
Ade berdiri di balik tirai jendela rumah kontrakan kecil yang ditinggalinya bersama Ayah dan Bundanya. Tatapannya terasa panjang ke luar jendela. Terselip rasa cemas di hati bocah itu bila memikirkan Bunda yang belum kembali sementara hari sudah beranjak malam. Ada pula harap yang tertanam di benaknya, bilakah Bunda pulang membawa nasi bungkus yang biasa disantapnya setiap hari.
Sejak Ayah sakit dan tidak bisa pergi kemana-mana, Bunda menjelma sebagai tulang punggung keluarga, mencari nafkah demi sesuap nasi. Wanita itu bekerja di sebuah rumah mewah milik Pak Gunawan sebagai seorang pembantu rumah tangga.
Awalnya Fauzi menentangnya, tetapi dengan kondisi yang tidak memungkin untuk melakukan sesuatu, maka mau tidak mau dia terpaksa menyetujuinya.
Pak Gunawan adalah orang yang baik. Pria hartawan dan dermawan itu sudah membantunya beserta suami dan anaknya bisa meninggalkan kota Batam. Kemudian hijrah ke kota hujan, Bogor. Karena rumah Pak Gunawan di sana.
Senyum Ade mengembang saat orang yang dinantinya telah kelihatan batang hidungnya. Buru-buru membuka pintu menyambut kedatangan Bunda. Tanpa disuruh dia langsung mengambil kantong kresek yang dibawa Bunda, dibawanya masuk ke dalam. Rupanya kantong kresek yang dibawa Bunda lumayan berat hingga Ade harus cukup bersusah payah membawanya.
Bunda tersenyum melihat tingkah polah putra bungsunya itu.
Ayah membuka matanya setelah mendengar suara pekikan Ade yang sedang berusaha membawa kantong kresek di tangannya. Dia tersenyum getir acap kali melihat wajah lelah istrinya. Dulu, istrinya yang selalu menyambutnya pulang setelah seharian bekerja di kantor dengan raut ceria. Kini, raut ceria itu berubah pias dan lelah namun masih menunjukkan semburat keceriaan. Mungkin untuk menghibur dirinya agar tidak terlalu merasa terbebani dengan kondisi yang ada.
Bunda langsung mendekati Ayah. Membantunya beranjak duduk meskipun harus bersusah payah.
"Ayah, ayo kita makan malam bersama." ujar Bunda dengan senyum terbaiknya. Ayah mengangguk patuh.
Ade mengambil piring dan sendok di lantai tidak jauh dari tempat Ayah berbaring. Tidak lupa gelas dan teko plastik telah diletakkan juga.
"Maaf, Ayah tidak bisa menjadi suami dan ayah yang berguna." ujar Ayah lirih.
"Ayah, Ayah jangan ngomong seperti itu. Bunda ikhlas melakukan ini semua. Ayah yang sabar ya," sahut Bunda lirih sambil memeluk bahu kiri Ayah dan mengelusnya sayang. "insya Allah, kepahitan ini Allah ganti dengan jutaan rasa yang manis."
"Terima kasih Bunda. Karena Bunda masih mau hidup bersama orang yang tidak berguna ini." air mata Ayah jatuh tanpa rasa malu.
Bunda pun ikut bersedih. Namun dia tidak menunjukkannya. Dia memberikan senyum terbaiknya agar suaminya tidak patah arang.
"Ayah sama Bunda kok nangis? Kenapa?" tanya Ade polos.
"Tidak. Siapa yang nangis? Ayah sama Bunda tidak nangis kok." kilah Bunda cepat sambil menyeka air matanya dengan jarinya.
Ayah tersenyum malu ketahuan sedang menangis ole putranya.
"Terus kenapa Ayah sama Bunda keluar air mata?" tanyanya lagi penasaran.
"Oh, tadi Ayah sama Bunda kelilipan debu. Jadi matanya Ayah sama Bunda berair deh." tukas Bunda cepat.
Ade yang masih kecil dan polos langsung percaya begitu saja.
*
Syifa dan Zikra kembali masuk ke dalam mobil setelah selesai makan malam di restoran. Menyusuri jalan membelah jalan raya yang cukup padat namun tidak terjebak macet.
"Lho, kita mau kemana?" tanya Syifa heran ketika Zikra tidak mengambil jalan arah ke rumah. "seharusnya kita enggak lewat sini kan?"
Zikra tersenyum kecil membiarkan istrinya bingung sendiri. Dia sengaja tidak mengatakan semua rencananya hari ini kepada Syifa dengan niatan memberi kejutan padanya. Sudah waktunya istrinya itu mengetahui semua aset yang dimilikinya. Toh, tujuan memperkaya dirinya sendiri dengan bekerja keras sejak usia sangat muda adalah agar dapat mendapatkan hidup lebih tanpa kekurangan satu apa pun untuk dinikmatinya bersama istri dan anak-anaknya kelak.
Zikra sadar selama menikahi Syifa, dia belum memberikan gadis itu kebahagiaan yang banyak. Terutama masalah finansial. Dia akui Syifa adalah gadis sederhana yang tidak pernah neko-neko. Mandiri dan dewasa. Oleh sebab itu, Syifa pernah diam-diam bekerja di sebuah mini market untuk menambah uang saku dan biaya kuliahnya sendiri. Dan yang paling Zikra tidak pernah habis pikir adalah gadis itu merasa berhutang padanya yang notabene suami yang berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya. Ketika itu Syifa seperti orang kesurupan menghabiskan hampir semua uang belanja bulanan yang diberikan Zikra. Kemudian dengan inisiatif sendiri Syifa mau mengganti semua uang itu dari hasil jerih payahnya bekerja di sebuah mini market yang ternyata milik Panji.
Kali ini Zikra ingin menunjukkan pada Syifa bahwa dia mampu menghidupinya dengan harta yang cukup. Tanpa membuatnya ketar-ketir takut kekurangan uang. Syifa cukup duduk manis dan mengerjakan sesuatu sesuai keinginannya dengan suka cita. Dia tidak ingin melihat istrinya bersusah payah mencari rupiah untuk mengisi sakunya.
Tinn! Tinn! Tinn!
__ADS_1
Zikra membunyikan klakson mobilnya di depan pintu gerbang rumah yang menjulang tinggi dan besar. Tidak berselang lama, seorang lelaki paruh baya tergopoh-gopoh membukakan pintu lebar-lebar. Zikra langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat bergerak masuk perkarangan rumah.
"Kita mau ngapain ke sini? Bukannya kita mau pulang ya?" tanya Syifa heran. "apa kamu ada janji sama orang lain? Kenapa kamu enggak anterin aku pulang dulu sih?" gadis itu tampak tidak senang. Zikra hanya tersenyum kecil sambil membuka sitbelnya.
"Zik..." Syifa mulai geram karena merasa dikacangin Zikra. Memasang wajah cemberut.
"Iya sayang ..." Zikra membantu Syifa melepaskan sitbel yang sedari tadi melintang di depan dadanya. "ayo turun!" titahnya setelah membukakan pintu mobil.
"Aku enggak mau turun. Aku mau pulang titik!" Syifa menunjukkan sikap keras kepalanya.
"Iya. Kita udah sampai." sahutnya lembut.
"Hah?! Udah sampai?" Syifa terkejut tidak percaya. Buru-buru melemparkan pandangannya keluar mobil. Namun yang dilihatnya pemandangan yang terasa sangat asing.
Halaman rumah yang luas dan ditanami berbagai macam tumbuhan. Ada beberapa lampu taman yang menerangi hingga terlihat sebuah bangku taman teronggok sendiri tidak jauh dari air mancur mini berbentuk gerabah.
"Katanya udah sampai? Kok malah ke sini? Ini rumah siapa?" protesnya kecewa.
"Disini dingin, sebaiknya kita masuk dulu. Nanti akan aku jelasin di dalam." Zikra menggandeng tangan Syifa langsung mengajaknya masuk ke dalam rumah besar berlantai dua.
Seorang wanita paruh baya langsung membukakan pintu setelah mengetahui kedatangan majikannya.
"Selamat datang Den, Non." ujarnya menyapa mereka hangat yang dijawab dengan gumaman oleh Zikra dan anggukan kepala oleh Syifa.
"Syifa ini Bi Asih, tugasnya mengurus rumah ini, Dan orang yang tadi buka pintu gerbang, namanya Mang Ucup, tukang kebun sekaligus penjaga rumah." jelas Zikra. Namun dalam benak Syifa merutuk sikap Zikra yang sok jadi tuan rumah.
"Bi Asih, ini adalah Syifa istri saya." lanjutnya.
"I-iya." Syifa tampak salah tingkah mendapat sambutan seperti itu dengan senyum yang dipaksakan.
"Zik," sepertinya Zikra tidak mendengar suara Syifa. Zikra terus saja mengajaknya masuk tanpa melepaskan gandengan tangannya melewati ruang tamu. Padahal ia sudah tidak bisa menahan diri ingin mencaritahu pemilik rumah besar ini.
"Mau saya masakan apa Den untuk makan malam?" tanya Bi Asih sebelum majikannya melenggang masuk ke dalam kamarnya.
"Enggak usah Bi, kita udah makan malam di luar tadi." sahut Zikra cepat. "kami mau langsung istritahat aja."
"Baik Den. Kalo begitu saya mau langsung ke belakang aja Den." Bi Asih langsung beranjak pergi.
Lho, main selonong boy aja? Kaya kedebongan kanyut! batin Syifa menggerutu.
Syifa masih bingung tentang siapa sebenarnya pemilik rumah besar bak istana. Rumah yang memiliki design interior modern yang dilengkapi furniture mewah. Pandangan mata Syifa melihat ke sana ke mari berharap dapat bertemu si empunya rumah. Sekaligus meminta maaf atas kelancangan Zikra yang sudah berani masuk tanpa permisi.
Zikra tidak melepaskan genggaman tangannya pada Syifa sampai langkah kaki mereka memasuki sebuah kamar besar di lantai dua. Syifa mengerutkan dahi dalam. Ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan Zikra di kamar orang lain.
Eits, tunggu! Jangan bilang kalo rumah ini adalah miliknya. Seperti restoran tadi yang diklaim miliknya. Pikiran Syifa mendadak mengambil kesimpulan sendiri. Tetapi ia tidak ingin langsung mempercayainya.
Selama ini yang Syifa tahu, Zikra adalah seorang pengusaha kaya yang dibilang low profile. Zikra tidak pernah menunjukkan sikap sombong dan arogan. Bahkan saat baru lulus kuliah dia mau bekerja di perusahaan orang lain sebagai karyawan biasa. Padahal dia bisa saja bekerja di perusahaan papanya dengan jabatan tinggi.
Rumah yang mereka tempati pun jauh dari kesan mewah. Tinggal di lingkungan kelas menengah dengan rumah minimalis. Namun Syifa merasa nyaman dengan kehangatan yang ada di sana.
"Kamu pasti gerah. Mandi sana!" titah Zikra menyadarkan Syifa dari lamuannya. Kini Zikra sudah melepaskan gandengan tangannya.
"Mandi?" Syifa mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa? Enggak mau mandi? Mau langsung tidur aja?"
Syifa terdiam berusaha mencerna kalimat yang meluncur dari bibir Zikra.
"Atau... kamu mau aku mandiin?" goda Zikra dengan senyum jahil.
"Dasar cowok mesum! Siapa juga yang minta dimandiin? Dasar PDOD!" sungut Syifa.
"PDOD? Apa itu?" Zikra meminta penjelasan.
"PERCAYA DIRI OVER DOSIS!"
Zikra tergelak melihat ekspresi wajah menggemaskan Syifa. Dia ingin sekali segera melayangkan satu ciuman hangat di bibirnya yang ranum.
"Terus, kamu maunya gimana?"
"Aku mau kamu jujur, siapa sebenarnya pemilik rumah ini? Kenapa kita bisa langsung masuk tanpa menemui pemilik rumahnya?" Syifa tampak serius sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oh ..." Zikra menghembuskan nafas seraya menganggukkan kepala pelan. Berjalan mendekati Syifa dan saling berhadapan. "baik." seulas senyum tersungging diujung bibirnya. Tangan kanannya sibuk mengelus surai panjang Syifa.
Syifa sabar menunggu penjelasan Zikra. Meskipun ia sedikit risih lantaran jaraknya dengan Zikra terlalu dekat.
"Kalo kamu ingin ketemu pemilik rumah ini, jawabannya udah." sahut Zikra tenang.
"Siapa? Bi Asih? Mang Ucup?" desak Syifa tidak sabaran.
"Bukan. Tapi, orang itu ..."
"Tunggu!" seru Syifa memotong ucapan Zikra. "jangan bilang kamu lagi pemiliknya."
Zikra menarik segaris senyum. "Iya. Rumah ini milik aku, yang aku persembahkan untuk kamu."
"Hahaha. Bercanda aja kamu." Syifa terkekeh tidak percaya. Mendorong tubuh Zikra menjauh darinya. Namun pertahanan Zikra cukup kuat, tidak bersgeser barang seinci pun. Zikra menangkap tangan Syifa yang tadi digunakan untuk mendorong tubuhnya.
"Aku enggak bercanda, dan aku juga enggak sedang berbohong sama kamu. Karena apa yang aku ucapkan benar adanya. Tuhan menjadi saksinya."
Syifa terdiam dengan ekspresi terkejut.
Tangan Zikra yang lain meraih pinggang Syifa agar tubuh mereka lebih dekat lagi. Memajukan wajahnya ke wajah Syifa. Dalam hitungan detik satu ciuman hangat mendarat di bibir Syifa. Sontak gadis itu tersentak kaget. Refleks mendorong tubuh Zikra menjauh. Lalu memutar tubuhnya, memunggungi Zikra menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"A-aku mau mandi. Tapi enggak bawa baju ganti." ujarnya tanpa menoleh.
Zikra tersenyum melihat tingkah malu-malu kucing Syifa yang masih melekat padanya.
"Masalah baju ganti kamu enggak usah khawatir. Aku udah menyiapkannya. Kamu tinggal aja di dalam lemari di ruang ganti." Zikra mengacungkan jari telunjuknya mengarahkan letak ruang ganti.
Tanpa berlama-lama Syifa langsung bergerak pergi. Zikra hanya tersenyum menatap punggung Syifa yang perlahan pergi menjauhinya. Kemudian hilang di balik pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Bersambung ...
__ADS_1