Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Akhirnya Aku Menemukanmu...


__ADS_3

Dekorasi indah menghias ruangan di dalam ballroom hotel yang telah dipesan Ayuniatara. Hiasan yang didominasi bunga mawar putih dan merah muda itu telah menyulap ruangan bak taman bunga.


Zikra yang tidak mau turut campur dengan masalah acara pernihakannya dengan Tara, memilih diam dan melihat saja dengan acuh. Karena orang-orang suruhannya sudah berhasil melacak keberadaan Syifa saat ini. Tanpa menunggu diberi tahu oleh Tara. Sesuai isi kesepakatan yang mereka setujui. Tara akan memberi tahu keberadaan Syifa tepat setelah acara ijab kabul diikrarkan di depan penghulu. Makanya dia sudah berencana bersama orang-orangnya akan menjemput Syifa, tepat pada hari pernikahannya yang akan terjadi besok siang.  Dengan demikian Zikra tidak mesti menikahi gadis licik seperti Ayuniatara.


Saat ini Zikra tengah berada di dalam hotel di Bandung. Setelah melihat dekorasi acara pernikahannya dia bertolak ke kota kembang tadi sore. Dalam hati tidak henti-hentinya dia berdoa dan berzikir agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menemukan Syifa. Rencananya besok pagi mereka semua akan meluncur ke rumah yang selama ini menampung Syifa.


Malam telah larut. Namun kedua mata Zikra terasa sepat dan tidak bisa tidur. Pikirannya hanya tertuju pada rencana besok. Tidak sabar rasanya menjumpai belahan jiwanya yang selama ini menghilang. Untuk sementara rencananya memang hanya terfokus menemui Syifa. Untuk melaporkan kasus kejahatan Haryanto Atmaja dan Tasya baru dipikirkannya setelah semuanya rampung. Juga memberi tahu orang tua Hani fakta kematian putri kesayangan mereka.


*


Pagi telah menjelang. Zikra sudah rapi dengan stelan jas hitamnya. Debaran jantungnya terasa tak menentu seperti remaja yang akan menjumpai pacarnya yang akan melakukan kencan untuk pertama kalinya. Senyum semringah terus saja tersungging tanpa kontrol.


Setelah sarapan pagi Zikra dan rombongan yang terdiri dari tiga mobil sedan hitam langsung meluncur ke TKP. Sangat di sayangkan jalan menuju lokasi tidak bisa dilalui oleh mobil. Hanya bisa dilalui dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Kemudian Zikra memutuskan menyewa ojek yang kebetulan sedang mangkal di bibir gang. Sayangnya hanya tersedia tiga orang tukang untuk tiga orang penumpang. Itu artinya Zikra hanya bisa mengajak dua orang saja untuk ikut serta dengannya. Karena dia tidak mungkin meminta yang lainnya berlari atau jalan kaki mengejarnya.


Akhirnya Zikra memutuskan dua orang yang ikut dengannya yaitu Derry, dan salah seorang di antara orang-orang suruhannya yang tahu medan pencarian mereka. Sisanya menunggu di mobil.


Setelah menempuh jarak beberapa kilo meter, tibalah mereka di depan sebuah rumah bilik sederhana. Zikra langsung turun dari boncengan motor yang ditumpanginya. Menatap nanar rumah itu. Diikuti Derry dan salah seorang anak buahnya.


Sayang... aku datang menjemputmu... bisik batin Zikra lirih. Matanya terlihat basah menahan haru yang tiba-tiba saja menghampiri hatinya.


*


Ayuniatara sudah tampak cantik mengenakan kebaya putih, dengan roncean bunga melati yang tersusun indah dan menjuntai dari atas kepalanya. Dia sengaja memilih konsep klasik pada acara pernikahannya. Memakai kebaya dan kain batik prada pada roknya. Serta sanggul di belakang kepalanya lengkap dengan kembang goyang sebagai hiasan. Wajah cerah dan senyum menawan tersungging dibibir merah meronanya.

__ADS_1


Namun ekspresi wajahnya mendadak gelisah saat Zikra belum juga kelihatan batang hidungnya menjelang acara ijab kabul dilaksanakan. Padahal semua tamu undangan serta kedua orang tua Zikra sudah hadir di tempat acara.


Aini tampak sibuk di depan gedung. Dia terlihat frustasi saat berkali-kali gagal menghubungi seseorang. Nyaris ponsel di tangannya terlempar ke atas lantai saking kesalnya. Tetapi urung dilakukan saat Mama memintanya masuk ke dalam ruangan. Dengan malas dia mengikuti perintah Mamanya.


"Fatir... Fatir... dimana kamu? Acara akad nikah kita akan segera dimulai." pekik Ayuniatara di dalam hati gelisah. Dia berjalan bolak-balik di dalam kamar hotel yang dipesannya khusus untuk malam pernikahannya bersama Zikra, sambil menempelkan ponsel di telinganya.


Di tempat lain Tasya tersenyum sinis melihat penderitaan kakak tirinya.


"Heh! Akhirnya rencanamu gagal Mbak, tanpa aku harus turun tangan." batin Tasya senang.


*


Zikra masih menunggu di depan rumah itu. Rumah yang tampak sepi seakan tak berpenghuni. Entah sudah berapa kali anak buahnya dan Derry mengetuk pintu dan memberi salam. Tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang manusia pun di dalamnya.


"Maaf, bapak-bapak sekalian siapa?" tanya seorang perempuan yang kebetulan lewat di depan rumah itu menggunakan bahasa sunda.


Tentu saja Zikra dan Derry tidak mengerti. Keduanya tampak planga-plongo seperti orang ****. Untunglah anak buah yang ikut mereka bisa berbahasa sunda. Dan berhasil mengorek keterangan seputar keberadaan penghuni rumah.


Setelah itu Zikra dan Derry yang dipandu oleh anak buahnya menuju lokasi yang ditunjukkan perempuan tadi dengan berjalan kaki.


Cukup lama mereka bertiga berjalan menyusuri jalan kecil. Melewati beberapa rumah penduduk yang tidak terlalu padat. Udara sejuk khas pegunungan masih terasa, meskipun hari sudah tidak pagi lagi.


Langkah panjang ketiga lelaki itu kini mulai memasuki areal perkebunan teh. Sepanjang mata memandang hanya ada tanaman hijau dan sejenisnya.

__ADS_1


*


Tidak lama berselang muncul sekelompok ibu-ibu pemetik teh. Mereka tengah berjalan bergerombol masih memakai topi caping di kepala, dan keranjang yang biasa digunakan untuk wadah penyimpanan daun teh yang telah mereka petik di punggung. Tetapi sekarang keranjang itu sudah kosong.


Sekelompok ibu-ibu itu tengah asyik berbincang-bincang mengisi perjalanan pulang mereka. Mereka yang terdiri dari tujuh orang itu terlihat memiliki usia yang hampir seumuran. Tetapi ada salah satu di antara mereka yang usianya tampak lebih muda dari yang lainnya. Dia hanya diam mendengarkan obrolan di antara ibu-ibu yang menggunakan bahasa Sunda.


"Eh, itu ada tiga orang lelaki ganteng di situ." decak salah seorang di antara mereka kagum menggunakan bahasa Sunda.


"Iya atuh. Kasep pisan." sahut yang lain menimpali.


Sontak mereka tertawa yang disambut oleh ibu-ibu yang lain. Mereka terus saja memuji kegagahan dan ketampanan ketiga lelaki itu. Terutama Zikra yang sangat mencuri perhatian mereka.


Zikra langsung memusatkan pandangannya pada sekelompok ibu-ibu pemetik teh yang tidak jauh dari tempatnya berada. Memindai satu per satu para wanita itu. Berharap ada seseorang yang sedang dicarinya terselip di sana. (Hahahah 😆😆🤭🤭 udah kaya kertas aja nyelip)


Bersambung...


***


🙋 Hai readers... 🙏 maaf ya update yang episode ini mengalami kesalahan. Cerita ini udah selesai author revisi. 🙏 Mohon juga kalo ada salah bahasa dan penulisan bahasa Sunda. 🙏 Harap maklum author bukan orang Sunda 🤭🤭.


Jangan lupa untuk kasih vote, like n komen positif yang selalu author tunggu.


❤️❤️ Luv u all... 🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading... 🤗😁✌️🥰


__ADS_2