
Sepulang dari rumah besar Zikra dan Syifa memutuskan kembali ke rumah lama. Mereka langsung mandi di kamar mandi berbeda. Zikra mandi di kamar mandi yang berada dalam kamar tidurnya. Sedangkan Syifa memilih di kamar mandi dekat dengan dapur.
“Mbak Tasya cantik ya, Zik?” telisik Syifa sambil duduk di sisi Zikra di tepi tempat tidur.
Zikra yang sedang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil hanya bergumam acuh.
Syifa meraih handuk itu, lalu mengambil alih membantu mengeringkan rambut suaminya sambil berdiri.
“Kira-kira menurut pendapat kamu gimana? Kalo menurut aku sih Mbak Tasya, selain cantik… dia orangnya baik, pintar, dan…” Zikra menghentikan tangan Syifa melakukan aktifitas di atas kepalanya. Menurunkan handuk yang masih bertahta di atas kepala ke arah bahunya.
“Kamu lagi ngomong apaan sih? Enggak berbobot juga enggak penting banget.” Sela Zikra mendongakkan wajahnya. Syifa hanya terdiam tidak bisa menjawab.
“Atau… sekarang kamu lagi bilang ke aku kalo sebenarnya… kamu lagi cemburu sama si Tasya?” Zikra menautkan kedua alisnya menatap netra istrinya intens. Dia bisa membaca sorot mata, mimik wajah serta nada bicara Syifa yang tiba-tiba memuji wanita lain di depannya. Selain rasa cemburu yang mendalam terhadap Tasya karena perlakuan Mama yang berlebihan kepada wanita itu ketimbang pada istrinya. Karena Zikra sangat yakin Syifa adalah gadis normal yang tidak mungkin tertarik kepada sesama jenis.
Syifa mengalihkan pandangannya menepis perasaan yang dituduhkan suaminya. Zikra menyeringai geli melihat betapa imutnya istrinya itu bila sedang semberut. Tanpa ba-bi-bu dia langsung menarik lengan istrinya dan berakhir di atas pengkuannya. Lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Gadis itu terkesiap mendapat serangan mendadak dan tanpa persiapan sebelumnya.
"Iya kan... benar apa kata aku, kalo kamu sedang cemburu..." Zikra sengaja memprovokasi Syifa. Biasanya bila dalam keadaan terdesak ia akan menjadi sangat gugup. Dan... dengan sendirinya akan berkata jujur.
"Si-siapa bilang a-aku cemburu... enggak lah!" kilah Syifa menyembunyikan perasaan sendiri. Kendati pada kenyataannya apa yang dilakukannya hanya sia-sia. Karena Zikra sudah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Juga, setiap ia mengatakan enggak berarti iya. Hal itu tidak pernah Syifa sadari dengan benar. Hanya Zikra yang mengetahuinya.
"O ya?" Zikra sengaja menggoda Syifa. Dia sangat menikmati mendapati rona merah yang mulai menjalar di pipi Syifa yang bersih.
"I... ih... kalo enggak percaya ya udah." rajuk Syifa manja. "lepasin aku! Awas, aku mau turun!" meronta dan menepis tangan suaminya yang sedari tadi membelit pinggangnya erat. Sayangnya, Zikra tidak mau membiarkannya bebas dengan mudah dengan seringai licik.
"Eh... mana boleh begitu, masa mau bebas semudah itu."
"Dasar curang!" sungut Syifa kesal.
"Eh, curang kenapa?" tanya Zikra tidak mengerti. Wajah Syifa cemberut seperti dompet tanggung bulan.
"Aku tahu sebenarnya kamu suka kan sama Mbak Tasya. Mana mungkin kamu enggak suka, orang Mabk Tasya cantik gitu, seksi lagi. Enggak kaya aku mirip papan penggilesan. Lagian Mama setuju juga dukung banget kalo kalian sampai nikah." tuturnya tidak mengurangi rasa cemburu sekaligus kecewa saat makan malam tadi.
__ADS_1
Akhirnya Zikra mengerti arah pembicaraan Syifa. Rupanya gadis itu sangat cemburu saat Mama memuji-muji Tasya di depan semua orang. Bahkan arah pembicaraan wanita itu sangat mudah terbaca ketika mengatakan Zikra dan Tasya adalah pasangan yang cocok, karena keduanya sama-sama pekerja keras.
Zikra mendengus kasar. Mengangkat satu alisnya. Tersenyum miring.
"Yah... sebagai pria normal aku akui Tasya gadis yang cantik dan juga seksi..." Zikra sengaja tidak langsung melanjutkan ucapannya untuk sementara. Dia ingin melihat seperti apa perubahan ekspresi wajah Syifa saat dirinya memuji gadis lain di depannya.
Sesuai dugaannya gadis itu kian dibakar api cemburu. Namun ia tidak terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya sedang cemburu. Malah berlagak seolah tidak punya perasaan. Bukan Zikra namanya yang tidak bisa memahami isi hati istrinya. Meskipun dalam diam sekalipun dia dapat memahaminya. Mungkin karena Zikra tipikal orang yang memiliki kepekaan yang tinggi. Apalagi Syifa dan Zikra sudah cukup saling mengenal luar dan dalam. Hanya saja Syifa yang terkadang kurang peka terhadap keaadan.
"Ehm! Kayanya ada bau hangus terbakar deh!" Zikra menutup hidung setelah mengendus ke arah Syifa.
"Bau hangus terbakar?" Syifa mengulangi tampak tidak mengerti apa yang dimaksud Zikra. "dimana?" tanyanya bingus nyaris turun dari pangkuan suaminya. Namun tidak bisa lantaran Zikra tetap menahannya dalam posisi semula.
"Di sini." tunjuk Zikra mengarah ke dada Syifa. Gadis itu mengernyit seakan meminta penjelasan sambil menunjuk ke arah yang sama.
"Iya. Karena ada yang terbakar api cemburu." sahut Zikra sambil terkekeh geli. Refleks Syifa mentoyor bahu Zikra sampai bergoyang sedikit.
Lagi, Syifa memasang tampang cemberutnya tidak terima dengan apa yang diucapkan suaminya. Zikra masih terkekeh. Tapi buru-buru dia sudahi dengan berdehem sebelum Syifa benar-benar marah padanya.
Air muka Syifa masih menunjukkan rasa cemburunya.
"Aku sebagai seorang lelaki normal bisa berpikir sama dengan lelaki pada umumnya. Tetapi ... sebagai seorang suami... istrikulah yang paling cantik. Melebihi cantiknya ratu Balqis atau ratu Cleopatra. Atau malah ratu sejagad Miss Univers." rayunya berhasil membuat Syifa bersemu merah.
"Gombal!" rajuk Syifa memukul pelan dada Zikra sampai membuatnya mengaduh lirih. Tetap tidak mampu menyembunyikan senyum malu yang berusaha ditahannya.
Zikra tersenyum lalu membenamkan sebuah kecupan hangat di kening istrinya. Berharap dapat mencairkan suasana.
*
Langit terlihat sudah gelap Syifa keluar dari halaman kampus menuju gerbang hendak mencari kendaraan umum. Hari ini Zikra tidak bisa datang menjemputnya. Suaminya itu sedang berada di luar kota mengurus urusan bisnisnya.
Suasana sangat lengang dan senggang tidak seperti biasanya. Mungkinkah hanyaamahasiswa satu kelas pada jurusannya yang baru selesai mengikuti mata kuliah terakhir? Padahal di hari-hari sebelumnya tidak seperti ini. Apakah hanya perasaannya saja?
__ADS_1
Syifa mendengus kasar mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba saja datang mengusik hatinya. Tetapi pada kenyataannya ia tidak bisa mengusirnya. Terlalu janggal rasanya.
Andai aja hari ini Nadya ada jadwal yang sama dengannya, pasti rasanya tidak seperti ini. pikirnya resah.
Syifa melayangkan pandangannya sekilas keseluruh penjuru. Sangat lengang. Tidak ada seorang manusia pun selain dirinya di sini. Mendadak bulu kuduknya meremang. Sadar dirinya hanya seorang diri berada di halaman kampus yang cukup luas bial ditempuh dengan berjalan kaki.
Entah kemana perginya teman-teman kampus yang tadi sempat berada dalam satu ruangan dengannya? Apakah kaki mereka memiliki mesin otomatis yang bisa bergerak dengan cepat? Atau malah dirinya yang terlalu lelet dalam berjalan sampai ia tertinggal jauh dari mereka? Ah, mana mungkin? Terlalu tidak masuk akal. Syifa dan teman-teman yang lain sempat berjalan berdampingan dengan irama langkah yang sama sebelum meninggalkan koridor kampus. Namun setelah menjejakkan kaki di halaman kampus, mengapa hanya ia seorang diri?
Syifa mempercepat langkah kakinya sambil membuka fitur aplikasi ojol dengan segera. Anehnya signal ponselnya hilang. Tidak ada jaringan. Mungkinkah ada gangguan dari pihak propider?
"Ah, gawat!" decak Syifa panik.
Akhirnya ia memutuskan berlari sampai melewati gerbang kampusnya yang benar-benar lengang dan senggang. Bahkan jalan raya di depan kampus pun ikutan sepi tanpa ada satu kendaraan pun yaang belalu lalang.
Keringat dingin mulai membanjiri kening dan sekujur tubuhnya. Degup jantung berdetak sangat kencang seiring hembusan nafasnya yang memburu. Syifa sangat panik juga takut. Tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan. Bahkan ponsel yang selalu menjadi penolong untuk menghubungi orang-orang terdekatnya. Kini berubah menjadi seonggok benda tidak berguna.
Syifa menghentikan langkahnya setelah berada jauh dari lingkungan kampus. Sambil memegangi kedua lututnya yang terasa terasa lemas. Wajahnya tertunduk sembari mengatur nafas yang berhenbus dari mulut dan hidungnya. Peluhnya meluncur bebar dari ujung dahinya langsung menyentuh tanah. Perlahan-lahan ia menegakkan tubuh dengan nafas yang masih belum teratur. Menyeka kasar peluh yang masih mengucur dengan lengannya kasar.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam dengan kecepatan tinggi muncul membelah jalan raya. Sontak Syifa terperanjat kaget dan berusaha menghindar sebelum bumper depan mobil nyaris menyentuh tubuhnya. Namun ia merasa mobil itu memang sedang menargetkannya, saat mobil itu terus bergerak seiring kemana pun gerak kakinya melangkah.
Sekarang, Syifa tidak lagi bisa menghindar. Benda bermesin serta beroda empat itu sudah siap menghantam dirinya tanpa ampun.
"Kyaaaaa...." pekik Syifa memecah keheningan malam.
Bersambung...
***
🙋 Hai readers... 🙏 maaf ceritanya sampai di sini dulu, dan gantung biar pada penasaran dikit 🤭🤭🤭. jangan lupa buat kasih vote, like, komen yang positif ya... kalo bisa sekalian tip-nya ya 😁😁🤗✌️
❤️❤️ Luv u all 😁🥰🥰
__ADS_1
Happy reading 🤗✌️