
Tepat jam setengah satu siang. Setelah menyelesaikan memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen, Zikra mengajak Syifa meninggalkan ruang kerjanya untuk keluar makan siang.
Tanpa ragu Zikra menggandeng Syifa dengan memasukkan jemarinya di sela-sela jari Syifa begitu erat. Namun Syifa bertindak sebaliknya. Canggung dan minder masih merajai dirinya. Ia tidak berani mensejajarkan langkahnya di samping Zikra. Hanya menyembunyikan wajahnya di belakang Zikra.
Ada begitu banyak pasang mata yang memperhatikan Zikra dan Syifa. Wajah-wajah kecewa dan patah hati membuat atmosfer kantor Zikra terasa mencekam Syifa. Hingga membuatnya takut mengangkat pandangannya kepada mereka.
Petugas resepsionis yang tadi sempat mentertawakan dan mencibir Syifa. Kini membelalakkan mata terkejut melihat gadis ingusan itu keluar dari lift sambil digandeng Zikra. Seakan menegaskan Syifa adalah gadis yang paling dicintai sang Bos besar.
Zikra sengaja menghentikan langkahnya tepat di depan meja resepsionis. Bibir Zikra menyunggingkan senyum ramah, namun tatapannya terasa tajam dan dingin, bagaikan mata pisau yang siap menghujam langsung menembus jantung petugas resepsionis itu. Dia meneguk salivanya dengan susah payah untuk membasahi tenggorokkannya yang mendadak mengering.
"Se-selamat si-ang, Pak." petugas resepsionis bernama Larasati menyapa dengan hormat seraya menganggukkan kepalanya. Namun hanya dijawab dengan gumaman oleh Zikra.
Tamat deh riwayatku! Ternyata gadis ingusan itu benar-benar istrinya Pak Zikra! pikir Larasati khawatir.
Syifa yang masih tidak ingin mengangkat wajahnya. Tiba-tiba terkejut saat Zikra mengangkat dagunya.
"Angkatlah wajahmu jika sedang berada di sampingku. Tunjukkan siapa dirimu tanpa ragu dan takut. Aku akan membantu kamu menyingkirkan orang-orang yang sudah meremehkan kamu." bisik Zikra di depan wajah Syifa. Dengan tergugup Syifa mengangguk cepat.
Zikra cukup merasa sakit hati atas kelakuan segelintir karyawannya yang telah meremehkan istrinya. Dan dia tidak ingin hal itu akan terus berulang di lain hari,
Sebelum melangkah keluar Zikra menarik tangan Syifa. Lalu memindahkan posisi tangan istri tercintanya melingkar di lengannya. Dia melirik sekilas pada Larasati. Setelah itu berjalan sambil mengeluarkan ponselnya. Mencari satu nomor dalam pencarian cepat.
"Bereskan dia. Aku enggak mau melihat dia lagi. Paling lambat besok pagi aku sudah enggak melihat tampangnya lagi bertebaran di kantorku." sabda Zikra yang langsung diaminkan oleh orang yang berada di seberang sana.
*
Syifa menepis gandengan tangan Zikra saat sudah berada di dalam mobil. Ia agak jengah dengan sikap suaminya seakan kebucinan pada dirinya. Mungkin ketika masih di dalam kantor ia dapat memaklumi sikapnya yang ingin menunjukkan adanya hubungan spesial mereka kepada semua orang.
Tapi untuk di dalam mobil seperti saat ini tidak perlua ada yang harus ditunjukkan. Toh, yang ada di dalam mobil selain mereka berdua hanya ada sopir kantor. Sayangnya, Zikra tidak setuju dengan pendapat Syifa. Tanpa ragu apalagi malu dia tetap memegang tangan istrinya walaupun telapak tangannya sampai berkeringat.
"Ih, kamu gak usah sok bucin deh. Lebay tau gak sih?" keluh Syifa keukeuh melepas tangan Zikra.
"Biarin aja. Toh, yang aku bucinin istriku sendiri bukan istri tetangga," kilah Zikra santai sambil meraih tangan Syifa kembali. Seakan dia tidak ingin jauh dari gadis itu. "lagian menggenggam tangan pasangan sendiri dapat pahala lho."
"Pahala? Apa hubungannya?" Syifa tidak mengerti.
__ADS_1
"Ada. Segala yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Ingat lho, syurganya istri ada di suami." Zikra mengerlingkan matanya genit.
Syifa hanya berdecih melihat polah tingkah suaminya. Dan tidak menampik apa yang diucapkan Zikra. Serta tetap membiarkan pemuda itu tetap memegang tangannya dengan posisi yang sangat dekat. Membuat hati gadis itu menghangat dan merasa sangat dicintai.
Ya Tuhan ... hamba sangat beruntung dianugerahi suami seperti Zikra. Semoga cinta, kasih dan sayang Zikra akan tetap seperti ini. Dan enggak berubah sampai kapan pun. Bisik batin Syifa memanjatkan doa penuh harapan.
*
Setibanya di restoran pilihan Zikra. Syifa diajak masuk ke dalam ruangan VIP. Hingga hanya ada mereka berdua di dalam sana menikmati menu-menu yang juga dipilihkan oleh Zikra. Pasalnya Syifa tidak terlalu mengerti tentang apa yang tertulis di dalam daftar menu makanan yang semuanya menggunakan bahasa asing.
Zikra tersenyum bahagia melihat ekspresi Syifa yang menurutnya sangat imut ketika menikmati makanan yang telah dihidangkan di atas meja. Mungkin bila orang lain yang melihat sikap gadis itu akan berkata, "gadis norak dan kampungan."
"Makanlah yang banyak, sayang. Supaya benih yang kutanam selama ini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik." batin Zikra berharap Syifa segera hamil. Dengan begitu dia dapat meyakinkan Mamanya agar tidak berusaha menyulitkannya atas kehadiran gadis-gadis yang diharapkan menjadi penganti Syifa.
Zikra tidak ingin melepaskan Syifa apa pun alasannya. Baginya pernikahan hanya sekali dalam hidupnya. Tidak ingin ada orang lain selain mereka berdua dan anak-anak mereka kelak.
"Gimana? Enak?" tanya Zikra yang sedari tadi hanya menatap Syifa takjub. Dia belum menyentuh makanannya sedikit pun.
"Hmmm. Pake banget." sahut Syifa penuh semangat sambil mengangguk cepat.
Melihat Zikra yang sedari tadi belum menyentuh makanannya. Kontan Syifa mengambil inisiatif menyodorkan dan menyuapkan makanan dari sendoknya sendiri. Meskipun tanpa sadar itu artinya mereka akan berciuman secara tidak langsung. Tetapi tidak jadi masalah besar. Toh, mereka berdua sering berciuman secara langsung.
Zikra memegang tangan Syifa yang sedang mencengkram sendok makan. Sontak membuat degup jantungnya berdetak lebih cepat. Kemudian tanpa ragu Zikra memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya membuat hati Syifa menghangat.
"Kamu enggak makan? Lagi sakit perut ya?" tanya Syifa iseng namun penuh perhatian.
"Enggak." jawab Zikra singkat. "aku hanya senang melihat istriku makan dengan suka cita." lanjutnya sukses membuat Syifa bingung.
"Heh? Maksudnya?"
"Ya udah. Ayo, dimakan lagi. Kalo kamu masih kurang, aku pesanin lagi."
"Hemmm. Gak usah. Nanti aku jadi gendut." geram Syifa khawatir.
"Enggak papa. Toh, suatu saat nanti perut kamu aku buat gendut."
__ADS_1
"Ih, jahatnya ..."
"Sayang... kok aku dibilang jahat sih?" rajuk Zikra manja yang terlihat kekanak-kanakkan. Ini adalah kali pertama pemuda itu menunjukkan sikap kekanakkannya terhadap istrinya. Gadis itu pun jadi melongo menyaksikan tingkah polah Zikra yang tidak biasa itu.
"Emangnya kamu enggak mau mengandung anak dariku?" ekspresi wajah Zikra mendadak serius.
"Hah?! Bu-bukan begitu ..." Syifa tampak bingung menjawab pertanyaan Zikra.
"Lalu apa?"
"Maksud aku ..."
"Hahah. Kamu ini gampang banget panik ya." Zikra terkekeh geli, puas menggoda Syifa.
Syifa memberenggutkan wajahnya.
Dengan lembut Zikra membelai pipi tembam Syifa yang mulus. Seakan sedang menunjukkan betapa sayang dan cintanya pada istrinya itu.
Syifa yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu segera menghindar. Wajahnya tampak bersemu merah dan salah tingkah. Lalu meletakkan sendoknya di atas piringnya.
"Kamu kok aneh banget sih?" tegur Syifa sambil menyentuh pipinya yang tadi disentuh Zikra.
"Kenapa? Enggak boleh pegang-pegang pipi istri aku, ya?" Zikra balik bertanya. "ingat lho, kamu itu milik aku seutuhnya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Luar-dalam kamu juga punya aku."
"Ih, kamu ngomong apaan sih? Jadi, melantur gitu?"
"Aku cuma mau negasin ke kamu. Kamu itu milik aku. Enggak ada seorang pun yang bisa mengambilnya dari aku."
"Posesif banget, sih?" gumam Syifa.
Zikra tersenyum bahagia.
******
Happy reading!
__ADS_1
NB: Hai readers, 🙏🙏mohon maaf updatenya telat. Karena sekarang sedang banyak tugas dan pekerjaan yang banyak menyita waktu😥😥😇. Insyaallah, jika pekerjaan yang ada sudah rampung, author akan mengupdate tepat waktu. Terima kasih😘🥰bagi yang masih setia membaca karya aku semoga tidak membosankan.