Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Tragedi


__ADS_3

Syifa menghela nafas lega kala kakinya melangkah keluar setelah mengikuti mata kuliah terakhirnya. Tanpa komando Hani berjalan berdampingan dengannya. Awalnya Syifa tidak menyadari beberapa pasang mata tengah memperhatikannya bersama Hani. Mereka melihat sambil berbisik disertai cekikikan. Entah apa yang membuat mereka seperti itu Syifa tidak mau ambil pusing.


Syifa maupun Hani, keduanya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Meskipun sepasang kaki mereka melangkah tapi sepasang matanya sibuk menatap layar ponsel masing-masing dengan satu jari menari-nari di atasnya.


"Cie, cie, cie... anak kembar nih ye..." celoteh Adi, salah satu teman sekelasku yang lain.


"Apaan sih lo, Di? Kembar, kembar, kembar dari Hong Kong." sahut Syifa sewot setelah mendongak dan mengalihkan padangannya pada cowok bertubuh tinggi dan berisi berjalan bersisian dengannya. Ia memang sedang sensitif, tidak ingin diganggu.


Hani ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dengan Syifa.


"Iya lo, Di. Rese tahu gak lo." timpal Hani.


Adi tergelak sambil menunjuk kedua gadis itu secara bergantian. "Emang kalian berdua enggak nyadar apa, pake baju samaan gitu."


Syifa dan Hani langsung menundukkan wajah melihat baju yang mereka kenakan. Dan ternyata keduanya memakai baju yang sama. Mereka melongo tidak habis pikir bisa memakai baju yang sama warna maupun coraknya seperti memakai seragam. Bahkan tas yang tersampir di bahu mereka pun sama persis.


"Hahahah... jangan-jangan kalian berdua soulmate-an. Atau emang pake baju pasaran." Adi terkekeh geli. Sepertinya sangat puas meledek dua gadis di hadapannya.


Syifa dan Hani saling bertukar pandang. Lalu menoleh ke arah Adi serentak.


"Adiiiii." pekik keduanya siap melayangkan bogeman mentah. Namun belum sempat bogeman itu melayang, cowok itu sudah ambil langkah seribu menyelamatkan diri.


Teman-teman kampus Syifa yang lain hanya tertawa ringan melihat tingkah polah mereka.


Cowok gemuk yang tidak mau disebut gemuk itu terlalu gesit, sampai Syifa dan Hani tidak sangguh mengejarnya.


"Udah ah, gue enggak sangguh lagi ngejar si gendut." ujar Syifa sambil membungkuk memegang kedua lututnya. Nafasnya tersengal. Dan perutnya terasa tidak nyaman setelah berlari. Mungkin karena akan mengalami menstruasi jadi seperti itu.


"Gue juga ah. Gesit banget larinya si gendut." Hani berhenti di sisi Syifa juga membungkuk sambil memegang lututnya. Nafasnya tidak kalah tersengalnya dengan Syifa.


Akhirnya mereka memutuskan tidak lagi mengejar cowok ceriwis itu. Iya, memang Adi terkenal sangat ceriwis dikalangan teman-teman satu jurusan Syifa. Tetapi dia tidak sombong. Selain itu cowok bernama Adi Prasetyo itu pribadi yang humoris dan supel.

__ADS_1


Syifa dan Hani melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan lorong kampus menuju pintu gerbang. Hani sudah memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya. Sementara Syifa masih bingung mau pulang naik angkot, ojol, atau taksi online seperti Hani.


"Elo lagi PMS ya, Fa? Sedari tadi raut wajah lo gak enak banget dilihat." keluh Hani memperhatikan gadis di sisinya.


"Ngomong apaan sih lo? Orang gue belum..." Syifa menggantung ucapannya kala tiba-tiba teringat tes pack yang ditinggalkan di sudut kamar mandi tadi subuh. Ia lupa melihat hasilnya setelah dicelupkan di dalam wadah kecil berisi air urinnya. Karena menurutnya terlalu lama jadi ia tinggalkan saja di atas westafel kamar mandi.


Kalau bukan Mama Dio yang menyarankan dan memberikan alat tes kehamilan kepada Syifa. Maka gadis itu tidak pernah melakukan tes itu. Pasalnya kemarin Mama Dio melihat kondisi Syifa yang menurutnya tidak biasa. Seperti orang yang yang mengalami hamil muda. Syifa hanya menurut apa yang telah disarankan Mama Dio kepadanya. Karena Mama Dio sudah lebih berpengalaman bila menyangkut masalah itu.


"Belum apa?" tanya Hani menyadarkan Syifa dari lamunannya.


"Belum tahu." sahut Syifa singkat.


"Mungkin bentar lagi kali..."


"Mungkin." Syifa tampak tidak yakin.


Setibanya di depan gerbang Hani langsung masuk ke dalam taksi online yang dipesannya sudah tiba. Syifa melambaikan tangan mengiringi kepergian Hani yang juga melambai dari dalam taksi.


Tidak lama berselang sebuah mobil Alphard hitam berhenti tepat di depan Syifa. Gadis itu berjengit kaget hingga tubuhnya refleks mundur selangkah ke belakang.


"Siapa kalian? Mau apa kalian?" telisik Syifa panik menatap kedua pria itu bingung. Tidak ada yang mau jawaban pertanyannya tentang alasan mereka menangkapnya.


"Ayo, ikut kami!" seru salah satu dari mereka tegas.


"Woy! Lepasin! Tolong..." pekik Syifa meronta ketakutan meminta bantuan. Namun tidak seorang pun yang datang menolongnya.


"Diam! Jangan berisik!" bentak pria lainnya memperingati. Lalu membekap mulut Syifa dengan sapu tangan yang telah diolesi obat bius. Hanya hitungan detik gadis itu tidak bisa berkutik, terdiam tidak sadarkan diri. Dengan cepat mereka langsung menyeret masuk tubuh Syifa ke dalam mobil.


Sontak gadis itu menjerit


*

__ADS_1


Pukul dua dini hari.


Zikra tidur dengan damainya di atas kasur hotel yang disewanya selama berada di luar kota. Pemuda itu memang sudah empat hari belakangan ini sedang melakukan perjalanan bisnis. Tiba-tiba terbangun saat ponselnya berdering nyaring di atas nakas dekat kepala tempat tidur. Dia memang sengaja memperbesar nada notifokasi agar bisa segrara tahu setiap kali ada pesan atau telepon yang masuk.


"Siapa sih malam-malam begini yang telepon? Ganggu orang lagi tidur aja." gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Dia tahu panggilan itu bukan dari Syifa. Pasalnya selama berada diluar kota gadis itu tidak pernah menghubunginya pada jam-jam seperti ini.


Perlahan Zikra membuka mata namun menutup kembali. Suara dering ponselnya terasa menusuk telinganya. Dan memaksanya agar segera bangun. Dengan malas dia beranjak duduk meraih ponselnya yang masih berdering di atas nakas.


Matanya memicing mengamati nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar ponselnya. Zikra berdecih sambil menjawab panggilan itu.


"Halo." imbuh Zikra bermalas-malasan. Tetapi sedetik kemudian dia menjengit kaget sambil menegakkan tubuhnya. Turun dari tempat tidurnya.


"Kami dari pihak kepolisian ..." sahut suara dari seberang sana membuat Zikra menegang.


Zikra tidak mengira akan mendapat telepon dari pihak kepolisian pada malam buta rata seperti ini. Dia tidak sedang bersinggungan dengan kasus hukum. Apalagi menjadi kriminal yang sedang diburu. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?


Sesaat kemudian Zikra terperanjat kaget setelah mendapat kabar tentang Syifa. Tanpa terasa air matanya mengucur menerima kabar kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya. Diduga sopir mobil yang ditumpangi gadis itu mengantuk, lalu menabrak pohon. Celakanya lagi mobil itu meledak hingga tidak seorang pun yang selamat dari kecelakaan itu. Kini mayat Syifa masih berada di rumah sakit setempat dengan kondisi sangat mengenaskan.


Zikra lunglai terjatuh duduk di atas lantai tidak kuasa mendengar berita kematian wanita yang teramat dicintainya. Padahal setelah kepulangannya dari perjalanan bisnis, dia berencana akan mengajak Syifa menemui keluarganya. Kebetulan orang kepercayaannya sudah mendapatkan alamat pasti keberadaan bapak dan ibu mertuanya, serta adik iparnya.


Dengan penerbangan pagi Zikra memutuskan kembali ke Jakarta. Setelah itu menuju rumah sakit untuk melihat jasad istrinya.


Untuk pertama kalinya Zikra menjadi lelaki cengeng. Dia menangis tidak kuasa melihat kondisi orang yang sangat dicintainya dalam kondisi sulit dikenali. Hampir sekujur tubuhnya hangus terbakar. Setelah keluar dari kamar jenazah seorang polisi menyerahkan tas milik Syifa yang tentu saja dengan kondisi tidak sempurna. Di dalamnya ada buku-buku kuliah milik Syifa. Dompet berisi kartu kredit dan debit yang pernah diberikan Zikra. Juga tanda pengenal berupa kartu mahasiswa dan KTP.


Media elektronik dan media massa memberitakan insiden kematian Syifa yang tragis. Zikra tidak bersedia diwawancara saat para jurnalis datang mengorek keterangan seputar kematian Syifa. Hatinya sangat sedih dan terpukul atas kepergiannya. Seakan dunianya tenggelam dan hilang bersama terkuburnya jasad istrinya ke dalam liang kubur.


"Sayang... kenapa kamu harus pergi dengan cara seperti ini? Mengapa kamu meninggalkan aku secepat ini?" lirih batin Zikra meratapi kepergian istrinya.


Bersambung...


***

__ADS_1


🙋 Hai readers... 🙏 maaf baru update lagi. Cerita kali ini author sajikan agak tegang ya. Semoga para readers semua masih bisa menikmati ceritanya. Jangan lupa kasih vote. like juga komen yang positif supaya author tambah semangat mengupdate cerita 🤗😁😁. ❤️❤️ Luv u all...


Happy reading... 🤗😁✌️


__ADS_2