
Syifa masih terpaku pada pemandangan diluar jendela mobil yang zikra kemudikan. Angannya masih melanglang buana ke dunia sana. Bayangan kebersamaan yang pernah dilalui bersama Ayah, Bunda dan Ade menari-nari di dalam benaknya. Suara senda gurau dan canda tawa Ade pun masih terngiang di telinganya. Tetapi air matanya mendadak tumpah jatuh ke pipi, saat teringat ucapan Ade di telepon tadi.
“Ada apa?” Syifa terhenyak dari lamunannya mendengar pertanyaan Zikra, seakan memecah keheningan yang tanpa sadar tercipta akibat kesedihan yang melanda hatinya. Kontan ia menoleh mendengar teguran dari Zikra sambal menyentuh lembut tangan kanannya.
"Masih kepikiran?" pandangan mata Zikra dan Syifa bertemu walau hanya sekilas. Setelah itu Zikra kembali melihat ke arah jalan di depan agar tetap stabil dalam mengemudi.
Syifa mengangguk pelan menjawab pertanyaan Zikra.
"Udah, kamu enggak usah banyak pikiran. Aku udah mengirim orang ke Batam untuk mencari Ayah dan Bunda juga Ade di sana. Kamu doakan aja supaya mereka semua cepat ditemukan, dan bisa berkumpul lagi denga kita di sini." hibur Zikra memberi motivasi dengan diaminkan Syifa.
Langit telah menggelap ketika Zikra menepikan mobilnya di areal parkir sebuah restoran masakan eropa. Dia berencana untuk makan malam di sini. Sejak menikah dan hidup bersama Zikra hampir tidak pernah memanjakan Syifa makan malam di luar. Karena setiap hari Syifa selalu menyiapkan makan malam untuknya. Berhubung saat ini gadis itu tengah galau, tidak ada salahnya dia mengajaknya ke restoran mahal, anggap saja sebagai bentuk perhatian untuk menghiburnya agar tidak terlalu sedih.
"Kita ke sini?" tanya Syifa heran.
"Iya. Karena aku lapar." sahutnya ringan.
"Bukan. Maksud aku ... kenapa kita ke sini? Disini kan tempatnya elit banget. Pasti mahal-mahal harga makanannya." jelas Syifa khawatir.
"Jadi, maksud kamu ... aku ... enggak mampu bayar kalo makan disini?" Zikra menunjukkan tatap dinginnya membuat Syifa tidak enak hati. Seakan telah menyinggung harga diri Zikra.
"Eh, hmm ... maksud aku ... enggak gitu juga sih, cuma ..." Syifa tampak bingung mengungkapkan pikirannya.
"Tenang aja, kamu enggak usah khawatir. Kalo uang aku kurang buat bayar tagihan, aku bawa KTP kok." Zikra menyeringai genit.
Syifa terperangah mendengar jawaban terakhir Zikra hingga tanpa sadar mulutnya terbuka. Ia hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang Zikra yang memiliki mobil mewah berpikiran akan menjaminkan KTPnya untuk membayar tagihan di restoran berkelas yang ada di depannya.
"Ayo kita masuk!" Zikra menggandeng tangan Syifa beranjak masuk ke dalam restoran. Namun Syifa menahannya hendak membujuk untuk berpindah restoran yang harganya cukup terjangkau.
"Kamu tenang aja, enggak pake khawatir gitu. KTP aku udah berlaku seumur hidup kok." goda Zikra sambil mengerlingkan mata. Lalu menuntunnya masuk ke dalam.
"Tapi Zik ... kalo disuruh cuci piring gimana?" tanya Syifa polos dengan nada khawatir.
"Ya ... cuci aja yang bersih. Enggak masalah kan?" lagi Zikra menjawab dengan entengnya kian membuat Syifa ketar-ketir.
Di depan pintu ada seorang pelayan berseragam rapi membukakan pintu Syifa dan Zikra sambil menundukkan kepala hormat.
"Selamat datang." ujarnya mempersilakan masuk. Diam-diam Zikra memberi isyarat dengan jari telenjuk yang ditempelkan di bibirnya, agar pelayan itu tidak buka suara hendak menyapanya sebagai boss pemilik restoran.
Zikra membalasnya dengan anggukan. Dengan santainya dia menggandeng Syifa melenggang masuk menuju deretan meja yang terletak agak ke pojok dekat dengan jendela. Sementara Syifa tengah ketar-ketir memikirkan apa yang akan terjadi setelah makan malam ini. Mereka duduk saling berhadapan dengan dipisahkan oleh meja bundar beralaskan tamplak meja nerwarna pastel.
Syifa mendengus berat. Wajahnya tampak memucat. Kesunyian membungkam mulutnya. Zikra hanya menyeringai kecil melihat ekspresi wajah istrinya. Dia seakan menikmati kecemasan yang terpancar dari sorot mata Syifa. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di restoran sampai duduk di meja ekspresi wajah gadis itu terlihat tegang.
"Hahaha. Udah, jangan tegang gitu dong," akhirnya tawa Zikra pecah. Lama kelamaan dia tidak tega melihatnya seperti itu. "masa makan di restoran mewah muka kamu kelihatan enggak senang, malah kaya orang ketakutan seperti berada di kompleks pekuburan."
"Zik ..." belum sempat Syifa melanjutkan ucapannya, tiba-tiba seorang pelayan datang menyapa lalu menyodorkan buku menu satu per satu pada Zikra dan Syifa.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Zikra agar Syifa memilih makanan yang disukainya. Namun melihat daftar menu yang juga daftar harga disetiap gambarnya membuat Syifa meneguk salivanya dengan susah payah untuk membasahi tenggorokan yang mendadak terasa kering.
__ADS_1
Wah... mahal banget harganya. batin Syifa memelototi setiap gambar yang terdapat pada buku menu ditangannya sambil memegang erat ujung buku daftar menu.
"Sayang... Syifa..." Zikra sengaja memanggilnya setelah beberapa kali mengabaikan pertanyaan pelayan tentang menu yang ingin dipesannya. Sontak Syifa terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Zikra.
"Ya?" sepasang mata indah Syifa menyembul dari balik buku menu yang ada di tangannya.
"Maaf Mbak, mau pesan apa?" pelayan itu mengulang pertanyaannya untuk yang ketiga kalinya. Pasalnya Syifa tidak memperhatikannya. Ia terlalu fokus memperhatikan daftar harga makanan yang ada di dalam buku menu. Bahkan ia sampai tidak menyadari bahwa orang yang ada di dalam restoran itu hanya dirinya dan Zikra.
Zikra sengaja mengosongkan restoran yang telah dirintisnya sejak di bangku kuliah bersama seorang temannya. Meskipun dia banyak berada di belakang layar, namun memiliki andil yang besar untuk kemajuan restoran itu. Awalnya dia ingin mengatakan langsung tentang kepemilikan restoran itu pada Syifa. Berhubung dia sangat suka melihat ekspresi wajah takut dan khawatir gadis itu, jadi sekalian sedikit menjahilinya.
Sejak kecil Syifa tidak pernah dimanjakan oleh kedua orang tuanya makan di restoran berkelas internasional seperti restoran yang sedang disambanginginya. Bukan karena pelit atau tidak mampu kedua orang tuanya hanya ingin menanamkan hidup sederhana. Dengan banyak bersyukur atas apa Yang Maha Kuasa telah berikan kepada mereka. Namun Ayah pernah mengajaknya makan di restoran, walau bukan restoran sebonafide saat ini. Setidaknya Syifa pernah makan di restoran sebelumnya.
"Ah, aku pesan nasi putih sama tempe goreng atau tempe mendoan, dan ... tahu berontak. Minumnya teh tawar aja. Hehehe." ujar Syifa yang diakhiri kekeh kaku. Yang ditanggapi kernyitan dalam oleh pelayan yang masih berdiri di samping mejanya.
Apa?! Tempe goreng atau tempe mendoan, dan tahu berontak? Dia kira ini warteg apa? batin pelayan itu tidak percaya.
Zikra tertawa tidak menyangka Syifa akan sepolos itu. "Sayang, di sini enggak ada menu seperti itu."
Wajah Syifa tampak pias menahan malu. Ia hanya terdiam.
"Ya udah, aku yang pesan aja ya." Zikra langsung menyebutkan beberapa menu makanan termahal yang ada di restoran dan paling digemari oleh kebanyakan pengunjung di sini.
Pelayan itu langsung pergi setelah mencatat dan mengulang pesanan yang Zikra pesankan.
Lama kelamaan Zikra tidak tega melihat rona merah yang menjalar di wajah Syifa karena malu. Dengan lembut dia meraih tangan Syifa dan menggenggamnya sayang. Ada sedikit kesedihan dan kemarahan yang terselip di sudut matanya. Ia hanya memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela.
Syifa menghentakkan tangannya untuk menepis tangan Zikra. Namun Zikra tidak melepaskannya. Lalu mencium punggung tangan Syifa hangat. Gadis itu masih diam tidak ingin berbicara.
"Maafin aku ya sayang, sori ... aku enggak ada maksud bikin kamu malu apalagi kesal." Zikra menatap wajah Syifa dengan intens.
"Ah... Aku mau pulang aja." rajuk Syifa tampak marah bangkit dari tempat duduknya. Buru-buru Zikra ikut bangkit dan menahan kepergian Syifa.
"Plis, plis, plis, aku minta maaf."
Tanpa sadar Syifa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran megah itu. Dahinya mengernyit heran. Ia pun terkejut saat baru menyadari hanya tidak ada pengunjung lain selain dirinya dan Zikra.
"Lho!" mata Syifa membulat. Zikra mengikuti arah pandangan mata Syifa.
"Ada apa?"
"Kok restorannya kosong? Disini cuma kita berdua doang?"
"Iya."
"Kok bisa? Emangnya restoran ini mau bangkrut ya?" Syifa tampak asal bicara.
"Enggak bangkrut kok."
__ADS_1
"Tapi ..." Syifa melanjutkan ucapannya dengan gerakan tangannya.
"Aku sengaja membuking restoran ini, supaya bisa menikmati makan malam berdua tanpa ada seorang pun yang mengganggu kebersamaan kita." sahut Zikra jujur. Mendekatkan tubuhnya pada Syifa sambil mengelus puncak kepala istrinya itu.
Syifa terbeliak kaget. Ia hampir speechless dan tidak percaya.
"Ma-mana mungkin?"
"Mungkin aja," sahutnya ringan mendudukkan Syifa pada tempatnya semula. Syifa tidak menolak hanya duduk patuh di atas kursi sambil mendongakkan wajahnya mengikuti pergerakan Zikra.
"Mungkin aja jika aku adalah pemilik restoran ini." Zikra duduk di kursinya kembali.
Syifa belum mampu mencerna ucapan Zikra dengan sempurna. Sambil sedikit memiringkan kepalanya ia mencoba untuk memahami. Tapi rasanya buntu.
"Maksudnya?" Syifa meminta penjelasan.
Zikra tersenyum menatap sepasang manik mata Syifa yang indah. Meraih dan menggenggam erat tangan istrinya hangat. Kemudian dia mengakui bahwa restoran ini adalah miliknya bersama seorang temannya. Dia pun menceritakan semua perjalanan dalam mendirikan restoran yang dimulainya dari nol.
Tetapi baru-baru ini temannya ingin melepaskan restoran ini karena ingin menetap di luar negeri. Maka mau tak mau Zikra harus memutar otak agar restorannya tetap jalan, urusan kantor juga bisa mulus.
"Dasar jahat kamu!" Syifa tampak sewot sambil menepis kasar tangan Zikra.
"Lho! Kok aku dituduh jahat sih?" Zikra terkejut dengan perubahan sikap Syifa yang mendadak jutek.
"Iya. Karena kamu udah tega ngerjain aku dari awal. Coba kamu bilang dari awal, aku enggak bakalan parno sewaktu kamu mau jaminin KTP kamu buat bayar makanan di restoran semahal ini."
"Maaf, maaf, iya aku ngaku deh, aku jahat," Zikra membujuk Syifa agar tidak marah. "tapi kamu tetap senang kan punya suami kaya aku. Udah ganteng, rajin bekerja, rajin nabung, punya restoran pula lagi." lanjutnya sangat membanggakan diri sendiri.
"Ih! Narsis kamu!"
"Tapi, emang benar kan?" goda Zikra sukses mengukir senyum di bibir penuh Syifa.
Tidak lama berselang. Pelayan datang mengantarkan makanan yang telah dipesan Zikra. Lalu menyajikannya di atas meja.
Tanpa menunggu lama Zikra dan Syifa sambil berbincang dan bersenda gurau, menikmati makan malam yang bisa dibilang cukup romantis. Meskipun tanpa cahaya lilin menyertainya.
*
Pada waktu yang bersamaan. Di dalam rumah kontrakan kecil Fauzi terbaring lemah di atas kasur matras. Sudah empat bulan lamanya pria berkumis dan berjenggot itu menderita stroke ringan. Separuh tubuhnya yang kiri lumpuh. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghidupi keluarganya selama diperantauan. Itulah sebabnya dia juga tidak bisa memberikan uang untuk Syifa. Apalagi pergi untuk menjemput Syifa di Bekasi.
Penyesalan memang selalu ada diakhir. Karena jika ada diawal namanya pendaftaran. Rasa sesal yang tidak ada ujungnya terus sama menghantui pikiran Fauzi. Dia hanya bisa berandai-andai untuk menghibur hatinya yang sedih. Ya, seandainya waktu itu dia tidak tergiur dengan bujuk rayu seorang kawan lamanya yang menawarinya pekerjaan di perusahaan besar di Batam dan memiliki jabatan yang menjanjikan. Mungkin nasibnya tidak akan sesial ini. Seakan terdampar di daerah antah berantah.
Fauzi sangat tergiur kala itu hingga berani menempuh resiko yang tidak ringan. Dengan iming-iming yang belum jelas kebenarannya, dia berani menggelontorkan sebagian besar uang tabungannya kepada kawannya itu, agar bisa mengurus segala kebutuhannya selama tinggal di Batam nantinya. Namun setelah kedatangannya di Bandar Udara Internasional Hang Nadim bersama istri dan anaknya, kawannya tidak kelihatan batang hidungnya.
Tentu saja Fauzi sangat kecewa dan marah menghadapi kenyataan itu. Dia telah ditipu mentah-mentah. Semua yang dijanjikan kawannya nihil. Bahkan alamat perusahaan yang diberikan hanyalah fiktif.
Dua bulan tinggal di Batam tanpa pekerjaan jelas membuat Fauzi frustrasi. Dia sangat malu terhadap istri dan anaknya. Apalagi terhadap Syifa, Zikra dan Surya. Dia sudah tidak memiliki muka dihadapan mereka semua. Untunglah ada istrinya yang selalu memberi semangat dan dorongan terhadapnya agar tetap tegar. Bahkan wanita yang telah memberinya sepasang putri dan putra padanya bersedia membantunya mencari uang agar bisa kembali ke Bekasi.
__ADS_1
Bersambung ...