Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Jembatan Cinta


__ADS_3

Langit malam berangsur-angsur beranjak terang. Kumandang suara adzan subuh bergema memecah keheningan pagi.


Syifa membuka mata perlahan, terbangun dari tidurnya. Sejak menjadi Nyonya Zikra gadis itu pelan-pelan membiasakan diri bangun lebih awal. Bahkan terkadang lebih awal dari suara ayam jantan berkokok di pagi hari. Mengerjakan tugas layaknya seorang istri yang baik. Menyiapkan sarapan pagi dan kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan rumah tangganya. Terkecuali mengurus pelayanan kamar untuk suaminya.


Kebiasaan yang paling nikmat setelah bangun tidur adalah menggeliatkan tubuh di atas kasur. Mereganggkan tulang-tulang yang terdiam selama beberapa jam istirahat saat tidur. Begitu pula yang sering dilakukan Syifa. Namun saat akan menggerakkan tubuhnya ke belakang, tiba-tiba ia merasa ada yang berat menyandar di punggungnya, dan sedikit beban berdiam di pinggang sampai perutnya. Selain itu ada hembusan pelan yang teratur yang terasa meniup tengkuknya.


Dengan cepat Syifa membuka selimut yang masih menyelubunginya. Tiba-tiba ia terperanjat kaget ketika melihat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Rasa gugup dan desiran kencang di dua rongga dadanya mendadak menyelinap masuk mengusik jiwanya yang tenang.


Oh my God! Ada tangan ... tangan siapa ini? Ya Allah ... ini bukan tangan gaib kan?


Pelan-pelan Syifa mengangkat tangan itu, meletakkan ke belakang tubuhnya. Kemudian menurunkan kakinya hendak bangun dari tempat tidur. Tetapi, belum sempat kakinya menyentuh lantai mendadak tangan asing itu menariknya, jatuh kembali ke atas kasur.


"Mau kemana? Di luar masih gelap, sayang ... " tegur seseorang dengan suara parau khas seperti orang yang baru bangun tidur. Membuat bulu kuduk Syifa merinding.


Serta merta gadis lugu itu menoleh ke sumber suara.


"Hah?! K-ka-kamu?" ujarnya itu tersentak kaget. "ng-ngapain di sini?" mengerutkan alisnya heran.


Zikra terkekeh dengan mata yang masih setengah melek. Lalu mengecup kening Syifa.


"Kamu lupa ya? Ini kamar siapa?"


"Si-siapa?"


"Ini kamar aku sayang ..." sahut Zikra mencubit sayang pipi istrinya.


"Apa?" Syifa terlonjak duduk sambil mengelus pipinya. Wajahnya bersemu merah. Mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan. Matanya terbelalak setelah menyadari dirinya berada di dalam Zikra.


"Tapi sekarang jadi kamar kita."


Buru-buru ia menutup mulutnya yang terbuka lebar. "bagaimana mungkin bisa terjadi? Mustahil! Ini pasti enggak benar" bisiknya dalam hati.


"Kenapa? Kok kamu kelihatannya syok gitu sih?" Zikra beranjak duduk, sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Syifa. "beda banget sama kamu yang semalam."


"Eh! Itu ... anu ..." Syifa langsung turun dari tempat tidur. Gadis itu sangat gugup hingga nyaris kehilangan kata-kata. "semalam? Apa yang terjadi dengan semalam?"


"Semalam itu, kamu sangat menikmati kebersamaan kita. Enggak kayak sekarang, kamu lebih mirip orang yang kena amnesia." Zikra tersenyum menggoda sambil menyisir rambutnya yang berantakkan dengan tangan. "kalo kamu benaran lupa kejadian semalam, aku bisa mengulangnya supaya kamu bisa ingat lagi." pemuda itu turun dari kasur bergerak mendekatinya.


"Ah! Enggak-enggak!" Syifa mengibaskan tangannya. "ih! Apa-apaan sih kamu?" rajuknya menghindar. Kemudian berusaha mengingat apa yang telah terjadi semalam. "oh, ya ampun!" bisiknya sambil menutup mulutnya setelah berhasil mengingat semuanya. "jadi, semalam gue sama dia ..." wajahnya tiba-tiba memucat. "semalam kita ..."


"Iya. Semalaman kita tidur di kasur yang sama, dan berbagi udara," Zikra sengaja menggoda gadis lugu itu dengan cerita yang sudah dimodifikasi. "kemudian kita berdua melewati malam yang panjang dengan ..."


Ucapan Zikra berhasil membuat Syifa gelisah dan berpikiran aneh-aneh.


"Jadi, semalam kita udah ... ya ampun ..." tenggorokkan Syifa tiba-tiba tercekat. "ka-kamu, kamu enggak lagi bohongin aku, kan?" lanjutnya parau.


"Sayang ... kita kan udah nikah, berarti segala apa yang kita perbuat halal. Jadi, wajar dong kalo kita ngapa-ngapain aja berduaan?" Zikra membelai ujung rambut Syifa lembut. "kamu jangan tegang gitu, dong!"


Syifa sangat syok hingga tanpa sadar matanya basah dan nyaris menangis. Buru-buru Zikra memeluk gadisnya untuk menenagkan.


"Kamu tenang aja. Kita belum ngapa-ngapain kok. Aku masih mau nungguin kamu sampai kamu benar-benar siap menjadi Nyonya Zikra seutuhnya." bisiknya di telinga istrinya.


"Apa?"


Zikra mengangguk.


"Tapi ... tadi kamu bilang ..."


"Iya. Tadi aku sengaja buat goda kamu. Eh, kamu malah jadi serius banget."


"Iiih! Kamu jahat!" rajuk Syifa memukul dada Zikra.


"Aduh!" pekiknya sambil berpura-pura menyeringis kesakitan. Memegang bagian tubuhnya yang tadi dipukul Syifa secara dramatis.


"Aduh, ya ampun! Sori, sori, kekencengan ya aku pukulnya?" Syifa langsung mengusapnya.


Zikra terkekeh geli.


"Ih! Nyebelin!" Syifa meradang. Tanpa ba-bi-bu gadis itu membalikkan badan, melangkah pergi menuju pintu. Ia sedikit terkejut ketika pintunya sudah tidak terkunci. Kemudian keluar tanpa permisi.


*


Setelah selesai mandi dan sholat subuh, Syifa langsung berjibaku di dapur seperti biasa. Pagi ini agak sedikit lebih spesial karena kehadiran adik iparnya, Aini. Jadi ia sengaja memasak lebih banyak beberapa menu makanan yang berbeda. Walaupun keahlian masaknya masih terlalu standar, gadis itu tetap menyiapkan menu masakan sesuai kemampuannya.


Di tengah kesibukannya memasak di dapur, mendadak teringat kejadian semalam bersama Zikra. Membuatnya tersipu malu sendiri. Ada sensasi keterkejutan yang tidak biasa serta sulit dicerna oleh otaknya.


"Bagaimana mungkin seorang Zikra yang ganteng, yang selalu digilai oleh banyak cewek bisa jatuh cinta sama gue? Gue kan cuma cewek biasa yang enggak punya pesona. Waktu SMA aja gue tereliminasi sama si Rima. Apalagi sekarang saingan gue bukan cewek kaleng-kaleng. Tapi anehnya gue bisa sampai mengeliminasi Mbak Ayu yang cantiknya enggak ketulungan." gumamnya sambil terkekeh kecil, menunggu sup ayam yang sedang dimasaknya mendidih. Senyumnya mengembang merasakan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan sekedar kata-kata. Tanpa disadarinya sendok sayur yang sedang dipegang menyentuh bibirnya. "woh! Udah mendidih!" serunya membuyarkan lamunannya.


Setelah semua masakan yang dibuatnya rampung, Syifa langsung menyiapkan di atas meja makan.


"Hmph! Udah kelar, deh!" mendengus lega.


Tidak lama berselang, Aini keluar dari kamar langsung menuju dapur. Aroma masakan menguar nikmat menusuk hidungnya , mengusik cacing-cacing yang bersemayam di dalam perutnya jadi unjuk rasa.


"Wah, enak nih! Semuanya udah siap, tinggal makan aja," imbuhnya mengelus perutnya.


"Iya dong." sahut Syifa bangga.


Aini langsung menarik kursi lalu duduk.


"Lumayan, enak juga masakan lo. Aa gue pasti enggak kelaparan tinggal bareng sama elo."


"Ya iyalah. Lo pikir gue enggak punya sampai buat kakak lo sengsara?"


"Kadang-kadang."


"Rese lo!"


Aini menyeringai dingin.


"Btw! Gue belum bikin peritungan sama elo."


"Peritungan apa?"


"Jangan pura-pura pilon lo!" Syifa nyolot. "elo kan yang ngunciin gue semalam?"


"Oh!" Aini mengedikkan bahu.


"Kok elo cuma bilang 'oh' doang sih?"


"Abis, gue mau ngomong apa lagi?"


"Ya ... seenggak-enggaknya elo ngaku salah gitu, atau bilang maaf ke gue."


Aini dan Syifa terus bertengkar tidak ada yang mau mengalah. Kebiasaan saat SMA masih terbawa hingga sekarang. Bedanya ketika itu ada Nadya yang selalu mendukung Syifa.


"Aduh ... ada apa sih? Kakak ipar sama adik ipar pagi-pagi udah berisik aja?" tegur Zikra tiba-tiba datang. Dia sengaja menarik kursi yang ada di sebelah Syifa lalu duduk.


"Seharusnya elo berterima kasih sama gue," ujra Aini membela diri sendiri. "gara-gara gue kunciin di dalam kamar Aa gue, elo bisa bersama Aa gue iya kan?" menyeringai dingin melihat tanda merah leher Syifa. "kayaknya ... semalam elo sampai klimaks sama Aa gue."


"Klimaks? Apa maksud lo? Gue enggak ngerti!"


"Pakai pura-pura lagi. Itu tuh, tanda merah di leher lo!" Aini menunjuk leher kakak iparnya. "jadi buktinya. Kalo elo sama Aa gue udah ngapa-ngapain semalam."


"Tanda merah? Apa?" Syifa mengerutkan dahi bingung sambil menyentuh lehernya.


Zikra tidak ingin ambil suara. Namun tidak tega melihat istrinya dibully oleh adiknya sendiri. Apalagi masalah itu terjadi karena perbuatannya.


Syifa menatap Zikra tajam seakan tatapannya berkata, "ayo, jelasin apa yang udah terjadi di antara kita semalam!"


Zikra tampak sedikit gugup. Tetapi dia berusaha bersikap acuh tak acuh seakan tidak terjadi apa-apa. Dia malah sibuk mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.


"Ayo, kita makan!" serunya mengalihkan pembicaraan. "wah, masakan kamu semakin hari semakin enak aja, ya." pujinya dengan senyum yang dipaksakan.


"Zikra ..." Syifamenggertakkan giginya dengan tatapan tanpa berkedip.


"Ya?" pemuda itu masih sibuk menyelesaikan sarapannya. "enak! Enak!"


"Cih! Rasanya hambar begini, apanya yang enak?" Aini meletakkan sendok makannya di atas piring, setelah sebelumnya penasaran ingin mencicpi masakan Syifa.


Syifa mendengus kesal merasa frustasi tidak mendapat jawaban apa pun. Bangkit dari duduknya, lalu beranjak pergi mencari cermin di dalam kamarnya. Ia sangat penasaran dengan tanda merah yang ada di lehernya.


OMG! Benar apa yang yang dikatakan Aini. Syifa menemukan ada tanda merah di lehernya. Mungkinkah hal itu disebabkan oleh sengatan serangga? Tapi, pertanyaannya jenis serangga apa yang sudah menyengatnya hingga meninggalkan noda merah yang unik? Kecoa? Nyamuk?


"Masak iya, semalam gue digigit nyamuk atau kecoa? Perasaan di kamar Zikra bersih. Enggak ada apa-apa," Syifa berusaha mengingat peristiwa semalam. "kecuali ..." tiba-tiba ia teringatan ketika Zikra mengecup lehernya kemarin malam. "hhkkz!" wajahnya bersemu merah.


Zikra hanya memperhatikan Syifa dalam diam. Pasalnya setelah kembali dari kamarnya, gadis itu mendadak menjadi pendiam. Mungkin ia sedang marah padanya karena tanda merah itu?


"Aa, weekend ini ada acara enggak?" Tanya Aini mengalihkan pandangannya.


"Weekend?"


"Enggak mungkin kan Aa masih mau ngantor?"

__ADS_1


"Ah, itu ..." Zikra tidak memiliki alasan yang tepat menolak ajakan adik perempuannya.


"Jangan bilang Aa udah punya janji sama orang lain. Ingat lo A, kita sekarang jarang ketemu. Lagian Dede enggak bisa setiap hari bolak-balik Bekasi-Jakarta cuma buat nemuin Aa di sini."


Zikra tidak berkomentar.


"Kalo elo, Fa?"


"Apa?" tanyanya tidak fokus.


"Itsh! Elo masih galfok sama kiss mark di leher lo?"


"Apaan sih lo?" Syifa nampak tidak suka saat Aini menyebut hal yang berhubungan tanda merah di lehernya.


"Sensi banget sih lo, kayak lagi PMS aja."


Syifa acuh tak acuh.


Aini mendesah pendek. Dia merasa gondok melihat ekspresi acuh Syifa.


"Aa, selama menikah sama si hemp," Aini sengaja tidak menyebut nama kakak iparnya dengan mengayunkan dagu ke arahnya. Syifa menoleh sinis sambil mencebikkan bibirnya. "pernah pergi bulan madu apa enggak?" lanjutnya penasaran.


Zikra menggelengkan kepalanya. Syifa dengan sikap acuh tak acuhnya merapikan meja makan. Membawakan semua piring kotor ke tempat cuci piring. Kemudian mencucinya bersih.


"Bagus deh kalo gitu."


"Bagus? Apanya yang bagus?" Zikra mengerutkan dahi. "masak enggak pergi bulan madu dibilang bagus?"


"Aa... jangan salah faham dulu sama Dede," sahutnya menenangkan. "maksud Dede tuh, mau ngajakin Aa sama kakak ipar yang lagi sensi itu, pergi ke resort teman kuliah Dede."


"Resort?"


"Hump!" Aini mengangguk lalu cengengesan. "sebenarnya ... tujuan Dede pulang ... selain lagi enggak ada kegiatan kuliah, Dede udah janjian mau main ke resort-nya. Soalnya, dia cerita enggak jauh dari resort ada sebuah jembatan tua yang awalnya terbengkalai gitu. Terus ... katanya jembatan itu sekarang dirawat dengan baik oleh pihak setempat. Dan dibuka untuk umum. Dengar-dengar, jembatan itu bisa menyatukan pasangan. Makanya jembatan itu disebut jembatan cinta."


"Jadi, inti dari kamu pulang ingin membuktikannya, gitu?" Zikra langsung menskakmat Aini.


"Hehehre ... iya. Kok Aa langsung tahu sih?" Aini tertawa konyol sambil mengadu dua jari telunjuknya pelan.


"Tahulah! Orang kamu jelas gitu kasih petunjukknya. Masak gitu aja Aa enggak tahu."


"Jadi, Aa mau ikut nih?"


"Boleh. Tapi ... Aa penasaran siapa cowok yang udah buat adik Aa jadi kepincut gini ya?" Zikra menyubit pipi Aini gemas.


"Ih ... Aa, sakit ..." rajuk Aini manja sambil mengelus pipinya. "sebenarnya Dede mau kenalin Aa sama seseorang yang spesial. Yah ... walaupun kita belum resmi jadian, tapi kita udah dekat banget."


Syifa memutar keran air setelah selesai mencuci piring.


"Syifa, Aa gue udah setuju mau ikut. Berarti elo juga mau ikut juga, kan?"


"Sori, gue enggak ikutan," sahutnya dingin.


"Lho, kenapa?"


"Hari ini bokap-nyokap gue mau datang jemput gue," Syifa melirik ZIkra. Terlihat ekspresi wajah cowok ganteng itu dingin. "jadi, kalo elo mau pergi ajak kakak lo aja."


"Masak sih gitu lo, tega banget ninggalin Aa gue yang gantengnya enggak ketulungan ini?"


"Heng! Mau dikata apalagi, emang harus begitu."


"Eh, Syif. Emangnya elo enggak khawatir apa, Aa gue ada yang gaet?" selidik Aini penasaran.


Syifa hanya menyeringai dingin.


"Puftt! Elo pikir kakak lo jemuran?" celotehnya.


"Soalnya di sana banyak cewek cantik yang pastinya bakal tergila-gila sama pesonanya yang mematikan."


"Dede ... kamu ngomong apaan sih?" tanya Zikra canggung. Mengacak-acak rambut Aini gemas.


"Aa, rambut Dede jadi berantakkan," Aini merapikan rambutnya.


"Sori, gue ke kamar dulu, mau siap-siap." ujarnya berlalu pergi. Langsung masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu dengan kedua tangan menjulur ke belakang tanpa membalikkan badan.


Pelan-pelan Syifa berjalan ke depan menghampiri kopernya yang telah disiapkannya. Semua pakaiannya pun hampir seratus persen berpindah tempat ke dalam koper yang lain.


Entah mengapa ada yang tidak nyaman di hati Syifa. Mungkinkah perasaan itu tepat dikatakan sebagai ungkapan rasa sedihnya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh bersama kedua orang tuanya. Itu berarti ia akan berpisah dengan Zikra yang entah untuk sementara, atau mungkin untuk selamanya.


Hal itu sudah sangat dinantikan Syifa sejak berbulan-bulan yang lalu. Tapi mengapa sekarang, saatnya telah tiba hatinya tidak bisa bahagia. Tiba-tiba ada bulir-bulir bening menetes dari pelupuk matanya.


"Hh? Zikra... apa yang kamu lakukan?" tanya Syifa gugup.


"Tolong, jangan bergerak!" serunya memberi titah. "biarkan aku memeluk kamu seperti ini."


Syifa bergeming. Zikra membenamkan wajahnya di atas bahu gadis itu.


"Apa benar kamu mau pergi juga ningalin aku?" tanya Zikra lirih. "kisah cinta kita baru dimulai. Kamu pun masih berhutang ungkapan cinta sama aku."


"Ehhh! Soal itu ..." Syifa bergeliat menepis pelukan suaminya yang membuatnya tidak nyaman. "Zikra ... dari awal kamu udah tahu, kalo aku bakalan..."


"Hmm..." tanpa basa-basi Zikra langsung membungkam mulut Syifa dengan bibirnya. Tidak peduli sekuat apa pun Syifa meronta ingin melepaskan diri, dia tidak ingin melepaskannya dan terus ********** hingga puas.


Syifa berusaha mengatur nafasnya setelah berhasil melepaskan diri.


"Syifa," Zikra menggenggam erat kedua tangan gadis itu. "tolong jangan tinggalkan aku sendiri merana tanpa kamu. Kita udah suami-istri, seharusnya kita hidup bersama untuk selamanya. Hanya Tuhan dan maut yang boleh memisahin kita."


Syifa tertegun. Matanya mendadak basah terharu dengan ucapan manis pemuda yang mengaku sebagai suaminya itu.


"Kalo kamu pergi bersama Ayah dan Bunda, aku juga ikut. Jangan pernah omongin tentang perpisahan lagi, apalagi ada niatan buat ninggalin aku. Apa kamu mengerti?"


"Tapi, pernikahan kita cuma pernikahan siri."


Zikra memeluk Syifa. "Kamu jangan khawatir soal itu. Aku sudah mengurus semuanya agar pernikahan kita terdaftar dicatatan sipil. Tinggal tunggu Ayah-Bunda datang, kita adakan akad nikah ulang sekalian ngadain resepsi pernikahan kita besar-besaran."


Syifa tersenyum lega. Seakan beban di hatinya perlahan meringan.


*


Aini tampak tidak sabar ingin segera berangkat. Kopernya pun sudah sejak tadi masuk ke dalam bagasi mobil Zikra.


Tidak lama berselang. Zikra dan Syifa keluar dengan membawa sebuah koper yang ukurannya tidak besar. Hanya terisi beberapa helai pakaian milik mereka berdua, karena mereka hanya menginap dua hari. Kemudian Zikra menyimpan kopernya di dalam nagasi di samping koper Aini.


"Hore ... siap berangkat!" sorak Aini senang.


"Hei!" suara seorang perempuan muda terdengar sangat familiar.


Syifa menoleh ke sumber suara. Wajahnya langsung pias melihat orang itu. Senyum perempuan itu terlihat manis namun tersimpan duri yang siap menusuk hatinya.


Zikra terkejut melihat kedatangannya. Dilihat dari koper yang dibawanya membuat pemuda tampan itu heran, dari mana gadis itu tahu bahwa mereka akan pergi.


"Tar-Tara?" Zikra mengerutkan dahi. Lalu menoleh ke arah Syifa. Dia dapat membaca ekspresi tidak suka istrinya itu. Dan dia pun tahu apa yang harys dilakukannya.


"Boleh aku gabung?"


"Tentu aja boleh, iya kan A?" sahut Aini antusias. "untung aja Mbak Tara datang tepat waktu. Kalo telat lima menit aja, pasti kita enggak bisa barenagan."


"Oh, jadi kamu yang mengundangnya datang?" tanya Zikra kecewa.


"Sori ..."


"Kamu enggak boleh menyalahkan adik kamu, Fatir. Ini semua gara-gara aku yang maksa ingin ikut. Tapi kamu enggak usah khawatir kok, aku enggak bakalan ganggu kalian." jelas Ayuniatara.


"Apa maksud kamu?"


"Maksud aku, karena kebetulan perusahaan lagi ngadain acara di dekat tempat kalian liburan. Jadi, menurut aku enggak ada salahnya kalo kita bisa berangkat barengan." Ayuniatara berusaha menegosiasi. Meskipun dia tahu Zikra bukan tipe cowok yang mudah dirayu. "soalnya mobil aku lagi di bengkel, tadi tiba-tiba mogok di jalan."


"Sori, aku enggak ngundang kamu." ujar ZIkra dingin. "lagian, kamu kan punya mobil lebih dari satu, jadi enggak masalah kalo ..."


"Zik, biarin Mbak Ayu bareng sama kita. Toh, kita satu arah dan satu tujuan." sela Syifa.


"Tapi ..."


"Udah deh A, jangan rempong. Udah siang nih, mendingan kita cepatan berangkat sekarang."


Zikra hanya mendengus pendek. Tidak mengerti apa yang ada dipikiran dua gadis bodoh itu. Dia langsung duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin.


Aini masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang.


Ayuniatara menyodorkan kopernya pada Syifa sekan berkata, "Nih, masukin koper aku ke dalam bagasi mobil sekarang!" setelah itu masuk ke dalam mobil menempati kursi di samping Zikra.


Syifa hanya pasrah mengikuti keinginan Ayuniatara. Setelah selesai, ia sedikit sedih melihat kursi yang seharusnya ditempatinya, sudah terisi oleh orang lain. Karena tidak ingin timbul keributan hanya masalah tempat duduk, ia langsung duduk di kursi belakang samping Aini.


"Ngapain kamu duduk di situ?" tegur Zikra geram sambil menatap kaca spion di atas kepalanya. "ayo, pindah ke depan!"

__ADS_1


Syifa bergeming.


"Fatir, di sini kan udah ada aku, masak sih kamu tega aku berbagi kursi sama Syifa?"


"Udah deh A, cuma tempat duduk enggak usah diributin. Kayak anak kecil aja." sungungt Aini.


"Tapi kan ..."


"Udah Zik. Benar apa yang diomongin Aini. Cuma tempat duduk, enggak masalah kok, aku duduk dimana aja sama. Yang penting perjalanan kita lancar." Syifa berusaha bijaksana agar suaminya tidak gusar.


Bagus! Akhirnya cewek tengil itu sadar dengan posisinya. (Ayuniatara)


"Tapi kamu is ..."


"Zikra, udah! Ayo jalan!" titah Syifa.


Zikra tidak bisa membantahnya. Dia mencengkeram erat setirnya dengan kesal, langsung menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Syifa dibuat lelah hayati oleh sikap Ayuniatara yang sok manja terhadap ZIkra. Sesekali gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Zikra. Walaupun beberapa kali diperingatkan Zikra agar tidak menempelnya. Ayuniatara tampak tidak peduli.


Cih! Ternyata cowok itu dimana aja sama. Mirip kucing dapur. Enggak boleh lihat ada ikan asin nganggur langsung diembat! (Syifa).


Aini tidak peduli dengan kodisi di sekitarnya. Dia hanya sibuk dengan ponselnya, membuka medsos dan mengaupdate postingannya.


Syifa mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela mobil. Mendadak ia tersentak kaget ketika ponselnya berdering. Ia sempat ragu menerima panggilan itu setelah melihat nama Panji yang tertera di layar.


"Kenapa enggak cepatan diangkat sih, berisik tahu!" keluh Aini merasa terganggu ketenangannya.


Kemudian Syifa menggeser tombol hijau.


"Halo!"


Zikra melirik kaca spion melihat pergerakan istrinya di kursi belakang. Dia sangat kesal pada gadis itu yang tidak mau menuruti perintahnya.


"Iya, gue tahu." ucap Syifa mengakhiri sambungan teleponnya.


Zikra mengernyit.


"Telepon dari siapa? Panji ya?" tanyanya.


"Iya."


"Panji? Siapa itu?" Aini ikutan penasaran. "selingkuhan lo, ya?"


"Sembaranga aja lo, kayak sampah yang enggak dibuang pada tempatnya." umpat Syifa.


"Cih! Mulut lo itu pedas kayak cabe rawit merah!" sahut Aini geram.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mobil Zikra tiba di areal risort milik teman Aini.


Aini tersenyum bahagia, apalagi setelah turun dari mobil orang yang diharapkannya datang menyambut.


Syifa mendengus kesal melihat tingkah polah Ayuniatara. Dia masih saja menempel pada suaminya. Namun ia tidak bisa meluapkan kekesalannya. Tidak cukup keberaniannya untuk menjambak rambut gadis lain seperti yang ada di sinetron bertemakan perselingkuhan.


Dasar kucing dapur! Kayaknya menikmati banget dapat sentuhan dari cewek lain! (Syifa)


Dasar cewek ber-IQ jongkok! Suaminya digoda cewek lain, dia malah anteng-anteng aja di sana! (Zikra)


"Aa, kenalin ini namanya Agra, teman kampus Dede. " ujar Aini dengan senyum semringah.


"Oh, jadi ini orangnya yang udah ..."


"Aa, jangan ngomong aneh-aneh deh."


"Halo, aku harus panggil apa ya? Aa, Mas, Abang?"


"Terserah, panggil Mas juga enggak buruk."


"Oke. Mas Zikra, kenalin nama aku Agra, teman kampus Aura."


Zikra mengernyit mendengar Agra menyebut nama Aini dengan sebutan Aura.


"Mbak Tara, kok bisa barengan mereka sih?" tegur Agra terlihat akrab.


"Iya. Tadi mobil Mbak tiba-tiba mogok di jalan. Jadi, bareng deh sama mereka."


"Lho, Mbak Tara kenal juga sama Agra?"


"Bukan hanya kenal, tapi malah udah tahu luar dalamnya bocah tengik ini." Ayuniatara mengacak-acak rambut Agra terkekeh.


"Mbak, jangan ngomong sembarangan deh."


Aini dan Zikra mengernyit.


"Jadi, Mbak Tara ini adalah kakak sepupu aku."


"Oh!" Aini dan Zikra mengangguk.


"Mbak, ini toh pacarnya yang sering Mbak sebut-sebut?"


"Pacar?" Zikra mengerutkan dahi, menatap Ayuniatara tajam.


"Kamu ini suka bercanda aja." Ayuniatara merangkul Agra sambil menggosok-gosokkan bahu pemuda itu kasar. Seakan memberi kode agar tidak banyak bicara lagi.


"Oke. Mari masuk sekalian aku tunjukkin kamar kalian semua." seru Agra ramah mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu! Dimana Syifa?" Zikra mengedarkan pandangannya kesekeliling.


"Syifa?" Agra seakan sangat familiar dengan nama itu.


Syifa masih sibuk membalas chatnya dengan Nadya. Gadis itu tiba-tiba menanyakan kabar orangtua Syifa yang katanya akan datang menjemputnya.


Agra membeliakkan mata melihat sosok gadis yang sudah bertahun-tahun lamanya dirindukannya.


"Syifa!" pekik Agra ketika baru melihatnya. "elo ... elo benar Syifa kan?" cowok itu bergerak mendekati Syifa.


Kontan Syifa menoleh mencari sumber suara. Ia tertegun melihat sahabat lamanya itu. Dulu mereka berdua pernah satu SMP. Namun ketika SMA Agra ikut orang tuanya pindah ke Surabaya.


"Agra?" gumam Syifa.


Zikra mendelik ketika bocah tengik itu tiba-tiba memeluk istrinya. Jika bukan karena Aini pasti dia sudah mendaratkan bogem mentahnya pada Agra. Kemudian dia hanya mencengkeram erat tangannya sampai membentuk kepalan untuk menahan amarahnya.


Agra dan Syifa tampak tenggelam pada masa SMP mereka. Tanpa sadar mereka mengabaikan tiga orang yang sedari tadi hanya menjadi penontonnya.


Rona wajah Aini memucat melihat kebersamaan cowok yang selama ini ditaksirnya. Rasa cemburu dan sakit hati memenuhi lubuk hatinya.


Ayuniatara tersenyum puas melihat wajah-wajah cemburu di hadapannya.


*


Sebelum makan siang Agra mengajak mereka mengunjungi jembatan yang sudah diceritakan Aini tadi pagi. Untuk menuju ke sana mereka hanya berjalan kaki. Pasalnya jalan menuju ke arah sana hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sementara jarak yang harus ditempuh lumayan jauh.


Aini berusaha selalu tetap dekat dengan Agra. Sementara Agra ingin selalu berdekatan dengan Syifa mengenang masa SMP dulu. Tentu saja Zikra tidak nyaman melihat istrinya dekat dengan cowok lain. Selain itu dia sulit lepas dari Ayuniatara yang mendadak selalu menempelnya seperti ulat keket.


"Ingat Tara, di antara kita udah berakhir." bisik Zikra memperingati.


"Aku tahu. Tapi aku suka. Dan lihat cewek yang kamu sebut istrimu itu, dia malah asyik jalan bersama cowok lain. Apakah kamu enggak cemburu?"


"Bukan urusanmu!" tukas Zikra menepis tangan Ayuniatara lalu mempercepat jalannya.


Ayuniatara menyeringai sinis.


Akhirnya mereka tiba di jembatan itu. Jembatan cinta yang memiliki mitos seputar dunia percintaannya. Jembatan itu terlihat unik. Dengan warna merah muda mencolok dan memiliki tinggi enam meter di atas permukaan tanah. Karena sangat tinggi dan memiliki banyak anak tangga, maka yang bisa melalui jembatan itu hanya diperuntukkan untuk manusia saja.


Setelah melewati jembatan itu para pengunjung akan disuguhkan pemandangan laut. Selain itu ada empat buah gazebo diujung jembatan kayu yang datar saling berhadapan. Tempat itu bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh.


Syifa, Zikra, Agra, Aini dan Ayuniatara berdiri terpatri di bawah jembatan cinta itu. Menatap aneh jembatan berundak membentuk anak tangga yang lumayan tinggi.


"Agra, ayo kita naik!" seru Aini mengulurkan tangannya.


"Syifa, kamu mau naik? Kita barengan yuk!" ujar Agra tiba-tiba.


Aini kecewa gayung tak bersambut.


Syifa terkesiap mendengar ajakan Agra. Seharusnya cowok itu menerima ajakan Aini.


"Fatir, kita naik duluan yuk!" Ayuniatara tidak mau ketinggalan.


Zikra meraih tangan Syifa. Menyelipkan jemarinya di antara jemari Syifa erat. Langsung bergerak naik bersama.


Syifa yang masih nampak kebingungan hanya ikut saja. Meniti jembatan bersama suaminya dengan perasaan bahagia.


Meskipun mitos itu entah benar atau tidak. Semoga cinta kita bisa abadi selamanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2