
"Kalo lagi pacaran rasanya romantis ya, Neng." imbuh Pak Min melihat kemesraan Syifa dan Zikra. Syifa hanya menanggapinya dengan senyum kikuk.
"Emangnya apa bedanya sama yang udah nikah, Pak?" tanya Zikra iseng.
"Ya... bedalah, Mas. Kalo masih pacaran apa-apa itu kelihatan serba indah. Masih sayang-sayangnya. Kalo udah nikah... walah... apek."
"Apek?" Syifa mengernyit tidak mengerti.
"Iya. Masih pacaran sedikit-sedikit sayang... udah makan apa belum? Kalo jatuh karena tersandung, bilangnya yang mana yang sakit sayang..." sahut Pak Min seakan sedang memperagakan. "pas udah nikah. Humph! Sekarepmu! Bodoh amat! Kalo sampai jatuh pun bilangnya bukan lagi mana yang sakit sayang lagi. Tapi bilang, kotok mata lu, jalan segitu aja sampai kepaduk." pria berperut agak buncit itu terkekeh renyah.
Syifa bertukar pandang dengan Zikra. Dari sorot mata gadis itu seakan sedang bertanya tentang sikap orang di depannya, apakah akan berubah sikap seperti apa yang sudah dituturkan Pak Min, si penjual nasi goreng itu?
"Semoga aja kita enggak gitu ya, Yank." ujar Zikra seraya menyentuh punggung tangan Syifa berada di atas meja.
"Iya. Sampean berdua kalo bisa terus mesra sampai sudah menikah." timpal Pak Min yang benar-benar tidak tahu status hubungan dua sejoli yang sedang singgah di kedainya itu.
Zikra tertawa pelan. "Tapi sayangnya kita berdua udah nikah tuh, Pak."
Pak Min terkejut mendengar pengakuan Zikra.
"Walah... kalian berdua sudah nikah, toh? La wong kalian masih muda gini. Tak pikir kalian masih pacaran."
"Iya. Kami nikah muda, Pak." ujar Zikra sambil menatap Syifa dengan menyunggingkan senyum bahagia. "tapi bukan karena udah tek-dung duluan ya, Pak."
"Hebat itu," Pak Min mengacungkan ibu jarinya. "jarang-jarang anak muda zaman sekarang berpikiran maju seperti Mas ini lakukan. Karena biasanya anak muda zaman sekarang maunya pacaran doang. Padahal pacaran bisa membuat orang lebih mudah dekat dengan dosa zina."
"Benar itu, Pak." sahut Zikra penuh semangat.
"Humph! Kalo bukan dijodohin, kamu juga gak bakalan nikah muda, kan?" gumam Syifa agak kesal.
"Lebih baik nikah muda bisa ngapain aja, ya Pak, gak pakai was-was digrebek massa." Zikra tampak nyinyir. Padahal pada awal hidup bersama Zikra dan Syifa sempat didatangi warga karena dianggap kumpul kebo.
"Iya ya, benar itu Mas." Pak Min mengangguk setuju.
Setelah selesai menghabiskan nasi goreng masing-masing, Zikra membayar makanan dan minuman yang sudah dipesannya bersama Syifa. Selepas mengucapkan kata terima kasih kedua bergerak pergi meninggalkan kedai itu.
__ADS_1
Pak Min tersenyum takjub melihat kepergian pasangan muda itu.
Syifa tersenyum lebar sambil mengelus perutnya yang kenyang. "Kenyang juga akhirnya..."
"Udah kenyang? Yakin?"
Syifa mengangguk cepat sambil bergumam.
Zikra ikut bahagia melihat keceriaan di wajah istrinya. Tangannya langsung meraih tangan Syifa dan menggandengnya erat. Namun Syifa tampak risih walau digandeng oleh lelaki yang sudah berstatus suaminya di muka umum seperti ini.
"Ih, kamu ini kaya truk aja, pakai gandengan segala." keluh Syifa meronta hendak melepas genggaman tangan Zikra. Tetapi Zikra bergeming tidak mau melepaskannya.
"Emangnya truk aja yang bisa gandengan. Aku juga bisa, malah bisa lebih." goda ZIkra mengerlingkan matanya.
"Humph! Apaan sih?" sungut Syifa tersipu malu.
"Cie... pakai malu segala... kita kan udah sering..." buru-buru Syifa menutup mulut Zikra agar tidak melanjutkan ucapannya yang menurutnya akan keluar kata yang tidak layak diucapkan di muka umum.
"Apaan sih, Yank? Aku mau ngomong tapi dihalangin kaya gini?" protes Zikra sambil melepaskan bekapan tangan Syifa.
"Tapi, ini kan di muka umum, malu tahu."
"Dasar mesum!" rutuknya dengan suara gumaman. Zikra melengkungkan bibirnya melihat sikap Syifa yang dianggapnya masih malu-malu. Karena memang pada dasarnya gadis itu memang sangat pemalu. Namun perlahan urat malu Zikra yang mulai bermasalah bila didekat Syifa. Dia langsung mengejar ketertinggalannya.
Syifa langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur di dalam kamarnya setelah selesai menggosok gigi dan mencuci muka. Ia berencana malam ini tidur terpisah dengan Zikra. Tetapi kenyataan dan harapan berbeda. Zikra yang tidak mau berada jauh dari istrinya itu segera merangkak naik di kasur yang sama.
Di atas kasur yang berukuran single itu Zikra merangsek tubuh istrinya hingga ke pojok kasur nyaris menyentuh dinding tanpa permisi. Karena posisi tempat tidur Syifa sengaja dirapatkan ke dinding agar memberi ruang sedikit luas pada kamar yang tidak seberapa besar dibandingkan kamar yang ditempati Zikra. Tentu saja hal itu memancing kemarahan sang mpunya.
"I-ih... Zikra, sempit... ngapain sih kamu tidur di sini? Kamu kan bisa tidur di kamar kamu yang lebih besar dari ini." keluh Syifa.
"Enggak mau..." Zikra bergeming dari punggung Syifa sambil mengeratkan tangannya yang sengaja dilingkarkan di pinggang ramping istrinya.
"Kenapa?" tanya Syifa tidak mengerti.
"Aku mau tidur sama istri aku." sahut Zikra manja.
__ADS_1
"Zikra... " Syifa berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya yang membuatnya tidak nyaman berada di sisinya.
"Hmmm..."
"Sempit..." pekik Syifa.
"Ya udah kita pindah ke kamar sebelah." Zikra melepaskan pelukannya. Bergerak menjauh memberi jarak untuk melakukan pergerakan selanjutnya.
"Tapi, Zik..."
"Apa?" sela Zikra memotong ucapan Syifa.
"Aku lagi ingin tidur di sini. Aku kangen udah lama gak tidur di kamar ini." Syifa mencoba mencari alasan. Ia memang sengaja melakukannya agar terbebas dari belitan Zikra yang mirip seperti gurita bila berada didekatnya. Hingga ia sering merasa kualahan melerainya. Apalagi beberapa hari belakangan ini Zikra rajin mengajaknya olah raga malam yang membuatnya kelelahan. Mungkin karena dia sangat ingin punya anak, jadi ya... gitu deh!
"Sedari tadi kamu kan udah tidur di sini. Sekarang waktunya kita pindah di kasur yang lebih luas lagi." ucap Zikra langsung menggendong tubuh Syifa dalam satu hentakkan.
Tanpa memberikan banyak waktu untuk istrinya berbicara, dia sudah meletakkan gadis itu di tengah kasur. Dan... sudah bisa ditebak Syifa saat ini Zikra memang sedang menginginkannya. Karena memang sudah sejak awal kedatangan Zikra di kamarnya, ia merasakan si junior sudah menusuknya dari arah bawah belakangnya.
Syifa hanya menghela nafas tak berdaya meladeni keinginginan suaminya yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Pergulatan panas pun tidak dapat dielakkan. Ia hanya memasrahkannya untuk kesenangan sang suami.
"Bagaimana kondisi Papa?" tanya Syifa setelah selesai bercinta. Kini ia memposisikan dirinya bersandar di dada bidang Zikra sambil menyelubungkan tubuh polosnya di bawah selimut.
Zikra mendesah berat seraya melipat satu lengannya di bawah kepalanya. Sementara satu lengan yang lain dipergunakan untuk memeluk tubuh istrinya. Angannya menerawang mengingat kondisi Surya yang memang masih sakit di rawat di rumah sakit.
Selama di rawat belum sekali pun dia mengajak Syifa untuk menjenguk Papanya. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu. Dia hanya ingin menghindari tatapan tajam dan ucapan kasar yang terlontar dari bibir Mamanya untuk mengintimidasi gadis malang itu. Dia merasa sudah cukup kesedihan yang dirasakan istrinya yang telah kehilangan jejak kedua orang tua dan adik bungsunya. Tidak perlu ditambah lagi dengan hardikkan yang hanya menambah duka hati gadis itu.
"Mengapa kamu menolak Tasya yang jelas-jelas bisa menolong kita?" gugat Mama saat Zikra datang menjenguk Surya di rumah sakit.
"Karena aku sudah menikah, Ma. Aku enggak mau menodai bahtera rumah tangga aku dengan kehadiran orang ketiga." sahut Zikra mantap.
Bersambung...
***
🙋 Hai readers... sampai disini dulu ya updatenya🙏🙏✌️
__ADS_1
Happy reading!🤗😁😁
❤️❤️ Luv u all!