Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Duka Di Hari Pernikahan


__ADS_3

Syifa tersadar dari lamunannya ketika suara deru ledakan petasan membahana, dari halaman rumah Uwa yang baru dua hari diinapinya. Pertanda keluarga dan mempelai pria tiba di kediaman mempelai perempuan. Itu artinya sebentar lagi proses akad nikahnya akan segera dimulai. Dimana fase terpenting dalam sejarah hidupnya akan terjadi.


Dadanya bergemuruh. Perlahan tapi pasti, kegelisahan mulai menggelayuti hatinya. Kepalanya berdenyut – denyut karena hiasan sanggul dan mahkota yang lumayan berat. Bayangan wajah pemuda cupu itu mengenakan baju pengantin, serta mengucapkan ijab kabul di depan penghulu seakan hadir dan menakuti pikiannya.


Seandainya kondisi kesehatan Uwa baik – baik saja. Setidaknya sampai ijazah kelulusan ada dalam genggamannya. Bukan sekarang. Meskipun kenyataannya Uwa sedang diujung sakaratul maut.


Bagaimana teman-teman satu sekolahnya tahu. Bahkan semua gurunya tahu. Apa yang akan terjadi dengan pendidikannya, yang tinggal satu langkah lagi menyentuh garis finis. Syifa mendengus kesal. Kegelisahannya tidak bisa dikendalikan.


Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Terlebih lagi kain batik prada yang begitu kabet. Hingga menyulitkan langkah kakinya untuk kabur meninggalkan tempat ini.


“Hadeuhhh … hidup lo aneh banget sih, Cipa,” ujar Nadya saat baru mengetahui fakta hidup Syifa yang sebenarnya. “kisah elo yang pake acara dijodohin dari kecil. Terus, sekarang elo mau dinikahin paksa ala – ala zaman Siti


Nurbaya gitu. Ya ampun Cipa … elo itu anak yang lahir di zaman millennial, tapi jalan hidup elo kok kayak di zaman kolonial.”


Syifa ingin menangis tapi air matanya terasa kering bagai gurun pasir yang kerontang.


“Ya ampun, kenapa hidup gue jadi begini, sih? Diselingkuhin pacar, dipaksa nikah sama cowok ora danta. Lengkap banget sih penderitaan gue?” ratapnya pilu.


Suara riuh rendah dari ruang tamu hingga dapur, terdengar jelas masuk ke dalam kamarnya. Menambah kegalauan yang sulit dijinakkan. Mendadak ponselnya yang sejak tadi luput dari pengawasannya. Kini entah dimana rimbanya. Dia sibuk mencari. Dari dalam tas hingga ke dalam lemari pakaian sudah dijelajahi, namun tak jua kunjung ditemuinya.


“Aduh… kemana sih tuh hp? Lagi dibutuhun kayak gini pake acara menghilang segala,” gumamnya kesal. Lalu terduduk lemas di atas Kasur seraya mendengus pelan. "cuma hp butut aja, pake susah banget dicari."


Syifa ingin menghubungi Nadya. Meminta bala bantuannya. Atau sekedar memberi petunjuk agar bisa kabur dari sini. Walaupun ia tahu akan mustahil. Karena pada jam – jam seperti ini, Nadya sedang sibuk mengikuti pelajaran di kelas.


“Apa gue kabur aja lewat jendela, ya?” mendadak ide liar di benaknya ketika matanya tertuju pada jendela


kamar yang hanya setinggi pinggangnya.


Tanpa pikir panjang, Syifa langsung melakukan aksinya seperti di sinetron atau film – film bioskop, yang bertemakan penculikan atau sejenisnya. Lebay! Sekarang kan bukan drama penculikan. Tapi drama untuk kabur dari pernikahan paksa.


Kebetulan sejak selesai dirias oleh seorang perias pengantin, gadis berpipi chubby itu ditinggal sendiri di dalam kamar. Orang – orang yang tadi ada menemaninya sudah pergi meninggalkannya, menyambut rombongan besan di luar.


Dengan susah payah Syifa memanjat jendela kamar setinggi dada orang dewasa. Ia mendengus keras. Ia baru menyadari. Ternyata tidak mudah, seperti apa yang dilihatnya di sinetron di tv atau film – film di bioskop. Apalagi dengan mengenakan baju pengantin seperti saat ini.


Tiba – tiba terdengar derit suara pintu dibuka.


“Jangan pikir elo bisa kabur lewat jendela begitu aja, karena sebelum elo kabur, gue akan tangkap elo duluan, terus menyeret elo ke depan Penghulu,“ ujarnya dengan nada mengancam. “jadi, rumor tentang perjodohan lo sejak


lahir itu benar? Bukan hoax.”


Sontak Syifa menoleh ke sumber suara. Matanya terbeliak melihat sesosok gadis yang sangat familiar di matanya.


“Aini?“ gumamnya terheran.


“Kenapa? Elo kaget ngelihat gue ada di sini?“ todong Aini seraya melipat kedua tangannya di depan dada terlihat sangat angkuh. Menyandarkan tubuh kurusnya di kusen pintu.


Syifa memutar tubuhnya perlahan. Sepasang bola matanya membulat tak percaya dengan kedatangan gadis kurus berkulit bersih itu. Aini memang teman sekelasnya. Tapi mereka tidak pernah saling akrab. Keduanya sering tidak akur. Entah apa sebabnya, dan sejak kapan hal itu terjadi, Syifa tidak pernah memperdulikannya.


“Ya iyalah, gue kaget, ngapain elo di sini? Gue enggak ngerasa ngundang elo ke sini,“ sahut Syifa sinis.


“Elo pikir gue sudi gitu datang ke sini? Kalo bukan karena Abang gue, amit – amit deh gue ke sini,“ sanggah Aini tak kalah jutek.


“Hah?! Abang?”


“Iya.”


Suara gelak tawa Syifa mendadak pecah mengingat pemuda cupu yang dilihatnya dalam kencan buta.


“Jadi, si cupu, gigi berjendela itu Abang lo?“ tanyanya terkekeh.


“What?! Siapa si culun gigi berjendela yang elo maksud?” tanya Aini tidak mengerti.

__ADS_1


“Hahaha … siapa lagi kalo bukan Abang lo,” sahutnya santai.


“Sembarangan! Sory ya, Abang gue enggak cupu. Dia keren, malah lebih keren dari Aliando Syarif,“ kilah Aini.


“Hahaha … Aliando Syarif? Ala kadarnya kaleee …“ Syifa terkekeh mengejek Aini.


“Elo enggak percaya?“


“Emang!“


“Eghr! Kalo seandainya gue tahu dari dulu, calon istri Abang gue itu elo, udah dari dulu Abang gue suruh nikah sama cewek lain yang lebih cantik dan lebih eksklusif dari elo,“


“Elo pikir gue KRL, pake eksklusif segala?“


“Kalo KRL itu eksekutif, Bambang …“


“Oh, iya. Terserah lo, deh!”


Semua kerabat dekat Syifa telah berkumpul. Mereka duduk berdampingan dengan keluarga besan yang berjumlah beberapa orang, di atas karpet menghadap meja akad nikah. Di atas tempat tidur yang sengaja di letakkan tidak jauh dari meja pernikahan, Uwa terbaring lemah dengan selang infus, ingin menyaksikan pernikahan cucu perempuan dari anak bungsunya. Di samping tempat tidur Uwa, Bunda duduk bersama Ade. Sementara sang mempelai pria mengenakan baju pengantin warna senada dengan kebaya yang dikenakan Syifa. Dia tampak sudah siap duduk menghadap Pak Penghulu dan Ayah.


Acara akad nikah pun dimulai dengan pembacaan khutbah nikah oleh seorang Ustadz. Suaranya sangat merdu hingga semua orang yang hadir begitu khidmat mendengarkannya. Suasana hening sejenak. Kemudian Ayah mengucapkan kalimat ijab kepada mempelai pria sambil menjabat tangannya.


“Wahai, Ananda Muhammad Zikra Al Fatir bin Bapak Surya Syaputra. Saya nikahkan engkau, dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama, Adinda Nuzulusyifa Fauziah binti Bapak Ahmad Fauzi, dengan maskawin satu set perhiasan emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!” tuturnya lirih.


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Adinda Nuzulusyifa Fauziah binti Bapak Ahmad Fauzi, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!” sahut pemuda itu cepat.


“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak Penghulu untuk memastikan.


“Sah!”


“Sah!”


“Silahkan panggil mempelai wanitanya ke mari,” titah Pak Penghulu.


Cang Rosyidah ---Kakak ipar Ayah--- langsung merespon titah penghulu.


*


"Eh, bocah, elu pada ngapain sih, ribut bae berdua-dua di kamar? Bukannya cepetan datang ke sono," tegur Cang Rosyidah, mengejutkan dua kawan yang tidak pernah akur. Keduanya terbeliak kaget seraya mendongakkan kepala masing-masing. "ini lagi penganten, ngapain ribut di sini? Penghulu udah nyuruh elo datang ke sono," lanjutnya menjelaskan.


"Terus, acaranya udah dimulai apa belum bu?" tanya Aini.


"Udah."


"Apa? Udah?" Aini beranjak pergi.


"Lagian pada ribut aja sih?" gumam wanita berpakaian syar'i itu.


"Akadnya belum dimulai, kan Cang?"


"Udah. Udah sah."


"Lho, kok bisa? Saya kan masih di sini?" Syifa mengernyitkan alis.


"Bisa. Makanya sekarang elu disuruh ke sono, katanya mau pake cincin apa tukeran cincin gitu. Awu dah, gua ora faham," jawab Cang Rosyidah seraya menuntun pengantin muda menuju meja penghulu.


Ya ampun ... kenapa cepat banget sih? Gue aja belum ngapa-ngapain. Tapi, bagaimana kalo dia kabur lagi seperti tempo hari? Masak sih, gue kudu ngejar-ngejar dia. Mana rok gue nyusahin banget. Boro-boro buat lari. Jalan aja gue ngerasa setengah mati. Huh! Kayak siput!


Langkah kaki Syifa mendadak terhenti, ketika baru tiba di ambang pintu menuju tempat akad nikah dilangsungkan. Dari kejauhan dia melihat seorang pemuda berpakaian pengantin sedang duduk memunggunginya. Rasa gugup datang memborbardir hatinya. Degup jantung yang sedari tadi berdebar kencang tak berirama membuatnya kian gelisah. Terselip nada keraguan muncul dalam benaknya. Masih bisakah semua ini berulang? Atau dibatalkan saja? Sayangnya sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Sekuat apa pun ia berupaya semuanya sudah terjadi. Dan pernikahannya dengan pemuda itu telah sah menurut syariat agama Islam.


“Kenapa Neng? Kok berhenti disini?“ tegur Cang Rosyidah heran.

__ADS_1


Syifa menghela napas panjang. Sepasang bola matanya menyisir seisi ruangan. Kedua telapak tangannya kian terasa dingin menahan gugup. Ia melihat Aini sudah duduk berbaur dengan keluarganya.


“Ayo, cepetan jalannya!” titah Cang Rosyidah seraya menyorong tubuh Syifa ke depan. "lama banget."


Syifa ingin menahan langkah kakinya sekuat tenaga. Meskipun pada akhirnya ia harus menyerah pada keadaan.


Berjalan setapak demi setapak. Sepasang bola matanya masih menyisir para tamu yang hadir, seraya menarik segaris senyum kaku di bibirnya. Ia melihat Bunda dengan wajah sendunya. Sesekali wanita beranak dua


itu menyeka air matanya yang jatuh beruraian. Senyum indah Uwa yang baru kali ini ia saksikan dengan jelas membuat hatinya terenyuh. Ia teringat permintaan Uwa yang begitu memaksa ditengah sakitnya. Tak terasa air matanya memenuhi pelupuk matanya hingga sedikit mengganggu penglihatannya.


“Nah, itu dia pengantin perempuannya udah nongol,” seloroh Cang Sholeh seakan memberitahu kedatangan Syifa


kepada semua orang.


Kontan semua orang yang hadir mengalihkan pandangan mereka pada Syifa. Tak terkecuali sang mempelai pria.


Hah?!


Syifa menutup mulutnya yang menganga lebar. Ia terkejut setelah menyadari pemuda yang sedang duduk di depan penghulu bukan dia. Pemuda yang selama ini selalu pergi bila ia datang mendekatinya. Secepat kilat gadis cantik


berdarah Betawi dan Sunda itu memutar tubuhnya memunggi semua orang.


“Enggak mungkin!” gumamnya berbisik.


Pemuda itu yang hampir saban hari mengantar jemput Aini ke sekolah seperti tukang ojek online. Bahkan dari kabar yang beredar di seantero sekolah, mahasiswa yang tengah sibuk menyusun tugas akhir adalah pacarnya Aini. Meskipun selama ini dia yang selalu muncul bila Syifa ingin menemui pemuda cupu itu. Tetapi, ia sudah terlanjur mempercayai pemuda cupu itu adalah calon suaminya.


Zikra!


Pemuda itu tersenyum lebar. Syifa tersipu malu.


Ada apa ini? Mengapa ini yang terjadi? Tapi, ini lebih baik ketimbang si cupu yang ada di sebelah gue. Ya ampun, gue malu banget!


Zikra memakaikan cincin pernikahan di jari manis Syifa. Setelah itu Syifa yang memakaikan cincin itu ke jari manis Zikra. Lalu mencium tangan Zikra.


Seketika rasa sedih yang mendera berubah bahagia. Senyum bahagia terpancar dari wajah-wajah orang yang menyaksikan pernikahan itu.


Tiba-tiba sesuatu terjadi pada Uwa. nafas wanita renta itu memburu lalu perlahan melemah. Bunda menyadari yang terjadi pada ibu mertuanya terkejut. Sontak wanita berhijab merah jambu itu menghampirinya.


"Mak, Emak," panggilnya lirih, tetapi tidak bergeming.


Kontan semua yang hadir mengalihkan pandangan. Lalu beranjak dari tempat duduk masing-masing menghampiri wanita renta yang terkulai tidak bernyawa.


“Ayah,” pekik Bunda.


Ayah langsung menoleh ke sumber suara. Senyumnya buyar melihat tempat tidur ibunya yang telah dikerumuni orang. Lelaki berkumis tipis itu berhambur mendekati ibunya.


“Emaaaakkkk …”


Syifa dan Zikra langsung meninggalkan meja pernikahan. Beralih menuju tempat pembaringan terakhir Uwa.


Seketika hari pernikahan yang seharusnya berlangsung bahagia, kini berganti duka. Suara tangis pilu pun tak terelakkan. Janur kuning yang melengkung di depan rumah Uwa, telah berganti kibaran bendera kuning.


 


 


 


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2