Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Extra 2 (Last) - Malaikat Kecilku


__ADS_3

🙋 Hai readers... 🙏 mohon maaf baru update lagi... karena author yang terlalu sibuk di dunia nyata. Setelah disibukkan dengan pekerjaan, author baru aja diberikan nikmat oleh Sang Khalik. Mengurus anggota keluarga yang masuk rumah sakit. Abis itu author yang sakit, walaupun gak sampai dirawat di rumah sakit. Kali ini author update episode terbaru tapi episode terakhir ya... 😭😭😭 tapi jangan sedih. Author masih punya banyak karya yang buat para readers masih bisa menikmati.


Happy reading 🤗😁✌️🥰🥰


******************


Pagi ini Syifa yang ditemani Zikra dan Nadya datang berziarah ke makam Hani. Makam yang pada awalnya bernisankan nama 'Nuzulusyifa Fauziah' sudah berganti nama menjadi 'Hani Handayani'. Akhirnya ia dapat bersua dengan teman sekelasnya itu. Kini terpisah ruang dan dimensi yang berbeda. Yang jelas udah beda alam deh.


Syifa sudah mendengar cerita tentang kematian Hani yang bertempatan dimalam penculikannya. Sedih sih yang yang dirasakan Syifa. Miris banget dengarnya. Kejam banget orang yang melakukan hal itu. Orang-orang itu seakan tidak punya hati. Atau hatinya terbuat dari adonan tepung terigu yang kurang garam. Anyeb!


Di depan makam Hani sudah ada keduanya orang tuanya yang tengah duduk, menangis meratapi kepergian putri mereka yang telah pergi dan tidak akan kembali. Setelah sebelumnya cukup lama mencari keberadaan sang putri. Akhirnya mereka bertemu, meskipun bukan dalam wujud yang mereka harapkan.


Awalnya mereka tidak percaya bahwa putri yang mereka rindukan sudah tiada. Tetapi setelah melihat dan membaca hasil otopsi jenazah dan bukti-bukti yang ada. Barulah mereka mau menerima dengan berat hati tentunya. Karena tidak ada seorang ibu atau ayah mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa anaknya.


*


Setelah kepulangan Syifa di rumah tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Calon Mahmud alias mamah muda itu. Ia hanya bisa melakukan kegiatan ringan. Pasalnya gerak tubuhnya semakin lama kian terbatas seiring membesarnya diameter perut Syifa.


Syifa pun sudah jauh-jauh hari cuti kuliah atas saran Zikra dan para orang tua. Baik orang tua kandung maupun mertuanya. Mereka kasihan dengan kondisi Syifa yang sudah dalam persiapan masa persalinan. Menurut prediksi dokter tersisa satu Minggu lagi ibu hamil itu akan melakukan persalinan.


"Hati-hati nyonya..." ujar bi Asih menginginkan saat Syifa memaksa bergerak melakukan pekerjaan rumah tangga di dapur.


"Tenang aja ni... cuma motong sayuran begini, enggak bakalan buat saya kecapekan. Apalagi sayurannya cuma segini doang." sahut Syifa meremehkan.


Bi Asih hanya mendengus pasrah melihat kekeras kepalaan istri majikannya.


"Bi Asih udah punya anak berapa?" telisik Syifa iseng.


"Lima nya."


"Lima?" Syifa mengulangi. Ada ekspresi terkejut tersirat pada sorot mata ibu hamil itu sambil mengerutkan keningnya. "waktu lahirannya di rumah sakit semua bi?"


"Orang susah kaya saya mana punya uang lahiran di rumah sakit nya." Bi Asih tersenyum ironi.


"Terus, bi Asih lahiran dimana?"


"Di rumah pake paraji."

__ADS_1


"Hah? Paraji?" Syifa menekan kata paraji yang jujur saja memang tidak dimengertinya. Tangan kanannya berhenti melakukan aktivitasnya. Matanya teralih pada wanita paruh baya itu.


"Iya. Nama lainnya dukun beranak nyonya."


Syifa membulatkan bibirnya tanpa suara sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Setelah membantu bi Asih memasak, Syifa memutuskan kembali ke kamarnya. Namun perutnya mendadak kontraksi ketika baru keluar dari dapur.


"Bi, bi Asih..." panggil Syifa merintih kesakitan sambil mengelus perutnya.


Bi Asih bergegas lari menghampiri Syifa.


"Iya, nya... nyonya kenapa?" tanya wanita itu panik.


"Perutnya sakit Bi..." Syifa meringis merasakan pergerakan yang berasal dari perutnya terasa kian membuatnya tersiksa.


"Aduh Gusti... jangan-jangan nyonya mau melahirkan." Bi Asih buru-buru memapah istri majikannya duduk di sofa ruang keluarga. Setelah itu memanggil mang Ucup. Langsung berseru menyiapkan mobil hendak membawa Syifa ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Syifa segera dibawa ke ruang persalinan.


"Sayang..." Zikra menerobos masuk ke dalam ruangan.


Syifa yang tengah terbaring di atas tempat tidur menoleh ke sumber suara.


"Zik... aku sakit perut..." keluhnya manja sambil mengelus perutnya.


"Sabar sayang... mungkin anak kita minta dilahirkan." sahut Zikra menenangkan seraya mengelus perut Syifa.


"Masa sih lahiran sekarang?" protesnya.


"Lho, apa salahnya?" tanya Zikra tidak mengerti.


"Karena menurut prediksi dokter, satu Minggu lagi baru lahirannya."


"Ya udah..."


"Maaf, permisi... Anda suaminya pasien?" tanya seseorang berseragam putih itu baru masuk ruangan.

__ADS_1


"Iya dok. Ini gimana dok, katanya menurut prediksi baru seminggu lagi akan melahirkan. Tapi kok mules-mulesnya sekarang?" tanya Zikra ingin tahu.


"Itu bisa saja terjadi, pak. Lagi pula prediksi dokter tidak sama dengan prediksi Tuhan yang maha benar." jawab dokter itu santai. "kami para medis hanya manusia biasa. Jadi, prediksi itu bisa saja tepat. Bisa pula meleset. "


Dengan dibantu oleh seorang perawat, dokter itu menangani Syifa yang ternyata sudah mengalami pembukaan tiga.


Ayah dan bunda pun ikut hadir di sana. Mereka terlihat panik dan gelisah menantikan kelahiran cucu pertama mereka.


Tidak jauh berbeda dengan Surya dan istrinya yang juga panik. Mereka langsung berbaur dengan besan duduk di ruang tunggu, di depan ruang persalinan.


Sementara bi Asih dan mang Ucup sudah pulang, setelah Zikra memintanya.


Proses persalinan yang memegang akhirnya selesai. Terdengar suara jerit tangis manusia yang baru dilahirkan memekik memecah keheningan.


Rasa syukur dan tangis bahagia menyambut kehadirannya. Seorang bayi lelaki yang sangat tampan. Bayi yang telah diberi nama "Syahdan Robby Ahada" memiliki arti Saksi Tuhanku yang maha esa. Dialah malaikat kecil Syifa dan Zikra. Buah hati dari pohon cinta yang mereka tanam selama ini.


Zikra mengadzankan dan mengiqomahkan bayinya setelah dibersihkan oleh perawat.


Bunda meneteskan air mata melihat cucu pertamanya. Wanita itu sangat terharu melihat bayi yang masih merah di dalam tempat tidur bayi yang menyerupai sebuah kotak itu.


Surya tidak kalah bahagia melihat cucu tampannya. Dia sangat bahagia mendapat penerus sejarah keluarga. Kelak bayi yang ada di hadapannya akan menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan Surya Jaya Abadi. Tentu saja menggantikan dirinya dan Zikra nantinya.


"Halo baby boy..." seru Aini lirih, mengapa keponakannya.


Tidak ada yang berharap kehidupan akan berakhir menyedihkan. Oleh sebab itu, semua orang berusaha keras untuk mencapai kehidupan yang baik dan bahagia. Hanya ada senyum serta tawa bahagia. Mengikis sedih dan derita yang melanda. Kendati pada kenyataannya. Tidak ada kesempurnaan yang hakiki di dunia ini. Semuanya fana tanpa keabadian. Karena kesempurnaan dan keabadian hanya milik Sang Pemilik Kehidupan.


Pada akhirnya Syifa mampu menyelesaikan kuliahnya walaupun tidak sesuai jadwal yang ditentukan. Pasalnya ia harus cuti hamil dan melahirkan.


"Foto keluarga..." seru Syifa masih menggunakan toga dan pipa di tangannya. Saat itu prosesi acara wisuda di kampus Syifa baru saja berakhir.


Bunda, ayah dan Ade berdiri di sebelah kanan Syifa. Zikra, Surya, Mama dan Aini berada di sebelah kirinya. Tidak lupa bayi yang sudah menginjak usia tiga tahun kurang, Syahdan, sang putra kesayangan Syifa dan Zikra diam anteng berada di gendongan papanya, Zikra.


"Senyum.... ciiiisss..."


Cekrek! Blizt kamera menyala memoto mereka.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2