oleh Axa.
Axa dan An saling pandang. Mereka lebih suka bermain-main dengan musuhnya ketimbang langsung menghajar mereka sampai habis.
*
*
Malam menjelang. Tampak Orion menggendong Alea yang masih tidur keluar dari gedung Star Jewelry. Melalui lift khusus, mobil yang dikendarai oleh An sudah menunggu di depan lift basement. Orion meletakkan kepala Alea di dadanya, saat mobil itu melaju menuju kediaman Athaya.
Perlu dua puluh menit untuk sampai ke rumah besar itu. Begitu tiba, Orion langsung melangkah masuk, dengan Axa langsung membawa mobil itu menjauh dari rumah tersebut. Di ruang tamu, Beni tentu terkejut melihat Alea yang berada dalam gendongan Orion. Meski begitu, Orion menjelaskan kalau Alea hanya mengalami maag, karena tadi pagi lupa sarapan.
Sembari menjawab dengan tenang, ekor mata Orion melirik Mario dan Meida yang walau terkejut, tapi mereka cukup pandai menyembunyikan rasa shock mereka. Kedua orang mendekat ke arah Orion, berpura-pura melihat keadaan gadis itu.
"Pandai sekali kalian berakting." Batin Orion kesal. Pria itu merebahkan tubuh Alea dengan lembut di ranjang besar gadis itu. Dengan Adnan yang mengikuti Orion. Membawakan secangkir ramuan yang di percaya mampu mengatasi masalah lambung.
"Biarkan dia istirahat dulu. Setelah dia bangun, suruh dia minum ramuan itu." Beni mengucapkan hal itu pada Orion yang langsung mengangguk patuh.
"Halo....kalian siap? Hancurkan gudang mereka. Bakar!" Perintah Orion melalui ponselnya.
__ADS_1
Terdengar jawaban siap dari ujung sana. Pria itu menatap lurus keluar jendela kamar Alea. "Kau ingin mengusik Alea. Langkahi dulu mayatku!" Gumam Orion.
Pria itu menoleh setelah mendengar suara lirih dari arah belakang. Alea sudah membuka matanya. "Kau sudah bangun?" Pria itu membantu Alea duduk. Alea memandang Orion, pria itu juga menatap Alea.
Alea menginsutkan tubuhnya, menjauhi Orion. "Ck, sudah sakit juga masih keras kepala." Gerutu Orion. Pria itu beranjak dari ranjang Alea. Membuka jasnya, melepaskan kain yang menyelimuti leher pria itu. Alea seketika memalingkan wajah. Saat Orion membuka kancing kemejanya. Sampai dada bidang berotot itu terlihat. "Astaga, orang ini sengaja atau bagaimana sih?" gerutu Alea dalam hati.
Orion kembali mendekat setelah merapikan kembali kemejanya. "Minum ini, Om Adnan yang membuatkan untukmu." Orion mengulurkan cangkir pada Alea. Namun Alea langsung menjauhkan diri dari cangkir itu. Bau menyengat seketika masuk ke hidung Alea.
"Gak mau!" Alea menutup hidungnya.
"Minum, katanya ini bagus buat lambungmu." Bujuk Orion. Namun Alea malah menutup hidung dan mulutnya.
"Uhuukkk!!!! Orionnn!!"
Alea menjerit saat Orion memiting dirinya, lantas meminumkan paksa ramuan itu pada gadis itu. "Orion kau gila!" Maki Alea lagi. Orion terkekeh melihat raut wajah Alea yang marah sekaligus menahan pahit. Bagian depan gaun Alea basah, menampilkan siluet braa berwarna hitam yang membuat tawa Orion hilang. Pikiran pria itu langsung terbang ke mana-mana.
Alea menyadari pandangan Orion. Gadis itu segera menarik selimut untuk menutupi bagian depan tubuhnya. "Jaga matamu!" Judes Alea. Gadis itu lantas masuk ke kamar mandi. Meski setengah memaksa tubuhnya. Kepalanya juga masih pusing.
"Orion lama-lama menakutkan." Gumam Alea sambil membuka kran shower, mulai melucuti pakaiannya, hingga tubuh mulus itu terpampang nyata di bawah guyuran air shower.
Sementara Alea tengah menikmati waktu mandinya, sebuah gudang bahan obat-obatan terlarang meledak dan terbakar di pinggiran kota. Satu laporan masuk ke ponsel Orion. Pria itu tersenyum puas. "Ini baru peringatan pertama untuk kalian. Jika kalian terus mengganggu Alea jangan salahkan kalau aku melibas habis kalian." Kata Orion, masih menatap ke arah luar jendela Alea.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
*****
__ADS_1