Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Bete


__ADS_3

Syifa terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang dirasakan adalah rasa lembap yang cenderung becek di area kewanitaannya disertai nyeri. Namun kali ini tidak separah saat pertama kali berhubungan intim dengan Zikra. Ia pun tidak kaget dengan hal yang sudah dipastikan dari hasil perbuatan Zikra terhadapnya semalam. Ia hanya terkejut saat hendak bangun ada rasa nyeri di pinggangnya yang membuat meringis.


Zikra sudah tidak ada di samping Syifa. Sisi Kasur yang ditempati suaminya sudah kosong. Mungkin dia sudah bangun lebih awal. Atau bahkan sudah berangkat ke kantor. Kemarin Zikra sudah membicarakan hal ini sebelumnya kepada Syifa. beberapa hari belakangan suaminya tengah sibuk dengan urusan kantornya. Maklumlah sebagai pemimpin perusahan yang baru banyak tugas yang harus dikerjakan. Apalagi menangani perusahan yang nyaris koleps, membuat Zikra bekerja lebih ekstra keras


“Ya ampun, pinggang gue kok sakit sih? Masa sih pinggang gue encok? Umur gue kan masih muda.” Pikirnya tidak


heran sendiri.


Tidak mau larut dalam kesakitannya, Syifa langsung beranjak dari tempat tidurnya, walau harus perlahan-lahan lalu


bergerak pergi ke kamar mandi. Berendam di dalam bathtub dengan air hangat terasa sangat nyaman. Sakit dan pegal berangsur pulih dengan sendirinya.


Bi Asih sudah menyiapkan menu sarapan pagi di atas meja makan untuk Syifa.


“Selamat pagi, Nyonya muda.” Sapa Bi Asih saat Syifa tiba di ruang makan.


“Pagi, Bi.” Sahut Syifa canggung.


Tanpa diminta Bi Asih menarik kursi untuk Syifa. “Silakan Nyonya muda.”


“Makasih Bi.” Syifa kian canggung diperlakukan sangat special. Seperti cerita orang kaya yang ada di dalam


sinetron atau film.


“Sarapan sudah saya siapkan sesuai yang Den Zikra minta. Tapi kalo Nyonya enggak suka, saya bisa memasak makanan sesuai yang Nyonya minta.”


“Enggak usah Bi. Bengini aja udah cukup,” sahut Syifa sungkan. “oya Bi, tolong jangan panggil saya Nyonya dong, kedengsrannya saya udah tua banget.”


“Enggak apa-apa Nyonya muda. Anda kan istrinya Den Zikra.”


Syifa tersenyum malu. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Langsung menikmati makan sarapan paginya yang bisa dinikmatinya tanpa harus keluar keringat terlebih dahulu. Biasanya ia selalu membuatkan sarapan pagi Zikra dan dirinya sendiri sewaktu di rumah lama. Setelah semua makanan siap di atas meja, Zikra dan Syifa menikmatinya bersama sambil berbicara topik ringan di pagi hari.


Kali ini rasanya sedikit aneh. Walaupun hanya tinggal buka mulut saja, kalau hanya sendirian rasanya juga kurang nikmat.


"Nyonya muda, tadi sebelum berangkat Den Zikra sempat berpesan sama saya. Katanya, hari ini Nyonya muda enggak usah pergi ke kampus, karena Nyonya muda masih lelah. Jadi disuruh istirahat saja di rumah." ujar Bi Asih.


Syifa langsung tertunduk menahan malu mendengar pesan itu. Sepertinya Zikra sudah sangat hafal kondisi tubuh istrinya setelah bercinta semalaman.


"Kalo Nyonya bosan di rumah, Nyonya muda diminta Den Zikra datang ke kantornya untuk makan siang bersama di luar. Nanti Mang Ucup yang mengantar Nyonya muda pergi ke kantor Den Zikra." lanjut Bi Asih.


"Makasih Bi."


"Ya sudah kalo begitu. Saya pamit ke dapur ya Nyonya muda." Bi Asih beranjak ke dapur setelah mendapat persetujuan dari Syifa.


Syifa menikmati sarapannya. Ia akui makanan ini lebih enak dibandingkan masakan hasil karyanya sendiri.

__ADS_1


"Masakannya Bi Asih sangat enak. Jauh lebih enak dari masakan yang gue buat setiap hari. Tapi ... setelah terbiasa memakan buatan Bi Asih, apa Zikra masih mau masakan buatan gue gak ya? Kalo masih ... lumayan, gue masih semangat buat masak. Tapi, kalo enggak gue bisa melempem dong." rutuknya pada diri sendiri. Syifa mendengus berat. "buat sekarang, mending nikmatin aja dulu deh. Sekali-sekali nikmatin hidup enak. Gak ada salahnya kan?"


Setelah sarapan Syifa membawa piring kotor bekasnya makan. Meletakkannya di tempat pencucian piring. Ia yang terbiasa sehabis makan mencuci piring. Maka, langsung saja tangan kanannya meraih spons yang sudah dilumuri air sabun hendak mengusapkannya pada piring kotor. Namun belum sempat spons itu menyentuh piring Bi Asih buru-buru merebutnya dari tangan Syifa.


"Maaf Nyonya muda, ngapain Nyonya muda pegang piring kotor, ini pekerjaan Bibi, kalo Den Zikra sampai tahu Bibi bisa kena marah." ujar wanita itu panik. Dia tidak mau melanggar perintah tuannya sebelum berangkat kerja tadi pagi, mewanti-wanti agar Syifa tidak melakukan kegiatan apa pun selama tinggal di rumah ini.


"Tapi Bi, saya udah biasa melakukan ini setiap hari di rumah." kilah Syifa ingin merebut kembali piring itu dari Bi Asih. Tetapi Bi Asih bersikeukeuh tidak mengizinkannya menyentuh piring kotor apalagi sampai mencucinya. Pasalnya Zikra akan memotong uang gajinya bulan ini bila tidak bisa menjalankan perintah sang majikan.


Akhirnya Syifa menyerah. Ia kembali duduk di meja makan dengan semangat yang hampir kandas.


Tidak sampai lima menit Bi Asih dapat menyelesaikan piring kotor menjadi bersih, dan berakhir di rak piring.


"Bi Asih." panggil Syifa.


"Iya, Nyonya muda, ada apa?" sahut Bi Asih langsung meluncur di depan Syifa dengan cepat.


"Bibi sibuk gak pagi ini?"


"Sebenarnya ... Bibi mau ke pasar Nyonya muda. Tapi kalo Nyonya muda punya tugas penting buat saya, saya akan melakukannya dengan senang hati."


Syifa tidak enak hati dan terkesan tidak memiliki perasaan bila menyuruh Bi Asih menunda pekerjaannya hanya untuk kesenangannya sendiri. Sementara dirinya sendiri hanya duduk manis layaknya seorang ratu. Oleh sebab itu, ia mengurungkan niatnya hendak merepotkan Bi Asih. Toh, ia hanya ingin berkeliling saja sekitar rumah ini. Bukan masalah berat.


"Oh, gak papa Bi. Bibi pergi aja ke pasar mumpung masih banyak sayuran segar di jam-jam seperti ini. Nanti kalo kesiangan udah enggak segar lagi." Syifa teringat saat masih di rumah lama sering belanja sayur pada pagi hari. Semua jenis sayur, ikan, ayam bahkan daging semuanya akan terlihat segar bila membelinya saat masih pagi.


"Baik, Nyonya muda. Jika enggak ada yang dibutuhkan lagi saya pamit pergi ke pasar." Bi Asih pamit undur diri.


"Ya. Hati-hati di jalan ya Bi."


"Baik, Nyonya muda. Terima kasih."


Syifa menghela nafas panjang. Jenuh tidak ada kegiatan apa pun yang bisa dilakukannya hari ini. Urusan dapur sampai piring kotor sudah dikerjakan dengan baik oleh Bi Asih. Begitu pula dengan taman di halaman depan rumah sudah ada Mang Ucup yang membereskan. Ia hanya menjadi penonton saat menyambangi taman yang banyak ditumbuhi berbagai jenis bunga dan pohon buah cangkok yang sebentar lagi siap panen. Menyapu dan mengepel lantai pun sudah ada Sulastri, keponakannya Bi Asih, yang sudah berjibaku sejak subuh tadi.


Kemudian Syifa memutuskan kembali ke kamarnya yang sangat hening. Ada sebuah televisi LED ukuran 42 inch menempel di dinding kamar dekat tempat tidur. Ia berencana ingin menonton televisi untuk mengusir kejenuhannya. Tetapi ia jadi malas setelah melihat kebanyakan stasiun televisi menyiarkan tentang gosip artis. Kebetulan Syifa tidak suka menonton gosip. Mau nonton film kartun, usianya kini bukan anak TK atau SD lagi, bahkan sudah punya suami. Alhasil televisinya dimatikan kembali.


Syifa mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Menghubungi Zikra yang mungkin sedang sibuk dengan urusan kantornya. Namun tidak dihiraukannya.


Kalo pun dia sibuk, paling panggilannya direject. Pikirnya.


Syifa berjalan menuju jendela kamar yang besar sambil menunggu panggilannya diterima oleh orang di seberang sana. Lalu beranjak ke pintu yang menghubungkan langsung ke balkon. Dari balkon ia dapat melihat pemandangan belakang rumah. Di sana ada kolam renang besar dan taman kecil di sudut dinding pembatas. Ada empat kursi dan sebuah meja bundar yang dinaungi sebuah payung besar. Serta dua kursi panjang yang saling bersisian dipisahkan sebuah meja berbentuk persegi. Biasanya kursi itu digunakan untuk duduk sambil selonjoran. Setelah beberapa menit menunggu Zikra tidak juga menerima panggilannya. Ia segera memutuskan sambungannya.


"Humph! Enggak diangkat." gumamnya kecewa. Lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Syifa melempar pandangannya ke seluruh penjuru dan terpatri pada kolan renang yang jernih.


Jika Ade di sini pasti akan suka berlama-lama berenang di kolam renang itu, seperti kecebong hehehe, eh, bukan kaya ikan mujair deh, hehehe. Pikirnya terkekeh sendiri.


*

__ADS_1


Zikra memeriksa ponselnya untuk memastikan setiap pesan yang masuk atau telepon yang terabaikan, setelah menyelesaikan memeriksa dan menandatangani dokumen. Dan benar saja, ada satu panggilan penting yang terabaikannya. Siapa lagi kalau bukan panggilan dari Syifa. Tanpa menunggu lama dia langsung menelepon balik Syifa. Tidak butuh waktu lama menunggu panggilannya diterima oleh Syifa.


"Halo." pada dering ketiga suara dari seberang terdengar sedikit kesal.


"Sayang, jangan kesal begitu dong. Masalah tadi aku minta maaf karena terlalu sibuk. Jadi, aku enggak dengar ada panggilan masuk." pinta Zikra memelas.


"Iya, iya tahu. Orang sibuk emang enggak punya banyak waktu, walau pun cuma angkat telepon doang dari orang yang enggak punya kegiatan apa pun, alias pengangguran kaya aku." sahut Syifa sinis.


Zikra mendengus pelan.


"Ya ampun enggak usah ngegas gitu dong Nyonya." celotehnya menghibur Syifa.


"Humph! Bete!" sungut Syifa.


"Kenapa?" Zikra meminta penjelasan.


"Ya iyalah bete. Kamu udah sukses bikin aku jadi pengangguran. Atau lebih tepanya jadi orang malas." protes Syifa geram.


"Lho, lho, kok jadi marah benaran, Nyonya?"


"Abis mau gimana lagi? Kuliah, kamu udah minta izin supaya aku enggak ngampus pagi ini. Trus, masak, cuci piring dan bersih-bersih rumah udah ada yang tanganin." suara di seberang terdengar meninggi. Membuat Zikra memijat pelipisnya sendiri.


"Sayang ... itu kan karena aku sayang kamu. Aku takut kamu kelelahan setelah pertempuran selamam. Emangnya udah enggak kerasa apa-apa lagi?" Syifa sangat canggung dan speechless dengan penuturan Zikra. "jadi sekarang kamu mau apa, sayang?"


"Ehh, aku kepingin punya kegiatan supaya enggak bosan di rumah terus kaya gini."


"Oke. Sekarang kamu minta Mang Ucup antar kamu ke kantor aku."


"Mau ngapain? Aku kan bukan karyawan kantor kamu."


"Iya, tapi kamu istri dari pemilik kantor. Yaitu aku."


"Tapi ... mau ngapain?"


"Tadi kamu bilang bosan di rumah."


"Iya, tapi enggak musti ke kantor juga kan?"


"Udah deh sayang, gak usah ngajakin aku berdebat di telepon. Kalo kamu berdebat sampai bergulat, ayo aku turutin setelah kamu sampai di kantor aku ya."


"Ih, bergulat? Emang aku The Rock yang bisa smack down kamu."


Zikra terkekeh geli.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2