Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Negosiasi


__ADS_3

“Kamu harus berhasil menjadi bagian dari keluarga Surya. Setelah itu kita akan rebut PT. Surya Abadi Jaya.” Imbuh seorang pria paruh baya di dalam ruang kerjanya.


“Papa tenang saja. Aku akan menjadi menantu keluarga Surya. Aku yakin dengan kecantikkan yang aku miliki, aku akan mampu meluluhkan hati Zikra. Setelah dia benar-benar jatuh cinta kepadaku. Akan kubuat dia menjadi seorang pencundang. Dan apa yang papa inginkan tercapai saat itu juga.” sahut seorangh gadis cantik penuh percaya diri, sambil berdiri menghadap jendela ruangan itu. Tatapannya penuh makna dengan senyum miring meremehkan.


“Papa harap usahamu kali ini bisa berhasil. Tidak seperti kakakmu yang bodoh itu. Dia lebih mementingkan perasaan dari pada misi awal kita.”


“Aku janji....” Tandasnya untuk menegaskan. “Papa enggak usah khawatir.” Memutar tubuhnya menghadap pria berambut yang didominasi berwarna putih itu. "aku akan bertindak berdasarkan logika, bukan menggunakan perasaan."


*


Acara makan malam yang membosankan telah selesai. Papa, Mama, Tasya, Zikra dan tidak ketinggalan Syifa duduk bersama di ruang tengah.


Lagi, Syifa merasa menjadi orang asing yang tidak masuk ke dalam dunia mereka. Ia hanya seorang gadis sederhana yang masih kuliah, itu pun baru tingkat awal, juga orang awam di dunia bisnis. Tidak seperti orang-orang yang ada di sekitarnya kini. Mereka teramat mengerti bahkan pintar menjadi pembisnis handal.


Syifa mendengus pelan agar tidak tampak jelas kejenuhan yang dialaminya.


“Yah, gue emang selalu jadi kambing congek di antara mereka. Syifa… Syifa…” hardik Syifa pada dirinya sendiri di dalam hati.


Syifa terpaksa menundukkan wajahnya saat Zikra menggenggam jemarinya tiba-tiba. Lalu mengangkat wajahnya menatap lelaki yang berstatus suaminya. Senyum pun mengembang saat melihat bibir melengkung dan kerlingan mata menggodanya.


“Dasar gadis ingusan yang tidak tahu apa-apa. Hanya bisa memasang tampang bodohnya.” Hardik Mama melihat anak menantunya yang selalu tidak dianggap itu.


Tasya terlihat begitu antusias membahas visi hidupnya yang sangat menjunjung kerja keras demi mencapai kesuksesan kepada Surya dan Zikra. Tetapi kedua orang lelaki itu tidak terlalu tertarik. Justru Mama yang tampak tertarik dengan apa yang diucapkannya. Gadis itu pun sedikit mengulik mengenai pekerjaan kantornya seakan menunjukkan betapa kompeten dirinya dibidang yang sedang digelutinya.


Tidak heran disela-sela obrolan itu dia menawarkan kerja sama antara PT. Surya Abadi Jaya, milik Surya dengan G.E GROUP, perusahaan milik Hayanto Atmaja. Kedua perusahaan itu bergerak dibidang yang sama. Namun G.E GROUP tidak hanya bergerak dibidang property saja. Perusahaan itu menggeluti beberapa bidang usaha berbeda seperti, penerbitan dan advertising.


Surya mencium gelagat tidak enak dari arah pembicaraan Tasya. Dia sangat tahu track record Haryanto Atmaja yang selalu menjadi rivalnya di dunia bisnis property. Rupanya sifat licik itu telah diturunkan oleh gadis itu, merupakan anak bungsu dari Haryanto Atmaja.


Meskipun pernah bersahabat semasa muda. Namun banyak hal yang tidak disukai Surya dari pria itu. Oleh sebab itu, dia susah payah memisahkan hubungan Zikra dan Ayuniatara, yang tidak lain adalah


putri pertama dari Haryanto Atmaja.

__ADS_1


*


Zikra dan Syifa langsung berpamitan pulang sesaat setelah kepergian Tasya meninggalkan kediaman Surya. Surya dan istrinya beranjak ke kamar mereka.


“Pa, gimana kalau kita jodohkan saja Zikra dan Tasya. Dengan begitu perusahaan kita dapat terbebas dari krisis yang selama ini membelenggu.” Cetus Mama memulai pembicaraan saat beranjak duduk dari meja rias. Membersihkan sisa make up yang menempel di wajahnya. Kemudian beralih duduk di tepi tempat tidur.


“Mama pikir pernikahan seperti membeli barang?” sungut Surya tidak suka dengan arah pembicaraan istrinya. Pria itu sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur sambal membaca berkas Salinan laporan keuangan perusahaan. “tidak bisa sesederhana itu.”


“Tapi Pa…”


“Ma, anak kita sudah punya istri. Nanti apa kata orang tua Syifa nanti bila tahu masalah ini.” Surya mengalikan


pandangannya dari balik kacamata bacanya, menatap istrinya tajam.


“Pa, pernikahan mereka hanya bersifat sementara. Ingat lho Pa… Fauzi hanya menitipkan Syifa selama tiga


bulan. Sekarang sudah lewat tiga bulan. Jadi, wajar dong kita nikahkan Zikra dengan gadis lain. Toh, Syifa enggak akan bisa memberikan kita cucu atau keuntungan lainnya.” Tutur wanita itu mengebu-gebu.


“Ma, pernikahan bukan media mencari keuntungan. Lagi pula Syifa bukanlah barang yang bisa dititip atau apa pun. Jikalau Fauzi menitipkannya kepada Zikra, Papa kira itu hal yang wajar karena anak kita adalah suaminya.” Sanggah Surya membuat istrinya geram.


Hemph! Dasar, Papa dan anak sama saja. Katanya mematin.


“Ma, Papa harap… Mama enggak usah repot-repot mengurusi rumah tangga anak kita. Biarkan mereka bahagia dengan cara mereka.”


“Lalu masalah perusahaan?” wanita itu sengaja menekan ucapannya agar suaminya bisa luluh dengan pendapatnya.


Surya menutup file yang ada di tangannya kasar. Seakan sedang menunjukkan rasa ketidak sukaannya terhadap topik pembicaraan yang sedang dibahas istrinya.


“Papa percaya dengan kinerja Zikra. Dan Papa yakin dia akan mampu mengatasi krisis yang terjadi di perusahaan. Tanpa harus melakukan pernikahan bodoh yang Mama pikirkan.” Tukasnya tidak memberikan


jeda untuk istrinya membuka mulut.

__ADS_1


Mama hanya berdecih kesal.


Surya meletakkan file itu di atas nakas samping tempat tidurnya. Setelah itu membaringkan tubuhnya sambal menari selimut, setelah sebelumnya membuka kacamatanya, dan di letakkan tepat di atas file.


“Sudah malam, lebih baik kita tidur saja.” Seru Surya menggubris istrinya.


Mau tidak mau Mama mengikuti titah suaminya.


*


“Maaf Pa, untuk saat ini aku belum berhasil. Tapi aku janji, aku akan segera membuat mereka bertekuk lutut kepada kita.” Ujar Tasya di balik stir kemudinya. Dia sedang berbicara dengan seseorang via sambungan telepon. Kemudian dia menyentuh ikon tombol berwarna merah pada layar ponselnya. Maka sambungan pun berakhir.


Tasya tersenyum miring dengan tatapan licik. Di dalam otaknya sudah tersusun seribu rencana licik untuk


menjebak Zikra.


“Aku enggak akan mudah dikalahkan oleh seorang gadis ingusan.” Ucapnya sambil menggertakkan giginya. Kedua tangan lembutnya mencengkram lingkaran stir sangat kuat seakan ingin menghancurkannya.


Semua ingatan tentang Zikra memperlakukan Syifa dengan sangat baik, mulai dari awal pertemuannya sewaktu di kantor Zikra. Hingga saat tadi di meja makan dan di ruang keluarga. Jujur saja dia sangat iri dengan Syifa yang terlihat begitu dicintai oleh seseorang. Berbeda dengan dirinya yang selalu tidak beruntung. Berkali-kali dikhianati oleh orang terdekatnya yang mengaku mencintainya. Padahal hanya ingin mendapatkan keuntungan semata darinya.


“Euarrghhh!!!!” pekiknya menghentakkan satu tangannya di atas stir kemudi yang sedang dicengkeramnya


kuat. “kita lihat saja nanti. Kau akan menjadi gadis yang paling menyedihkan Syifa.” lanjutnya lirih.


Bersambung...


***


🙋 Hai reader... sampai di sini dulu ya updatenya 🙏. Semoga ceritanya enak dibaca. Jangan lupa vote, like, komen juga tip-nya.🙏 Terima kasih kepada para readers yang selalu setia menunggu cerita cinta Syifa❤️ Zikra update. Semoga para readers semua tidak bosan dengan alur ceritanya🤗✌️.


Happy reading... ❤️❤️ Luv u all.... 🤗😁✌️

__ADS_1


__ADS_2