
Hari menjelang gelap, ketika mobil yang dikemudikan Zikra menepi di pinggir jalan, dekat dengan pasar tradisional tidak jauh dari desa. Mereka semua turun dari jok mobil yang mereka duduki masing-masing. Kalau bukan karena permintaan Bonang yang sudah diserang rasa lapar akut. Hal itu pun diaminkan oleh yang lainnya. Terutama Syifa. Walaupun tidak menggatakan secara langsung, tetapi suara perutnya yang keroncongan tidak bisa berbohong. Oleh sebab itu, mau tidak mau mereka pergi mencari makanan.
Ada beberapa pilihan kedai makanan yang berjajar di pinggir jalan. Makanan yang tersedia memang tidak mewah, tetapi cukup menggugah selera di kala perut lapar. Kemudian pilihan mereka jatuh pada kedai pecel lele.
Bonang yang sangat antusias memilih kedai itu, langsung memilih menu pecel lele dan nasi uduk. Sementara Zikra, Nadya, dan Syifa kompakan memesan pecel ayam dan nasi putih. Dan teh manis dingin untuk Nadya dan Bonang. Serta teh manis hangat untuk Zikra. Air jeruk peras dengan sedikit es batu menjadi pilihan Syifa.
Butuh waktu untuk dapat menikmati makanan yang mereka pesan. Bonang duduk di samping Zikra. Sedangkan Syifa dan Nadya duduk di kursi yang menghadap mereka.
Rasa canggung menyergap Syifa ketika matanya bertemu pandang dengan Zikra. Meskipun saat ini bukan kali pertama mereka bertemu. Namun tidak bisa ia kendalikan.
"Bang Zikra, udah punya pacar belum?" todong Nadya iseng membuka percakapan. Gadis itu terlihat malu-malu.
Bonang mentoyor kening Nadya yang duduk berhadapan dengannya.
"Dasar bocah ingusan! Ngapain lo nanya-nanya si Zikra udah punya pacar apa belum?"
"Emang kenapa? Kok elo yang sewot sih, Bang?" kata Nadya balik tanya.
"Tadi udah gue kasih tau, tapi kenapa masih bandel aja," Bonang nyolot.
"Udah biarin aja, wajar kok kalo dia tanya," sela Zikra memaklumi.
Syifa menyikut lengan Nadya hingga gadis itu berdesis kesakitan.
"Aduh! Elo lagi, kenapa?" tegur Nadya mengusap lengannya yang sakit. "elo mau ikutan kayak Abang gue?"
Syifa menarik lengan Nadya agar lebih dekat jarak antara mereka.
"Bukannya elo pernah bilang ke gue, kalo dia pacarnya Aini?" tanya Syifa setengah berbisik.
"Biarin aja, gue speak-speak doang. Siapa tahu gue punya peluang buat jadi pacarnya," sahut Nadya ikut berbisik, dengan wajah terlihat semringah.
"Jangan suka nikung pacar teman, efeknya enggak enak," jelas Syifa berusaha mengingatkan.
Walaupun dulu hubungannya dengan Angga bukan hasil nikung, tetap saja tidak enak. Apalagi gara-gara ketidak tahuannya tentang hubungan Angga dan Rima, ia sempat dicap pelakor oleh teman-teman sekolahnya.
"Tenang, selama bendera kuning belum berkibar, kesempatan itu masih ada buat gue, hehehe..." selorohnya kocak. "jadi, santuy ..."
"Ih, sadis! Sebelum janur kuning melengkung kali, masak bendera kuning itu kan artinya ..."
"Iya, gue tahu. Kalo janur kuning sih udah biasa. Nah, kalo bendera kuning tuh luar biasa."
"Kok bisa begitu?"
"Ya iyalah. Siapa juga yang masih mau ngejar-ngejar orang yang udah mening'an."
"Meninggal?"
"Ho-oh." Nadya menganggukkan kepalanya.
Zikra tersenyum ramah. Matanya terlihat teduh. Wajahnya yang bersih tanpa kumis dan berewok, membuat ketampanannya kian maksimal.
Nadya mengalihkan pandangannya pada pemuda yang sejak lama ditaksirnya. Denganp senyum bahagia dia menantikan jawaban yang dapat memberikan angin segar untuknya.
__ADS_1
"Uda. Aku udah punya pacar, malahan sebentar lagi kita akan segera menikah," jawaban yang membuat Nadya pupus harapan.
Mendadak senyum manis yang tersinggung di bibir Nadya berubah mencebik. Ingin rasanya dia menangis sekuat tenaga, namun dia harus jaga image di depan pemuda itu, agar tetap terlihat anggun.
Suara Syifa seakan menggelar bagai petir di siang bolong. Gadis itu tampak puas melihat sahabatnya ditolak oleh orang yang disukainya.
"Huuuu, apa gue bilang, enggak dengar sih kalo gue bilangin." Bonang mentoyor kening Nadya lagi.
"Bon, jangan kasar-kasar sama perempuan, apalagi dia itu adik lo sendiri. Sayangi dia sebagai mana elo menyayangi ibu lo," tutur Zikra bijak.
Nadya bertepuk tangan salut mendengar ucapan Zikra yang sangat bijak.
"Ini baru namanya laki, enggak kayak lo Bang, kasar."
Bonang ingin menjitak kepala Nadya, namun urung karena Zikra menghalangi dan terus memberikan nasihat padanya.
Syifa tersenyum tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan tatapan mata Zikra. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tidak lama berselang makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga. Air minum yang di letakkan sesuai dengan pemesanannya. Begitu pula dengan menu makanan yang mereka pesan. Lalu menyantapnya dengan lahap.
"Neng Cipa, kayaknya kita pernah ketemu sebelumnya. Tapi dimana ya?" tanya Bonang tiba-tiba. "gue lupa-lupa ingat."
Mendadak Syifa tersedak hingga nyaris terbatuk. Ia meraih gelas minumannya agar tidak benar-benar terbatuk.
Zikra melirik gadis yang duduk berhadapan dengannya tampak pucat pasi. Seakan ia ingin merahasiakan pertemuan mereka waktu itu.
"Ah, elo Bang, ngarang aja. Mana mungkin si Cipa ketemu elo ditempat lain. Dia main ke rumah kita aja elo gak pernah ketemu. Padahal gue udah temenan udah dari SMP. Jadi, enggak mungkin lah elo bisa ketemu dia," kilah Nadya mematahkan ucapan kakak lelakinya.
Syifa dan Zikra kali ini sengaja bertemu pandang. Syifa menggelengkan kepalanya seakan berkata Nadya tidak usah tahu tentang pertemuan mereka waktu itu.
"Eh, Bang. Gue kasih tahu sama elo. Cipa enggak mungkin pergi jauh-jauh dari rumahnya."
"Jangan sotoy deh!"
"Kalo elo enggak percaya, nih ada orangnya. Tanya aja."
Syifa hanya nyengir menunjukkan giginya yang rata. Menyikut lengan Nadya agar gadis itu menutup mulutnya.
"Bang Zikra, kisah hidup si Cipa itu aneh," Nadya tertawa kecil.
Syifa menepuk jidatnya.
Dasar si mulut ember!
"Kenapa?"
Masih tertawa dia melanjutkan,
"Kisah hidup si Cipa kayak kisah Siti Nurbaya. Soalnya dia udah dijodohin sama orang tuanya dari kecil. Enggak masuk akal banget kan? Padahal sekarang zaman millenial, bukan zaman kolonial lagi," tuturnya.
Syifa menendang kaki Nadya dari bawah meja. Hingga dia berdesis kesakitan.
"Gue kan udah bilang, gue bukan Siti Nurbaya," tukasnya cepat.
__ADS_1
"Oh ya?"
"Elo berdua kompakan banget," sela Bonang. "jangan-jangan elo berdua ..."
Zikra dan Syifa beradu pandang lagi. Keduanya hanya diam membisu. Tidak menyanggah atau pun menyangkalnya.
"Enggak mungkin."
"Heh, bisa enggak sih elo enggak ikut campur urusan orang lain?" tegur Bonang geram.
"Emangnya kenapa? Gue kan yang nemuin cowoknya waktu itu. Jadi gue tahu siapa calonnya si Cipa," sahutnya sombong. Nadya menceritakan tentang pertemuannya dengan cowok itu.
"Udah deh, Nad. Gue malu," sergah Syifa setengah berbisik.
Bonang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari adiknya. Apalagi ketika Nadya mengatakan cowok tersebut memiliki gigi ompong. Hingga ketika dia tertawa terlihat seperti jendela yang sedang terbuka lebar.
Wajah Syifa tampak merah padam karena rasa malu yang ditanggungnya. Sudah beberapa kali ia memperingatkan pada sahabatnya yang sedang berbicara tanpa henti seperti petasan orang kawinan, berodog terus sebelum tentengannya habis terbakar. Sesekali ia mengusap wajahnya.
"Neng Cipa, elo yakin sama dia?"
"Maksudnya?" Syifa mengerutkan keningnya.
"Maksud Abang itu, cowok yang Eneng panggil Zikra. Apa enggak salah nyebut nama? Soalnya yang Abang tahu, nama Zikra di kampus kita ya ... cuma atau," Bonang memaparkan kebenaran.
Syifa mendengarkan dengan seksama. Nadya yang ingin menyela pembicaraan Bonang langsung digubrisnya.
Bonang mengacungkan jari telunjuknya menunjuk ke arah Zikra. "Dia!"
Zikra pun hendak angkat bicara, namun urung dilakukan untuk menghormati sahabat sedari SMA tampak serius.
Syifa terbeliak seraya mentautkan kedua alisnya hingga nyaris menyatu.
"Masak sih, Bang? Terus cowok itu siapa?" sela Nadya kepo. Beradu pandang dengan Syifa. "soalnya waktu kencan buta tempo hari, cowok yang datangin gue dia. Emang sih, dia enggak ngomong kalo namanya Zikra. Tapi gue cuma melihat dia bawa mawar merah yang sama dengan yang gue bawa," lanjutnya menjelaskan kronologi awal pertemuan mereka.
Syifa mengangguk membenarkan ucapan Nadya.
Zikra mengenang awal pertemuannya dengan Syifa.
"Sori ya ... Abang ngomong begini karena dia teman kampus Abang," lanjut Bonang. "termasuk cowok yang neng panggil, dia juga teman kampus Abang. Walaupun dia satu tingkat lebih senior dari kita berdua."
Ucapan Bonang benar-benar membuat Syifa berpikir keras. Tiba-tiba banyak pertanyaan muncul memenuhi isi kepalanya. Pantas saja kak Tasya begitu marah padanya. Menganggap ucapannya hanya bualan semata.
"Benarkah begitu? terus, siapa Zikra? Maksudnya cowok itu?" selidik Syifa penasaran.
"Dia, Komar," sahut Zikra cepat.
"Iya benar. Komarudin." tandas Bonang membenarkan.
Syifa mendadak jadi pusing. Mendengar penjelasan yang menurutnya kurang masuk akal. Kendati demikian ia tidak menampik kalau yang didengarnya dan dirasakan terasa sangat janggal. Ia mendengus berat.
Setelah selesai menghabiskan makanan dan minuman masing-masing, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing.
Bersambung ...
__ADS_1