Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Gara-Gara Aini


__ADS_3

"Syifa, tolong buka pintunya!" titah Zikra sambil mengetuk pintu kembali. Namun gadis itu tidak bergeming.


Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah Zikra. Tidak lama berselang seorang gadis turun dengan membawa koper kecil. Di luar pintu dia sudah disambut dengan suara ribut. Entah apa yang terjadi pada si empunya rumah yang ada di dalam.


"Plis ... Syifa ... ayo buka pintunya. Aku mau mengatakan semuanya dengan jelas. Supaya enggak ada lagi salah paham di antara kita." pinta Zikra lirih sambil sesekali mengetuk pintu kamar Syifa.


Sesaat gadis cantik berkulit bersih itu tertegun disambut atmosfer pertengkaran dari dalam rumah yang baru disambanginya. Dahinya mengerut menunjukkan raut tidak suka mendengar suara pemuda yang selalu menjadi idolanya memohon begitu sangat kepada seorang gadis yang terbilang sangat biasa, dan tidak memiliki kelebihan apa pun sepertinya memang tidak layak berdiri di samping Zikra.


Sejak awal sebelum pernikahan Syifa dan Zikra terjadi, dialah orang yang paling tidak menentang. Apalagi dia dan Syifa memiliki hubungan yang tidak baik, membuatnya kian meradang. Seharusnya pemuda tampan itu memiliki gadis yang lebih baik dan tentunya lebih cantik dari Syifa. Dia yakin Zikra tidak akan kesulitan mendapatkan pengganti jika suatu saat berpisah dengannya.


Mungkinkah sudah terjadi sesuatu di antara mereka yang berada diluar kendali?


Sesungguhnya gadis itu ingin mengetuk pintu dan memberi salam sebelum masuk ke dalam rumah. Namun urung dilakukan karena pintunya sudah terlanjur terbuka. Serta jika pun dia mengucap salam si empunya rumah tidak bisa mendengarnya, terlalu sibuk mengurus pertengkaran mereka. Oleh sebab itu, dia langsung menerobos masuk ke dalam.


"Surprise!!!" pekiknya mengalihkan perhatian Zikra.


Pemuda dua puluh tiga tahun itu terkejut melihat kedatangan tamu tak diundang, tiba-tiba muncul di dalam rumahnya. Serta merta ia mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Matanya terbelalak kaget.


"Dede?" Zikra mengerutkan keningnya. Merubah posisi berdirinya dengan kaku.


"Aa ..." gadis itu berhambur ke dalam pelukan Zikra, yang tidak lain adalah kakak kesayangannya.


Di dalam kamar Syifa masih belum bergeming dari posisi semula. Tiba-tiba ia terkesiap samar-samar mendengar suara seseorang yang terasa sangat familiar di telinga.


Aini?!


Zikra tiba-tiba merasa canggung dengan kedatangan adik satu-satunya yang cukup mengejutkannya. Apalagi sampai gadis itu datang membawa koper ke rumahnya. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dihindarinya.


Mungkinkah dia kabur dari rumah kosnya? Atau Mama dan papanya sudah mengusirnya dari rumah? Tapi sepertinya semuanya tidak mungkin terjadi. Pasalnya sejauh ini Aini tidak pernah mengeluarkan rumah kost atau lingkungan kampus tempatnya menimba ilmu. Begitu pula di rumah. Dia adalah tuan putri kesayangan mama. Tidak ada yang berani membantah keinginannya di rumah. Lalu ada apa ini dengan dia?!


"Aa lagi ngapain? Kok kedengarannya ..." Aini ragu melanjutkan ucapannya. "jangan-jangan ... Aa lagi ribut sama Syifa?" tanyanya langsung pada pokok permasalahannya.


Zikra tersenyum pahit. Dia hanya diam tidak ingin menjawabnya. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Syifa tersentak ketika pintu kamarnya diketuk sangat kencang dari luar. Buru-buru ia beranjak berdiri.


"Hng! Syifa, cepat buka pintunya!" titah Aini begitu lantang. "kalo enggak dibuka, jangan salahin gue pintu kamar Lo rusak karena didobrak."


Syifa segera mengusap sisa air mata di wajahnya dengan tangan.


"De, kamu enggak boleh bertindak gegabah seperti ini dulu," pinta Zikra lembut.


"Aa, plis deh, kalo sama cewek model si Syifa ini. Sekali-kali Aa harus keras sedikit buat mendisiplinkan. Emangnya Aa mau dia jadi istri pembangkang dan durhaka sama suami?"


"Tapi De ... ini enggak seperti apa yang kamu pikirkan," kilah Zikra berusaha menenangkan.


Aini tidak peduli dengan penjelasan kakak lelakinya itu.


"Syifa, gue akan hitung sampai tiga. Jika sampai hitungan ketiga elo masih mengurung diri di dalam kamar, gue pastiin pintu ini akan gue dobrak," Aini memberi peringatan keras.


Syifa mendengus kesal. Sejak lulus SMA, ini adalah kali pertamanya bertemu dengan adik ipar sekaligus bekas teman sekelasnya. Dia memang pernah menjadi teman sekelas Syifa. Namun hubungan mereka lebih mirip musuh. Meskipun tidak pernah bertengkar atau berselisih, Aini selalu menunjukkan sikap dingin dan terkadang arogan.


"Baru ketemu udah buat masalah." sungut Syifa geram.


"Satu ... dua ...," Aini mulai menghitung dengan lambat. "ti ..." belum sempat melanjutkan hitungannya Syifa sudah membuka pintu kamarnya.


Mendadak suasana menjadi hening. Mereka bertiga berdiri membentuk sudut segitiga sama sisi. Saling bertukar pandang dengan perasaan canggung.


"Nyebelin!" rutuk Aini kepada Zikra dan Syifa. Melipat kedua tangannya di depan dada. Menghela nafas berat. "jadi begini cara kalian menyelasain masalah? Bertengkar? Yang satu berdiri di luar pintu kamar, yang lainnya mengurung diri sendiri sambil nangis. Kekanak-kanakan banget sih?"


"Dede ..."


"Plis deh, Aa jangan sok bela-bela si Syifa."


Syifa menghela nafas panjang.


"Kalo mau bertamu ya bertamu aja, enggak usah ikut campur urusan tuan rumah," Syifa tampak acuh tak acuh, beranjak pergi menuju dapur.


"Hng! Siapa yang elo maksud bertamu?" tanya Aini mengekor di belakang Syifa. "gue?"


"Terus elo pikir siapa?" Syifa menuangkan air panas ke dalam cangkir yang telah terisi teh dan dua sendok teh gula pasir.


"Ini kan rumah Aa gue, gue berhak atas Aa gue, juga rumahnya ..."


"Terus ... elo mau bopong? Aa lo mau dijadiin hak milik pribadi lo sendiri, gitu?" sambung Syifa sinis. "terserah!"


Aini tertegun melihat ekspresi wajah tidak senang Syifa. Terakhir kali dia bertengkar dengan kakak iparnya, ketika di depan sekolah bersama Nadya. Tetapi ekspresinya ketika itu tidak seperti ini. Malah Nadya yang cenderung naik darah.


Syifa sebisa mungkin menutupi luka hatinya di depan Aini. Ia pun tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya kepada Zikra. Walaupun sulit dan terasa sesak menghimpit dadanya, ia akan bertahan. Setidaknya sampai besok. Ketika Ayah dan Bunda datang menjemputnya di sini semuanya akan baik-baik saja.


Setali tiga uang dengan Syifa, Zikra pun menutup rapat mulutnya. Dia tidak ingin berbagi masalah rumah tangganya dengan Aini, sang adik kesayangannya.


"Elo pikir gue orang yang serakah sampai mau memiliki kakak kandungnya sendiri?"


"Aneh! Kalo enggak salah, tadi elo sendiri kan yang bilang berhak atas Aa lo." sanggah Syifa tidak mau kalah.


Zikra menepuk jidat melihat istri dan adik kandungnya bertengkar. Sebenarnya dia tidak tahu dengan jelas hubungan kedua gadis itu kurang baik sejak di bangku SMA. Namun melihat sikap mereka, dia menjadi sangat khawatir.


"Udah-udah, kalian berdua enggak usah bertengkar," sergahnya melerai kedua gadis itu.


"Jangan ikut campur urusan cewek!" semprot Syifa dan Aini kompak.


Sontak Zikra menciut, mati kutu langsung menutup mulutnya.


Syifa meletakkan cangkir teh di atas meja makan.


"Duduk! Ini teh buat elo."


"Emangnya elo enggak bisa ngomong lebih lembut sedikit?" protes Aini tidak terima.


Syifa mendengus kesal.


"Silahkan duduk ..." ujarnya dengan suara rendah dan senyum palsu. "puas?!" lanjutnya dingin.


"Ah, enggak tulus," Aini mendengus, menarik kursi makan lalu duduk. Menyeruput teh yang tadi dibuatkan oleh Syifa.


Syifa melotot sambil mengerutkan bibirnya. Dalam hati ia ingin sekali memukul kepala Aini dengan sendok teh.


Zikra melepaskan jasnya. Kemudian diletakkan di sandaran kursi makan. Setelah itu dia duduk di samping Aini. Sementara Syifa duduk di kursi di seberang mereka setelah sebelumnya menyuguhkan cangkir teh untuk suaminya.


"Kalian sudah menikah lumayan lama, apa udah terbiasa bertengkar seperti tadi?" selidik Aini penuh kehati-hatian.


"Enggak. Kami berdua enggak pernah bertengkar. Hubungan kami sangat harmonis. Jadi, elo jangan komen macam-macam, ya?" sahutnya ketus.

__ADS_1


"Ya ilah ... gue enggak buta, juga budek kali ..."


"Dede ... sebaiknya kamu enggak usah ikut campur urusan orang lain," Zikra menasihati adiknya.


"Tapi A ..."


"Cukup! ..."


Hng! Aini mengerucutkan bibirnya.


Suasana di meja makan malam itu mendadak kaku. Tidak ada kehangatan layaknya sebuah keluarga. Yang terasa hanya atmosfer ketegangan teman lama tapi tidak akur, berimbas pada hubungan kakak-adik yang ikutan membeku.


"Dede ... kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini malam-malam, terus bawa koper segala?" selidik Zikra mengakhiri ketegangan dia antara mereka. "apakah mama-papa tahu kamu ke sini?"


Aini tidak langsung menjawab, dia hanya diam sambil menatap dingin kakak iparnya.


"Atau ... jangan-jangan kamu lagi terlibat masalah, jadi nekad kabur dari tempat kos?"


"Enggak kok ..." kilah Aini menyandarkan dagunya ke bahu Zikra manja. "siapa bilang Dede kabur?"


Syifa tidak peduli dan bersikap dingin.


"Kalo enggak kabur, namanya apa kalo udah bawa koper gitu?" tanya Zikra mengendurkan dasi dan melepas satu kancing bajunya.


Aini menjauhkan dirinya sendiri dari bahu kakak lelakinya itu.


"Swear, deh! Dede enggak kabur," sahutnya jujur mengangkat dua jarinya sedang bersumpah. "kalo Dede kabur ngapain bawa koper kecil begitu. Terus, ngapain juga kabur ke sini, cuma bikin badmood doang," lanjutnya ketus seraya melirik Syifa sinis.


"Terus apa, traveling?"


"Ihh! Aa gitu deh," Aini memperbaiki posisi duduknya. "beneran Dede enggak kabur. Dede cuma liburan aja selama beberapa hari. Mumpung kegiatan perkuliahan di kampus lagi diliburin, karena lagi ngadain pensi."


"Kenapa kamu malah ke mari, bukannya di sana lebih asyik ramai?" sela Syifa akhirnya buka suara.


"Ramai sih ramai. Tapi mau ngapain cuma jadi penonton doang, enggak asyik banget. Mending ke sini lihat kondisi Aa sama kakak ipar yang yah ... enggak banget." tutur Aini menekan suku kata terakhirnya.


"Mama sama papa udah tahu belum, kamu ada di sini?"


"Belum. Dede sengaja enggak kasih tahu orang rumah, soalnya kalo mereka tahu, apalagi mama, Dede pasti disuruh mama nemenin shopping di mall. Ih, bete ketemu emak-emak sosialita yang hobinya shopping, cuma ngabisin duit suami."


"Tapi enggak semua emak-emak seperti itu kan?" Syifa seakan sedang membela diri sendiri. Pasalnya ia bukan tipikal istri yang hobi belanja hingga menghabiskan uang suami. Begitu pula dengan Bundanya yang selalu hidup sederhana untuk mengendalikan ekonomi keluarga.


"Pastinya."


Suasana mulai melunak. Pelan-pelan kebekuan yang telah terjadi mencair.


"Oke. Berhubung sekarang udah malam, Dede putusin mau menginap di sini."


Syifa dan Zikra bertukar pandang. Keduanya kompak membisu.


"Syifa, dimana kamar tidur gue? Gue mau istirahat."


Zikra ingin menjawab tetapi ragu.


"Disini tempatnya terbatas, jadi elo tidur sekamar sama gue," sahut Syifa cepat.


"Kocak Lo, Syif. Sejak kapan kita jadi akrab?"


Wajah Syifa memucat, kecewa dengan ucapan Aini.


"Ya udah, elo harus tidur di ruang tamu atau di dapur," ucap Syifa kejam.


"Aa ..." rajuk Aini manja meminta pembelaan pada Zikra.


Zikra mengelus kepala adik satu-satunya penuh kasih sayang. Dia tidak tega jika Aini benar-benar tidur di ruang tamu atau di dapur. Namun dia yakin, istrinya tidak akan berbuat sekejam itu.


"Ya udah, kamu tidur di kamar Aa aja ya," hiburnya.


"Maksudnya?" Aini mengerutkan dahi. Mencoba mencerna ucapan Zikra.


"Gue lapar," Syifa beranjak berdiri mengalihkan perhatian Aini. "elo mau makan apa, biar sekalian gue masakin?" mendorong kursi yang tadi didudukinya. Bergerak menuju lemari es, mengecek bahan makanan yang tersedia.


Zikra hanya terdiam.


"Biar aku saja yang masak," tiba-tiba Zikra bergegas menghampiri Syifa, langsung menggantikan posisinya. Dia tidak ingin berbicara panjang lebar lagi dengan Aini. Apalagi harus menjelaskan semua yang berhubungan masalah rumah tangganya yang terbilang cukup rumit.


"Tapi aku mau masak ..." gadis itu tercengang dengan aksi gesit suaminya.


"Tunggu! Tunggu! Tunggu deh!" Aini melirik dua pintu kamar yang tidak jauh dari dapur. Dia melihat dua kamar yang berbeda. "jangan bilang kalo selama ini kalian berdua tidur di kamar terpisah." lanjutnya menganalisis. "ada dua kamar berbeda. Kalian berdua secara enggak langsung mengatakan memiliki kamar masing-masing."


Entah mengapa Syifa dan Zikra mengabaikan Aini secara bersamaan. Hingga membuat gadis itu geram.


"Hai! Di sini ada orang lagi ngomong. Kenapa pada nyuekin gue sih?" pekik Aini merasa terabaikan.


Beberapa menit kemudian. Zikra dan Syifa menghidangkan masakan yang telah selesai mereka masak di atas meja makan. Air muka Aini terlihat sangat masam dan dingin.


"Ayo, kita makan!" seru Zikra duduk di samping Aini.


Syifa mengatur piring dan sendok serta gelas yang telah terisi air putih di hadapan Zikra dan Aini. Setelah itu ia duduk di tempat semula.


"Dede enggak mau makan sebelum Aa dan Syifa ngomong jujur. Apa yang sebenarnya yang terjadi dalam rumah tangga kalian? Dan, sewaktu baru datang Dede dengar kalian berdua sedang bertengkar. Apa di antara kalian berdua ada yang berselingkuh?" cecar Aini tanpa ampun.


Zikra dan Syifa bertukar pandang.


"Jangan coba-coba bilang kalo kalian harmonis, tapi kenyataannya ... perang dingin."


"Ni, gue akui gue enggak bisa bohong di depan lo. Karena elo cukup pintar bisa mengendus masalah rumah tangga gue sama kakak lo," akhirnya Syifa mengakui kondisi rumah tangganya yang tidak berjalan mulus. "seperti yang elo tahu, kita menikah tanpa ada ikatan cinta ..."


"Iya, gue tahu itu," sela Aini tidak sabaran. "tapi kan Aa gue ganteng banget kayak sekuteng belum mateng. Artis sekelas Aliando Sayrif, Jefri Nichol, Rizky Nazar mah lewat. Masak elo enggak naksir sama sekali, enggak tergoda kayak cewek-cewek lain? Elo masih normal kan?"


Syifa mendadak memasang tampang bete. Zikra diam-diam tersenyum bangga mendapat pujian setinggi langit dari Aini.


"Terus lagi, Aa juga enggak tergoda tinggal bersama cewek model dia? Yah, walaupun tampangnya enggak secakep Amanda Rawles atau Mawar Eva De jongh. Yah ... seenggak-enggaknya dia kan cewek," Aini menghela nafas pendek. "atau jangan-jangan kalian berdua emang enggak normal."


"Dede, kamu itu kalo ngomong kayak enggak dipikir-pikir lagi," sungut Zikra geram. "emangnya kamu mau punya kakak yang enggak normal?"


"Ya enggaklah!" sahutnya cepat.


Zikra menjelaskan masalah rumah tangganya dengan Aini sambil menikmati makan malam, walaupun tidak seratus persen dan masih menutupi perasaannya pada sang istri. Dia hanya menjelaskan secara garis besar mengapa dirinya dan Syifa memutuskan tidur di kamar yang berbeda.


"What!" Aini terperanjat kaget. Ekspresi terkejutannya terlihat tidak sedang berpura-pura. "jadi ... selama ini kalian berdua ... tidur di kamar terpisah?" tatapan matanya nanar melihat ke arah Zikra dan Syifa secara bergantian seakan meminta penjelasan.


Syifa hanya mengangkat bahu dengan santai.

__ADS_1


"Biasa aja kali ... enggak usah lebay gitu," celoteh Syifa. "lagian besok nyokap-bokap gue bakalan datang ke sini buat jemput gue. Setelah itu Zikra akan terbebas, dan bisa memilih cewek yang disukainya. Mungkin mau CLBK sama mantan terindah barang kali." lanjutnya seakan sedang menyindir.


Zikra mengangkat wajahnya dengan tatapan dingin kepada Syifa.


"Andaikan kamu tahu Syifa, di hati aku cuma ada kamu. Mungkin kamu enggak akan ngomong seperti itu," ujar ZIkra dalam hati.


"Enggak bisa! Elo enggak bisa dan enggak boleh mencampakkan Aa gue begitu aja!" sergah Aini geram sambil memukul meja.


Sontak Zikra dan Syifa terkejut. Dan suasana di meja makan kembali menegang.


"Andai aja elo tahu ... yang dicampakkin itu gue, bukan kakak lo seperti yang elo tuduhkan ke gue." sahut Syifa dalam hati.


"Elo bakalan rugi!"


"Emang benar kata lo, gue emang rugi melepas Zikra. Tapi gue enggak bisa bertahan tanpa cinta darinya. Karena cewek dipilihya bukan gue, tapi Mbak Ayu," batin Syifa lirih.


"Karena Aa gue selama ini ..." Aini mendadak menggantung ucapannya. Tidak berani melanjutkan setelah diam-diam Zikra memberi kode agar tidak mengatakan hal yang sesungguhnya.


"Karena kakak lo selama ini apa? Kenapa enggak dilanjutin?" tanya Syifa penasaran.


Wajah Aini tertunduk lesu dan berubah pendiam. Tidak seperti tadi yang begitu berapi-api, seperti pidato Bung Tomo saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.


Syifa mengernyitkan alis melihat perubahan sikap teman sekaligus adik iparnya yang begitu drastis.


"Lho, kok elo jadi diam begitu? Kenapa? Lidah lo abis kegigit ya?" celotehnya menggoda Aini.


"Enggak papa kok." sahut Aini cepat. Langsung meraih centong nasi, menyendoknya secukupnya serta laut pauknya. "kok gue tiba-tiba jadi lapar ya, hehehe ..." lanjutnya tertawa bodoh.


"Dasar aneh!" gumam Syifa.


Setelah selesai makan malam, Zikra langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian. Syifa merapikan meja makan, lalu mencuci semua piring kotor. Sementara Aini masih dengan pikirannya sendiri.


Gue enggak bisa membiarkan Aa menderita lagi. Sekian lama terpaksa menjomblo karena tekanan dari Papa yang melarangnya dekat dengan cewek lain. Sekarang adalah waktunya Aa bahagia bersama Syifa. Yah, walaupun gue enggak suka sama cewek sialan itu. Tapi demi Aa gue rela mengorbankan ego gue.


"Udah selesai!" seru Syifa girang.


Aini terhenyak dari lamunannya. Buru-buru berdiri menghadang jalan Syifa.


'Kenapa lo?" tanya Syifa heran mengerutkan dahi.


"Syif, gue ... gue tiba-tiba kepingin pipis. Ah, iya pingin pipis," Aini tergagap membuat Syifa menaruh curiga padanya.


"Elo kenapa sih, aneh banget?"


"Enggak kenapa-kenapa, gue cuma tiba-tiba kebelet aja mau ke kamar mandi."


"Oh! Ya udah elo pergi aja sana. Di sebelah kiri lo kamar mandi."


"Oke." Aini bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Ada banyak hal yang berkecamuk di dalam benak Aini perihal penyatuan Zikra dan Syifa. Dia tahu persis bagaimana track record dua manusia yang sejak kecil hidup dalam tekanan. Zikra pernah dipaksa putus dari Ayuniatara perihal perjodohannya. Tidak jauh berbeda dengan Zikra, Syifa pun pernah nekad backstreet dengan Angga, walau pada akhirnya mereka putus, karena frustasi masalah yang sama.


Kini Aini dapat melihat ada benih-benih cinta yang telah tertanam di sanubari masing-masing. Namun keduanya masih belum ada keberanian untuk saling mengungkapkan. Dia sadari dengan benar sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Mungkin dia harus turun tangan untuk menyatukan dua insan yang sama saling malu-malu kucing. Tapi ... apa yang harus dilakukan?


Syifa merapikan tempat tidurnya setelah selesai mengganti bajunya dengan piayama tidurnya.


Aini langsung menerobos masuk, tidur di kasur Syifa.


"Ngapain elo tidur di kasur gue? Bukannya elo mau tidur di kamar kakak lo? Atau ... di ruang tamu," umpat Syifa.


"Ngapain gue tidur di sana, kalo di sini ada kamar kosong," sahut Aini dingin.


"Cih! Omongan sama perbuatan kok enggak kompak!"


Aini menyeringai licik. Tiba-tiba dia memegangi perutnya dan mengeluh sakit.


"Syifa, kok perut gue tiba-tiba sakit ya? Aduh! Aduh!" Aini menggeliat di atas kasur.


Syifa pun panik tidak tahu harus berbuat apa. Buru-buru ia langsung menghambur ke kamar Zikra di sebelah kamarnya meminta bantuan.


"Zik!"


Zikra baru keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Masih menggunakan handuk di pinggang dan bertelanjang dada sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Terkejut dengan kedatangan gadis itu yang begitu tiba-tiba. Sontak mereka tertegun dan membeku saling bertatapan.


"Ya ampun ... ternyata Zikra ganteng banget padahal baru kelar mandi. Badannya juga seksi dengan perut six pack kayak gitu. Makanya enggak aneh banyak yang naksir sama dia," Bisik batinnya terpana. "eh, apa-apaan sih? Ya ampun Syifa ... sadar-sadar, elo enggak boleh mikir macam-macam!" lanjut batinnya agar tidak terlena. Langsung membalikkan tubuhnya. Degup jantungnya berdetak diluar normal.


"Ada ... apa?" tanya Zikra ragu.


"Itu ... itu Aini, tiba-tiba sakit perut. Aku enggak tahu mau ngapain?" sahutnya terbata. "eh, maksudnya aku enggak punya obat sakit perut. Mungkin kamu punya obat buat meredain sakitnya."


Zikra tersenyum kecil. Dia senang gadis itu datang menemuinya.


Bruk! Cekrek! Pintu kamar Zikra tiba-tiba ditutup dan dikunci dari luar. Kontan Syifa panik. Zikra tersenyum lebar. Dia sudah bisa menebak orang yang berbuat konyol itu.


"Brakk! Brakk!" Syifa memukul pintu kamar Zikra kencang. "buka! Ayo cepatan di buka! Aini ... tolong bukain pintunya!"


"Percuma kamu berteriak, karena Aini enggak akan membatu kamu."


"Kenapa begitu?" Syifa memutar tubuhnya. Matanya langsung menangkap tubuh Zikra yang masih terekspos seksi. Gadis lugu itu histeris sambil menutup wajahnya dengan tangan. "aaa! Ngapain kamu ada di sini?"


"Ini kan kamar aku," sahutnya Zikra ringan berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Oh, iya ya. Kenapa gue jadi lupa?" gumamnya memiringkan wajahnya.


Zikra menyeringai geli.


Aini tersenyum puas sambil melempar kunci kamar Zikra ke udara, lalu ditangkapnya dengan sigap, mencengkeram dalam genggaman tangannya.


"Sori, ini pelajaran buat pasangan muna kayak kalian. Semoga kedepannya kalian berdua benar-benar jadi pasangan harmonis," ujarnya memberi doa tulus.


Setelah itu dia beranjak masuk ke dalam kamar Syifa yang kecil dan pengap. Gadis itu hanya berdecih prihatin dengan nasib kakak iparnya. Entah karena dipaksa atau atas kerelaan hati sendiri ia mau ditempatkan di ruangan seperti itu.


"Ya ampun Syifa ... Syifa ... sebenarnya yang salah elo sendiri atau Aa gue yang beloon sih? Masak istri sendiri disuruh menempati kamar seperti ini? Haih ..." Aini menghela nafas melempar pandangan ke setiap sudut ruangan. "lama-lama gue jadi ngenes juga sama elo."


Selesai mengunci pintu kamar, Aini langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Wajahnya menengadah menatap plafon kamar sambil berbantal lengan, gadis dengan nama lengkap Aini Aura Rahayu itu teringat sikapnya terhadap Syifa semasa SMA lalu.


Syifa dan Aini bukanlah teman akrab. Mereka berteman hanya karena berada dalam satu kelas yang sama. Aini adalah salah satu murid pintar di kelasnya. Tetapi tidak sepopuler Syifa yang notabene hanya siswa biasa yang tidak memiliki prestasi. Ia populer karena berhasil menjadi pacar Angga, Siswa terpopuler seantero sekolah. Selain itu ada rumor yang mengatakan Syifa sejak lahir sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Hingga gadis itu nyaris jadi jomblo seumur hidup.


Aini pernah merasa cemburu sampai baper setengah mati melihat kebersamaan Syifa dan Angga disela-sela jam istirahat di kantin. Dia sudah lama diam-diam suka pada Angga, cowok populer, ganteng, dan playboy. Gadis itu pun selalu berharap sang Arjuna suatu hari mencampakkan Syifa, kemudian beralih padanya. Namun sampai peristiwa drop out-nya Angga dari sekolah keinginannya hanya sebatas angan.


Nasib manusia hanya Tuhan-lah Yang Maha Mengetahui. Siapa sangka  teman yang selalu tidak diharapkan kehadirannya, kini menjadi kakak iparnya.


Aini merubah posisi tidurnya. Memadamkan lampu kamar, dan tertidur lelap.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2