Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Ungkapan Cinta (Part 3)


__ADS_3

Syifa keluar dari ruang kelasnya setelah mata kuliah yang diikutinya berakhir. Ia menghentikan langkahnya ketika


ponselnya terdengar jelas dari dalam tas jinjingnya. Tanpa menunggu lama gadis itu langsung merogoh tas biru


berbahan dasar kanvas mengambil ponsel dari dalam.


"Nomor siapa ya?" dahinya mengernyit heran melihat nomor telepon asing muncul di layar ponselnya. Namun


belum sempat ibu jarinya menggeser tombol berwarna hijau, sambungan telepon putus begitu saja. "humph! Paling


orang iseng." langsung memasukkan kembali ke dalam tas. Setelah itu kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor kampus yang ramai.


"Syifa!" seru Panji datang menghampirinya.


Kontan Syifa langsung menoleh ke sumbersuara. Ia agak sedikit terkejut tiba-tiba Panji datang menghampirinya.


Walaupun mereka sering bertemu di kampus, tetapi Panji tidak pernah menemui Syifa dengan personal, tanpa ada Anto dan Rama yang seakan bertingkah sok bodyguard, oh bukan, lebih tepatnya mereka


seperti dayang-dayangnya Panji.


"Eh, Nji. Elo udah mau pulang, atau masih ada kelas? Terus mana dayang-dayang lo, kok sendirian aja?"


Syifa memberondong cowok itu nyaris tanpa jeda.


"Elo nanya biasa apa mau interogasi sih? Sampai gue ngerasa kayak maling ayam, yang lagi beroperasi


tiba-tiba ketangkap warga,"


"Ah, lebay lo, Nji. Terlalu didramatisir?" Syifa tersenyum kecil.


"Abisnya, elo nanyanya kebanyakan sih. Gue sampai bingung jawab yang mana duluan. Lain kali tanya satu-satu, bisa kan?"


"Iya-iya, sori. Gue minta maaf." Syifa menyesal.


Panji dan Syifa terkekeh bersama. Dari kejauhan Nadya melihat mereka. Dalam pandangannya kedua manusia yang dianggapnya sebagai teman itu terlihat bahagia. Mereka terlihat serasi sepertinya cocok menjadi sepasang kekasih.


Nadya mendengus berat. Rasa pilu yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, kini berkecamuk di dalam dada. Entah apa nama perasaan yang dirasakannya. Yang jelas hatinya tidak nyaman melihat pemandangan sore seperti itu.


"Hai, Nad. Kok elo jadi bengong?" Kirana menepuk pelan bahu Nadya. Menyadarkannya dalam lamunan. Serta merta menoleh ke sumber suara sambil tersenyum kaku. "Ayo kita masuk kelas, nanti keburu dosennya masuk. Enggak enak kalo datang telat." lanjut gadis berkacamata bulat itu.


"Oke." Nadya menganggukkan kepala. Kemudian bergerak pergi.


Syifa dan Panji bergerak meninggalkan koridor kampus menuju pintu gerbang. Mereka sengaja jalan bersama karena keduanya sudah tidak ada mata kuliah yang harus diikuti.


"Fa, sori. Gue boleh tanya enggak?" tanya Panji ragu.


"Kalo mau tanya, ya tanya aja. Yang penting kalo gue bisa jawab, gue jawab. Kalo enggak bisa jawab, elo enggak boleh sakit hati sama gue ya. Gampang, kan?" sahutnya ringan.


Panji menyeringai canggung.


"Emang elo mau tanya apa sama gue?"


"Soal cowok tadi siang. Sori, kalo gue tanya tentang masalah yang bersifat privasi ke elo."


Syifa terdiam sesat. Air mukanya berubah seketika. Tatapan matanya menjadi serius. "Emang elo mau tanya apa ke gue?"


"Dia ... dia siapa? Apa dia cowok yang dijodohkan sama elo sedari kecil, seperti yang diceritain Nadya?" Panji tampak tergagap.


"Iya." jawab Syifa mantap.


Panji mendengus berat mendengar jawaban gadis itu. Sulit baginya menerima kenyataan gadis yang disukainya telah menemukan tambatan hati. Hingga mengabaikan perasaannya. Walaupun rencana awalnya dia ingin sekedar main-main menarik simpati Syifa, dengan harapan dia menerima cintanya, setelah itu mencampakkannya seperti gadis-gadis lain. Tetapi akhirnya dia termakan jebakan yang digalinya sendiri. Saat ini dia benar-benar jatuh cinta pada gadis biasa-biasa saja seperti Syifa.


"Fa, elo jawabnya terlalu langsung, sampai menohok hati gue."


"Haish! Sejak kapan elo mendadak lebay gini sih, Nji? Gue jadi heran sama elo." keluh Syifa merasa tidak masuk akal. "apa salahnya gue langsung jawab, toh kita kan ngomongnya secara langsung. Emangnya elo mau gue jawab pake acara siaran tunda, kayak tayangan sepak bola di tv? Hahaha ..." suara tawanya terdengar renyah. "kocak lo!"


Panji tersenyum pahit. Menghentikan langkahnya. Lalu Syifa ikut tidak bergerak.


"Iya emang gue kocak, sampai elo tega banget  tawain gue," mendadak suara cowok terdengar lirih.


Syifa tertegun melihat ekspresi wajah cowok di hadapannya. Sontak suara tawanya lenyap.


"Sori." ujarnya menekan suaranya tidak enak hati, menggigit bibir bawahnya merasa tidak enak hati.


"Syifa!" seru Zikra tiba-tiba muncul di depan pintu gerbang kampus. Melambaikan tangan dengan senyum yang menawan. Tidak sedikit terdengar decak kagum para mahasiswi yang melihat sosok cowok tampan itu. Sampai melahirkan rasa iri di dalam hati mereka.


Kontan Syifa menoleh ke sumber suara. Senyum semringah dan mengangkat tangan melambai ke udara menyambut lambaian tangan suaminya.


Panji mengikuti arah pandangan Syifa. Dia terkejut melihat Zikra datang menjemput gadis pujaannya. Cowok yang pernah dikenalnya dulu semasa SMA.


Zikra mencengkram erat stang sepeda motornya melihat Panji berada di dekat istrinya. Rasa tidak senang mendadak mendera hatinya. Mengingatkan kejadian tempo hari yang membuatnya dan Syifa berselisih paham.


"Sori, Nji. Gue duluan ya. Onoh Romeo gue udah datang jemput gue." gadis itu langsung berhambur meninggalkan Panji dengan senyum penuh kebanggaan.


Panji bergeming menatap nanar kepergian Syifa. "Zikra! Gue enggak akan biarin elo bisa bahagia bersama Syifa. Gue akan merebut kebahagiaan elo lagi. Setelah itu gue akan senang melihat ekspresi frustasi lo seperti dulu lagi." bisik batinnya penuh ancaman sambil menyeringai licik. Tangannya mengepal erat menahan rasa kecewanya.


Tidak lama berselang sepeda motor Zikra melesat pergi meninggalkan kampus tempat Syifa menimba ilmu.


*


Bonang dan Rifa'i duduk di meja kafe yang biasa mereka datangi sejak kuliah. Namun kali ini minus Zikra. Karena sore ini dia ada acara sendiri bersama Syifa. Rifa'i menyesap macchiato-nya. Bonang meletakkan cangkir matcha green tea latte setelah menyeruputnya nyaris setengah bagian.


"Elo yakin kalo si Zikra selingkuh?" Rifa'i tidak percaya mendengar cerita Bonang.

__ADS_1


Sejak mengenal dan akrab dengan pemuda itu sedari zaman kuliah, tidak pernah sekalipun terlihat akrab dengan cewek lain. Zikra tipikal cowok yang setia kala itu. Makanya dia tidak pernah memproklamirkan diri menjalain hubungan dengan cewek mana pun. Rifa'i hanya tahu tentang Zikra bahwa sejak kecil sudah dijodohkan dengan seorang gadis yang pernah ditemuinya saat kecil. Kini gadis itu sudah resmi menjadi istrinya, yaitu Syifa.


"Yakin banget sih belum. Cuma gue heran aja waktu tadi pagi, dia pegang amplop, pas ngelihat gue amplopnya buru-buru disembunyiin di dalam laci meja. Sok pake rahasia-rahasiaan gitu."


"Elo tuh, curigaan aja bawaannya. Elo udah mastiin belum itu amplop apa? Siapa tahu surat penting, bukan surat cinta."


"Gue enggak pikir sampai situ sih."


Rifa'i menghela nafas panjang.


"Bonang ... Bonang ... kenapa sih elo enggak positive thinking aja sama orang? Emangnya elo enggak bisa bedain mana amplop surat cinta sama amplop surat biasa. Lagian enggak masuk akal banget, hari gini anak muda zaman now masih main surat-suratan? Ah, yang benar aja lo."


"Oiya. Kenapa gue jadi lupa ya?" Bonang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lagian, kalo si Zikra emang beneran lagi naksir cewek lain, mana mungkin dia minta bantuan kita buat acara penembakan romantis ke Syifa?" Rifa'i memainkan permukaan minumannya dengan sedotan, seakan sedang mengaduk gelas minumnya. "sekarang aja mereka lagi kencan berduaan."


Bonang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui pendapat Rifa'i. "Masuk akal juga."


Rifa'i mendengus sebal.


*


Syifa terkejut ketika sepeda motor Zikra tidak menuju arah jalan pulang. Melainkan ke sebuah pusat perbelanjaan. Berkeliling melewati toko-toko pakaian, sepatu dan lain-lainnya. Beberapa kali ia menolak ajakan suaminya memasuki semua toko itu. Dengan alasan tidak ada yang ingin dibelinya. Lagipula saat ini sedang tanggung bulan. Biasanya pada tanggal-tanggal seperti ini harus banyak berhemat untuk menekan pengeluaran yang bersifat tidak perlu.


"Buat apa kita datang ke sini cuma hanya keliling-keliling enggak jelas, kayak orang hilang aja." gerutu Zikra mengungkapkan rasa kecewanya.


Akhirnya Zikra mengajak nonton film di Bioskop. Kali ini Syifa tidak boleh menolak. Tanpa babibu cowok itu langsung menarik lengan Syifa membeli tiket film.


"Kita nonton film romantis aja, ya?" cetus Zikra.


"Kalo nonton film romantis kayaknya kurang menantang."


"Maksudnya?" Zikra meminta penjelasan.


"Kita nonton film bergenre yang sedikit menantang. Gimana?"


"Film action?"


"Bukan," Syifa menggelengkan kepala. "tapi film horor." menyeringai lebar.


Zikra mengacak-acak rambut Syifa gemas. "Emangnya kamu yakin berani nonton film setan?" tanyanya mendekatkan wajahnya pada wajah Syifa.


"Kita coba aja!"


"Oke. Karena kamu yang minta, jangan nyesel ya, kalo sepanjang film berlangsung kamu ketakutan sampai panas dingin."


"Tenang aja, aku enggak nyusahin kamu kok. Paling cuma tutup mata aja kalo takut. Aku enggak minta pertanggungjawaban kamu, Swear deh!"


"Hush! Walau bagaimana pun, kamu adalah tanggung jawab aku. Enggak mungkin aku lepas tanggung jawab." Zikra mengeluarkan uang untuk membayar tiket film horor yang diminta Syifa. Setelah itu masuk ke dalam teater.


Entah mengapa hari ini gue ngerasa hubungan gue sama Zikra kayak lagi pacaran. Dia begitu hangat dan perhatian. Apa aja yang gue ingin langsung dikabulin. Inikah yang namanya pacaran? Tapi ... masak sih, gue sama dia kan udah nikah, masak pacaran. Aneh! Aduh ... gue lagi mikir apaan sih? (Syifa)


Semoga Syifa bisa merasakan perhatian tulusku. Dengan begini aku bisa menunjukkan perasaanku yang sesuangguhnya. Walaupun secara gambalang aku belum memproklamirkan cintaku padanya. (Zikra)


Setelah selesai nonton Syifa dan Zikra makan malam di salah satu restoran, lagi-lagi Zikra menyuruh Syifa yang memilih tempatnya. Tentu saja dengan senang hati Syifa memilih tempat makan yang bisa dibilang PW. Tanpa mengesamping kocek yang dalam. Ia memilih tempat makan enak tapi murah. Dimana lagi kalau bukan nasi goreng pinggir jalan. Enak, banyak, kenyang juga murah.


"Kenapa kamu pilih makan di sini?" tanya Zikra heran.


"Biar bisa merasakan sensasi baru. Mau makan di restoran atau warung nasi goreng pinggir jalan sama aja, toh kita sama-sama makan. Makanannya masuk ke dalam mulut, bukan masuk ke dalam hidung."


"Kamu itu bisa aja cari alasan." Zikra mencubit hidung Syifa gemas.


"Tapi benar kan ..."


"Humph. 100% benar!" Zikra menunjukkan ibu jarinya.


Seorang lelaki paruh baya pemilik kedai nasi goreng, datang mengantarkan dua piring nasi goreng untuk Syifa dan Zikra. "Silahkan menikmati," ujarnya.


"Terima kasih." sahut Syifa dan Zikra hampir bersamaan.


"Kamu pernah jalan sama cewek, gak?" tanya Syifa setelah mengunyah satu sendok nasi goreng.


"Jalan sama cewek?" Zikra mengerutkan dahi.


"Iya. Kayak nonton, shopping, atau sekedar cuci mata di luar rumah, gitu?"


"Teman cewek biasa atau pacar, nih? Yang jelas dong kalo mau tanya. Jangan ambigu gitu."


"Terserah."


"Pernah, sama pacar. Waktu itu aku masih SMA."


"Masak sih cowok seganteng kamu pacarannya pas SMA doang?"


"Humph. Karena waktu SMP aku enggak suka dekat sama teman cewek." Zikra meyakinkan. "kalo kuliah, aku enggak kepikiran punya cewek."


"Biar aku tebak. Cewek yang jadi pacar kamu itu pasti Mbak Ayu, iya kan?" gadis itu tampak penuh percaya diri.


Zikra hanya tersenyum kecil melihat polah istrinya. Seakan tidak ada perasaan cemburu ketika menyebut nama seorang gadis lain yang tidak lain adalah mantan pacar suaminya. Dia mengangguk membenarkan.


"Tapi hubungan kami tidak lama. Karena setelah Papa tahu hubungan kami, Papa langsung memindahkan sekolahku sampai ke luar provinsi." rona wajah Zikra tampak muram. "kata Papa aku enggak boleh hubungan lagi dengan Tara. Kalo aku ingin punya pacar, Papa akan mempertemukan aku dengan gadis lain, yang udah dijodohin sama aku dari kecil."


"Oya?" Syifa terkejut. "ternyata enggak jauh beda sama gue," gumamnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu sendiri gimana, sempat punya pacar sebelum nikah sama aku?"


"Humph. Sebelas dua belas deh sama kamu," sahutnya tidak senang.


Zikra terkekeh. "Oya? Masak sih?"


"Udah, jangan dibahas lagi, nanti nafsu makanku hilang kalo terus-terusan menyinggung masa lalu," tukasnya cepat.


"Aneh, kamu yang mulai, tapi kamu sendiri yang sensi. Lucu banget sih kamu ..." Zikra tidak bisa mengendalikan tangannya mencubit gemas dagu Syifa. Dengan wajah cemberut gadis itu tidak menepis cubitan sayang suaminya.


Perut Syifa dan Zikra telah kenyang. Badan pun telah bersih dan segar setelah mandi dan ganti pakaian. Malam pun telah menjelang. Sudah saatnya membaringkan tubuh yang lelah di atas tempat tidur. Kemarin malam kedua insan itu tidur di satu tempat tidur yang sama. Namun tidak saat ini. Mereka tidur terpisah di kamar masing-masing. Seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang mabuk kepayang, Syifa dan Zikra saling memikirkan satu sama lain tanpa mereka sadari sendiri. Kenangan malam kemarin masih melekat dalam benak mereka.


Tiba-tiba ponsel Syifa berdering. Tanpa beranjak ia meraihnya di atas meja samping tempat tidur. Dahinya mengernyit ketika melihat nama Zikra yang tertera di layar.


"Aneh. Ada apa ya?" beranjak duduk.


"Halo." suara di seberang terdengar lembut.


"Ya, halo."


"Kamu udah tidur?" tanya Zikra di seberang terdengar hati-hati, seakan takut mengganggu.


"Belum. Lagian kalo udah tidur, mana bisa aku angkat telepon dari kamu."


"Hahaha ..." Zikra terkekeh kecil. "kadang-kadang kamu lucu juga ya."


"Lucu?" Syifa mengerutkan alis.


"Iya. Menurut aku, kamu itu lucu juga gemesin."


Wajah Syifa merona merah. Tersenyum malu tetapi buru-buru merubah ekspresi marah untuk menutupi perasaannya. "Lucu apanya? Kamu pikir aku badut?"


"Bukan. Bukan begitu maksud aku." buru-buru Zikra mengkonfirmasi sebelum gadisnya benar-benar meledak karena marah. "kamu itu lebih lucu dari badut yang jelek. Lebih cantik dari boneka Barbie."


Ya ampun. Apa mungkin Zikra lagi merayu gue?


Degup jantung Syifa mendadak berdetak lebih cepat. Senyumnya tidak bisa dikendalikan, meskipun berkali-kali berdehem agar senyumnya tidak mengembar. Hatinya berbunga-bunga oleh rasa bahagia yang tak terhingga. Untuk pertama kalinya Zikra mengungkapkan kata-kata manis seperti ini.


"Gombal!"


"Enggak. Aku enggak lagi gombal. Swear!"


"Dasar cowok!"


"Iya, cewek."


Syifa terkekeh geli.


"Besok kuliah jam berapa?" tanya dari seberang mengalihkan pembicaraan.


"Kayaknya aku pulang agak malam, karena jadwal kuliahku padat."


"Oh." Zikra terdiam sejenak membuat Syifa penasaran dan gelisah.


"Zikra ... kamu masih di situ, Zik?"


"Iya. Aku masih di sini." Zikra menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. "besok kamu ada waktu?" tanyanya ragu.


"Ada. Tapi agak malam."


"Enggak papa. Besok temuin aku di taman ya."


"Taman? Ngapain?" Syifa merasa sedikit heran.


"Datang aja besok, nanti juga kamu tahu."


"Ngomonga aja sekarang, jangan main tebak-tebak buah manggis gitu. Bikin aku penasaran aja."


"Emang sengaja buat kamu penasaran."


"Ih, jahat!"


"Masak mau kasih kejutan dibilang jahat?"


"Kejutan?" Syifa terkejut.


"Udah deh jangan dibahas sekarang. Nanti enggak jadi kejutannya." kilahnya cepat.


Syifa menahan tawa kegirangan yang nyaris meledak.


"Ya udah. Udah malam, tidur gih. Besok kamu bisa kesiangan bangunnya kalo tidur kemalaman."


"Oke."


"Selamat malam ya."


"Malam ..."


"Mimpi yang indah." Zikra menutup sambungan teleponnya. Meletakkan ponselnya di dekat bantalnya. Lalu membaringkan tubuh.


Syifa tidak bisa meredam rasa bahagianya sambil memeluk ponselnya sendiri di dada. Ia terlonjak kegirangan kemudian buru-buru menutup mulutnya sebelum suaranya memekik membahana memecah keheningan. Ia juga khawatir Zikra tahu akan perasaannya saat ini. Karena ia masih malu mengakui perasaannya. Gadis itu langsung mengatur posisi tidurnya. Berharap malam ini berlalu dengan mimpi indah. Seindah mentari pagi yang bersinar esok pagi.


 

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2