
Syifa terserang rasa lapar yang sangat sampai usus-ususnya terasa membelit di dalam perutnya. Ia baru tersadar ternyata dirinya belum makan malam saat ini. Tetapi tidak ada makanan yang tersedia di dapur. Lantaran selama dua hari kemarin ia berada di rumah baru dengan segalanya yang serba dilayani oleh Bi Asih. Sementara ia baru kembali ke rumah ini yang tentu saja harus serba sendiri. Jadi, mau tidak mau ia harus memasak makanan untuk mengisi perutnya.
"Humph! Cuma ada mie instnt doang." keluhnya saat melihat persedian makanan di lemari penyimpanan.
Seharusnya kemarin Syifa sudah belanja sayuran, ikan, ayam, dan telur untuk jatah dua atau tiga hari ke depan.
Tapi, karena keasyikan berada di rumah besar lengkap dengan pelayan yang siap melayani membuatnya lupa rencana belanjanya. Alhasil, kulkasnya kosong melompong, juga lemari penyimpan makanan yang tersisa hanya dua kaleng ikan olahan, dan beberapa bungkus mie instant di dalam lemari penyimpanan.
Kayanya kalo kondisi perut gue yang lagi melilit kaya gini... sebaiknya hindari makan mie dulu deh. Dari pada perutnya tambah gak beres. Pikir Syifa menutup lemari penyimpanannya.
"Kamu lagi cari apa sayang?" tanya Zikra baru selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Dia mengenakan kaos putih polos dan celana jogger warna coklat susu.
Syifa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Zikra yang berdiri di belakangnya. Belum sempat menjawab pertanyaan cowok tampan bertubuh atletis itu, mendadak ia menutup hidungnya dengan satu tangannya. Sedangkan tangan lainnya mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.
"Sana... jangan dekat-dekat!" serunya masih menutup hidungnya.
Entah mengapa aroma yang menguar dari tubuh Zikra yang seharusnya harum sabun, berubah menjadi bau yang tidak sedap ketika mampir dan masuk ke dalam indera penciuman Syifa. Alhasil ia menjadi pusing dan sedikit mual.
"Lho? Kenapa?" tanya Zikra bingung.
"Kamu bau." sahut Syifa cepat. Beranjak meninggalkan Zikra mencari tempat aman.
"Apa? Bau? Masa sih?" Zikra langsung mengangkat lengannya kiri dan kanan secara bergantian. Dia mengendus dan mencium bau tubuhnya sendiri untuk memastikan bau yang dimaksud istrinya.
“Ah, enggak kok, Yank…” kilah Zikra setelah tidak dapat mendeteksi bau yang Syifa maksud. “aku kan abis mandi. Masa dibilang bau sih?”
“Tapi, aroma tubuh kamu bikin aku pusing juga rada mual gitu. Mending kamu jaga jarak dulu deh sama aku.” Jelas Syifa.
“Enggak bisa begitu juga, Yank. Masa sih aku disuruh jauh dari kamu. Nanti aku bisa rindu sama kamu. Rindu itu berat lho. Yank...”
Krukukk... bunyi perut Syifa yang sedang demo. Krukukk...
Sontak Syifa menyentuh perutnya dengan wajah bersemu merah karena malu.
"Kenapa, Yank? Kamu laper?"
"Enggak. Aku udah kenyang." sahut Syifa agak kesal.
Krukukk ...
"Tapi, perut kamu bunyi. Itu tandanya kamu laper, iya kan?"
__ADS_1
"Humph, udah tahu, tanya," sungutnya mendengus kesal. "aku kan belum makan malam."
Zikra tersenyum berjalan mendekati istrinya. Sepertinya ia sudah tdak mual lagi. Lalu melingkarkan tangan dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Aku juga lapar." bisik Zikra di telinga Syifa. "ayo, kita makan malam bersama."
"Hei, hei, hei ... jaga jarak!" seru Syifa menahan rasa mual yang mulai menyerangnya.
"Ya ampun, Yank. Kamu tega banget. Dikira aku truk tronton yang mau nabrak. Jangan gitu dong. Truk aja gandengan, masa kita mau jauhan?" keluh Zikra memelas. "lagian, kamu kok tumben banget enggak suka sama aroma wangi tubuh aku. Tadi aja waktu aku cium kamu pasrah aja. Padahal aku belum mandi."
Tiba-tiba Syifa terdiam. Mencerna apa yang diucapkan Zikra. Mencoba mengumpulkan memori dalam mengingatnya. Kemudian menemukan satu titik yang masih sulit untuk disimpulkan. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya hari ini. Mengapa terasa ada yang berbeda. Entah mengapa ia lebih menikmati aroma tubuh Zikra yang berkeringat setelah seharian beraktifitas. Ketimbang aroma sabun yang menguar dari tubuh suaminya itu. Padahal sebelumnya terasa biasa saja.
Ah, mungkin perut gue lagi laper aja kali. Makanya dia bereaksi rada lebay gini. Pikir Syifa berusaha tidak berpikir aneh-aneh.
"Efek perut kosong aku kali... jadi nunjukkin reaksi yang gak biasa."
"Kalo laper ya udah masak aja." sanggah Zikra.
"Aku belum belanja sayuran udah dua hari ini, jadi kulkas kosong gak ada isinya."
"Lemari penyimpanan?"
"Cuma ada mie instant doang. Tapi aku lagi gak kepingin makan mie."
Syifa tampak sedang berpikir.
"Mau makan di luar?" tanya Zikra sambil menarik kursi makan, lalu duduk. "di restoran, gitu?"
"Enggak, ah. Aku enggak mau makanan di restoran." jawab Syifa juga duduk di kursi, namun sengaja mencari posisi yang tidak terlalu dekat dengan suaminya.
"Jadi, kamu mau makan dimana?"
"Aku mau makan nasi goreng pinggir jalan yang ada di ujung gang aja."
"Ya, udah. Aku beliin dulu." Zikra beranjak berdiri hendak bergegas pergi. "kamu tunggu di rumah. Nanti tolong buatin aku minuman hangat ya."
"Enggak mau." sahut Syifa cepat. Ia terlihat agak marah dan manja. "aku emang bilang mau makan nasi goreng, tapi makannya di tempat."
Zikra mengernyit heran.
"Kamu yakin mau makan disana?" tanyanya ragu.
__ADS_1
"Iya."
Zikra terkejut dan terheran-heran dengan sikap Syifa malam ini yang terasa sedikit aneh dan tidak biasa.
"Kenapa? Kamu enggak mau makan di sana, ya?" selidik Syifa penasaran melihat ekspresi Zikra yang terkesan tidak ingin melakukan apa yang dimintanya. "aku tahu, kamu pasti keberatan kan makan makanan pinggir jalan. Ya iyalah. Kamu kan sekarang udah jadi bos perusahaan besar. Mana mau kamu makan di tempat kotor seperti itu." lanjutnya dengan nada kecewa.
"Bukan. Bukan begitu maksudku." sanggah Zikra.
"Enggak papa lagi, Pak Boss," seringai Syifa tipis bangkit berdiri. "biar aku makan sendiri aja di sana. Kalo kamu mau makan di restoran, ya... terserah aja." ia bergerak masuk ke dalam kamarnya mengambil jaket dan dompet. Setelah itu beranjak keluar.
"Yank, mana mungkin aku enggak ikut. Lagian, mau jabatan aku bos atau bukan di kanator. Aku rasa enggak ada hubungannya dengan keinginan istri aku yang cantik." Zikra menghadang Syifa diambang pintu kamar saat istrinya hendak keluar.
"Oya?" Syifa seakan tidak percaya dengan ucapan suaminya.
"Swear!" Zikra mengangkat jari telunjuk dan jari tengah berusaha menyakinkan. Syifa hanya mendengus acuh.
"Masa sih kamu gak percaya sih, Yank."
"Oke. Aku percaya."
Zikra tersenyum semringah. "Tunggu, aku ambil kunci mobil dulu." ujarnya beranjak pergi.
"Aku enggak mau naik mobil." tukas Syifa cepat.
"Ya udah, naik motor."
"Enggak mau juga."
Lagi, Zikra dibuat terkejut dengan penolakan gadis yang biasanya tidak banyak menuntut.
"Aku mau jalan kaki." pungkas Syifa. Zikra mendengus lemas.
"Ya udah, aku ambil jaket dulu." sahut Zikra dengan suara rendah.
Zikra tidak mengerti mengapa malam ini sikap Syifa menjadi sedikit aneh dari biasanya. Gadis itu biasanya selalu bersikap wajar dan tidak manja. Dan anehnya Zikra tidak ingin menanyakannya secara langsung. Dia hanya mendiamkannya dan hanya mengikuti apa yang dimintanya.
Bersambung ...
***
Happy reading! 🥰✌️
__ADS_1
🙏 Mohon maaf updatenya telat karena lagi sibuk banget ditambah lagi gak enak body🥴. Jadinya, ya enggak maksimal 🙏. Doakan 🤲 author semoga selalu sehat 💪 dan punya waktu luang ⏳ buat update episode baru. 🙏 Trims banyak buat para readers yang selalu setia pantengin novel aku ini. ❤️❤️ Luv u all!