Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Ungkapan Cinta (Part 2)


__ADS_3

Malam belum beranjak fajar ketika Zikra terbangun dari tidurnya. Senyumnya langsung mengembang melihat Syifa


tengah terbaring di sampingnya. Gadis itu masih terlelap dalam buaian mimpi. Wajah polosnya pun terlihat sangat damai. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Syifa. Kemudian membelainya dengan penuh kasih sayang.


Mendadak suasana hati Zikra tiba-tiba berubah memburuk, teringat percakapannya dengan Surya kemarin malam.


Dia beranjak duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.


Selama ini Surya tidak pernah ikut campur dengan semua yang dilakukan putra sulungnya. Terkecuali masalah


perjodohan Zikra yang telah diatur olehnya sejak pemuda yang kini menginjak usia dua puluh dua tahun itu. Bahkan pria yang sudah menginjak kepala lima itu marah besar ketika Zikra menjalin hubungan dengan kakak kelas perempuannya di sekolah. Hingga Zikra terpaksa dipindah sekolahkan secara mendadak ke luar kota.


Tetapi kali ini Surya tidak bisa tinggal diam mendengar Zikra bekerja di perusahaan lain. Topik utama dari


permasalahan itu bukan pada tempat dimana Zikra bernaung mencari nafkah. Melainkan pemilik peruahaan yang merupakan saingan bisnisnya. Ditambah di dalam perusahaan itu ada Ayuniatara yang selalu mencari celah untuk mengetuk pintu hati Zikra. Surya tidak ingin rumah tangga Zikra dan Syifa mengalami goncangan karena orang ketiga. Walau faktanya rumah tangga mereka sedang dibayang-bayangi seorang pelakor cantik.


Zikra menghela nafas. Melirik istrinya yang masih belum bergeming dari posisinya. Hatinya bimbang menimbang permintaan Surya. Mungkin hanya sekedar seorang gadis penggoda Zikra masih bisa menahan dengan memperkuat iman. Namun dia tidak bisa mengabaikan kondisi perusahaan Surya yang kini sedang goyang menghadapi krisis. Dia tidak bisa hanya sekedar menjadi penonton atau berpangku tangan melihat perusahaan Papanya yang dirintisnya dari nol perlahan hancur mengalami kebangkrutan.


*


Syifa berjalan di koridor kampus. Pikirannya masih terpatri pada peristiwa kemarin malam. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang telah dilalui bersama Zikra di dalam satu kamar dan kasur yang sama. Matanya terpejam sejenak memusnahkan bayangan itu seraya menggelengkan kepala.


Ah! Anggap aja semua itu hanya mimpi belaka!


Menghela nafas dalam-dalam.


Brukk! Buku dalam pelukan Syifa jatuh berantakan di atas lantai setelah menabrak seseorang.


"Sori-sori, gue enggak sengaja." Syifa langsung berjongkok memunguti buku-buku itu.


"Haih ... punya mata tapi enggak dipake." umpat orang itu berjongkok membantu Syifa mengambil buku.


Syifa terkesiap mendengar suara lelaki yang terasa sangat familiar. Serta merta ia mengangkat wajahnya, melihat orang itu ternyata Panji. "makasih."


"Lain kali kalo jalan kaki sama mata harus kompak dong. Satu lagi, pikiran harus fokus juga sadar kalo elo lagi jalan di muka umum." Panji menyerahkan buku yang tadi diambilnya dari lantai kepada Syifa.


"Sekali lagi, Sori ya Ji. Gue benar-benar enggak sengaja." ujarnya penuh penyesalan.


"Santuy! Gue sih orangnya woles aja. Enggak usah jadi canggung gitu kenapa sih? Kayak elo baru kenal gue aja."


Syifa tersenyum kecut.


"Kalo senyum itu yang ikhlas. Jangan terpaksa gitu. Gak enak dilihatnya, kayak dompet tanggung bulan," seloroh Panji berusaha menghibur. "udah, enggak usah pake minta maaf segala. Cuma gitu doang, gue maafin." menepuk pelan bahu Syifa. "cinta gue ditolak berulang-ulang aja gue masih mau jadi teman elo." katanya membatin.


"Kalo gini udah ikhlas belum?" Syifa menunjukkan senyum terbaiknya.


"Oke!" Panji menunjukkan ibu jarinya sambil tersenyum lebar.


"Hai! Kalian lagi ngapain di sini?" tegur Nadya mendadak muncul di hadapan mereka.


"Enggak ngapa-ngapain kok, cuma tadi Syifa enggak sengaja nabrak gue."


"Kenapa?"


"Tahu tuh, lagi banyak pikiran kali. Mikirin gue hehehe ..." celoteh Panji.


"Sue lo! Ih, najong banget gue mikirin elo. Kayak enggak ada yang lain aja yang lebih penting." kilah Syifa cepat refleks memukul bahu Panji sedikit keras. Hingga cowok itu meringis kesakitan. "sori-sori, gue kekencangan ya mukulnya."


"Ternyata elo cewek sadis juga."


Nadya mendadak merasa tidak nyaman melihat keakraban Syifa dan Panji. Dia hanya tersenyum getir dengan berusaha menyingkirkan perasaan cemburu. Tidak pernah gadis itu mengingkari perasaannya terhadap Panji yang tidak berkurang sedikit pun. Namun setelah ditolak Panji sekali, tidak ada keberanian untuknya bermimpi menjalin hubungan layaknya pasangan kekasih. Entah sampai kapan dia akan bertahan dalam situasi seperti ini. Dia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan perasaannya bagaikan bom waktu yang setiap saat bisa meledak, jika melihat kemesraan itu terus-menerus di depan hidungnya.


"Udah-udah, mending kita ke kantin aja yuk, mumpung belum ada kelas," ujar Nadya menepis kecanggungannya melihat Syifa dan Panji.


Syifa dan Panji langsung mengiyakan usulan Nadya. Kemudian mereka berjalan berdampingan. Walaupun agak sulit mengimbangi Nadya berusaha bersikap senatural mungkin agar mereka tidak menyadari perasaannya yang sesungguhnya.


"Hai Nad! Sini gabung bareng kita!" seru Kirana melambaikan tangan dari meja kantin. Salsa dan Isti yang juga duduk di meja yang sama ikut melambaikan tangan.


Nadya menoleh ke sumber suara. Membalas lambaian tangan mereka. Kemudian dia mengajak Syifa dan Panji ikut bergabung. Tak lama berselang Anto dan Rama juga ikut nimbrung bersama mereka. Suara gelak tawa dan senda gurau mewarnai kebersamaan mereka.


"Eh, Fa, elo udah nikah ya?" tanya Isti iseng setelah melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis kanan Syifa.


Sontak Syifa tampak gelagapan. Diam-diam melirik Panji dengan perasaan cemas. Pasalnya jika status pernikahannya terungkap, ia telah melanggar kontrak kerja. Mau tidak mau Syifa harus membayar kompensasi atau siap-siap masuk hotel prodeo.


Gawat! Gue lupa mencopot cincinnya. Gimana nih, sekarang mereka udah pada tahu. Apa yang harus gue jawab?


"Eh, Syifa. Kalo emang elo beneran udah nikah diusia segini, gue acungin empat jempol sekaligus buat elo," sela Rama.


"Ngaco lo, Ram. Tangan lo cuma dua, gaya banget mau ngacungin empat jempol. Elo pikir diri lo serangga punya tangan banyak?" sanggah Anto jenaka.


"Gue udah tahu tangan gue cuma dua, tapi gue kan bisa pinjam tangan elo, lagi nganggur kan?" Rama mendelik kesal. "maksud gue gini lho, jarang-jarang anak muda yang mau ambil resiko nikah muda. Positifnya menghindari perbuatan zina, kayak cipika-cipiki, ***** bibir, atau hubungan ... yah, elo-elo pada udah tahu deh terusannya. Cuma negatifnya, yang namanya nikah muda, pasti enggak puas dong nikmatin masa muda karena udah terikat pernikahan. Harus urus suamilah, anaklah, pokoknya dll dah."

__ADS_1


Anto, Kirana, Isti, dan Salsa menganggukkan kepala setuju dengan pendapat Rama.


Syifa tersenyum tegang. Menoleh ke arah Nadya yang juga menoleh ke arahnya dan bertukar pandang.


Panji menatap Syifa serius. "Iya emang benar pendapat lo, Ram. Tapi ... kalo si Syifa emang benar udah nikah, berarti dia harus bersiap-siap konsekuensinya dikemudia hari."


"Konsekuensi?" gumam Kirana, Isti, Salsa, Rama dan Anto nyaris bersamaan.


Ya ampun ... gue bisa celaka dua belas!


"Konsekuensi apa sih, Pa?" Nadya meminta penjelasan.


"Itu ..." Syifa menelan saliva gugup.


"Btw. Kok elo jadi diam aja, kenapa enggak dijawab pertanyaan Isti barusan?" tegur Panji penasaran.


Syifa meremas ujung bajunya di bawah meja cemas. Wajahnya pucat pasi melihat raut-raut penasaran yang meminta penjelasan. Degup jantungnya berdetak sangat cepat karena khawatir.


"Iya Fa. Jujur aja enggak papa kok." timpal Kirana.


Syifa dan Nadya saling bertukar pandang. Dari tatapan mata Syifa seolah sedang memohon, "Plis Nad, bantuin gue."


"Gue ... gue sebanarnya ..." Syifa tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Ya ampun Syifa, kenapa elo enggak jujur aja sih sama mereka?" Nadya tiba-tiba memotong ucapan Syifa. Tentu saja sukses membuat gadis itu kaget bukan kepalang.


"Apa?" Syifa terperanjat kaget seraya memutar kepalanya menatap Nadya nanar.


"Gini lho guys, sebenarnya ... Syifa itu udah dijodohin dari masih kecil sama orang tuanya. Dan sebentar lagi dia mau nikah sama cowok itu. Jadi, wajar dong dia pake cincin model begituan." Nadya sebisa mungkin membantu masalah Syifa dengan bijak tanpa harus berbohong. Walaupun dia masih menutupi status Syifa yang sebenarnya. "terus .... buat cowok-cowok jangan pada patah hati ya ..." lanjutnya diseratai tertawa renyah.


Panji menghela nafas panjang.


"Iya guys. Apa yang dikatakan Nadya benar." Syifa berusaha tenang dengan senyuman yang terbaiknya.


*


Zikra diam bergeming di meja kerjanya sambil memegangi amplop surat pengunduran dirinya yang sudah siap diserahkan kepada HRD. Namun hatinya masih ragu untuk menyerahkannya. Sepertinya dia sudah betah dengan lingkungan di perusahaan, ditambah kebersamaan kedua Bonang dan Rifa'i yang terkadang konyol itu, membuatnya kian enggan hengkang.


Tetapi Zikra tidak bisa membiarkan Surya terpuruk. Sebagai seorang putra sulung memang sudah menjadi tanggungjawabnya membantu orang tuanya sebagai bakti. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu menghela nafas berat.


"Kenapa lo, Zik?" Bonang tiba-tiba nongol dari balik bilik kerjanya.


Zikra terperanjat kaget menoleh ke sumber suara. Buru-buru menyembunyikan amplop surat pengunduran dirinya ke dalam laci meja kerja.


"Elo ngomong apaan sih?"


"Terus, kalo bukan surat cinta, ngapain elo gugup dan buru-buru elo sembunyiin di laci? Atau surat catatan utang. Tapi kayaknya enggak mungkin deh. Soalnya elo bukan tipe orang tukang ngutang."


"Berisik lo, Bon!"


"Hadeh! Pagi-pagi elo berdua pada berisik aja. Kerja-kerja! Entar kalo dilihat boss elo kena semprot baru tahu rasa," Rifa'i berusaha menetralkan suasana dari balik biliknya.


"Ah, elo ganggu aja. Gue kan lagi investigasi si Zikra yang baru aja dapat surat cinta dari cewek," Bonang tidak senang dengan kemunculan Rifa'i menggubris aktivitasnya.


"Yang benar lo? Elo jangan coba-coba buat gosip di sini. Si Zikra itu tipe cowok setia, enggak mungkin dia selingkuh. Lagian sekarangkan zaman udah modern, apa-apa pake gadget. Mana ada cewek millenial yang masih mau nulis surat cinta kayak zaman jadul," kilah Rifa'i menambah kebisingan.


"Tapi ..."


"Udah-udah. Kalian berdua enggak usah pada ribut, bikin ganggu orang kerja aja." Zikra tampak sangat terganggu. Suasana hatinya pun tidak cukup baik. Kedua tangannya terangkat menyentuh kepalanya sendiri. "sana-sana balik ke tempat kerja masing-masing." akhirnya dia berhasil menenagkan Bonang dan Rifa'i, dan kembali ke tempat kerja masing-masing walau dengan cara yang sedikit kasar.


*


Ponsel Syifa tiba-tiba berdering di tengah aktivitasnya sedang mendengarkan dosen ceramah di dalam kelas. Tanpa menunggu lama ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas sebelum kena seprot Pak Kurnia. Sebelum menggeser tombol terima berwarna hijau, matanya sempat terbelalak melihat nama 'Zikra' yang tertera di layar. Pasalnya jarang-jarang dia meneleponnya di jam seperti ini.


"Halo," terdengar suara dari seberang seakan tidak sabaran.


"Ya." Syifa merendahkan kepalanya dan berbisik agar tidak mengganggu suasana.


"Siang ini kamu ada kelas?"


"Enggak."


"Kamu mau makan siang bareng aku di luar gak?"


"Hmm?!" Syifa bergumam dengan nada terkejut.


"Entah kenapa tiba-tiba aja aku lagi pingin makan di luar bareng kamu," Zikra menekan kata kamu membuat Syifa berada di atas angin.


"Oh." wajah Syifa bersemu merah. Tersenyum malu dan bahagia.


"Ya udah, nanti aku ke kampus buat jemput kamu."

__ADS_1


"Oke. Aku tunggu di gerbang kampus nanti siang." sambungan telepon langsung berakhir. Syifa kembali mendengarkan ceramah Pak Kurnia dengan hati berbunga. Wajah semringah pun tidak bisa disembunyikan. Ini adalah perasaan yang sangat bahagia. Lebih bahagia dari rayuan Angga yang pernah membuatnya salah tingkah.


Mungkinkah ini yang namanya jatuh cinta? Tapi ... enggak tahu deh. Yang jelas hati gue bahagia banget-banget-banget.


*


Panji menatap Syifa naik ke atas jok motor Zikra dari kejauhan. Tangannya mengepal untuk meredam rasa cemburu yang sedang membara di dadanya.


Siapa cowok itu? Kelihatannya cukup tampan. Mungkinkah dia jodoh masa kecilnya seperti yang dikatakan Nadya?


Zikra membawa Syifa ke restoran Jepang yang berada di dalam pusat perbelanjaan Bekasi. Duduk berhadapan sambil menatap daftar menu lalu memesan beberapa menu makanan dan minuman. Seorang pelayan mencatat semua menu makanan dan minuman yang mereka pesan.


"Kok kamu tumben banget ngajak aku makan di restoran di jam-jam seperti ini? Kamu lagi dapat bonus atau apa nih?" tanya Syifa memulai pembicaraan setelah pelayan itu pergi.


Zikra tersenyum kecil. "Kenapa tanya seperti itu?" mengerutkan dagi.


"Yah, enggak papa. Cuma iseng aja."


"Sori, kalo selama ini aku enggak pernah ngajakin kamu makan diluar kayak gini."


"Santai aja kali ... enggak pake serius gitu." Syifa tersenyum riang.


Zikra menyentuh punggung tangan Syifa. Hingga membuat gadis itu terkejut dan berdebar. Zikra menarik tangan istrinya. Memegangnya erat agar gadis pemalu itu mengurungkan niatnya untuk tidak menepis genggamannya.


"Biarkan aku memegang tanganmu seperti ini," ucapnya lembut. Senyumnya menyungging melihat cincin kawin yang masih melingkar di jari manis Syifa. Biasanya cincin itu tidak pernah digunakannya jika pergi ke kampus.


Mungkinkah dia sengaja memakainya karena ingin makan siang bersamanya? Atau mungkin dia malah lupa melepaskannya?


"Cincin ini ..."


Syifa menarik tangannya dari genggaman Zikra. " Oh, ini ... aku lupa melepasnya tadi pagi karena terburu-buru." sahutnya cepat hendak melepaskannya.


"Biarkan. Biarkan tetap dia pada tempatnya." sergah Zikra seraya menghalangi. Meskipun dalam hati kecewa mendengar alasan Syifa yang tidak sesuai dengan harapannya. "gadis ini masih saja ingin menyembunyikannya." bisiknya dalam hati.


Syifa mendongakkan kepala tertegun melihat ekspresi wajah Zikra yang berharap. Kemudian mengurungkan niat untuk melepaskannya. "Tadi sewaktu di kampus, ada teman aku yang melihat cincin ini."


"Lalu?"


"Yah, dia nanyain gitu, aku udah nikah."


"Terus kamu jawab iya?"


Syifa menggelengkan kepala.


"Jadinya?"


"Nadya yang jawab."


"Kok gitu?"


Syifa tersenyum. "Itulah Nadya, dia bisa membaca pikiran aku."


"Masak sih?" Zikra tampak ragu.


"Humm." gadis itu menganggukkan kepala dengan senyum yang meyakinkan.


"Pasti Nadya ngomong yang enggak masuk akal. Dia sama Abangnya emang sebelas dua belas." sungut Zikra teringat kejadian tadi pagi.


"Mereka kan kakak-adik pasti ada sifat mereka yang mirip."


Zikra menganggukkan kepala mengamini ucapan istrinya.


Tidak lama berselang makanan dan minuman yang Syifa dan Zikra pesan datang. Mereka langsung menyantapnya. Mendadak keduanya diam-diam teringat saat makan malam pertama di awal perjumpaan. Bedanya ketika itu mereka memilih tidak ingin berbicara hanya menghadirkan kebisuan dan kekakuan. Sementara saat ini mereka berbincang akrab dan luwes melahirkan nuansa hangat.


Zikra melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Hampir pukul tiga belas tepat. Belum puas rasanya menikmati kebersamaan dengan Syifa yang jarang-jarang terjadi. Semenjak menikah dan tinggal di satu atap yang sama, momen seperti ini memang langka. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama hanya di rumah. Bahkan untuk berkencan seperti layaknya sepasang kekasih yang normal baru sekali dilakukan.


Tiba-tiba Zikra teringat tentang misi cintanya yang pernah dirancang bersama Bonang dan Rifa'i. Dia baru menjalankan satu misi. Sedangkan misi kedua dan ketiga nyaris terlupakan.


"Fa." serunya agak ragu.


"Hmm."


"Mata kuliah ... maksud aku, kamu pulang kuliah jam berapa?" entah mengapa Zikra menjadi gugup.


"Paling sampai jam empat atau jam limaan gitu, karena hari ini enggak ada kelas setelah itu. Ada apa?"


"Ah, enggak papa." Zikra menggelengkan kepala. "habiskan makananmu, setelah itu aku akan mengantar kamu kembali ke kampus."


"Oke."


Dalam hati dia ingin menyatakan perasaannya kepada Syifa saat ini. Namun urung dilakukannya. Dia butuh tempat dab suasana romantis dan bunga untuk mendukung semua rencananya. Biasanya hal-hal seperti itu yang disukai oleh gadis pada umumnya. Untuk menciptakan semua itu dia tidak bisa bekerja sendiri. Maka, tenaga Bonang dan ide brilian Rifa'i dibutuhkan untuk mewujudkan semuanya. Zikra tersenyum.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2