Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Suami


__ADS_3

Syifa duduk sendiri di bangku halte tidak jauh dari gedung sekolahnya. Menunggu angkot berwarna orange yang memiliki bangku kosong lewat. Karena sedari tadi setiap angkot yang lewat selalu penuh. Hingga tidak ada tempat untuknya duduk.


Terkadang ia cemburu melihat murid-murid lelaki yang bisa naik angkot meskipun dalam kondisi penuh. Pasalnya mereka bisa berdiri bergelantungan dengan satu tangan di pintu angkot. Sementara Syifa tidak bisa melakukannya. Tabu rasanya anak gadis seperti dirinya berdiri bergelantungan di pintu angkot seperti kernet.


Angin sore berhembus bersamaan dengan kendaraan yang melintas. Ada sehelai brosur sebuah universitas ternama di kotanya terbang entah dari mana asalnya, lalu terhenti tepat di bawah kakinya.


Tanpa sungkan ia langsung mengambilnya. Membacanya dalam hati. Tiba-tiba air matanya menetes dan jatuh tepat di atas gambar foto model wisudawan pada brosur.


"Bisa enggak ya, gue pake toga seperti orang dalam brosur ini?" tanyanya bergumam sendiri.


Syifa sangat sadar untuk saat ini tidak ada wacana di agenda Ayah, tentang dirinya akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Terlebih setelah Uwa meninggal dunia. Ayah masih tampak sedih walaupun sudah tujuh hari berlalu. Hampir setiap hari Ayah datang berziarah ke makam Uwa.


Jangankan untuk membicarakan masa depan pendidikannya. Membicarakan hal lain pun Ayah selalu menepisnya. Pria itu terlalu larut dalam kesedihan. Hingga pekerjaannya di kantor terbengkalai. Entah bagaimana nasib karier Ayah selanjutnya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Meskipun jauh sebelum semuanya terjadi. Pernah ada obrolan tentang tempat kuliyah yang tepat untuk Syifa. Bahkan jauh sebelum ia mengiyakan pernikahannya dengan Zikra, Ayah sempat berjanji akan mengabulkan permintaannya.


"Cipa mau menikah sesuai apa yang Ayah inginkan. Tapi, Cipa ingin langsung kuliyah setelah lulus SMA," ujarnya kala itu.


Dengan entengnya pria berkumis tipis itu langsung mengiyakannya.


"Iya ayah akanmencarikan tempat kuliah yang bagus di kota ini."


Syifa mendengus pelan menyadari harapannya hanya sebatas angan, lalu hilang bersama hembusan angin.


Entah sejak kapan ada seorang pemuda telah duduk di samping Syifa. Kontan gadis itu langsung menggeser tempat duduknya menjaga jarak. Tetapi pemuda itu malah semakin mendekatkan tubuhnya dengan sengaja. Hingga ia geram dan ingin memarahinya. Syifa pun terkejut mendengar pemuda itu tiba-tiba terkekeh menertawakan kemarahannya. Serta merta ia mendongakkan wajahnya.


"Elo?" Syifa beringsut berdiri.


Senyum pemuda berkulit bersih itu masih terlihat lebar dan menawan. Tatapan matanya mengikuti gerak tubuh dara manis di hadapannya. Hingga berhasil membuat Syifa susah payah mengendalikan perasaannya.


"Maksud gue ... eh, e..." entah mengapa gadis itu terlihat sangat grogi.


"Santai aja. Enggak usah pakai gerogi seperti itu," ujarnya ringan.


Syifa terlihat salah tingkah.


"Duduklah!" titahnya, masih dengan senyum yang belum raib dari sudut bibir merah alaminya. "nanti kamu bisa tinggi lho."


Syifa pun duduk kembali.


"Aini udah pulang. Ngapain elo eh situ datang ke sini?" nama yang selama ini pantang diucapkan, akhirnya meluncur dari bibirnya.


"Oh. Aku udah tahu."


"Kalo udah tahu, ya udah sana pulang," ujar Syifa sinis.


"Aku datang ke sini bukan mau menjemput Aini," sanggah Zikra. "tapi mau menjemput istri," jelasnya menunjuk ke arah Syifa.


Syifa terbeliak kaget. Kedua alisnya terangkat ke atas.


"Istri? Siapa?" tanyanya pura-pura tidak mengerti. "gue bukan istri, tapi seorang siswi."


Zikra terkekeh melihat wajah tegang Syifa. Gadis yang telah resmi dinikahinya itu seakan sedang berusaha lari dari kenyataan. Dia pun dapat memaklumi semua sikap sinisnya. Setelah melewati drama salah faham sampai musibah yang menimpa keluarganya, menurutnya wajar bila Syifa bersikap seperti itu. Selain faktor usia yang masih muda. Mentalnya pun belum terlatih menerima segala kondisi yang sedang dihadapi.


"Sori dan makasih atas tawarannya. Tapi gue biasa pulang sendiri, juga memang udah biasa sendiri. Jadi sebaiknya elo pergi aja," tutur Syifa dingin.


"Tapi aku juga mau bilang sori, karena aku enggak bisa menuruti permintaanmu. Sebagai seorang suami aku punya tanggungjawab untuk melindungi istriku. Dan mengantarnya pulang sampai rumah." Zikra langsung memakaikan helm di kepala Syifa.

__ADS_1


Syifa yang kalah cepat, tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak sengaja ia melirik jari manis kanan Zikra terlihat masih melingkar cinciin pernikahan mereka. Tidak seperti dirinya yang sengaja tidak dipakai agar tidak ketahuan oleh semua temannya. Meskipun pada akhirnya ada yang menyebarkan foto pernikahannya.


Zikra sudah nangkring di jok motornya. Sementara Syifa masih terpatri berdiri.


"Kamu mau tunggu sampai besok baru pulang?"


"Elo serius mau nganterin gue pulang?"


"Dua rius malah. Ayo cepat naik!" serunya. "aku enggak mau buat ibu mertuaku kecewa, gara-gara telat bawa anaknya pulang."


Syifa mendengus. Dengan berat hati ia duduk di jok boncengan. Motor yang dikendarai Zikra melesat pergi membawa istrinya.


Bunda menyambut Zikra hangat. Wanita itu bahagia anak menantunya itu menerima undangan makan malam di rumah sederhananya. Ditambah dia sempat menjemput Syifa di sekolah. Seakan telah membantu mengurangi bebannya. Ade yang langsung akrab dengan kakak iparnya, mengajaknya bermain di kamarnya sambil menunjukkan semua koleksi mainan yang dimilikinya.


Syifa menunjukkan sikap tidak senangnya atas kedatangan Zikra di rumahnya. Hingga ia harus kena marah Bunda. Namun mau apalagi? Semuanya sudah terjadi. Syifa menjatuhkan diri di atas kasur. Bermalas-malasan kendati dirinya belum mandi dan masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Teteh ... cepetan mandi," titah Bunda dengan suara memekik namun volumenya sedikit dipelankan, khawatir menantu barunya mendengar. "enggak enak ada suami baru datang."


Suami? Satu kata yang terasa asing masuk ke dalam telinganya.


"Ayo Teteh ... bukannya cepat bersih-bersih, pake baju yang rapi dan wangi. Ini malah leyeh-leyeh di sini." wanita itu menyeret Syifa ke kamar mandi.


Wajah Syifa terlihat cemberut dengan bibir mencebik, mirip dompet tanggung bulan.


Makan malam telah tersedia di atas meja makan. Zikra dan Ade sudah duduk di kursi masing-masing. Keduanya terlihat masih memegang mainan sambil menunggu yang lainnya datang.


Mata Bunda mendelik saat melihat penampilan Syifa yang terlalu biasa. Kaos putih dengan motif Hello Kitty lengan pendek dan celana kulot bunga-bunga gombrang. Rambutnya pun terlihat berantakan meskiput telah dijepit dengan jepitan rambut.


"Teteh ..."


"Udahlah Bunda," rajuk Syifa seraya berlalu pergi dari wanita yang telah melahirkannya.


Zikra mendongakkan wajahnya melihat kedatangan Syifa. Dia tertegun dengan sikap cuek yang ditunjukkan gadis itu. Seulas senyum kecil menyungging di bibirnya.


"Nak Zikra, maafkan Syifa ya yang bersikap seenaknya," ujar Bunda tidak enak hati dengan menantunya.


"Apa sih, Bun? Cipa kan enggak ngelakuin apa-apa," kilahnya cepat. "ngapain minta maaf sama dia?"


"Hus! Diam kamu," sergah Bunda. "enggak sopan!"


"Enggak papa kok tante," sanggah Zikra.


"Lho, kok panggil tante sih? Panggil Bunda dong, Nak Zikra kan sudah resmi jadi suaminya Syifa."


Syifa terbatuk mendengar ucapan Bunda.


Bunda dan Zikra mengalihkan pandangannya pada Syifa.


"Teteh udah punya suami?" tanya Ade tiba-tiba. "Ade mau dong jadi suami."


"Dasar bocah ingusan," hardik Syifa.


"Teteh ..."


Syifa hanya menghela nafas berat.


Zikra melihat gadis itu takjub. Baru kali ini dia merasa tidak diistimewakan oleh seorang gadis. Biasanya setiap gadis akan berebut mencari perhatiannya. Tidak sedikit diantara mereka yang ingin menjadikannya pacar.

__ADS_1


Berkali-kali Bunda minta maaf kepada Zikra selama makan malam berlangsung. Karena sikap anak gadisnya yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Serta karena Ayah yang belum juga pulang. Meskipun sudah beberapa kali ditelepon, tetapi tidak ada jawaban.


Zikra dan Syifa beranjak ke taman kecil belakang rumah setelah selesai makan malam. Bunda membiarkan mereka berbincang untuk membangun kedekatan antara satu sama lain. Keduanya tampak kaku. Sesekali Zikra menatap gadis yang tengah duduk di ayunan. Syifa membalasnya dingin.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Zikra memulai percakapan.


"Baik."


"Baguslah." Pemuda itu berdiri di samping Syifa. Memegang tali ayunan hendak mengayunnya.


"Hari ini, foto pernikahan kita tersebar di grup sekolah gue," imbuhnya dingin.


"Siapa yang menyebarkan?" selidik Zikra mengerutkan dahi.


"Enggak tahu. Yang jelas satu-satunya teman sekolah gue yang tahu pernikahan kita cuma Aini."


"Jadi, kamu mencurigai Aini?"


"Tentu aja gue curiga sama dia. Tapi sayang, dia menyangkalnya."


Zikra terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tolong kasih tahu Aini, hubungan kita sebentar lagi berakhir. Jadi, jangan benci gue lagi," ujar Syifa lirih.


"Benci?"


"Iya. Ternyata selama ini Aini benci banget sama gue," Syifa menghela nafas panjang. Bangkit dari ayunan. Bergerak menuju bangku panjang di sudut taman. "juga kasih tahu pacar elo. Gue yakin dia pasti kecewa dan marah dengan pernikahan kita. Mungkin lebih marah dari Aini ke gue. Sori, gara-gara keluarga gue udah bikin semuanya jadi enggak enak," lanjutnya menyesal.


Zikra tersenyum kecil. Bergerak mendekati lalu duduk di samping Syifa.


"Terus, gimana tanggapan pacar kamu dengan pernikahan ini?" pertanyaan pemuda itu bagai serangan balik yang siap membombardir perasaan Syifa.


Sepasang manik mata Syifa dan Zikra tiba-tiba bertemu. Seperti waktu pertama kali mereka bertemu. Membuat dada gadis itu berdesir. Hingga menciptakan riak-riak kecil di sanubari.


"Pacar gue ... enggak usah khawatir, cowok gue tipikal orang yang pengertian. So, no problemo." Syifa terpaksa berbohong untuk meyakinkan Zikra.


"Oya?" Zikra mengangguk-anggukkan kepalanya. "cowok yang hebat."


"Tentu." senyum Syifa mengembang sempurna, namun terasa perih di dalam hatinya.


Hampir jam sepuluh malam, Zikra pamit pulang. Bunda menyorong tubuh Syifa agar mengantarnya sampai motor.


"Aku tahu kamu enggak suka dengan kedatanganku ke sini, kan? Sori, atas ketidak nyamanan yang kamu rasakan. Aku pun enggak bisa merubah wajahku menjadi seperti Komar yang kamu kejar-kejar itu."


"Komar? Siapa? Gue enggak kenal," sahut Syifa sinis seraya mengerutkan dahi.


"Masak sih kamu lupa? Itu tuh cowok yang sering kamu panggil Zikra," jelas Zikra.


Syifa langsung dapat mengingat wajah pemuda aneh yang selalu lari bila bertemu dengannya. Seketika suara tawanya pecah. Entah sedang menertawakan penampilan pemuda cupu itu, atau sedang menertawakan kebodohannya yang tidak peka. Keduanya pantas ditertawakan.


Zikra ikut tertawa.


"Aku senang akhirnya kamu tertawa, setelah ketegangan yang hampir bosan kulihat di wajahmu yang manis," ucapnya lega.


Kontan Syifa menghentikan tawanya. Wajahnya memerah mendapat pujian. Tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan wajahnya manis. Bahkan sewaktu masih berpacaran dengan Angga, ia tidak pernah mendengar kalimat pujian seperti itu.


"Tersenyumlah, karena senyum itu membuat wajahmu terlihat lebih manis." begitu kata Zikra sebelum sepeda motornya melesat pergi.

__ADS_1


Syifa tertegun. Ternyata pujian itu berhasil membuatnya bahagia. Lebih bahagia saat masih bersama Angga. Tanpa disadari segaris senyum lebar tertoreh di bibirnya.


Bersambung ...


__ADS_2