
Senja hampir surut saat proses pemakaman Uwa selesai dikebumikan. Suasana duka masih menyelimuti keluarga besar Ayah. Untuk sementara derai air mata menetes dari peluk mata, perlahan mengiring bersamaan lantunan doa dalam acara tahlilan berjalan dengan lancar dan khidmat.
Surya, papanya Zikra, memberi semangat untuk menguatkan Ayah yang masih kalut. Berbeda dengan Bunda yang memilih mengobrol dengan Mama, besannya. Pasalnya Bunda terlihat lebih tegar dalam menghadapi musibah itu.
Aini memilih menyendiri di dalam mobil sembari mengecek medsos pribadinya. Zikra membantu kakak sepupu Syifa memberi jamuan pada jamaah yang menghadiri acara tahlilan di rumah Uwa.
Sebenarnya rencana awal keluarga Zikra akan pulang setelah acara pernikahan selesai. Karena musibah yang terjadi datang tanpa kompromi. Mau tidak mau mereka tetap bertahan untuk menghormati keluarga Syifa yang sedang berduka.
Bersama sepupu dan keluarga dari pihak Ayah yang perempuan, Syifa duduk bersandar di kursi dapur. Namun, gadis itu hanya diam saat mereka semua bercakap-cakap. Sesekali terdengar suara gelak tawa yang sedikit ditahan, khawatir akan mengganggu jalannya acara tahlil.
Entah karena tidak tertarik dengan tema obrolan mereka, atau tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, hingga Syifa memilih diam. Cincin pernikahan yang sedikit longgar melingkar dijari manisnya, diputar-putarnya sendiri sembari bermain-main dalam angan.
Keluarga Zikra langsung pamit pulang setelah acara selesai. Kedua orang tua Syifa mengantarnya sampai mereka masuk ke dalam mobil. Sementara Syifa hanya mengantar sampai pintu depan. Lalu berdiri mematung di sana.
Zikra menatap Syifa dari kejauhan di kursi kemudi. Gadis itu hanya diam tanpa ekspresi. Dalam hati dia ingin sekali berbicara banyak dengannya, perempuan yang telah resmi menjadi istrinya. Tetapi, sampai Uwa selesai dimakamkan, keinginannya belum terealisasi. Oleh sebab itu, dia maupun Syifa hanya mampu saling menatap satu sama lain, itu pun dengan jarak yang lumayan jauh.
Aini yang masih sibuk dengan ponselnya, tampak acuh pada keadaan sekeliling.
Tidak lama berselang mobil sedan hitam itu bergerak pergi, diiringi lambaian tangan dari Ayah dan Bunda, mereka meninggalkan rumah Uwa.
Syifa menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Menekuk kedua kaki hingga dapat memeluknya. Rasa tidak percaya masih menyergap pikirannya. Bagaimana mungkin cowok cupu bisa berubah menjadi cowok ganteng seperti Zikra? Mungkinkah Nadya salah mengenali orang? Masuk akal bila Syifa maupun Nadya jika salah
mengenalinya. Pasalnya kedua cowok itu masing-masing membawa bunga, yang menurut kedua gadis lugu itu, bisa menguatkan alibi mereka sendiri.
Nadya yakin cowok cupu itu calon suami Syifa, karena dia membawa mawar merah yang sudah menjadi syarat dalam kencan buta. Sementara Zikra membawa mawar merah muda, hingga membuat Syifa menolak keyakinan bahwa dialah calon suaminya. Meskipun hatinya sempat bimbang, tetapi ia tetap yakin si cupu-lah juaranya. Tidak peduli berkali-kali ditinggal pergi sampai ditolak mentah-mentah, ia tetap terima dan berpegang teguh pada keyakinannya.
Syifa menghela nafas panjang. Mungkin malam ini akan terasa lebih panjang dari malam-malam sebelumnya.
Pada waktu yang hampir bersamaan. Zikra duduk di atas tempat tidurnya, setelah sebelumnya mandi dan mengganti pakaian. Dia tersenyum seraya menatap cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. Dia merasa bagai mimpi dapat mengalami hal menakjubkan dalam hidupnya.
Aneh, dalam waktu singkat aku udah melepas masa lajangku? Tanpa ribet lagi.
Zikra menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menghela nafas panjang.
*
Syifa turun dari angkot orange yang berhenti tepat di seberang jalan gedung sekolahnya. Rasa bahagia menyeruak dalam sanubari, mengiring senyum khas tersungging di bibir tipisnya. Ia menghela napas ringan menatap
gedung dua lantai di hadapannya. Sebentar lagi, hanya dalam hitungan bulan, bangunan itu akan ditinggalkan menjadi saksi sejarah hidupnya kelak.
__ADS_1
Dengan hati – hati ia menyeberangi jalan yang sedikit mulai lengang. Tangan kanannya sibuk mengangkat rok panjang semata kaki yang sesekali terinjak bila tak diangkat. Sementara tangan kirinya terangkat memberi kode
kepada para pengguna kendaraan saat menyeberangi jalan. Jilbab putih segi empat yang dikenakan sedikit berkibar tertiup angin.
Hiruk – pikuk suasana sekolah menengah atas kini dirasakan kembali, setelah beberapa hari izin tidak masuk sekolah. Seperti biasa Pak Tumrin berdiri di dekat pintu gerbang mengawasi kerapihan pakaian semua murid. Ada
beberapa murid yang berpakaian tidak rapi, langsung mendapat teguran. Mereka pun segera merapikan pakaian dengan cepat.
“Akhirnya gue bisa sekolah lagi,” gumamnya dengan senyum yang mengembang.
“Woi! Kemana aja lo?” pekik Nadya seraya menepuk bahu Syifa dari belakang.
Sontak Syifa terperanjat kaget sembari menepuk – nepuk pelan dadanya.
“Ah, elo ngagetin gue aja.”
Nadya menyeringai gembira seakan tidak berdosa telah mengejutkan sahabatnya.
“Seminggu gak ada kabar. Tenggelam di mana lo?”
“Gue baru balik dari kampung Bokap.”
“Tumben, elo enggak calling – calling gue selama di kampung?”
“O iya, gue lupa. Hp lo kan pada rengat di ambang kehancuran, gara–gara kegep teleponan sama mantan lo yang brengsek itu.”
“Hush! Jangan ngomong kayak gitu dong. Walau bagaimana pun dia kan mantan terindah gue.”
“Uekh! Mantan terindah. Jijik gue dengarnya.”
“Rese lo, Nad!”
Tak lama berselang. Aini turun dari sepeda motor kakaknya yang mengantar sampai depan gerbang. Deru suara sepeda motor pemuda tampan itu mengalihkan pandangan Nadya. Hingga gadis itu tergelitik untuk menoleh ke
sumber suara.
“Eh, Cip. Lihat tuh!” seru Nadya menunjuk dengan bibirnya.
“Siapa?” Syifa ikuti menoleh.
__ADS_1
Ya ampun. Itu kan …
"Ya amplop ... makin hari, makin ganteng aja tuh cowok. Bikin gue tambah kesengsem aja."
Syifa segera memalingkan wajahnya. Menutup separuh wajahnya dengan tangannya. Berusaha menyeret Nadya agar menjauhi tkp.
“Elo kenapa sih, Pa? Pake Tarik – Tarik gue segala?” Nadya meronta dan berhasil menepis tangan Syifa.
Kontan Aini yang berusaha melepaskan helm dengan dibantu Zikra menoleh ke arah Nadya dan Syifa. Mereka terkesiap mendengar suara Nadya yang cukup kencang. Lalu mereka sempat berbicara sebelum akhirnya pemuda itu berlalu pergi meninggalkan Aini di pinggir jalan.
Aduuuh … gimana ini? Mudah – mudahan si Zikra enggak lihat gue. Atau enggak mengenali gue. Mudah – mudahan si Aini enggak ngomong sama dia.
Nadya menatap Syifa heran. Gadis itu merasa ada yang mencurigakan dari sikap sahabatnya. Mengerutka dahi.
“Terus, kenapa elo pake nutup wajah lo segala kayak gitu?”
“Enggak papa.”
Syifa melepas penutup wajahnya setelah merasa kondisi aman baginya. Ia mendengus lega.
Aini menghentikan langkahnya tepat di hadapan Syifa dan Nadya.
“Dasar norak! Gak jelas dan gak bermutu,” cibirnya dengan wajah sinis.
“Ih. Elo tuh yang ora danta! Datang – datang ngomong enggak jelas juntrungannya.” balas Nadya sengit.
“Emang benar kan, kalian berdua sahabat yang gak bermutu.”
“Eh, itu mulut apa centong sayur?” Nadya geram. "lama-lama nyebelin banget, pengen gue cocol pake sambel aja."
Mendadak Syifa menyeret Nadya menjauhi Aini, sebelum terjadi pertengkaran yang berujung pertumpahan darah. Apalagi sedaritadi Pak Tumrin sudah memperhatikan tingkah polah mereka. Jika pertengkaran mereka terdengar oleh guru BP itu. Bisa dipastikan pagi ini akan mereka lewatkan dengan membersihkan kamar mandi sekolah yang jumlahnya bejibun.
Nadya berusaha meronta dan ingin menjambak rambut Aini. Tetapi tenaga Syifa yang extra strong mampu mengalahkan hasratnya. Gadis itu pun tak berani berkutik saat Syifa membisikkan di telinganya tentang Pak Tumrin sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Aini menyeringai sinis. Rasa tidak sukanya terhadap Syifa begitu kentara sekali. Apalagi setelah gadis itu resmi menjadi istri kakaknya mebuat semakin bertambah benci.
Kemudian Syifa dan Nadya memutuskan masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Bersambung ...