
Setelah semua warga pergi meninggalkan rumah Zikra. Rona wajah Syifa terlihat murung. Ia langsung masuk ke dalam kamar. Ia menangis sesenggukkan sambil mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
Zikra menerobos masuk ke dalam ketika suara tangis Syifa terdengar keluar.
" Syifa."
Matanya terbeliak melihat gadis itu mengeluarkan semua barang-barangnya dari lemari.
"Kamu mau kemana mengemasi semua pakaian ke koper?" selidik Zikra berusaha menghalangi.
"Aku mau pergi dari sini," ujarnya lirih.
"Pergi kemana?" tanya Zikra lembut. "lagian buat apa kamu pergi?"
Syifa menyeka air matanya. Hatinya sangat terluka difitnah oleh orang lain. Jangankan untuk berkawan baik, saling mengenal saja tidak.
"Toh, semuanya udah kelar. Pak RT yang turun tangan langsung kepada semua warga dengan jelas." jelas Zikra penuh kesabaran.
Gadis itu terdiam. Sesekali masih terdengar suara isaknya.
"Udahlah, enggak usah ambil hati," Zikra mengembalikan barang-barang milik Syifa kembali ke tempat semula. "maaf kalo aku salah. Karena aku tidak sempat memperkenalkan kamu kepada warga. Soalnya untuk sekarang-sekarang ini aku lagi banyak kerjaan di kantor. Makanya aku sering pulang terlambat."
"Aku enggak suka tinggal di sini. Aku mau pulang," rajuk Syifa.
Zikra menghela nafas.
"Dasar anak kecil. Kamu udah lupa atau emang udah pikun sih?" Zikra mengacak-acak rambut Syifa sama seperti ketika mengacak-acak rambut Aini. "rumah kamu kan udah dikontrakin ke orang lain. Kalo kamu tetap bersikeras mau pulang juga, terserah. Tapi aku enggak jamin kamu boleh menginap di sana," tatapan matanya lembut namun terasa menembus jantung Syifa. "mungkin untuk satu malam, kamu masih bisa diperbolehkan. Kalo untuk seterusnya ... I don't know ..."
Syifa menghentakkan kakinya ke atas lantai beberapa kali untuk menghilangkan kekesalannya. Kedua tangannya mengepal erat-erat.
"Udah dong kesalnya," bujuk Zikra. Menepuk pelan bahu Syifa.
Syifa duduk di atas kasurnya. Menyeka air mata yang bercampur keringat.
*
Hari Minggu adalah hari bersantai di rumah. Menonton tv bersama keluarga, atau berlibur di luar rumah mencari suasana baru. Tetapi tidak terjadi pada Syifa dan Zikra.
Pasangan pengantin baru itu memilih menghabiskan waktu di rumah. Meskipun keduanya belum melakukan ritual layaknya sepasang suami-istri yang baru menikah, bulan madu. Mereka sibuk mengurus tugas rumah masing-masing.
Syifa mengurus bagian dalam rumah seperti, memasak, mencuci piring dan pakaian, serta menyapu juga mengepel lantai. Sementara pemuda yang akrab disapa Mas Gan di lingkungan sekitar bekerja di luar rumah yaitu, menyiram tanaman, mencuci sepeda motornya, bahkan bila perlu membersihkan got jika saluran airnya mampet. Walaupun yang dilakukan mereka perkara biasa, mereka tetap bahagia mengerjakannya.
Syifa baru saja selesai mengepel seluruh penjuru rumah. Kemudian membawa sisa air pelan keluar untuk menyiram tanaman. Begitu pula dengan Zikra yang telah selesai mencuci sepeda motornya di depan rumah. Merentangkan tangannya ke udara. Lalu memeras kain kanebo yang masih ada di tangannya sebelum dimasukkan ke dalam tempatnya.
__ADS_1
"Udah bersih motornya, aku juga udah mandi, tinggal ganti baju," pikir Zikra hendak beranjak pergi.
Tiba-tiba dari arah berlawanan Syifa muncul. Tanpa basa-basi ia langsung menyiram tanaman yang berjarak setengah meter darinya. Namun air itu tidak mengenai tanaman, malah mengguyur Zikra sejadi-jadinya. Kontan ember terjatuh ke tanah karena terkejut.
"Ya ampun, ya ampun, sori, sori," ucap Syifa sangat menyesal. "aku enggak sengaja."
"Ergh! Syifa ..." pekik Zikra marah.
Syifa segera kabur dari hadapan Zikra. Tetapi gerakannya kalah cepat dengan tangkapan tangan pemuda itu. Mau tidak mau ia harus menerima hukuman yang diberikan suaminya.
Selang air yang diarahkan Zikra menyembur mengenai Syifa. Hingga gadis itu basah kuyup. Amarah yang sempat mampir karena sebuah insiden. Kini berganti dengan suara gelak tawa. Tidak terima terus-menerus disemprot air, Syifa merebut selang air itu dari Zikra. Lalu berbalik menyiramnya lebih parah lagi.
"Gara-gara kamu nih, aku jadi mandi lagi," kata Zikra menggerutu.
"Cuma mandi doang, enggak papa kali kan pake air. Bukan pake api, bisa lumer," sahut Syifa terkekeh kecil.
Zikra tersenyum. Rupanya sikap gadis itu perlahan telah berubah. Rona kesedihan perlahan memudar seiring berjalannya waktu.
Syifa mendadak mendapatkan undangan arisan PKK di lingkungan RT tempat tinggalnya. Ia hanya menghela nafas menatap kertas undangan yang baru saja diterimanya dari petugas PKK setempat.
"Udah, ikut aja. Sekalian kamu bersosialisasi sama lingkungan sekitar ini," cetus Zikra berusaha memotivasi.
"Tapi ..."
Rasa malu dan tidak percaya diri melumpuhkan keberaniannya ketika baru tiba di rumah penyelenggara arisan. Apalagi peristiwa kemarin masih segar terasa dalam ingatan. Membuatnya kian ingin segera pulang.
"Mbak Syifa, baru datang?" tegur seorang wanita berhijab syar'i menghampiri.
Syifa mengangguk seraya menyentuh kepalanya dan tersenyum malu. Sebagian besar peserta arisan yang datang mengenakan hijab. Sementara Syifa hanya mengenakan baju serba tertutup tanpa memakai jilbab.
Ya ampun, malunya ...
"Mari masuk," serunya ramah sambil memeluk bahu Syifa hendak mengajaknya masuk.
Semua orang menatap Syifa. Membuat gadis itu jadi salah tingkah. Ada di antara mereka yang membawa anak balita. Hingga mereka terlihat sibuk sendiri bila anaknya menangis. Berbeda dengan balita yang terlelap tidur, si ibu sibuk ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain.
"Tapi ... saya enggak pake jilbab, " Syifa sangat malu dan minder. "apa saya pulang dulu, ambil jilbab, terus balik lagi ke sini?"
"Enggak perlu, nanti Mbak bisa telat. Kalo mbak mau pake jilbab nanti saya kasih pinjam," sahut wanita itu ramah.
"Makasih Tante," ujar Syifa sungkan.
"Jangan panggil Tante, kesannya giman ... gitu kalo dipanggil Tante. Udah panggil aja Mama Dio," sergahnya cepat. "lagian anak Mama yang paling besar, seumuran kamu. Jadi anggap saja Mama Dio seperti Mama kamu sendiri," tambahnya memperjelas.
__ADS_1
Tanpa komando air mata Syifa sudah berkumpul di pelupuk matanya. Ia teringat dengan sosok wanita yang kerap dipanggilnya Bunda. Rasa rindu mengisi ruang kosong dalam sanubari hatinya. Keluarga yang telah pergi meninggalkannya jauh. Harapan ingin berkumpul seperti dulu masih sebatas angan. Kendati terpisah jarak, ruang dan waktu hubungan komunikasi masih terjalin indah melalui saluran telepon.
Zikra terkejut ketika melihat Syifa pulang mengenakan jilbab. Padahal sewaktu berangkat tidak memakainya.
"Cie ... sekarang udah jadi ibu PKK nih?" celotehnya menggoda sembari membukakan pintu.
"Hemm." meletakkan kotak makanan yang dibawanya di atas meja makan. Setelah itu masuk ke kamar menyimpan tas yang tadi dipakainya.
"Terus, jilbab siapa yang kamu pake? Perasaan tadi sewaktu berangkat kamu enggak pake ..."
"Iya. Tadi aku dipinjemin sama Mama Dio," sahut Syifa cepat seraya menutup pintu kamar. Duduk di kursi membuka kotak yang dibawanya. Kotak itu berisi putu mayang, lontong, dan risoles.
"Hah? Mama Dio? Siapa?" selidik Zikra mengerutkan dahi. Zikra duduk di kursi yang berhadapan dengan Syifa.
"Ah, kamu kenalnya cuma sama Bu Astuti doang sih, jadi, sama Mama Dio enggak kenal, " seloroh Syifa. Menyodorkan kotak kue yang dibukanya lebar.
"Ngomong apaan sih kamu?" Zikra tersipu malu. Memasukkan kue putu mayang ke dalam mulutnya.
"Kayaknya aku harus bongkar koper aku deh," imbuh Syifa.
"Mau ngapain?"
"Cari jilbab. Supaya kalo ada undangan kayak gini lagi aku enggak malu. Soalnya tadi, mereka semua pake jilbab. Aku doang yang enggak."
"Yang umur ABG juga kamu doang."
"Kata siapa aku doang yang ABG. Mereka juga sama lho."
"Masak sih?"
"Iya, tapi angkatan babe gue ..."
Zikra dan Syifa tertawa riang.
"Kamu, ada-ada aja."
"Iya, dong. Kalo enggak ada namanya menghilang aja." menggigit ujung capai rawit dan risoles secara bergantian.
Zikra tersenyum seraya menatap Syifa tanpa berkedip. Entah apa yang sedang dipikirnya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sedangkan Syifa sibuk memakan risoles dengan cabai. Sesekali ia terlihat meringis menahan pedas.
Entah sampai kapan kita bisa bersama seperti ini. Sampai esok atau selamanya. Aku enggak pernah tahu.
Syifa ... tersenyumlah! Bahagiakan! Lupakan kesedihan yang selalu datang menghantuimu. Aku berjanji akan selalu menjagamu, melindungimu, dan membahagiakanmu selamanya.
__ADS_1
Bersambung ....