Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Secercah Cahaya Harapan (Part 2)


__ADS_3

Zikra terduduk lemas di meja makan seraya meraup kasar wajahnya. Mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk. Sepasang netra matanya langsung menatap pintu kamar mandi di dekat dapur, yang kebetulan berada lurus dari tempat duduknya.


Entah mengapa dia merasa harus mencari sekali lagi di dalam kamar mandi itu. Padahal sebelumnya dia sudah memeriksanya. Tapi... rasa penasarannya menuntunnya untuk mencari lagi. Seakan ada celah yang terlewat dari jangkauannya.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya netranya menemukan satu benda asing kecil, berwarna putih tulang berbentuk memanjang. Benda itu tergeletak begitu saja di lantai kamar mandi yang kering, di bawah yang menjorok belakang kloset duduk. Tanpa menunggu lama Zikra langsung memungutnya.


"Apa ini?" Zikra mengerutkan dahi melihat ada dua garis merah tertera di bagian tengah benda yang panjangnya tidak lebih dari sepuluh senti meter. "aneh. Kok ada benda seperti ini ya?" dia tergelak menertawan bentuk benda di tangannya.


Nyaris Zikra membuang benda itu ke dalam tong sampah, bila tidak teringat ucapan Mama Dio tadi. Wanita itu sempat menjelaskan cara kerja alat tes kehamilan yang dulu pernah diberikannya kepada Syifa.


Bila muncul garis satu artinya negatif. tapi jika muncul garis dua hasilnya positif. Itu artinya Teteh hamil.


Zikra menangis seketika itu juga. Dia menangisi kepergian istri dan calon anaknya yang belum lahir ke dunia.


Tiba-tiba Zikra terkesiap dari lamunannya ketika sehelai kertas meluncur begitu saja dari genggamannya. Kertas itu terselip di antar kertas-kertas laporan mengenai tes DNA Syifa setelah menjalani otopsi jenazah. Dia memungutnya dari atas lantai. Pada kertas itu tercetak gambar seorang gadis dengan keterangan,


DICARI ORANG HILANG


HANI HANDAYANI


MAHASISWA UNIVERSITAS XX


TINGGAL DI PERUM PERMATA, BEKASI


USIA: 20 TAHUN


TINGGI: 168CM


WARNA KULIT PUTIH

__ADS_1


HILANG SEJAK 12 NOVEMBER 2019


NOMOR YANG DAPAT DIHUBUNGI 0821XXXXXX- 0815XXXXX


Satu bulan lalu


Saat itu Zikra dalam perjalanan kembali ke kantor bersama Derry. Kemudian mobil yang dikemudikan Derry berhenti di perempatan jalan saat lampu lalu lintas yang menggantung di atas jalan raya berwarna merah. Sambil menunggu lampu berwarna hijau tanpa sengaja Zikra melihat seorang perempuan seusia Mamanya dari jendela mobilnya yang tertutup.


Wanita itu tampak tergesa menghampiri para pejalan kaki yang dijumpainya dan membagikan kertas di tangannya. Dari kejauhan Zikra melihat mimik wajah sedih wanita itu. Seakan ada sesuatu yang tengah merundung di hatinya. Seulas senyum penuh pengharapan acap kali terpaksa disunggingkan di hadapan orang yang sudi menerima kertas darinya seraya mengucapkan sesuatu. Namun raut kekecewaan terpancar jelas manakala ada orang yang menolaknya.


Zikra tidak tahu kertas macam apa yang sedang dibagikan oleh wanita itu. Yang jelas bukan brosur penjualan sepeda motor atau mobil yang sering dibagikan oleh para salesman di pinggir jalan. Karena penampilan wanita itu memang tidak mirip seperti para salesman yang selalu menyodorkan brosur di pinggir jalan.


Ternyata wanita itu cukup cerdik. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya. Di saat banyak kendaraan yang berdiam di lampu merah dengan cekatan dia membagikan kertas itu satu persatu kepada para pengendara sepeda motor. Dia pun tidak sungkan mengetuk kaca jendela mobil untuk membagikan kertas yang sama.


Tok! Tok! Tok!


Kaca jendela mobil Zikra diketuk dari luar oleh wanita itu.


Zikra menerimanya ragu-ragu. Wanita itu tersenyum cerah. Namun matanya memancarkan sorot kegelisahan yang mendalam.


"Putri kami sudah satu bulan lebih belum pulang. Tolong hubungi kami dinomor yang ada di sini bila anda menjumpai putri kami." ujarnya lirih, dari nada suaranya terdengar penuh harap. "kami akan sangat berterima kasih bila anda bersedia membantu kami."


Lampu sudah berubah hijau. Perlahan mobil Zikra bergerak meninggalkan wanita itu. Tanpa menoleh Zikra memperhatikan gerak-gerik wanita itu dari kaca spion mobil. Rupanya wanita itu masih membagikan kertas di tangannya yang seakan tidak ada habisnya sambil mengucapkan kalimat penuh harapan. Dia sangat berharap anak gadis kesayangannya segera kembali kepelukannya.


Zikra terkejut melihat tanggal awal gadis itu dinyatakan menghilang. Pasalnya waktu itu bertepatan saat kecelakaan mobil yang dialami Syifa terjadi. Tiba-tiba muncul keraguan tentang kematian istrinya. Walaupun telah ditemukan dengan jelas identitas korban adalah Syifa. Tetap saja memunculkan tanya dibenak Zikra. Berawal ditemukan alat tes kehamilan milik Syifa. Kini brosur tentang orang hilang yang ternyata mahasiswi dari universitas yang sama dengan Syifa. Selain itu memiliki umur dan ciri fisik yang mirip dengan istrinya. Membulatkan tekadnya untuk melakukan pembongkaran makam dan otopsi jenazah yang selama ini diduga Syifa.


Drrzzt... drrzzt...


Ponsel Zikra bergetar di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia sengaja mengaktifkan mode silent pada ponselnya agar tidak terganggu dengan suara-suara notifikasi yang masuk. Derry menghubunginya.

__ADS_1


"Halo, Der... ada apa?" tanya Zikra sambil meletakkan semua kertas yang ada digenggamannya di atas kasur.


"...."


"Bagus. Pantau terus pergerakan mereka. Jangan biarkan mereka lolos dengan mudah." ujarnya dingin. Kemudian mengakhiri sambungan teleponnya. Meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula.


Zikra beranjak dari tempat tidurnya. Beralih menuju laci meja rias yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya. Membukanya perlahan nyaris tidak ada suara gesekan yang terjadi. Ada sebuah kota terbuat dari bahan beludru biru tua. Panjangnya kira-kira lima belas senti meter.


Sebelum membuka kotak itu dia kembali duduk di pinggir tempat tidurnya. Kotak itu pun dibuka pada akhirnya. Bibirnya melengkung ke bawah membentuk garis senyum. Matanya basah menatap isi dalam kotak itu. Sebuah benda tidak bernyawa namun karenanya dapat memprediksi ada benda bernyawa yang bersemayam di dalam perut seorang wanita. Ya, itu adalah alat tes kehamilan yang pernah digunakan Syifa.


"Sayang... bertahanlah di perut Mamamu. Jadilah janin yang kuat agar saat Papa menemukan Mamamu kau tumbuh dengan sehat. Bersabarlah, sebentar lagi Papa akan menemukan Mamamu juga kamu. Setelah itu kita akan hidup bersama menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia ini." ujar Zikra lirih kepada tes pack itu. Seolah-olah sedang berbicara pada janin yang tengah bersemayan di dalam rahim Syifa.


Zikra menyeka air matanya yang meluncur bebas di sudut matanya. Setelah itu mencium tes pack itu lembut. Meletakkannya di samping bantal yang akan digunakannya tidur nanti.


Sekarang Zikra beralih pada potret Syifa dan dirinya yang selalu ada di atas nakas. Membelai permukaan kaca pada potret itu lembut.


"Sayang... apakah kamu tahu kalo aku selama ini sangat, sangat merindukanmu. Rinduku sangat besar dan berat kepadamu. Mungkin lebih besar dari gunung Uhud. Dan lebih berat dari apa pun juga." ujarnya lirih. Suara baritonya terdengar bergetar menahan tangis akan pecah. Namun dia menahannya agar tidak terkesan cengeng.


"Sayang... apakah selama ini kamu rindu aku? Aku berharap rindumu sama besar dan berat seperti yang aku miliki. Aku... rindu melihat wajahmu, senyummu, tawamu, marahmu, dan aroma tubuhmu. Aku selalu berharap kau di sana baik-baik aja bersama calon anak kita. Aku berjanji akan menemukanmu dan melindungimu dari apa pun jua."


Air matanya menetes tepat di atas potret wajah Syifa.


"Sayang... I love you so much... muah..." Zikra mengecup potret Syifa dengan lembut. Lalu memeluknya erat.


Bersambung...


*********


🙋 Hai readers... sampai di sini dulu updatenya ya... jangan lupa selalu vote, like n komen supaya author selalu semangat 💪 mengupdate cerita cinta antara Syifa dan Zikra. Jangan lupa juga kunjungi cerita author yang lain, 'KESENGSEM CINTA KEMBAR'. 🙏Terima kasih untuk para readers yang selalu setia membaca cerita ini. ❤️❤️ Luv u all....

__ADS_1


Happy reading... 🤗😁✌️


__ADS_2