
Syifa bahagia melihat Bunda tersenyum mengiring kepergian Zikra. Setelah dilanda badai kesedihan yang datang bertubi-tubi. Namun sorot matanya berubah nanar, tatkala arah jarum jam telah menunjuk angka sebelas malam lewat tiga puluh menit. Lelaki yang telah menikahinya delapan belas tahun silam itu, belum jua pulang. Rasa khawatir pun datang mendera. Takut akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Dalam diam wanita berparas cantik itu berdoa. Memohon keselamatan untuk suaminya yang jauh di mata.
Deru suara sepeda motor Ayah terdengar di depan pagar rumah. Suara derit pintu gerbang dibuka, menyusul suara sepeda motor masuk. Sontak kecemasan Bunda sirna. Buru-buru dia membukakan pintu. Menyambutnya hangat.
Syifa yang masih terjaga di dalam kamarnya pun senang. Ia tidak keluar untuk ikut menyambut kedatangan Ayah. Ia tidak bergeming dari tempat tidurnya. Berdiam diri di dalam kamar dibalut selimut tebal. Lalu terlelap dalam buaian mimpi.
Sudah beberapa hari belakangan ini, mobil yang sering digunakan Ayah pergi ke kantor tidak pernah terlihat lagi di garasi rumah. Hanya sepeda motor bebek butut Ayah yang tersisa. Sementara sepeda motor metik Bunda sudah dijua sebulan yang lalu untuk biaya sekolah Syifa.
Entah mengapa kondisi keuangan keluarga Syifa seakan diujung tanduk. Sejak Uwa meninggal pekerjaan Ayah kacau. Bunda tiba-tiba buka usaha di rumah mengumpulkan rupiah yang tidak sebanding dengan harapan.
Syifa sering bertanya pada Bunda, tentang kondisi keuangan keluarga yang tiba-tiba menjadi carut-marut. Tetapi Bunda tidak pernah menjawanya dengan jelas. Bunda hanya memberikan analogika yang harus dipecahkan untuk mendapatkan jawaban. Kemudian sebuah kesimpulan dapat terpecahkan. Ayah dipecat dari pekerjaannya.
Tidak ada yang bisa Syifa lakukan untuk mengatasi kesulitan keuangan keluarga. Ia hanya bisa membatasi uang jajannya secara mandiri. Terkadang ia melakukan puasa Sunnah Senin-Kamis. Selain dapat meminimalisir keuangannya, ia juga mendapat pahala telah melakukan amalan sunah.
Sesekali Zikra datang ke rumah membawa kue basah kesukaan Ayah dan Bunda. Tidak lupa es krim vanila kesukaan Ade. Sedangkan untuk Syifa tidak ada. Karena dia tahu gadis itu tidak pernah menyukai apa yang dibawanya. Walaupun Syifa dan Zikra sudah menikah, keduanya tinggal di rumah masing-masing. Intensitas pertemuan mereka pun sangat jarang sekali. Agar tidak mengganggu kegiatan sekolah Syifa.
"Nak Zikra, Ayah titip Syifa," ujar pria itu kepada menantunya di suatu siang yang cerah.
Pemuda itu mengernyitkan alis. Berusaha menalar setiap kata yang meluncur dari Bapak mertuanya.
"Titip?"
"Iya. Ayah percaya pada Nak Zikra bisa menjaga Syifa dengan baik," mata pria itu terlihat sendu dan basah. "jika Ayah dan Bunda tidak ada di sini lindungilah dia. Dia agak keras kepala tapi sangat rapuh."
Zikra terdiam menyimak ucapan Ayah.
Diam-diam Syifa menguping pembicaraan antara Bapak mertua dan anak menantu itu dari balik pintu kamar.
"Ayah dan Bunda mau pergi kemana?" selidik Zikra penasaran.
"Setelah acara kelulusan sekolah Syifa, Ayah berencana bekerja di Batam. Kebetulan teman Ayah punya perusahaan di sana. Dan dia meminta Ayah bekerja di perusahaannya," jelasnya.
Syifa tercengang mengetahui rencana Ayah. Ia mengubah posisi tubuhnya. Lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu.
Ada apa dengan Ayah? Mengapa ngomong seperti itu sama dia?
Syifa mendengus pelan.
Setelah makan malam, Ayah meminta semua anggota keluarga; Bunda dan Syifa. Minus Ade. Karena bocah itu belum mengerti arah pembicaraan orang dewasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Ada hal penting yang ingin disampaikan Ayah.
Rona ketegangan tampak sangat jelas di wajah Syifa. Apalagi setelah mendengar pembicaraan Ayah dan Zikra kemarin. Ada kekhawatiran tersendiri menghantui pikirannya. Berbeda dengan Bunda yang terlihat lebih kalem.
Akhirnya benar dugaan Syifa. Ayah mengutarakan rencananya yang ingin tinggal di Batam. Tidak ada namanya yang disebut Ayah jika tinggal di sana. Alasannya sederhana. Syifa telah memiliki pendamping hidup yaitu Zikra.
__ADS_1
"Bukankah Ayah pernah berjanji sebelum Uwa meninggal. Kalo pernikahan itu bukan sungguhan, bersifat sementara kan, Yah?" gugat Syifa lirih.
"Iya. Tapi pada kenyataan pernikahan kalian berdua sungguhan, dan syah menurut syariat agama Islam," jelas Ayah berusaha tegar.
Syifa tercengang.
"Ya udah. Kalo begitu Cipa minta Zikra menceraikan Cipa," tukasnya cepat.
"Enggak boleh Cipa. Karena Allah membencinya. Dan akan menutup pintu langit untuk kalian. Walau bagaimana pun pernikahan kalian sakral."
Tubuh Syifa terkulai lemah hingga jatuh di bawah sofa. Kemudian ia berlutut di kaki Ayah meminta belaskasihan.
"Ayah, plis ... jangan tinggalin Cipa sendiri di sini," pintanya lirih. Memutar tubuhnya, berlutut di depan ibunya. "Bunda tolong bujuk Ayah, supaya membawa Cipa ikut serta."
Wanita itu hanya menangis mendengar permohonan putrinya. Tidak ada yang bisa dilakukannya, meskipun hanya sekedar untuk menghiburnya.
Semalaman Syifa menangis tersedu-sedu. Hingga matanya sembab.
Pagi harinya di sekolah. Semua teman Syifa terheran-heran melihat matanya yang agak membengkak. Wajahnya pun terlihat sangat murung. Seperti awan mendung yang sebentar lagi akan turun hujan.
Nadya memeluk Syifa erat di bangku taman sekolah, setelah mendengar semua cerita darinya. Dia pun tidak bisa memberikan solusi seperti biasanya. Untuk saat ini, masalah yang dihadapi Syifa sangat pelik.
"Gue selalu berharap, apa yang gue alami ini hanyalah bunga tidur. Disaat gue udah terbangun, semuanya akan normal seperti biasanya," ujar Syifa parau seraya sesekali menyeka air matanya dengan telapak tangan.
"Tapi, faktanya ... semuanya bagai mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan."
"Yang sabar Pa. Gue yakin setiap masalah pasti ada hikmahnya."
"Kalo cuma ngomong doang gampang, Nad. Untuk menjalaninya yang susah."
Nadya terdiam tanpa bicara.
"Gue hanya berharap, supaya hasil UN gue enggak lulus. Dan SMPTN gue pun enggak lulus," ucapnya dingin.
"Elo kok ngomong begitu? Enggak boleh tahu. Omongan itu adalah doa."
"Iya gue tahu. Gue pikir cuma dengan begitu, gue punya alasan bisa ikut bersama keluarga gue ke Batam."
"Ya ampun Pa. Istigfar."
Syifa menangis pilu.
"Ayo dong, Pa. Jangan putus harapan begitu. Yakin aja kalo akan tetap bersama keluarga elo sampai kapan pun." Suara Nadya terdengar bergetar menahan tangisnya. "gue yakin banget elo bisa move on, sama seperti sewaktu elo patah hati, gara-gara si cecunguk Angga itu."
__ADS_1
"Itu beda, Nad," sahutnya disela isak tangisnya. "gue mungkin bisa move on dari si Angga, karena dia cuma orang lain. Beda sama bokap-nyokap gue yang udah ada bersama gue sejak kecil."
"Tapi kan elo punya suami. Makanya bokap elo ikhlas ninggalin elo bersamanya."
Tenggorokan Syifa tercekat hingga tidak mampu mengeluarkan suara.
"Percayalah, suami elo orang yang baik. Dia akan bisa membuat hidup elo senyaman mungkin."
Syifa memeluk Nadya lagi. Menumpahkan semua air matanya dalam pelukan sang sahabat.
*
Hari pengumuman kelulusan tiba. Semua murid kela XII setiap jurusan berkumpul di lapangan sekolah. Bapak kepala sekolah memberikan sambutan seputar kelulusan yang dicapai semua muridnya. Setelah itu, murid-murid dipersilahkan membuka amplop putih yang telah dipengan oleh masing-masing murid. Sorak sorai kegembiraan membahana. Mereka lulus. Tawa dan haru berbaur menjadi satu mewarnai hari itu.
Terkecuali dengan Syifa. Gadis itu terkulai jatuh di atas pelataran lapangan. Ia menangis sejadi-jadinya. Menangisi hari kelulusannya.
Nadya merengkuh Syifa dalam peluknya. Memberi motivasi agar tetap tegar menghadapi kenyataan. Namun gadis itu tidak dapat bangkit untuk menerima kenyataan. Seakan semua harapannya pupus tidak tersisa.
Syifa duduk di bangku halte yang mulai lengang. Kemeja putihnya hampir kehilangan jati dirinya, karena coretan dari semprotan piloks dari teman-temannya sebagai perayaan hari kelulusan.
Tatapan gadis itu hampa. Sehampa mimpi-mimpinya meraih kebahagiaan bersama orang-orang yang yang dikasihi. Satu demi satu seakan pergi menjauh meninggalkan darinya.
Selama ini ia sudah susah payah menata hati pasca dikhianati Angga. Berharap sakit itu adalah yang terakhir. Namun belum sembuh luka lama. Kini muncul rasa sakit baru bercampur takut. Takut akan kesendirian yang memilukan. Ia benar-benar takut kehilangan kasih sayang keluarganya yang penuh kehangatan.
Tidak lama berselang. Zikra datang dengan sepeda motornya. Setelah menstantar sepeda motornya di tempat aman. Pemuda itu duduk di samping Syifa.
"Mengapa kamu memintaku menemuimu tiba-tiba?" todongnya.
Syifa menoleh. Menatapnya dingin.
"Gue minta kita bercerai," sahutnya cepat.
Zikra mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Karena gue pikir cuma dengan cara ini, gue bisa tetap bersama keluarga gue," jawabnya lirih. Matanya basah.
"Tapi ... enggak bisa semudah itu ..."
"Gue kasih waktu dua hari untuk berpikir." Syifa beringsut dari tempat duduknya setelah melihat angkot berhenti di depan halte. Tanpa menunggu suaminya menyampaikan isi pikirannya, gadis itu pergi dengan membawa kesedihannya di dalam hati.
Zikra kehilangan kata-kata untuk menyanggah permintaan istrinya. Dia tertegun menatap angkot yang membawa gadisnya pergi. Hanya suara helaan nafas panjang yang mampu keluar dari rongga hidungnya.
__ADS_1
Bersambung …