
Syifa mendorong pintu kamar dengan punggungnya. Berdiri mematung seraya bersandar di balik pintu. Setelah
sebelumnya sempat bertanya tanpa menunggu jawaban dari Zikra.
“Mari kita bertaruh, siapa di antara kita berdua yang bisa merebut cinta Fatir atau Zikra. Maka bagi yang menang
layak bahagia hidup bersama hingga maut memisahkan. Sementara bagi yang kalah, dia harus pergi meninggalkan Zikra untuk selama-lamanya,” begitu ucap Ayu siang tadi, masih terngiang di telinga Syifa. “aku yakin, Fatir akan memilih aku. Karena dia masih sangat mencintai aku. Atau bahkan lebih besar dari sebelumnya.”
Syifa mendengus resah. Dadanya terasa berat seakan terhimpit batu besar mengingat kata-kata Ayu. Apalagi
melihat kemesraan Ayu dan Zikra yang sengaja diciptakan di depannya. Beranjak ke tempat tidur sejurus dari tempatnya berdiri. Melepaskan tas kuliahnya, diletakkan di atas kursi belajar. Menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur.
Tiba-tiba Syifa terbayang kisah cinta semasa SMA-nya dulu. Betapa indahnya kala itu. Cinta yang terbalas dari
Angga. Pemuda tampan yang telah lama membuatnya jatuh hati. Ia tersenyum bahagia seakan masih terjadi saat ini. Namun binary matanya mendadak sendu dan berair, ketika Rima datang dan berhasil merebut cinta Angga dari pelukannya.
Tidak berbeda dengan masa itu. Kini pun ia nyaris mengalami hal yang sama. Berjuang mendapatkan cinta seorang
lelaki. Bedanya, dulu ia langsung menyerah karena sudah tidak ada lagi kesempatan lagi. Sekarang, ia masih punya kesempatan. Tetapi enggan memperjuangkan. Selain takut sakit hati, pikirannya hanya terfokus menemukan
keluarganya.
“Aku enggak tahu apa yang harus aku lakukan.” katanya batinnya lirih.
Syifa menyeka air matanya yang jatuh di pipinya.
“Bagaimana mungkin aku bisa memenangkan hatinya, bila cintanya aja enggak bisa aku rasakan? Udah pasti aku akan menjadi orang yang paling menyedihkan,” ujarnya putus asa suaranya parau dan lirih. Tersenyum seakan sedang mentertawakan kekalahannya sendiri. “ dasar pecundang!” hardiknya. Menutup mulutnya kuat-kuat agar suara isaknya tidak terdengar sampai keluar. Bulir-bulir air bening jatuh berderai dari pelupuk matanya.
Zikra berdiri di depan pintu kamar Syifa. Tangan kanannya telah mengepal kuat hendak mengetuk. Namun urung dilakukan. Tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke kamarnya.
Suara kokok ayam jantan bersahutan memecah keheningan pagi. Seolah sedang memberitahu kepada seluruh penduduk kota fajar telah menyingsing. Gema suara adzan Shubuh berkumandang nan syahdu. Menyeru seluruh umat muslim mengerjakan kewajibannya.
Setelah menunaikan sholat Shubuh Syifa langsung bergerak menuju dapur. Memasak makanan untuk sarapan pagi. Pada saat yang bersamaan Zikra baru kembali dari sholta Shubuh berjamaah di Musholah dekat rumah mereka. Syifa terkesimak melihat penampilan Zikra yang begitu religius. Mengenakan baju koko putih dipadukan dengan kain sarung, tidak lupa peci hitam bertahta di atas kepalanya.
Zikra tersenyum menyadari bahwa gadis muda yang telah resmi menjadi istrinya, namun masih canggung sedang menatapnya. Dia langsung bergerak mendekatinya untuk menguji. Gadis itu tampak salah tingkah.
"Kamu mau sarapan sekarang?" tanya Syifa terbata. "tapi aku belum selesai ..."
"Tenang aja. Aku belum lapar kok, lagian masih pagi banget. Jadi, santai aja." jawab Zikra cepat tanpa menunggu Syifa menyelesaikan ucapannya.
"Oh, syukurla!" Syifa menghela nafas lega.
"Biar aku bantu, ya."
"Enggak usah. Lagian kalo kamu ikutan masak, nanti baju kamu kotor."
Zikra menurunkan pandangannya. Melihat dirinya sendiri baru menyadari belum mengganti pakaian.
"Ya udah, aku ganti baju dulu ya, tunggu sebentar."
Pandangan Syifa mengikuti gerak langkah Zikra. Tidak berselang lama, pemuda itu keluar dari kamarnya telah berganti pakaian. Buru-buru cepat ia mengalihkan pandangannya agar tidak ketahuan.
Dengan ringan tangan Zikra membantu Syifa. Hampir semua pekerjaan dapur dilakukannya begitu cepat dan lincah. Hingga membuat Syifa hanya terdiam menyimak semuanya.
"Taraaaamm ... udah selesai ..." Zikra mengembangkan kedua tangannya dengan rona bahagia. Setelah selesai meletakkan semua makanan di atas meja.
Syifa bertepuk tangan pelan antusias sambil tersenyum lebar.
Zikra menarik kursi untuk Syifa duduki. Lalu dia duduk di kursi di sebelahnya. Meminta gadis itu untuk mencicipinya.
Syifa berdecak kagum tidak menduga hasil masakan Zikra ternyata sangat enak. Bahkan lebih enak dari masakan yang setiap hari dimasaknya. Tetapi Zikra tidak pernah protes. Dia sangat menikmati apa pun yang dimasak Syifa untuknya.
Zikra semringah.
Hari masih pagi. Sinar mentari pun terlihat malu bersembunyi di balik awan. Memasuki awal musim penghujan langit sering terlihat mendung. Terkadang disertai hujan rintik-rintik.
Semua pekerjaan rumah telah rampung dikerjakan Syifa dengan dibantu Zikra. Sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi. Apalagi di waktu weekend seperti saat ini. Nyaris Syifa tidak pernah memiliki waktu bersama Zikra. Terlebih setelah menjadi pegawai training. Banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja. Sampai-sampai kuliahnya ikut mendapat imbasnya. Terkadang ia merasa ada di antara dua pilihan, kuliah atau bekerja yang menjadi prioritasnya.
Syifa menghela nafas lega. Duduk selonjoran di atas karpet di ruang tamu. Sepeda motor milik Zikra yang selalu menjadikannya garasi di setiap malam. Kini membiarkannya berfungsi sebagai mana mestinya setelah di parkir di depan rumah.
hehmm ... dunia rasanya nyaman banget hari ini.
Syifa langsung melipat kakinya setelah Zikra datang, lalu duduk tak jauh dari tempatnya duduk.
"Enggak papa, selonjoran lagi aja," ujar Zikra memberi izin.
Syifa menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil canggung.
Keduanya terdiam tanpa bicara. Mendadak rasa canggung hadir di tengah-tengah mereka. Bukan waktu yang tepat rasa itu muncul di saat mereka sedang bersama. Sesekali mereka bertukar pandang kemudian saling mengalihkan pandangannya. Pasangan muda itu tampak bingung dari mana memulai pembicaraan.
"Kamu ada acara hari ini?" akhirnya terlontar kalimat itu meluncur dari bibir Zikra.
Syifa terbeliak kaget. Memutar-mutar bola matanya seraya mengulum bibirnya.
"Ehmm ... kayaknya enggak," sahutnya agak lama. "tapi kemarin aku diajakin jalan sama Pan ..."
Rona wajah Zikra berubah seketika. Seakan dia tidak ingin nama itu keluar dari mulut Syifa. Sepertinya Syifa pun langsung menyadari.
__ADS_1
"Teman-teman aku yang lain juga nawarin aku nonton di bioskop, gitu," lanjutnya cepat. "iya ..."
"Oh." Zikra tampak lesu.
"Berhubung mereka nonton bareng sama pacar atau gebetan masing-masing, aku enggak jadi ikutan."
"Kenapa?"
"Ya ... aku enggak punya gebetan, apalagi pacar," jawabnya agak jengkel.
"Tapi kamu kan punya suami," sanggah Zikra berhasil membungkam Syifa. "kenapa kamu enggak ajak suami kamu jalan atau nonton, gitu?" selidiknya penuh harap.
Syifa speechless. Degup jantungnya mendadak berdetak sangat cepat. Ia nyaris tidak mampu mengendalikan perasaan saat sepasang manik matanya bertemu dengan tatapan mata Zikra yang penuh arti seperti itu.
"Ah, aku ... aku ..."
"Kenapa? Kamu malu punya suami aku?"
"Bu-bu-bukan begitu." tangan Syifa mengibas angin.
"Lalu?" tatapan mata Zikra terlihat tajam siap menikam hingga menembus jantung Syifa. Lelaki berkulit bersih itu perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang duduk di hadapannya.
"A-a-a ...aku ..."
"Kak Syifa ..." pekik Dio tiba-tiba menyeruak masuk. "Kak Syifa sama Kak Zikra lagi ngapain?"
Kontan Syifa dan Zikra terperanjat kaget. Bersamaan menoleh ke sumber suara.
Bocah itu tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang ompong.
"Hayooo, ketahuan ... Kak Syifa sama Kak Zikra lagi pacaran ya?" ujar bocah itu polos terkekeh geli.
Tiba-tiba Syifa teringat Ade, adik bungsunya yang telah lama dirindukannya. Bocah itu juga pernah melakukan hal yang sama seperti Dio lakukan saat ini, ketika ia ketahuan sedang berbicara dengan Angga via video call. Agar tidak ketahuan Bunda, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Lalu menutup mulut Ade supaya tidak berteriak. Akhirnya bocah itu berhasil membuatnya membayar upeti dengan sebatang coklat kesukaannya.
Syifa terhenyak dari lamunannya saat Zikra berdiri mengangkat Dio ke udara, hingga bocah itu ngeri ketakutan. Namun suara tawanya pecah dan ketagihan ingin diangkat kembali. Zikra tertawa riang. Syifa pun ikut senang.
"Udah cukup, nanti jatuh," sergah Syifa beranjak berdiri.
Zikra menurunkan Dio di lantai. Mengajak bocah itu duduk di atas pangkuannya. Syifa ikut duduk di tempat semula.
"Dio kok pintar banget ngomongnya? Siapa yang ngajarin?" tanya Zikra gemas seraya mencubit pelan pipinya.
"Kak Siwi," jawab bocah itu polos.
Zikra dan Syifa bertukar pandang heran.
"Enggak. Kata Kak Siwi kalo ada cewek sama cowok berduaan artinya lagi pacaran."
"Kak Siwi beneran ngomong kayak gitu ke Dio?" Syifa ikutan penasaran.
"Enggak deh. Dio denger Kak Siwi ngomong begitu sama temannya waktu main ke rumah kemarin."
Zikra mengelitiki pinggang Dio hingga menggeliat kegelian.
"Masak sih gitu?"
"Iya."
Syifa tersenyum kecil melihat tingkah polah sepasang lelaki yang sedang mengobrol dengan cara mereka sendiri.
"Kalo Kak Zikra sama Kak Syifa pacaran kok Mama-Papanya Kakak berdua enggak marah sih? Kak Siwi aja dimarahin sama Mama kemarin."
"Itu karena Kak Siwi masih kecil, masih sekolah, jadi enggak boleh pacaran dulu sama Mama," jelas Zikra.
"Emangnya Kak Zikra sama Kak Syifa udah gede?"
"Udah dong."
"Tapi Kak Syifa kan masih sekolah. Buktinya Kak Syifa punya buku sekolahnya banyak sama kayak Kak Siwi." protes Dio.
"Iya sih. Tapi Kak Syifa udah kuliah Dio. Sedangkan Kak Siwi masih SMP," tukas Syifa berusaha menjelaskan sesimpel mungkin pada bocah delapan tahun itu.
"Oh gitu?" Dio menganggukkan kepala seakan mengerti. "kalo Kak Syifa pacaran sama Kak Zikra kok tinggalnya barengan? Emangnya Kak Syifa enggak dicariin sama Mamanya enggak pulang-pulang? Dio aja sering dicariin Mama kalo belum pulang."
Syifa menghela nafas panjang. Ia bingung mencari kalimat yang tepat untuk menjawab segala keingintahuan bocah itu.
"Kok Kak Syifa diam aja?"
"Karena Kak Syifa tinggal bareng sama Kak Zikra. Jadinya, Kak Syifa enggak dicariin sama Mamanya," sahut Zikra menggantikan Syifa.
"Emangnya boleh?"
"Boleh."
"Kenapa?"
"Kok Dio banyak tanya hari ini?" kata Syifa balik tanya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ah, Kak Syifa jawab dong. Kenapa?"
"Itu karena Kak Zikra udah nikah sama Kak Syifa." jawab Zikra gemas sambil mengelitiki pinggang Dio lagi.
"Udah nikah?" Dio mengernyitkan dahi. " kok enggak ada foto pernikahannya di dindingnya?" menunjuk pada dinding ruang tamu yang masih kosong. "kata Mama, kalo udah punya anak. Kok Kak Syifa sama Kak Zikra enggak ada anaknya?"
Sontak Zikra dan Syifa terdiam tertohok mendengar pertanyaan Dio yang terakhir. Keduanya hanya beradu pandang.
Ya ampun ... ini bocah bawel banget sih? Semakin dijawab pertanyaannya, semakin enggak habis-habis. Pikir Zikra membatin.
Syifa mengelitiki Dio gemas dengan pertanyaannya polosnya. Kendati apa yang dipertanyakannya itu adalah kebenaran yang nyata. Bocah itu memang sangat kritis. Segala sesuatu apa yang dilihat dan didengarnya selalu dipertanyakan hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. Tidak heran Mamanya sering mengeluh lelah menjawab pertanyaan bocah itu pada Syifa.
Belum sempat mereka menjawab pertanyaan Dio, Mama Dio datang menjemput bocah itu pulang.
Zikra masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat kertas yang telah terlipat di atas meja kerjanya. Daftar misi cinta yang telah disusunnya bersama Bonang dan Rifa'i kemarin. Dia menyeringai membacanya satu per satu tulisan yang ada di daftar.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa menunggu lama Zikra mengangkatnya. Terdengar suara Bonang di seberang terus mengoceh. Sementara dia hanya diam mendengarkan.
Syifa menelungkupkan badannya di atas tempat tidur seraya membuka salah satu fitur di layar ponselnya. Hari ini ia sangat santai. Selain sedang libur kuliah, ia juga sedang menikmati jatah libur kerjanya.
Zikra langsung berganti pakaian setelah hubungan teleponnya dengan Bonang putus. Sesuai saran Bonang di telepon tadi, dia harus menjalankan misi cintanya kepada Syifa hari ini. Meskipun bingung hendak kemana. Sebisa mungkin harus dia bergerak cepat. Sebelum gadis itu memutuskan mengerkajan sesuatu diluar ekspetasinya.
Ponsel Syifa mendadak berdering. Ia mengerutkan dahi heran, saat melihat nama Zikra tertera di layar ponselnya. Ia pun segera mengangkat telepon seraya merubah posisinya.
"Halo," ujarnya ragu.
"Iya, halo." sahut dari seberang sana.
"Kamu ..."
"Bisa kamu keluar kamar sekarang?"
"Hah? Ada apa?"
"Cepatlah keluar, nanti kamu akan mengetahuinya," titah Zikra.
Syifa tidak mengerti tetapi melakukan apa yang diminta Zikra. Ia melihat Zikra sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Berpakaian rapi dengan dibalut jaket seakan ingin pergi keluar. Belum sempat ia bertanya pemuda tampan itu menyodorkan paper bag padanya.
"Apa ini?"
"Kemarin aku sengaja membelinya buat kamu," Zikra tersenyum. "sekarang kamu pakai ya." memutar tubuh Syifa menghadap ke pintu, lalu mendorongnya pelan agar masuk ke dalam kamar. Dia menarik gagang pintu kamar Syifa.
Tidak lama berselang gadis itu muncul dari balik pintu kamarnya. Zikra terlonjak berdiri tertegun melihat gadisnya kini memakai pakaian yang sama dengannya. Senyumnya kembali menyungging tanpa mempedulikan ekspresi bingung Syifa.
"Sejak kita bersama, kita enggak pernah pergi kemana pun berdua. Bahkan duduk di jok boncengan motorku pun kamu hampir enggak pernah."
"Terus, apa hubungan kaos yang aku pakai?"
Zikra membuka resleting jaketnya. Menunjukkan kos yang dipakainya.
Syifa terbeliak kaget. Rupanya mereka memakai kaos couple.
"Aku ingin hari ini dengan kita memakai kaos couple-an begini, kita berdua menjadi sepasang kekasih sehari."
Apa?!
"Mungkin kamu merasa aneh, tapi ini adalah usaha aku agar kita menjadi lebih akrab, dan bisa saling mengenal serta saling memahami antara satu sama lain. Karena aku enggak mau selamanya kita menjadi orang asing di rumah sendiri."
Syifa hanya terdiam.
"Ketika kamu keluar dari pintu kamar kamu, maka kita resmi menjadi sepasang kekasih. Kemudian ketika kamu kembali masuk ke dalam kamar kamu nanti malam, hubungan kita kembali normal seperti biasa."
Syifa masih terdiam. Tiba-tiba terngiang suara Ayu yang mengatakan Syifa tidak akan bisa merebut Zikra darinya. Rasa tidak percaya diri muncul menyelimutinya. Ragu pun menjalar menutupi keberaniannya. Ia tertunduk lemas.
"Apakah kamu mau kita kencan hari ini?" tanya Zikra mengulurkan tangannya.
Syifa mendongakkan kepalanya. Tangannya terangkat hendak menyambut tangan Zikra. Tetapi ...
Apakah aku harus menyerah sekarang? Atau ....
Syifa menatap mata Zikra. Terpancar kesungguhan yang tanpa disadarinya memberinya keberanian. Bibirnya menarik segaris senyum. Menyambut tangan Zikra mantap walau sedikit gemetar.
Zikra menggandeng tangannya erat. Bergerak keluar dengan hati riang. Tidak lupa pemuda itu memakaikan jaket yang ternyata couple juga pada gadisnya.
Sebelum naik ke sepeda motor Zikra menyempatkan memakaikan helm pada Syifa. Seperti biasa sepasang manik mata mereka bertemu. Keduanya tampak menikmati tatapan itu, kendati pada kenyataannya Syifa masih malu-malu.
Sepeda motor Zikra melesat pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Syifa yang masih canggung tidak mau memeluk pinggang Zikra. Ia memilih besi di ujung jok sepeda motor sebagai pegangan. Tetapi Zikra tidak membiarkannya. Pemuda itu langsung menarik lengan kiri Syifa dengan tangan kirinya.
"Peganganlah padaku supaya kamu enggak jatuh," serunya melingkarkan lengan Syifa di pinggangnya.
Tanpa membantah Syifa mendekatkan tubuhnya agar dapat memeluk pinggang Zikra.
Zikra tersenyum lebar.
Bersambung ....
__ADS_1