Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Secercah Cahaya Harapan (Part 1)


__ADS_3

Derry langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Zikra dengan membawa sebuah amplop coklat.


"Sudah ada kabar?" tanya Zikra tidak sabaran.


"Iya, Bos. Ini silahkan diperiksa." Derry meletakkan amplop yang dibawanya di atas meja kerja Zikra. Dengan cepat Zikra menyambar amplop itu, langsung membuka dan melihat isi di dalamnya. Senyum tipis terbit dati bibirnya.


"Bagus. Besok kerahkan semua orang-orang kita ringkus mereka. Sekalian korek informasi tentang keberadaan ibu dan ayah mertuaku, juga adik iparku." titahnya.


"Siap Bos. Mereka semua sudah mempersiapkan semuanya."


"Ya sudah. Kamu boleh pulang duluan."


"Tapi Bos... bagaimana dengan anda?"


"Tinggalkan saja aku sendiri. Kau nikmati saja harimu. Berkencanlah dengan seorang gadis baik-baik. Memangnya kau mau menjomblo seumur hidupmu."


Derry tergelak mendengar nasihat atasannya. Memang benar Derry sudah lama menjomblo karena ketularan atasannya yang gila bekerja. Maka hal itu sering diabaikannya. Apalagi orang tuanya di kampung sudah sering mendesaknya agar segera menikah.


"Ah, Bos bisa saja. Baiklah Bos, kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi saya undur diri dulu." Derry langsung meninggalkan ruangan Zikra.


Hari sudah gelap saat Zikra tiba di rumah lamanya. Rumah penuh kenangan manisnya bersama Syifa. Setelah sebelumnya sempat berziarah ke makam istrinya.


"Maafkan aku yang telah lancang mengganggu ketenanganmu..." ucap Zikra di depan nisan bertuliskan,


Nuzulusyifa Fauziah


binti


Ahmad Fauzi


Lahir: 19 Sep 1999


Wafat: 12 Nov 2019


"Jujur, aku enggak bermaksud tidak sopan padamu. Tapi... aku harus melakukannya untuk mengetahui hal yang sebenarnya tentang dirimu." lanjutnya dengan penuh penyesalan. "aku janji setelah ini kau akan tenang dan damai di sana."


Selesai mandi dan memakai piyama tidurnya, Zikra mengeluarkan amplop coklat yang tadi sore sudah diberikan Derry dari dalam tas kerjanya. Duduk di pinggir tempat tidurnya. Lalu bergeser agak ke tengah, menyandarkan bahunya ke kepala tempat tidur.


Mata elang Zikra meneliti dan menekuri tulisan yang ada pada lembaran demi lembaran kertas yang berisi laporan perihal kecelakaan yang dialami Syifa dari kepolisian. Juga laporan hasil otopsi jenazah dari tim forensik. Diam-diam Zikra melakukan otopsi pada Syifa ah tidak, gadis yang diduga Syifa. Karena memiliki identitas Syifa. Pasalnya banyak kejanggalan yang ditemuinya pasca meninggalnya Syifa.


Apalagi setelah ditemukan bukti-bukti kejahatan Haryanto Atmaja bersama Tasya. Dan ada lagi yang paling membuat Zikra sempat syok. Yaitu berhubungan dengan temuannya di dalam kamar mandi di rumah lama. Tepatnya kamar mandi yang berada di dekat dapur.


Hal itu bermula dari satu bulan yang lalu, ketika Zikra pulang ke rumah lama. Dia tidak bisa terus-terusan bersembunyi dari kenangannya bersama Syifa. Sudah tentu membuatnya tersiksa menahan rindu pada sang istri yang telah tiada untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Zikra memijakkan kaki kembali setelah kepergian Syifa di rumah lamanya. Pemuda itu tidak langsung turun dari mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah. Perasaannya campur aduk melihat rumah itu. Rumah yang menjadi saksi bisu atas perjalanan hidup sepasang suami-istri muda selama kurang dari satu tahun. Air matanya menggenang di pelupuk mata namun tidak sempat menetes.


Pelan-pelan Zikra membuka pintu mobilnya, menjatuhkan kaki di atas tanah pekarangan rumah. Matanya tidak beralih menatap pintu rumah yang masih terkunci rapat. Biasanya pintu akan terbuka diiringi senyum manis Syifa. Gadis itu akan menyambut kedatangannya bila sedang ada di rumah. Menggamit lengannya seraya menenteng tas kerjanya. Dengan riang ia berceloteh atau menceritakan hal-hal yang telah dilaluinya selama satu hari itu.


Zikra mendengus pelan dan meneguhkan hati melangkah maju hendak masuk ke dalam rumah. Belum sempat kakinya memijak lantai teras rumahnya. Tiba-tiba Mama Dio yang rumahnya selisih dua rumah, berada di seberang jalan rumah Zikra datang menghampiri.


"Mas Zikra," Mama Dio berdiri satu meter di belakang Zikra. Serta merta dia menoleh. "Mas Zikra..."


"Oh, Mama Dio." Zikra memutar tubuhnya menghadap wanita berpakaian syar'i itu.


"Mas Zikra udah lama baru kelihatan lagi. Kemana aja?" tegur Mama Dio penasaran.


"Iya. Saya di rumah yang satu lagi." sahut Zikra jujur.


"Oh..." Mama Dio terdiam sejenak. "sayang sekali, rumah ini menjadi kosong." ucapnnya menyayangkan kondisi rumah Zikra. Meskipun ada orang suruhan Zikra yang rutin membersihkan setiap dua hari sekali. Tetapi rumah itu tetap kosong tanpa adanya aktivitas kehidupan di dalamnya. Seperti sebelum kematian Syifa.


Zikra hanya tersenyum getir.


"Oya. Saya minta maaf karena gak ikut acara pemakaman Teteh waktu itu," kata wanita itu menyesal. Dia menyebut Syifa dengan panggilan Teteh. Karena itu adalah permintaan Syifa jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. "soalnya saya sedang ada di kampung waktu itu."


"Gak papa, Mama Dio."


"Saya sangat sedih dengan apa yang menimpa Teteh. Walau pun cuma lihat dari berita di tv, Mama sampai menangis. Karena bagaimana pun Teteh sudah Mama anggap seperti anak sendiri." Mama Dio menyeka air matanya yang menetes dengan ujung jilbabnya.


"Mama Dio, sebaiknya kita ngobrol di dalam saja. Ayo masuk!" ajak Zikra menawarkan Mama Dio masuk ke dalam rumahnya.


"Enggak usah. Mama cuma mau bilang begitu aja. Lagian enggak enak dilihat tetangga bila kita cuma berdua-duaan aja di dalam rumah." tukas Mama Dio.


Zikra mengangguk mengerti.


"Oh, Mama baru ingat..." ujar Mama Dio tiba-tiba teringat sesuatu.


Zikra mengangkat satu alisnya. Mengulik rasa penasaran dalam hatinya.


"Mas Zikra udah tahu belum bagaimana hasilnya?"


"Hasil?" Zikra menautkan alisnya tidak mengerti apa yang dimaksud dari ucapan wanita itu.


"Wah, pasti Mas Zikra belum tahu ya... sayang sekali..." Mama Dio mendengus panjang dan pelan.


"Maksudnya apa ya? Bisa Mama Dio memperjelasnya?" desak Zikra tidak sabaran.


"Itu lho... Mas Zikra, aduh... bagaimana ngomongnya ya..." Mama Dio tampak ragu.

__ADS_1


"Gak papa. Ngomong aja apa adanya."


"Itu... waktu sebelum kecelakaan saya memberikan alat tes kehamilan sama Teteh..."


Duarrrr!!!


Seakan terdengar petir menggelegar di telinga Zikra.


"Apa? A-alat tes kehamilan?" Zikra tergugu mengulangi.


"Iya. Karena waktu itu... Mama perhatikan dari pagi hingga sore menjelang, Teteh terlihat pucat dan lemas. Apalagi waktu Teteh bilang kepalanya pusing dan sedikit mual, ingin muntah." tutur wanita itu mengenang peristiwa itu.


Zikra menajamkan pendengarannya agar setiap kalimat yang meluncur dari mulut Mama Dio tidak salah mendengar.


"Mama sudah memijat dan mengerik punggung Teteh."


"La-lalu?..."


"Karena masih belum ada perubahan, Mama kasih alat tes kehamilan."


Tiba-tiba dada Zikra berdesir. Entah perasaan apa ini yang sedang dirasakannya.


"Mama meminta Teteh mengecek sendiri di rumah. Sayang, Mama belum sempat menanyakan hasilnya. Karena sore itu juga Mama dapat telepon dari kampung. Mama pun langsung berkemas pulang kampung." Mama Dio mendengus pelan. Lalu tersenyum sedih. "seandainya, waktu itu hasilnya positif, dan Teteh masih ada... mungkin usia kandungannya antara tiga atau empat bulan lebih."


Ceterrr.... duarrrr.... duarrrr....


Suara petir menggelegar bersahutan di kepala Zikra.


Setelah selesai berbicara Mama Dio langsung undur diri kembali pulang ke rumahnya.


Zikra membeku di tempatnya. Bibirnya terasa keluh walaupun hanya sekedar menjawab salam yang diucapkan Mama Dio sebelum beranjak pergi. Dia mendadak linglung mengetahui fakta Syifa pernah melakukan tes kehamilan. Benar kata Mama Dio, jika seandainya hasilnya positif... seandainya kecelakaan itu tidak terjadi mungkin Syifa saat ini sedang mengandung buah cinta mereka.


Zikra mencari alat tes kehamilan itu setelah masuk ke dalam rumahnya. Dia berharap benda itu masih ada di dalam rumah. Semua sudut rumah dijelajahinya demi menemukan benda tak bernyawa itu. Bahkan dia sudah mencarinya di dalam tong sampah yang ada di dapur, dan di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya pun sudah dilakoninya. Namun hasilnya nihil. Mungkinkah sudah dibuang oleh orang yang bersih-bersih rumah ini bersama sampah-sampah yang lain?


Bersambung...


***


🙋 Hai readers... 🙏 maaf ya baru update hari ini kemarin author lagi gak bisa fokus, karena ada kabar duka dari keluarga😭😭😭. Btw... sekarang author udah update semoga para readers semua bisa menikmati cerita tentang Zikra yang masih berduka ya 😭😭...


Jangan lupa kasih author vote, like n komen ya supaya author semangat update cerita. ❤️❤️ Luv u all...


Happy reading...🤗✌️😁🙋

__ADS_1


__ADS_2