Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Zikra


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Zikra memasuki gang menuju rumah Syifa. Sebelumnya Syifa sudah berpesan agar


mengantarnya hanya sampai ujung jalan gang rumahnya. Sama seperti saat Zikra mengantarnya untuk pertama kali. Karena ia sangat takut bila kedua orang tuanya tahu jika dirinya bersama seorang lelaki. Berbagai alasan diucapkan agar mereka tidak mengantarnya sampai di depan rumah.


“Tenang, Pa, kan ada gue,” ujar Nadya memberi jaminan.


Akhirnya Syifa setuju diantar sampai depan gerbang rumahnya. Kendati demikian Syifa tetap tidak mengizinkan dua pemuda baik yang telah mengantarnya pulang turun dari mobil.


“Makasih ya Nad, walaupun besok gue bakalan bikin perhitungan sama elo, kalo gue sampai diomelin sama nyokap-bokap gue,” ucap Syifa sebelum keluar dari mobil.


“Ah, elo …”


“Bang Bonang, makasih ya udah mau anterin saya pulang,” lanjutnya menganggukkan kepala agak canggung.


“Cailah. Gak pake sungkan begitu kali. Santuy aja. Lagian orang yang paling pantas menerima ucapan terima kasih, ya ini … si bro Zikra, ya kan bro,” sanggah Bonang seraya menyiku bahu Zikra.


“Apa sih lo?” decak Zikra.


Syifa mengalihkan pandangannya pada Zikra.


“Selain itu, mobil ini punya dia,” tambah Bonang.


“Punya bokap gue,” terang Zikra. “bukan punya gue.”


“Sama aja, Bambang!” celoteh pemuda kribo itu.


“Ya udah kalo gitu, makasih Bang,” Syifa begitu jengah menatap pemuda tampan itu. Dengan cepat ia mengalihkan


pandangannya. “Bang Bonang, Nad, gue duluan ya.”


Syifa melambaikan tangan, ketika mobil sedan hitam yang membawa Zikra, Bonang, dan Nadya berlalu dari hadapannya. Kemudian ia masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam.


Rasa takut dimarahi Bunda karena pulang terlambat tiba-tiba muncul menghantui hatinya. Tubuhnya menegang ketika Bunda berdiri berdesakan di hadapannya.


Bunda menatap tajam menyambut kedatangan Syifa. Gadis itu berdiri mematung di depan wanita yang terlihat awet muda, menunggu titah seraya menundukkan wajahnya di hadapan ibunya. Dalam hati ia berdoa agar tidak kena marah malam ini.


“Baju siapa yang kamu pakai? Kayaknya Bunda enggak pernah membelikan baju seperti itu,” selidik Bunda dengan


sorot mata heran.


“Iya Bunda. Ini baju teman Syifa. Soalnya tadi baju Syifa kotor,” sahutnya terbata.


"Kotor?" meminta penjelasan sambil menautkan kedua alisnya hingga nyaris menyatu.


"I-iya Bunda." tergagap tegang.


"Kok, bisa?"


"Tadi ada insiden sedikit."


Wajah Bunda masih terlihat serius mendengarkan penjelasan Syifa.


"Syifa tadi jatuh di kubangan lumpur."


Ekspresi wajah Bunda membuat Syifa kian menegang. Timbul banyak kekhawatiran yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata.


"Lumpur? Gimana bisa kamu jatuh di kubangan lumpur? Memangnya kamu dari mana?" wajahnya terlihat geram.


"Itu Bunda ... Nadya ... Nadya ... tadi ..." Syifa benar-benar sangat tegang, takut salah bicara.


“Oke. Kamu udah makan belum?” Bunda mengalihkan pembicaraan.


Raut wajah gadis itu terlihat lebih rileks sedikit. Walau pun degup jantungnya masih berdetak sangat kencang.

__ADS_1


“U-udah Bun, tadi udah makan ditraktir teman,” Syifa masih terbata.


Bunda berjalan mendekati putrinya. Menyentuh kepalnya. Lalu mengelusnya lembut tersenyum.


Senyum tulus itu menenangkan kegelisahan yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.


“Nadya?”


“Bukan, tapi sama  yang lain. Nadya juga ikut kok, Bun.”


“Kamu kenapa sih? Kayak orang ketakutan gitu sama Bunda?”


“Enggak kok Bun,” Syifa menunjukkan senyum lebarnya yang kaku.


Bunda mengangguk. Lalu menyuruh Syifa membersihkan badannya dulu sebelum tidur. Ia pun bernafas lega, langsung mengiyakan dan beranjak pergi ke kamarnya.


*


Zikra pulang ke rumah setelah mengantar Bonang dan adiknya. Memarkir mobil di dalam garasi. Senyum cemerlang dari wanita paruh baya menyambut kedatangannya.


“Baru pulang, sayang?” tegurnya mengecup kening pemuda berhidung bangir, setelah sebelumnya mencium tangannya.


“Iya, Ma,” sahutnya dengan senyum lebar.


“Kamu mau mandi air hangat? Biar Mama suruh Minah menyiapkannya,” imbuhnya.


“Enggak usah, Ma. Biar aku mandi air dingin saja.”


“Nanti kamu bisa masuk angina, sayang.”


“Tenang aja, Ma, aku kan lelaki kuat. Mana berani angin masuk ke tubuh aku,” celotehnya.


“Kamu itu, bisa saja,” wanita itu mengacak lembut rambut putra sulungnya sambal tertawa kecil.


“Aa … akhirnya pulang juga, Dede kangen tahu,” pekiknya bahagia.


“Apa sih, De …” Zikra menepis pelukan adik bungsunya yang begitu erat. “baru berapa hari Aa enggak pulang ke


rumah, udah lebay begini adiknya Aa,” lanjutnya sambal mengacak-acak rambut Aini hingga berantakan.


“Ah, Aa kebiasaan banget deh, suka ngacak-ngacak rambut Dede terus sih?” rajuknya manja. Merapikan rambutnya kembali.


Zikra membuka lebar pintu kamarnya, agar adik perempuannya bisa masuk ke dalam.


“Abisnya kamu itu gemesin banget, sih,” sahutnya dengan tawa riang.


Meletakkan jas almamaternya di atas tempat tidurnya, yang sejak tadi sudah dilepasnya. Kemudian masuk ke kamar mandi. Sementara Aini duduk di kursi belajar kakaknya sambal menunggunya selesai mandi. Biasanya mereka akan berbagi cerita setelah itu.


Banyak orang yang salah mengira bahwa gadis berparas cantik itu pacar Zikra. Bahkan teman-teman sekolah Aini. Namun, gadis yang memiliki nama lengkap Aini Aura Rahayu, tidak pernah menggubrisnya. Membiarkannya berkembang seperti bunga sakura di musim semi.


Kedua adik-kakak yang terpaut lima tahun itu, selalu tampak kompak. Nyaris tidak ada pertengkaran yang mewarnai kebersamaan mereka. Saling menyayangi dan terbuka merupakan kunci keberhasilan mereka membina hubungan baik. Tidak aneh bila mereka saling mengetahui sifat dan watak masing-masing.


Pada waktu yang hampir bersamaan. Syifa menyandarkan bahunya di kepala ranjang. Meletakkan handuk kecil di atas meja, setelah digunakan untuk mengeringkan rambutnya selesai mandi. Pikirannya terus saja menggeliat mengingat ucapan Bonang di kedai makan tadi. Tiba-tiba ia meragukan pemuda yang dianggapnya sebagai calon suaminya. Namun ia juga tidak meyakini pemuda bernama Zikra adalah lelaki yang telah dijodohkan dengannya. Entah mengapa semuanya menjadi samar dan abu-abu. Ia menghela nafas berat.


Syifa membuka laci meja. Sebuah buku harian yang biasa digunakan untuk mencurahkan segala isi hati dan pikirannya. Diambil dan dibuka satu halaman kosong. Pulpen hitam yang selalu ada di dalamnya, digunakan untuk menulis. Kedua lututnya dijadikan alas pengganti meja belajar.


Dear my dairy.


Hari ini sudah banyak drama yang gue alami.


Mulai dari Nadya yang sok-sokan main rahasia-rahasian.


Bertemu kakak mahasiswi rese sampai gue berkubang lumpur.

__ADS_1


Terakhir bertemu si cupu yang seperti biasa sok jual mahal.


Abisnya dia sering ngabur kalo lihat gue. Seolah-olah gue makhluk menakutkan.


Tapi … sekarang gue mulai ragu tentang cowok cupu yang selalu gue kejar.


Karena kata Bang Bonang dia bukan Zikra.


Lalu, siapa sebenarnya cowok yang gue cari? Mungkinkah dia?


Syifa menutup buku hariannya. Angannya masih melanglang buana ke dunia sana. Memikirkan pemuda bernama Zikra sudah membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi menghadapi pemuda cupu itu. Hah! Bukan hanya membuatnya sakit kepala, juga membuat tensi darah menjadi tinggi.


Biarin aja dulu deh, buat sementara waktu. Lain kali gue akan cari tahu. pikirnya.


Mengembalikan buku hariannya ke tempat semula. Mengangkat kedua tangannya ke udara, merentangkannya agar otot-otot yang terasa tegang sedikit lebih kendur. Syifa membaringkan tubuhnya seraya menarik selimut hingga ke dada. Betapa melelahkannya hari ini, hingga tak terasa ia langsung terlelap dalam tidur.


*


"Gue bete deh sama itu cewek," imbuh Aini ketika baru saja tiba di kelas bersama Hesti, teman sebangkunya.


"Masih pagi udah bete aja si nona, cepat tua lho. Emangnya bete kenapa?"


"Abis nyebelin. Masak dia yang salah, Aa gue yang menerima hukumannya. Kan kasihan Aa gue. Seharusnya Aa gue sekarang udah bebas tugas, dan bisa pulang ke rumah. Tapi gara-gara menanggung hukuman itu Aa gue belum bisa pulang. Tunggu seminggu lagi dia baru bisa benar-benar free. Ih, pokoknya gue gondok banget. Kalo seandainya gue tahu dan ketemu cewek itu, gue labrak dia abis-abisan," tutur Aini berapi-api.


"Pantesan si cogan enggak nganter-jemput elo lagi," sanggah Hesti.


"Iya. Karena Aa gue balik KKN lagi di desa gitu."


Syifa yang sedari tadi duduk di bangkunya yang terletak di baris ketiga mendengar percakapan mereka dengan jelas. Ia mendadak jadi tidak enak hati dengan pemuda itu. Rasa bersalah membiarkan Zikra menjalani hukuman yang sepatutnya tidak dilakukan. Karena dirinya telah melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Walau pun dia sendiri yang bersedia melakukannya. Tetap saja Syifa perasaan bersalah itu masih ada. Ia mendengus berat.


"Udah tenang aja, Bang Zikra orangnya baik. Dia enggak akan menyalahkan elo," ujar Nadya menenangkan. "lagian, kemarin dia bilang udah sendiri. Kalo itu jadi tanggungjawab dia sebagai ketua kelompok, setiap kesalahan yang dilakukan anggotanya. Wajar kalo dia yang akan maju untuk menuntaskannya."


"Tapi, gue bukan anggota kelompoknya. Gue cuma orang asing baginya. Ditambah gue hanya seorang siswi kelas XII," kilahnya.


"Udah, deh. Elo jangan menampakkan banget rasa bersalah lo itu. Entar, kalo si Aini tahu, elo bisa repot sendiri," kata Nadya menasihati.


Syifa langsung diam. Tetapi ia diam-diam mencuri pandang ke arah Aini dan Hesti. Masih mendengarkan obrolan mereka menjelang bel masuk berbunyi.


Dentang bel istirahat terdengar nyaring, memecah keheningan gedung dua lantai itu. Tanpa komando murid-murid di setiap kelas bergerak meninggalkan kelas masing-masing.


Angga bersama ketiga sahabatnya, Boncu, Awenk, dan Sonik, duduk di salah satu meja kantin. Kali ini tanpa Rima. Sudah dua hari ini gadis itu izin tidak masuk sekolah karena tidak enak badan. Mereka terlihat kompak seperti biasa.


Angga mengalihkan pandangannya saat Syifa dan Nadya masuk kantin. Lalu duduk di meja paling tengah, tidak jauh dari meja Angga. Pemuda tampan itu segera memalingkan mukanya ketika Syifa tidak sengaja


menoleh ke arahnya. Dia berpura-pura seakan tidak melihat sang mantan. Mantan paling penurut, dan tidak pernah menuntutnya apa-apa. Kecuali perhatian selayaknya seorang pacar. Tidak seperti Rima yang banyak sekali menuntutnya.


Berpacaran hampir dua tahun dengan orang yang sama membuat Angga jenuh. Apalagi intensitas pertemuan mereka yang sangat sering. Tinggal di rumah yang hanya berjarak beberapa langkah. Serta sekolah di satu sekolah yang sama.


Melihat pemandangan Angga sering memboncengi Rima pulang dan pergi sekolah adalah bukan hal yang baru. Karena dari sebelum mereka resmi jadian, Rima sering nebeng motor Angga.


Puncak kekesalan Angga adalah memutuskan hubungannya dengan Rima. Lantaran sikap gadis itu tidak bisa ditolerir lagi oleh Angga. Setelah itu dia berhasil menaklukkan Syifa dan memacarinya.


Tidak sulit Angga menundukkan hati gadis lugu itu ke dalam pelukkannya. Tetapi tidak mudah menaklukkan rasa takutnya pada peraturan kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, mereka sepakat untuk backstreet.


Indah memang berpacaran dengan Syifa. Gadis itu selalu mendengarkan semua keluh kesahnya. Tidak jarang gadis murah hati itu memberi sebagian uang jajannya, untuk membeli kebutuhan yang sebenarnya hanya akal-akalan Angga.


Kasihan, hanya itu rasa yang tersisa di hati Angga. Syifa yang naif harus terjebak dalam perangkapnya. Lima bulan, bukan waktu yang singkat dekat dengannya dengan status pacar. Rasa nyaman yang diberikan Syifa teramat membekas dalam sanubarinya.


Tetapi, batinnya berontak. Dia tidak bisa terus menerus membohongi gadis baik itu. Dia bukan lelaki yang pantas untuknya. Syifa terlalu baik dan berharga. Hingga semut pun tidak layak menggigit kulitnya. Itulah sebabnya, Angga mengakhiri hubungannya dengan Syifa. Lalu kembali dalam pelukan Rima.


Syifa tersenyum getir mengingat semua kenangannya bersama pemuda itu. Seandainya ia tahu akhir dari hunbungan mereka akan terasa sakit, maka ia tidak akan pernah menerima cintanya. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada gunanya untuk menyesali yang sudah terjadi. Biarkan saja semuanya menjadi kenangan. Dan menjadi pelajaran untuk kehidupan mendatang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2