Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Dia Yang Datang Dari Masa Lalu (Part 2)


__ADS_3

Zikra terduduk di atas tempat tidurnya. Mengingat wajah yang telah lama hilang dalam pandangannya. Dia adalah seorang gadis cantik yang pernah mengisi relung hatinya. Ayuniatara, namun dia kerap memanggilnya Tara.


Enam tahun lalu.


Ketika itu, Ayuniatara adalah murid kelas XII yang popular di salah satu SMA ternama di Surabaya. Selain cantik, baik hati, dan memiliki prestasi yang baik di sekolah. Sedangkan Zikra murid kelas XI, murid pindahan dari sekolah di daerah lain. Sejak duduk di bangku SMP, Zikra selalu berpindah-pindah sekolah. Karena mengikuti Papanya


sering dipindah tugaskan memimpin perusahan di berbagai daerah di pulau Jawa.


Kepandaian Zikra dalam olahraga basket membuatnya dipercaya memperkuat tim basket di sekolahnya. Prestasi demi prestasi diukirnya indah mengharumkan nama sekolahnya. Nama pemuda tampan itu pun menjadi popular di sekolah. Mengulik Ayuniatara ingin mengenalnya lebih dekat.


Tidak butuh lama bagi gadis yang akrab disapa Ayu itu bisa dekat dengan Zikra. Kendati pemuda itu sering bersikap dingin padanya. Tetapi Ayu bukan tipikal gadis yang mudah menyerah. Dia selalu mencari kesempatan untuk mendekatinya. Walaupun terlihat agresif dan sedikit posesif tidak masalah baginya. Asalkan dia bisa menaklukan Zikra. Karena sikap pemuda tampan itu yang cenderung sangat dingin dan kaku, Ayu memberi julukan padanya Mr. Frozen.


Beberapa bulan berhasil menjalin kedekatan antara Zikra dan Ayu. Kemudia keduanya sepakat untuk merubah nama panggilan, hanya mereka berdua yang tahu dan boleh memanggil dengan nama tersebut. Sejak saat itu, Ayuniatara memanggil Zikra dengan sebutan Fatir. Zikra pun memanggilnya dengan nama Tara.


Suatu hari Papa melihat Zikra bersama Ayuniatara sedang kencan di salah satu mall. Zikra yang juga menyadari keberadaan Papa bersama Mamanya di tempat yang sama. Tanpa sungkan dia memperkenalkan gadis cantik itu kepada mereka. Kedua orang tuanya pun menyambutnya hangat.


“Sampai ketemu besok di sekolah,” ujar Ayu seraya melambaikan tangan. Setelah turun dari sepeda motor Zikra.


“Iya.” Sahutnya singkat dengan senyum bahagia. Lalu melesat pergi dari hadapan gadis yang baru satu bulan resmi menjadi pacarnya.


Setibanya di rumah Zikra disambut oleh koper-koper miliknya di ruang tamu. Dia terperanjat kaget saat Papanya memutuskan untuk memindahkan sekolahnya lagi ke daerah lain.


“Kenapa sih Pa, aku harus pindah sekarang? Kenapa enggak tunggu sampai aku lulus SMA? Sejujurnya


aku jenuh harus pindah-pindah sekolah terus. Sampai-sampai aku enggak punya teman dekat yang bisa aku ajak berbagi?” gugat Zikra.


“Maaf, Papa enggak bisa menunggu.”


“Kenapa Pa?”


Mama Zikra ingin mengatakan sesuatu, namun segera dicegah oleh Papa dengan hanya mengangkat satu tangan. Mama mengerti perintah Papa.


“Papa enggak mau semuanya terlambat,” sahut pria bertubuh tinggi kekar itu.


“Semuanya terlambat?” kata Zikra mengulangi seraya mengernyitkan dahi.


Papa pun langsung memberikan penjelasan kepada putra sulungnya. Pemuda itu telah beranjak menjadi sosok yang lebih dewasa daripada umurnya. Penjelasan yang diplomatis, logis, dan realistis. Alhasil Zikra mau mengerti. Dengan mudah dia menuruti keinginan Papanya. Meninggalkan kisah cinta yang baru sebatas prolog


dalam buku karangan fiksi.


Suara ketukan pintu menyadarkan Zikra dari lamunannya.


“Zikra, kamu udah tidur?” tanya Syifa dari balik pintu kamar Zikra. Ia mendengus pelan saat tidak ada jawaban dari dalam. “kayanya dia udah tidur. Sebaiknya besok aja deh baru dirapihin,” gumamnya seraya menatap tumpukan pakaian yang telah selesai disetrika. Gadis itu membalikkan tubuh hendak meletakkan pakaian itu di


tempat setrika kembali.


“Ada apa?” tegur Zikra dingin berdiri di ambang pintu.


Syifa memutar tubuhnya kembali. Menyodorkan tumpukan baju kepada Zikra.


“Aku cuma mau memberikan ini,” ujarnya dengan senyum khasnya. “udah rapi semua, siap pake.”


Zikra berdiri mematung menatap gadis itu dingin.


Syifa tapak salah tingkah ditatap Zikra seperti itu. Tangan kanannya sibuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun tatapan mata itu tidak berubah sedikit pun. Kian membuat dadanya berdebar kencang.


“Ya udah kalo gitu, aku mau ke dapur dulu,” ibu jarinya menunjuk tanpa menoleh. Memutar tubuhnya tiba-tiba bergerak kaku seperti robot. “aneh, kenapa dia begitu ya? Bikin gue jadi takut,” gumamnya pelan. Ia beranjak pergi ke dapur sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan Zikra sudah masuk ke dalam kamarnya atau belum.


Ia menghela nafas lega setelah pintu kamar Zikra tertutup rapat. “huhh…”


Mama Dio membantu Syifa memasak makanan. Entah mengapa ibu mertuanya tiba-tiba mengundangnya datang. Untuk menciptakan citra baik di depan ibu mertua, Mama Dio menyarankan gadis itu membawa buah tangan.


Namun keuangan Syifa sedang dalam tahap kritis. Karena belum juga mendapat kiriman uang dari orang tuanya. Oleh sebab itu, wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya, menawarkan jasa.


Semula Syifa menolaknya, khawatir menyusahkan Mama Dio dan keluarganya. Dan memang pada kenyataannya Syifa selalu menyusahkan wanita itu. Layaknya ibu yang menyayangi putrinya yang telah menikah, Mama Dio menasihati dan mengungkapkan perasaannya pada Syifa. Akhirnya beberapa menu makanan telah masak, dan telah siap dikemas dengan menggunakan rantang susun.


Rasa gugup membuat Syifa diserang rasa khawatir dan tidak percaya diri. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah orang tua Zikra. Bangunan megah dan mewah. Pintu gerbang yang tinggi besar nan kokoh membuat Syifa menelan ludah.


Ya ampun, rumahnya segede gambreng. Pantesan aja Aini sering merendahkan gue di sekolah.


Ditatapnya lirih rantang yang dibawanya. Sepertinya barang bawaannya tidak pantas berada di rumah besar itu. Tetapi ia harus menghargai kerja kerasnya sendiri, dan Mama Dio yang telah bersedia membantu menyiapkan segalanya. Syifa mendengus resah.


Ibu mertua menyambut kedatangan Syifa dingin. Gadis itu sadar akan posisinya yang tidak sederajat dengan wanita itu. Kendati demikian, ia adalah anak menantu yang harus dihargai, apa pun itu alasannya. Rasa sakit hati mendadak menyeruak di hatinya, saat rantang makanan yang dibawanya tidak ditanggapi oleh ibu mertuanya. Lalu menyuruhnya agar meletakkan saja di dapur sendiri. Tetapi rasa itu berusaha ditepisnya demi menciptakan hubungan baik anatara ibu mertua dan anak menantu.


Berbanding terbalik dengan gadis yang baru tiba. Sambutan hangat diberikannya dengan penuh kasih sayang. Syifa hanya terdiam melihat pemandangan itu. Rasa sedih hadir di sudut hatinya yang paling dalam.


“Syifa? kamu ada di sini?” tegur gadis itu ramah.


“Mbak Ayu.”


“Kalian berdua sudah saling mengenal?” tanya Mama terkejut.


“Iya Tante. Waktu itu kita enggak sengaja ketemu di pinggi jalan,” jawab Ayu cepat dengan senyumnya yang memesona.


Syifa menganggukkan kepalanya membenarkan.


Mama mengajak Syifa dan Ayu duduk di sofa mewah koleksinya di ruang tengah.


"Ngomong-ngomong, kok kamu bisa ada di sini?" selidik Ayu penasaran.


"Iya. Karena aku diundang Mama makan malam di sini," jawabnya jujur.


"Mama?" Ayu mengerutkan keningnya. Melambatkan suaranya mengulang kata itu.


"Ayu," seru Mama mengalihkan perhatian gadis itu. "dialah gadis yang dijodohkan dengan Zikra."


"Ya Tuhan ..." gumamnya setengah berbisik.


"Mbak Ayu juga kenapa bisa ada di sini?" katanya balik tanya. "Mbak Ayu, diundang juga sama Mama?"


Ayu menghela nafas pendek.


"Yah, begitulah kira-kira."

__ADS_1


Syifa tersenyum lebar.


"Kamu masih ingat dengan cowok yang aku ceritakan kemarin? Fatir?"


"Oh." Syifa menganggukkan kepala cepat. "iya."


"Ini adalah rumah orangtuanya."


Syifa terkejut. Pasalnya ia tidak pernah tahu jika ada kakak lelaki Aini selain Zikra.


Kenapa Zikra enggak pernah cerita?


"Kamu jangan salah faham, Syifa. Yang dimaksud Ayu, Fatir itu sebenarnya adalah Zikra," jelas Mama.


Syifa terperanjat kaget.


"Apa?"


"Kenapa waktu itu kamu enggak bicara, kalo ..."


"Maafkan aku. Aku sungguh enggak tahu, kalo ternyata Fatir adalah Zikra." ungkapnya menyesal. "karena selama ini Zikra enggak pernah cerita tentang masa lalunya."


"Masak sih dia seangkuh itu?" tanya Ayu geram.


Dalam diam terselip rasa cemburu mengganggu pikiran Syifa.


Syifa berusaha menunjukkan bahwa ia adalah menantu yang baik. Bersama seorang pelayan rumah orang tua Zikra, gadis itu menyiapkan meja makan. Sedangkan Ayu sedang sibuk merajuk kepada Mama.


"Tante, kok tega sih menikahkan Fatir dengan gadis seperti itu?" rajuk Ayu. "kenapa enggak sama Ayu aja? Ayu dan Fatir udah saling mencintai sejak lama."


"Iya. Tante juga berharap seperti itu. Tapi ... Tante enggak bisa menentang keputusan Om."


"Yah, Tante ... bikin Ayu patah hati aja."


Syifa sangat sedih tidak sengaja mendengar obrolan mereka. Namun berusaha ia telan rasa sedihnya menjauh dari hati.


Mendadak rasa sedih bercampur cemburu nyaris merajai hati dan pikirannya. Ketika Ayu menyambut kedatangan Zikra dengan pelukan hangat bercampur rindu yang mendalam.


Zikra terkesiap. Kontan dia mendorong pelan tubuh tinggi semampai gadis itu. Menepis pelukannya.


"Tara?"


"Iya, Fatir. Ini aku," sahutnya lirih. "aku sengaja datang jauh-jauh dari Surabaya, ke sini hanya untuk bertemu kamu." memeluk Zikra kembali.


Zikra melihat bayangan Syifa berdiri di balik lemari pajangan.


"Syifa. sedang apa kamu di situ?" tegur Zikra seraya menepis pelukannya.


Perlahan Syifa keluar dari persembunyiannya.


"Maaf, aku hanya ingin mengatakan, meja makan sudah siap," sahutnya pelan sambil meremas tangannya.


Di meja makan. Ayu sengaja duduk di samping Zikra. Membuat gadis itu menjauh dari sisi suaminya.


"Enggak papa. Yang penting aku bisa duduk kan?" sahut Syifa ringan.


"Tapi ..."


"Biarkan saja dia di situ Fatir. Di sini kan udah ada aku yang menemani kamu," sela Ayu manja.


Zikra menatapnya tajam.


Syifa tersenyum getir. Memalingkan wajah menutupi air mata yang telah memenuhi pelupuk matanya.


Rasa sakit ini lagi. Mengapa aku bisa merasakannya lagi? Padahal kisah cinta aku dan Angga udah kelar sejak lama. Tapi ....mengapa sekarang timbul lagi? Mungkinkah aku cemburu pada mereka berdua?


"Fatir, aku punya hadiah buat kamu," ujar Ayu tiba-tiba. "hadiah ini sengaja aku bawa langsung dari Surabaya. Dan, taraaaaamm ..." sebuah kota besar yang telah dibungkus rapi dan pita di atasnya.


"Hadiah?" senyum kecil tersungging di sudut bibir Zikra. Menerimanya dengan senang hati.


"Selamat ulang tahun, Fatir," Ayu terlihat sangat bersuka cita. Memeberikan pelukan hangat dan kecupan manis di pipi Zikra.


Kontan Zikra terperanjat kaget tiba-tiba Ayu memeluknya. Syifa memalingkan wajahnya tidak kuasa melihat pemandangan itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zikra sinis seraya mengusap pipinya. Meletakkan hadiah itu di ujung meja.


"Aku memberikan ucapan selamat," jawab Ayu menyandarkan dagunya di bahu Zikra, seraya melingkarkan kedua tangannya pada tubuh kokoh di sampingnya. "lho, kok enggak dibuka hadiahnya?" rona kesedihan terpancar di wajah gadis itu.


"Biar nanti saja aku membukanya. Lagian kita kan mau makan malam. Aku enggak mau hadiahku rusak terkena kuah sayur."


"Oke. Kali ini aku terima alasanmu. Tapi enggak lain kali."


Apa? Jadi, hari ini ZIkra ulang tahun?


"Lepaskanlah!" titah Zikra sembari menggeliat melepaskan tangan Ayu. Dia pun sebenarnya tidak nyaman dengan sikap Ayu yang berlebihan di depan Syifa. Dia tidak ingin menciptakan masalah baru. Sementara masalah lama belum selesai.


"Kenapa?"


"Ingat Tara, aku sudah menikah," jelas Zikra menatap wajah Syifa. "jadi, tolong jaga sikap. Karena aku enggak mau dicap suami yang suka berselingkuh."


Ucapan Zikra yang terakhir terasa sangat menohok hati Syifa. Ia hanya diam membisu membalas tatapan Zikra.


"Oya, kamu udah kasih hadiah apa buat Zikra, Syifa?" tanya Mama yang sedari tadi hanya menjadi penonton pertunjukkan Ayu dan putranya.


Syifa tampak gelagepan tidak bisa menjawab.


"Syifa udah memberikan hadiah terindah buat aku, Ma. Jauh sebelum Tara memberikan hadiah untukku malam ini, bukan begitu sayang?" sanggah Zikra mengingat kejadian waktu itu. Kejadian yang masih meninggalkan luka di hatinya.


Syifa mengangguk ragu.


Setelah selesai mengucapkan selamat ulang tahun, dan pemberian hadiah dari Ayu. Mereka memulai memakan makanan yang telah tersedia di atas meja makan. Di tengah nikmatnya makan malam, tiba-tiba Mama membahas tentang Ayah Syifa yang akan datang menjemputnya. Hingga suasana makan malam sedikit rusak oleh komentar pedas wanita paruh baya itu.


Bukan tanpa alasan dia melakukannya seperti itu. Tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi Syifa. Menjalani pernikahan dengan terpaksa. Tinggal bersama pemuda yang tidak dicintainya pun terpaksa. Karena kedua orang tuanya tidak mengajaknya ikut serta.

__ADS_1


Mama terlihat tersenyum lega saat mengetahui anak menantu yang tidak pernah diharapkannya itu, akan segera pergi jauh dari kehidupan putranya. Dalam benaknya dia akan menjodohkan Zikra dengan Ayu setelah kepergian Syifa.


Walau pun rasa sakit masih tertinggal di hati Zikra, bukan berarti dia senang dengan rencana kepergian istrinya. Dia tidak akan mengizinkannya gadis itu pergi dari sisinya.


"Fatir, aku enggak mau mencoba masakan ini?" Ayu menyodorkan sepiring udang balado di hadapan ZIkra. "karena sedari tadi aku perhatikan, kamu belum menyentuhnya barang sedikit pun."


Zikra hanya diam melihat satu menu masakan yang memang sedang dihindarinya.


Syifa ikut melihat piring itu yang masih belum berkurang jumlahnya. Kendati ia sudah menyendoknya sedikit. Sisanya masih terlalu banyak.


"Kamu tahu enggak? Ini Syiafa lho yang masak," Ayu sengaja mengatakan semuanya, untuk mengetahui sejauh mana perasaan Zikra terhadap gadis itu.


Tanpa ragu Zikra menyendok dengan sendok makannya. Langsung melahapnya.


Ayu sangat kecewa. Ternyata Zikra mau memakannya. Tidak mempedulikan kesehatannya. Karena dia tahu dengan jelas Zikra sangat alergi udang.


Mama pun terkesiap melihat kenekatan putranya.


Syifa tersenyum bahagia karena Zikra mau memakan masakan yang dibuatnya. Setelah beberapa hari ini dia tidak lagi mau makan di rumah.


Tidak berselang lama. Timbul bercak-bercak merah yang disertai bentol di area permukaan kulit Zikra. Rasa gatal yang sangat pun menyertai. Kontan suasana makan malam kacau karena hal itu. Zikra langsung masuk ke kamarnya di lantai atas.


Tanpa tedeng aling-aling Mama memarahi Syifa di depan Ayu. Ayu pun ikut memarahinya. Syifa menangis seraya meminta maaf karena ketikatahuannya. Tetapi maaf dan air matanya tidak bisa mengobati sakit yang diderita Zikra.


Mama dan Ayu menyusul Zikra ke kamar setelah selesai memarahi Syifa.


Dengan perasaan bersalah Syifa memberanikan diri masuk ke dalam kamar Zikra. Meskipun hanya sampai di ambang pintu. Tiba-tiba Mama dan Ayu keluar diusir Zikra yang tidak ingin disentuh siapa pun. Buru-buru gadis itu keluar agar tidak kena marah lagi.


Mama dan Ayu menatap Syifa sinis. Membuang muka sambil berlalu di hadapan gadis yang sedang tertunduk dalam.


Setelah Mama dan Ayu tidak lagi terlihat. Syifa memberanikan diri melihat kondisi Zikra dari celah pintu yang terbuka. Zikra sedang duduk di atas kasur membelakangi pintu, menahan rasa sakit yang dideritanya.


"Masuklah!" titah ZIkra tanpa menoleh.


Syifa terperanjat kaget. Ia ragu perintah itu bukan untuknya. Namun tidak ada orang lain selain dirinya di luar kamar Zikra.


"Mengapa kamu masih mematung di sana? Cepatlah masuk!"


Syifa langsung masuk.


"Tutuplah pintunya!"


Syifa menelan ludahnya, mendadak teringat peristiwa malam itu. Tubuhnya mulai gemetar. Kedua lututnya terasa lemas.


"Kamu jangan takut. Aku enggak akan berbuat macam-macam," ujar Zikra menenangkan. "tutup saja pintunya!"


"B-b-baik," sahutnya terbata. Menutup pintu rapat.


"Kemarilah!"


Dengan langkah gontai Syifa bergerak mendekati tempat tidur Zikra. Degup jantungnya mendadak kacau. Tidak tentu arah, kehilangan iramanya.


Tanpa ba-bi-bu Zikra membuka bajunya. Kontan Syifa membalikkan tubuhnya seraya menutup wajahnya.


"Kamu mau ngapain? Cepat pakai bajumu lagi!" pekik Syifa histeris.


Zikra mendengus.


"Dasar gadis bodoh! Aku kan udah bilang, enggak bakalan mau ngapa-ngapai kamu. Apalagi kondisi aku lagi begini."


"Terus, ngapain kamu pake baju segala?"


"Aku hanya ingin minta tolong. Bantu aku memberikan salep di punggungku."


Oh!


Syifa mengambil salep yang diberikan ZIkra. Lalu duduk memunggungi sambil mengolesi obat tanpa melihatnya.


"Obati yang benar."


"Iya."


"Tolong ambilkan obat di laci."


Gadis itu mengambilnya dengan cepat obat yang tersimpan di dalam laci meja dekat tempat tidur Zikra. Memberikannya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Zikra.


"Kenapa kamu enggak melihat ke arahku? Apakah kamu tidak suka padaku? Atau malah membeciku, karena sudah lelaki lain mengisi hatimu?"


"Siapa bilang begitu?" spontan Syifa menoleh. Secepat kilat ia memalingkan wajahnya lagi.


"Tapi waktu itu, kamu udah mengungkapkan persamaanmu pada dia di muka umum, kan?"


"Iya. Tapi, aku sama dia cuma teman doang, swear!"


"Mana ada teman bilang, I love you."


Syifa mengalihkan pandangannya pada pemuda yang kini wajahnya penuh bentol. Ia terbeliak kaget saat sepasang manik matanya bertemu tatap dengan mata Zikra. Ia langsung memalingkan wajahnya.


"Aku sama Panji hanya teman biasa. Aku mengatakan begitu karena sebuah permainan."


"Apa?"


"Iya, waktu kami sedang main truth and dare. Kalo enggak percaya tanya aja Nadya."


"Nadya?"


Syifa terlihat berubah tidak bersemangat saat menyinggung nama Nadya. Sahabat yang selama ini dirinduinya. Namun telah pergi menjauhinya. Semoga tidak untuk selamanya.


Jadi, dia enggak punya hubungan apa-apa dengan lelaki itu.


Zikra sepertinya sudah tidak salah faham lagi setelah mendengar penjelasan dari Syifa. Senyum kecil di sudut bibirnya terlihat menunjukkan rasa senangnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2