Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Jujurlah Padaku ...


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Zikra dan Syifa tergolong hubungan yang tidak biasa. Awal menikah diusia belia tanpa landasan rasa cinta seperti pasangan muda-mudi pada umumnya. Hanya berbekal dari paksaan orang tua mereka menjalani biduk rumah tangga seperti orang asing.


Kini secara sepihak Syifa ingin mengakhiri ikatan pernikahannya dengan Zikra. Walaupun pada kenyataannya ia telah menyadari ada benih cinta yang tumbuh di hatinya. Namun terpaksa dipupus


karena merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.


Syifa masih berdiri sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Ia sangat malu hingga tidak berani melihat. Selama hidup di bawah atap yang sama, dengan status suami-istri walau masih sirri, ini adalah kali pertama ia melihat bagian tubuh Zikra terekspos tanpa selubung dan terkesan vulgar.


"Hei! Hei!" tiba-tiba satu jari telunjuk kokoh Zikra menusuk-nusuk tangan Syifa.


Kontan Syifa terperanjat kaget. Refleks bergerak mundur.


"Cepat pakai bajumu!" serunya panik setengah berteriak.


"Tsk! Hei!" Zikra menarik paksa tangan Syifa yang sedari tadi menyembunyikan wajah cantiknya. "lihat! Aku udah pakai baju."


"Oh!" Syifa tertegun. Melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki. "aku pikir ..." cengengesan.


Matanya bertemu dengan mata Zikra, membuat sangat gugup dan denyut jantungnya berdetak abnormal. Apalagi jarak di antara mereka cukup dekat, gadis itu kian mati kutu. Syifa menarik tangannya saat baru tersadar masih dalam genggaman pemuda itu.


Tetapi Zikra mencengkeramnya erat, lalu menariknya hingga tubuh Syifa yang kurus masuk dalam pelukkannya. Wajah gadis itu membenam di dadanya.


Syifa mendongakkan wajahnya seraya mendorong tubuh Zikra yang kekar.


"Zikra, apa yang kamu lakukan?" tanyanya tidak mengerti. "lepasin!" rengeknya.


"Terus, kamu sendiri ngapain ke kamar aku? Bukannya kamu ingin dekat-dekat sama aku, ya?" godanya dengan seringai sinis.


"Ih, Sembarangan!" Syifa mendorong jauh tubuh ZIkra. Memutar tubuhnya bergerak maju menuju pintu. Namun tidak bisa dibuka. "eh! Mana kunci serepnya?" tanyanya menengadahkan tangan menoleh ke arah Zikra.


"Kunci serep, buat apa?" Zikra pura-pura tidak mengerti.


“Hmph! Kok malah tanya buat apa sih? Ya buat buka pintulah! Masak buat dimakan,” sungutmya.


“Enggak ada,” jawab Zikra ringan, duduk di atas kasurnya dan tersenyum kecil.


"Maksudnya?" Syifa meminta penjelasan.


"Kalo enggak ada, ya enggak ada."


"Masak sih enggak ada? Ya ... seenggak-enggaknya kamu punya satu kunci cadangan kan?" gadis itu memaksa. Ia sangat tidak nyaman berbagi udara di dalam ruangan yang sama dengan Zikra. Ada rasa kekhawatiran tersendiri yang mendadak menyelimuti hatinya. Degup jantungnya berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya.


"Tapi sayangnya aku enggak punya, tuh!" Zikra acuh tak acuh langsung membaringkan tubuhnya.


Syifa geram melihat tingkah polah acuh pemuda yang enggan diakui sebagai suaminya di depan teman kamupusnya. Kedua tangannya mengepal erat sambil menggertakkan giginya. Dalam hati ia ingin sekali berteriak keras sampai gendang telinganya pecah, "aku ingin keluaaaar!" Namun urung dilakukan khawatir mengganggu tetangga.


"Zikra, kamu kok cuek gitu sih? Emangnya kamu enggak kasihan apa sama aku? Aku tuh cuma mau keluar dari sini, apa susahnya bantuin aku segitu doang, enggak bakalan bikin kamu capek seperti orang pikul batu segede gaban," rajuknya dengan wajah memelas.


Zikra mendengus pendek. Menarik selimut sampai pinggang lalu memunggungi Syifa. Tiba-tiba teringat kejadian tadi sore di mini market membuat cowok ganteng itu kehilangan mood. Tetapi dia tidak bisa melampiaskan amarahnya pada siapa pun. Kemudian memutuskan akan memendamnya di dalam hati saja.


"Sori, aku lagi capek banget, juga udah ngantuk jadi enggak bisa bantu kamu cari kunci serep," ujarnya dingin.


Huhh! Dia sih enak bisa tiduran begitu. Nah! Gue? Masak mau berdiri terus kayak gini? Emangnya gue tugu selamat datang!


"Mau sampai kapan kamu berdiri terus di situ?" tegur Zikra bergeming dari pembaringannya. "emang kamu mau jadi Dwarapala?"


Syifa mendengus kesal, membalikkan badan sambil mencebikkan bibir. Sambil menghentakkan kaki berjalan menuju kursi belajar Zikra. Lalu duduk dengan hati yang gelisah.


Masak sih gue harus duduk di sini sampai pagi? Ih, tega banget sih!


"Kamu masih hutang penjelasan sama aku," imbuh Zikra tiba-tiba.


Sontak Syifa mendongakkan kepalanya. Syifa tidak terkejut, hanya tidak menyangka suaminya masih ingin membahas persoalan tadi sore. Ia sadar apa yang telah dilakukannya adalah benar. Tetapi sebagai seorang gadis yang telah menikah tidak menampik  tindakannya itu tidak dapat dibenarkan. Pasalnya ia harus meminta izin terlebih dahulu dari suaminya sebelum melakukan kegiatan apa pun diluar rumah.


"Mengapa kamu bekerja sebagai shop keeper di mini market itu? Apakah uang yang selama ini aku kasih ke kamu masih kurang?" gugat Zikra bangkit duduk. "kalo masih kurang, kenapa kamu tidak meminta sama aku lagi?"


"Soal itu ... itu ..." wajah Syifa pucat pasi tidak bisa memberi penjelasan.


"Kenapa Syifa?"


"Ehm ... itu ... aku ... aku," Syifa sangat gugup lalu menundukkan wajahnya.


"Syifa!"


Syifa mendongakkan wajahnya langsung terlonjak kaget ketika melihat Zikra yang entah sejak kapan  sudah berdiri di hadapannya.


"Kenapa kamu enggak pernah berterus terang sama aku, tentang  apa yang kamu inginkan? Apa sebenarnya aku di matamu? Apa kamu enggak pernah menganggap aku penting? Seenggak-enggaknya kamu menganggap aku sebagai suami kamu."


Syifa tertegun. Bangkit berdiri.


"Meskipun kita menikah karena perjodohan dari orang tua kita, kamu dan aku tetap suami istri yang sah di mata hukum agama kita."


Tiba-tiba terngiang saat Zikra mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Menyadarkan Syifa akan semua kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Syifa, apakah di hati kamu enggak ada sedikitpun perasaan terhadap aku?"


Syifa meneguk salivanya gugup.


"Ma-mana mungkin? Kamu kan udah tahu dari awal kita cuma dijodohin, jadi kayaknya mustahil ada perasaan seperti itu," kilahnya.


Zikra berjalan mendekat. Refleks Syifa bergerak mundur. Namun tidak ada langkah yang tersisa. Ia pun terjatuh seketika di atas kursi.


"Stop! Jangan mendekat lagi! Diam di situ!" serunya memberi titah. Ia khawatir dadanya akan membuncah jika selangkah lagi pemuda itu mendekatinya. "a-aku rasa, aku udah menjelaskan semuanya tadi, sebelum Aini datang ke sini. Jadi, buat apa kamu tanya-tanya lagi?"


Zikra terdiam terpaku tanpa menyanggah ucapan Syifa.


"Selain itu, kamu udah punya Mbak Ayu, buat apa aku di sisi kamu?" mata Syifa mulai basah, dan suaranya agak parau menahan kesedihan di hatinya.


Zikra mengerutkan dahi tidak senang.


"Ayu? Maksud kamu ... Tara?"


"Iya. Kamu dan Mbak Ayu udah saling mencintai satu sama lain. Buat apa ada aku? Cuma jadi obat nyamuk doang."


"Kenapa kamu yakin aku dan Tara saling mencintai?" tanya Zikra heran.

__ADS_1


"Lelucon macam apa ini? Kenapa kamu mendadak jadi enggak pd begitu?" menyeringai sinis. "tentu aja aku yakin. Aku lihat mata kepalaku sendiri, kalian berdua saling mengungkapkan perasaan satu sam lain." buru-buru ia menutup mulutnya dengan tangan.


Zikra membeliakkan matanya. Terlutut lemas di lantai menghadap Syifa. Rona kesedihan dan kekecewaan tergambar jelas di matanya.


Sementara Syifa membuang muka menghindari tatapan mata Zikra. Dadanya berdesir kencang.


"Kapan kamu mendengarnya?"


"Malam itu ..." Syifa menurunkan wajahnya, takut Zikra mengetahui perasaan yang sesungguhnya.


"Malam ..." Zikra ragu melanjutkan ucapannya.


"Malam dimana kamu meminta aku datang ke taman."


Zikra mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.


"Jadi, kamu beneran datang malam itu?" tatapan cowok dengan tinggi badan seratus tujuh puluh delapan Senti meter itu nanar. "tapi, kenapa kamu ..."


"Cukup! Jangan bahas itu lagi!" pekik Syifa menutup kedua telinganya. "aku udah enggak mau dengar lagi!" mendorong Zikra menjauh darinya. Beranjak dari kursi yang sedari tadi menampung tubuhnya.


"Tapi, Syifa. Kamu harus tahu yang sesungguhnya." Zikra berusaha mengungkap tabir kesalahanpahman di antara mereka. "apa yang kamu lihat belum tentu itu yang sebenarnya."


"Mataku enggak buta. Telinga aku pun enggak tuli. Aku percaya dengan apa udah aku lihat dan aku dengar." akhirnya butiran bening itu meluncur dari pelupuk mata Syifa. Namun buru-buru disekanya. "mungkin kepergianku besok adalah saat yang tepat. Dan kamu akan membina hubungan baru dengan Mbak Ayu." suarnya terdengar parau menahan tangis. Kemudian bergerak ke arah pintu. Memutar handle pintu hendak keluar. Tetapi pintunya masih terkunci.


Aini yang tengah terlelap terusik dan terbangun oleh suara teiakan Syifa. Gadis bodoh itu berteriak memanggil-manggil namanya untuk dibukakan pintu sambil menggedor pintu kamar Zikra.


"Aini ... buka pintunya! Aini! Aini!"


"Hmm! Berisik banget sih?" gumamnya sambil menyalakan lampu. "malam-malam bukannya tidur, ini masih berisik aja. Emangnya enggak nyadar apa sekarang udah jam berapa?" Aini mendengus kesal. "kalo begini terus, lama-lama gue bisa stress juga."


Syifa kesiap dan seluruh tubuhnya seakan membeku ketika Zikra tiba-tiba memeluknya dari belakang. Secepat kilat ia meronta dan menepis pelukannya. Tetapi Zikra mengunci tangan Syifa dengan dekapan eratnya dan hangat. Degup jantungnya berdetak sangat kencang dan cepat. Kegugupan dan kegelisahan berbaur dan berkecamuk di dalam dadanya.


"A-apa yang kamu lakukan? Lepasin! Lepasin aku!"


"Enggak akan aku lepasin!" tukas ZIkra menambah kekuatannya. "aku enggak mau kamu pergi jauh dari aku."


"Heh!" Syifa menyeringai miring. "kenapa? Kamu mau bigami? Maaf, aku bukan cewek yang tepat untuk itu. Aku lebih baik mengalah daripada ..." mendadak bulu roma Syifa merinding saat satu kecupan hangat mendarat di pundaknya. "a-a-apa yang barusan kamu lakuin ke aku?" tanyanya panik.


"Enggak ada," sahut Zikra ringan seakan tidak terjadi apa-apa.


"Bohong! Tadi aku merasa kamu itu-itu-ituin aku." pekiknya terbata-bata.


"Ituin apa?" dengan santainya pemuda licik itu kembali mendaratkan satu kecupan ringan di belakang leher istrinya. Lagi, gadis lugu itu histeris. Sebelum suara Syifa semakin meninggi dan mengganggu jam istirahat para tetangganya, Zikra berinisiatif melepas pelukannya. Membantu memutar tubuh Syifa. Lalu menyumpal mulutnya dengan sebuah kecupan hangat dan lembut.


Syifa terbelalak kaget. Ia tidak bisa membiarkan suaminya ******* habis bibirnya hingga nyaris tidak bisa bernafas. Dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Zikra. Spontan mendaratkan pukulan keras di wajah tampannya.


"Kamu jahat! Kenapa lakuin ini sama aku?" tangisnya pecah. "emangnya selama ini enggak cukup kamu permainin hati aku?'


Zikra menerima dengan pasrah tamparan itu.


"Jika mencium cewek yang udah resmi menjadi istri aku adalah perbuatan jahat, aku rela kamu tampar sampai wajah aku enggak berbentuk. Asalkan kamu tahu di hatiku cuma ada kamu seorang. Dan ciuman itu adalah bukti aku cinta sama kamu."


Syifa tertegun.


"Maaf, selama ini aku udah buat kamu salah paham. Sebenarnya ..."


"Lagi?" Zikra menautkan alisnya. "apa sekejam itu aku di mata kamu, Syifa?" selidiknya. "jujur aku katakan sama kamu, aku memang mencintai Tara, dan sempat berpacaran dengannya. Tapi itu dulu, sekarang udah jadi masa lalu."


"Bohong!" gumam Syifa.


"Karena sekarang cintaku cuma kamu."


"Zikra, plis ... jangan bohongin aku. Karena aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, gimana Mbak Tara dan kamu berpelukan dan saling menyatakan cinta."


"Iya memang malam itu aku akui menyatakan cinta sama dia, karena kupikir cewek itu adalah kamu. Aku berani bersumpah ucapanku bukan bohongan."


Jadi, malam itu Zikra beneran mau ngungkapin perasaannya sama aku?


"Percuma Zik. Kamu jelasin seperti apa pun aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar. Lagian besok aku akan pergi. Sepertinya hal yang paling tepat adalah perceraian."


Bagaikan petir di siang bolong, eh malam deh, kan settingnya malam ya. Zikra terkejut mendengar ucapan Syifa. Hatinya sangat sedih.


"Plis, jangan pernah ngomong perpisahan lagi. Apalagi perceraian. Aku enggak akan melepaskan dan menceraikan kamu sampai kapan pun," ujar Zikra lirih. "sampai kapan pun cinta aku cuma kamu. Dan kamu hanya untuk aku selamanya. Aku enggak peduli kamu mau percaya atau enggak itulah kenyataannya."


Syifa terdiam. Lidahnya terasa keluh. Antara percaya dan tidak ia mendengar isi hati Zikra. Namun tidak dipungkiri hatinya sangat bahagia. Air matanya kembali membasahi pipinya.


"Terus, gimana sama kamu? Apa kamu yakin enggak jatuh cinta sedikit pun sama aku? Padahal di luar sana banyak cewek pada antri ngarepin cinta aku," celotehnya penuh percaya diri.


"Ih! Dasar narsis tingkat tinggi!" umpat Syifa.


"Siapa yang narsis? Aku ngomong apa adanya lho!" Zikra bergerak ke arah Syifa. Tanpa ragu menggendong istrinya. Sekuat tenaga dia menjaga keseimbangan karena gadis itu tidak tinggal diam dalam gendongannya, meminta diturunkan. Kemudian mendudukkannya di atas kasur.


Rona wajah Syifa bersemu merah menahan malu. Terlebih lagi Zikra dan dirinya berada dalam jarak yang sangat dekat.


"I love you, sayang," bisik Zikra lembut sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya.


Buru-buru Syifa menutup mulutnya agar Zikra tidak mengulangi serangannya.


Namun tenaga Zikra terlalu kuat untuk dilawan. Dengan mudahnya dia menepis tangan Syifa. Tanpa ba-bi-bu ******* bibir Syifa sangat lembut.


Tubuh Syifa menegang dan tidak bisa bergerak. Tetapi ciuman Zikra terlalu menuntut hingga tanpa sadar dan secara alamiah, ia mengikuti ritmen dan dapat menikmati setiap sentuhan di bibirnya.


Ya ampun ... ada apa ini? Kenapa ini?


Syifa mendorong lembuh tubuh Zikra sambil mengatur nafas.


"A-aku ngantuk," ujarnya polos.


Zikra tersenyum.


"Ya udah, mari kita tidur!" serunya.


"Ti-tidur di mana? Kan tempat tidurnya cuma satu."


"Kenapa masih canggung? Kita udah nikah bukan baru hari ini. Tapi udah beberapa bulan yang lalu. Kita pun pernah tidur satu kasur sewaktu nginap di rumah Mama. Jadi, usah khawatir." jelas Zikra.

__ADS_1


"Tap-tapi aku ..."


"Aku tahu kamu belum siap melakukannya. Kamu tenang aja, aku enggak bakalan ngapa-ngapain kok. Aku akan sabar menunggu sampai kamu siap."


Syifa tersenyum lega.


"Makasih karena udah mau ngertiin aku."


"Enggak usah bilang makasih, seolah-olah aku berjasa banget sama kamu." Zikra mengecup kening Syifa lembut. "kamu istri aku, aku bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kamu. Lain kali bila ada apa-apa tolong jujurlah sama aku. Supaya enggak ada kesalahpahaman lagi di antara kita."


Syifa menganggukkan kepalanya mengerti.


Malam semakin larut. Sepasang sejoli pun tertidur lelap dalam satu selimut yang sama. Namun mereka masih menjaga jarak antara satu sama lain, hingga keduanya saling siap suatu hari nanti.


"Ingat ya, kamu masih utang sama aku," ujar Zikra sebelum tidur.


"Utang? Utang apa?" tanya Syifa tidak mengerti.


Zikra bergerak mendekati Syifa yang berbaring di sampingnya. Seraya berbisik di telinga Syifa, dia berkata,


"Utang membalas cintaku. Aku tunggu pernyataan cinta kamu sama aku."


Syifa hanya tersenyum kecil. Hatinya sangat hangat.


Aini membuka pintu kamar dan keluar sambil mengucek-ngucek matanya. Memeriksa suasana terkini yang terjadi di dalam kamar Zikra. Menempelkan telinganya di pintu. Dahinya mengernyit berusaha lebih menempelkan telinganya. Tidak ada suara gaduh lagi. Sangat tenang dan damai.


"Kayaknya misi gue berhasil deh," gumamnya tersenyum kecil. "dasar suami istri bodoh! Cuma tidur satu kamar masak tunggu gue jebak dulu," umpatnya kesal. "Mungkin Aa gue yang terlalu naif, selama ini enggak bisa memanfaatkan keadaan." mendengus pelan, lalu menguap lebar. "aaah! Masih malam mata gue udah enggak kuat melek. Besok aja deh baru diomongin sama mereka." bergegas masuk ke dalam kamar kembali.


Zikra tersenyum lebar melihat Syifa berada dekat dengannya. gadis itu tertidur sangat damai. Setelah hampir semalaman bertengkar, akhirnya bisa mengungkapkan rasa cintanya yang lama tersimpan. Pelan-pelan dia membelai anak rambut yang jatuh di wajahnya.


"Sayang, kamu adalah milikku. Maka selamanya milikku. Aku janji akan menjaga dan melindungi kamu sepanjang hidup aku." bisik batinnya, lalu mengecup lembut kening Syifa.


Syifa tersenyum seakan dapat mendengar ungkapan hati suaminya.


Di dalam tidurnya Syifa bermimpi, Ayah dan Bunda, serta Ade datang menjemputnya. Ia sangat bahagia dan langsung memeluk mereka.


"Teteh, Ade kangen sama Teteh," imbuh adiknya.


Syifa memeluk erat bocah kecil itu haru.


"Teteh juga kangen sama Ade," sahutnya lirih. "abis ini kita semua akan berkumpul seperti dulu." lanjutnya diiringi air mata yang menetes di pipinya.


Rona wajah Fauzi tampak murung dan memucat. Ada kesedihan yang tersirat dari sorot matanya. Pria itu hanya tersenyum getir. Tidak berbicara sepatah kata pun.


Bunda tersenyum senang. Membelai lembut rambut putri sulung kesayangannya.


"Bunda bahagia sekali bisa melihat Teteh baik-baik saja di sini," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. "terimakasih nak Zikra, karena sudah menjaga anak kami dengan baik."


"Bunda enggak usah berbicara seperti itu. Syifa adalah istri saya. Maka saya akan selalu menjaganya sebagai suami yang baik." jawab Zikra yang entah sejak kapan sudah berada di samping Syifa. Dia tersenyum hangat.


"Ayo, kita berangkat!" seru Syifa menarik kopernya hendak keluar dari rumah Zikra.


"Kamu mau kemana?" tegur Zikra seraya menarik lengan Syifa.


"Aku kan udah bilang sama kamu mau pergi. Nah, berhubung Ayah dan Bunda udah datang menjemput aku berangkat sekarang deh." sahutnya ringan.


"Sayang, kamu itu istri aku, jadi kamu enggak bisa pergi ninggalin aku begitu aja. Kalo kamu pergi, aku juga ikut."


"Mana bisa begitu?"


"Teteh, benar yang dikatakan nak Zikra. Kamu sudah menjadi istrinya. Maka, kamu harus selalu ada di sampingnya." sanggah Bunda.


"Tapi Bunda ..."


"Teteh, karena sudah ada nak Zikra yang menjaga kamu dengan baik. Jadi, kami sangat lega dan bahagia."


"Bunda ..."


"Kami semua pamit ya ... selamat tinggal." tiba-tiba Ayah, Bunda dan Ade pergi meninggalkan Syifa. Melambaikan tangan lalu hilang entah kemana.


Syifa menangis pilu.


"Ayah ... Bunda ... jangan tinggalin Syifa. Ajak Syifa pergi bersama kalian," pekiknya lirih.


Zikra mengerutkan dahi saat Syifa meronta sambil berteriak memanggil orang tuanya. Dengan lembut dia membangunkannya.


"Sayang, kamu mimpi buruk ya?" tegurnya lembut.


Syifa pun terbangun gelagapan. Melihat sekeliling seakan sedang mencari sesuatu. Matanya basah seperti habis menangis. Beranjak duduk.


"Ada apa? Kamu cari apa?" tanya Zikra penasaran ikut beranjak duduk sambil mengelus rambut istrinya.


"Ayah sama Bunda mana?" Syifa balik tanya seperti orang linglung.


Zikra tertawa kecil.


"Kamu ini aneh. Mana ada Ayah dan Bunda disini? Orang kita cuma berdua aja."


"Apa? Jadi, Ayah dan Bunda enggak ada? Berarti cuma mimpi?"


"Iya, cuma mimpi." Zikra memeluk istrinya lembut. "apakah kamu sangat merindukan mereka?"


Syifa mengangguk cepat.


"Iya. Sudah berbulan-bulan aku enggak ketemu Ayah Bunda, udah pasti aku kangen banget."


"Ya udah. Sekarang kamu tidur dulu ya, karena masih malam. Besok pagi baru kita omongin masalah ini ya."


Syifa mengangguk lagi. Tanpa banyak bicara ia langsung menurut ucapan suaminya. Kemudian membaringkan tubuhnya kembali.


Zikra pun ikut membaringkan tubuhnya sambil menyelimuti gadis yang sangat berharga baginya.


"Selamat malam," ujarnya lalu memberikan kecupan sebelum tidur di kening Syifa.


"Malam." sahutnya pelan dengan senyum semringah. Lalu memejamkan mata, larut dalam alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2