
Bonang dan Rifa'i beranjak pergi meninggalkan Zikra di tengah taman. Kemudian melangkah masuk ke tengah kelopak-kelopak bunga yang dekorasi indah berbentuk hati. Di sisi luarnya sengaja diberi deretan lilin putih membentuk pola yang sama.
Di kanan-kiri tangannya Zikra memegang buket bunga mawar merah dan kotak perhiasan kecil berwarna merah. Di dalamnya ada sebuah cincin yang sengaja khusus dipesannya untuk Syifa. Degup jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Mungkin karena terlalu gerogi hingga dia sulit mengendalikan perasaannya.
Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan kanannya. Sudah menunjukkan jam delapan tepat. "Sebentar lagi dia pasti datang." mendengus resah tetapi tetap berusaha menenangkan diri agar tidak menunjukkan sikap yang berlebihan. Senyum lebar terus saja tersungging di ujung bibirnya seakan tidak bisa berhenti.
Tiba-tiba muncul seseorang dari arah belakang langsung memeluk pinggang Zikra. Dia dapat memastikan orang yang sedang memeluknya adalah Syifa. Karena aroma parfum yang menguar dari tubuhnya mirip dengan milik Syifa walaupun tidak sama persis. Hingga tanpa menoleh dia sudah yakin akan perasaannya itu.
"Akhirnya kamu datang," ujarnya sangat bahagia. Menyentuh lembut tangan gadis itu. "sebelumnya aku sempat cemas, tapi aku yakin kamu akan datang." Zikra tersenyum gembira. "apa kamu suka dengan dekorasi ini?"
Gadis itu tidak berkata apa pun, hanya bergumam dan menganggukkan kepala. "Humph!"
Zikra tidak meminta gadis itu berbicara. Dia sangat gugup sampai telapak tangannya terasa berkeringat dingin.
"Pada malam ini aku sengaja menciptakan momen seperti ini, aku ingin mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku simpan sama kamu," lanjutnya agak terbata. "I love you," pekiknya keras sangat keras memecah keheningan.
Dari kejauhan Syifa sangat terpukul melihat dan mendengar pernyataan cinta suaminya yang ternyata bukan untuk dirinya. Namun untuk wanita lain yang ia yakini dia adalah Ayuniatara. Sungguh sangat menyakitkan hingga mengoyak hati dan menembus jantungnya. Tanpa komando air mata jatuh berderaian menganak sungai di pipinya.
"Ya, aku cinta sama kamu. Udah lama aku ingin mengucapkan semua sama kamu, tapi baru hari ini aku memberanikan diri untuk mengatakannya secara terang-terangan." Zikra membalikkan tubuhnya membeluk gadis yang ternyata bukan Syifa. Namun dia tidak menyadarinya.
Syifa terperanjat kaget. Ia tidak kuasa melihat pemandangan itu lagi. Langsung membalikkan badan. Bersembunyi di balik pohon rindang dekat tempatnya berdiri. Hatinya sangat hancur berkeping tak berbentuk lagi.
Kedua tangannya mengepal erat untuk mengendalikan emosinya agar tidak meledak saat itu juga. Namun jika sampai meledak juga, ia tidak punya keberanian untuk menunjukkan amarahnya pada siapa pun.
Tiba-tiba Syifa teringat ketika Ayuniatara datang menemuinya, dengan penuh percaya diri dia berkata, "Aku akan merebut cinta Fatir dari kamu. Karena aku yakin Fatir masih mencintai aku." Air mata Syifa bagaikan hujan yang turun begitu lebat dan menganak sungai di pipinya.
Apakah ini artinya gue udah kalah?
"Zikra, kamu tega banget sih sama aku. Apakah ini kejutan yang ingin kamu kasih ke aku?" diam-diam Syifa melihat Zikra dan Ayuniatara yang masih berpelukan dari balik pohon rindang. "kalo cuma sekedar menunjukkan kamu masih cinta sama Mbak Ayu, cukup kamu ngomong aja sama aku secara langsung. Enggak perlu melukai perasaan aku kayak gini. Cuma buat hati aku terprovokasi jadi benci sama kamu pada akhirnya," lanjutnya lirih.
"I love you too ..." sahut Ayuniatara cepat.
Syifa sudah tidak tahan lagi melihat pertunjukka itu. Secepat kilat ia langsung pergi membawa luka hati yang sangat dalam sambil menangis pilu.
"Fatir."
Zikra terkejut mendengar suara gadis yang berada dalam pelukkannya. Terdengar familiar tetapi bukan suara Syifa. Sontak dia mendorong jauh tubuhnya menjauh. Matanya terbelalak kaget.
"Tara, kamu?" Zikra mendorong jauh gadis itu darinya. "mengapa kamu jadi yang datang?" tanyanya geram.
"Fatir, aku udah lama yakin kalo kamu masih mencintai aku. Akhirnya malam ini semua keyakinan aku terjawab," ujar Ayuniatara bahagia. "kalo kamu ..."
"Hentikan omong kosong kamu, Tara!" sergahnya cepat.
"Fatir, percayalah aku masih cinta kamu sama seperti dulu. Aku rasa kamu pun mempunyai perasaan yang sama seperti aku."
"Cukup!" sela Zikra cepat. "Tara, berhentilah bermimpi lagi. Lihatlah kenyataan, aku bukanlah aku yang dulu. Cinta aku pun udah berubah. Karena saat ini cintaku hanya untuk Syifa, istri aku."
Ayuniatara terperanjat kaget, tertegun untuk beberapa saat. Matanya tampak mulai basah.
"Pergilah cepat dari sini. Aku khawatir Syifa akan salah paham, jika melihat kamu di sini," titah Zikra dingin. Berbalik memunggungi Ayu.
"Tapi, Fatir ... aku sungguh-sungguh mencintai kamu. Sampai kapan pun cinta aku hanya buat kamu."
"Benarkah?" Zikra menyeringai sinis.
"Tentu aja aku sungguh ..."
"Hehm! Kamu pikir aku percaya begitu aja dengan kata-katamu itu?" Zikra memutar tubuhnya kembali. "kamu pikir aku enggak tahu hubungan kamu dengan cowok lain di belakang aku?" dia masih ingat dengan jelas kenangan pahit itu.
Tujuh tahun silam.
Zikra segera berjalan cepat meninggalkan peron stasiun Semut. Dia sengaja datang ke kota yang baru ditinggalkan selama tiga bulan. Rasa rindu yang telah lama dipendamnya kini meronta dan tidak bisa ditoleransi lagi. Selama terpisah jarak dan waktu tidak pernah sekalipun keduanya berhubungan meskipun via telepon. Pasalnya Surya sudah memblokir nomor telepon Ayuniatara.
Alhasil Zikra nekad bolos sekolah untuk mengobati rindunya kepada Ayuniatara, melakukan perjalanan Bekasi-Surabaya dengan kereta api listrik. Rasa takutnya pada surya kalah dengan rasa cinta dan rindunya yang amat besar pada perempuan yang dua tahun lebih tua darinya. Sebenarnya jika Surya ada di rumah, Zikra tidak bisa berkutik sedikit pun. Jika bukan pria paruh baya itu tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri untuk waktu yang lumayan lama. Makan dia berani menggunakan kesempatan itu.
Dalam angannya gadis itu akan terkejut dan memeluk bahagia melihat kedatangannya. Senyumnya terus saja menyungging sepanjang perjalanan menuju rumah gadis yang kerap dipanggilnya Tara di dalam taxi.
Hari sudah beranjak sore. Di tengah perjalanan taxi yang ditumpangi Zikra berpapasan dengan mobil sedan hitam. Di sana dia melihat pacarnya ada di dalam mobil itu sedang menyetir sendiri. Zikra tidak sempat memanggil Tara, langsung meminta sopir taxi mengejar mobilnya.
Setelah cukup lama membuntuti Tara, akhirnya Zikra menemukan gadis itu di suatu tempat. Sebuah kafe di tengah kota Surabaya. Tanpa membuang waktu lama, dia langsung bergerak masuk menemui gadisnya. Namun langkahnya terhenti ketika seorang pemuda sebaya dengan Tara datang menghampirinya. Layaknya sepasang kekasih gadis itu memberikan pelukan dan ciuman hangat pada pemuda itu.
Dari kejauhan Zikra hanya bisa menyaksikan kemesraan itu dengan hati hancur. Ingin tidak mempercayai apa yang ada di depan matanya. Tetapi semua itu terlalu nyata untuk dihadapi. Kemudian Zikra duduk di salah satu meja paling dekat pintu keluar, mengambil ponselnya dari saku celananya. Mencari nomor kontak Tara yang diam-diam disembunyikan dari Surya.
"Halo," suara di seberang terdengar datar.
"Halo. Tara ini aku Fatir," Zikra berusaha tetap tenang sambil menatap tajam Tara dan pemuda asing itu.
"Apa? Fatir?" Tara terlonjak kaget. "ka-kamu ... apa kabar? Kapan kamu datang lagi ke sini?" terdengar suara gadis itu terbata.
Zikra mengepalkan tangannya erat di atas meja melihat keisengan pemuda asing bersama Tara. Tangannya begitu liar menyentuh pipi dan dagu Tara. Namun gadis itu tidak menepisnya, hanya menikmati setiap sentuhannya. Dengan manjanya menyandarka kepalanya pada dada pemuda itu seraya memberi kode agar tidak mengganggunya.
__ADS_1
"Hari ini aku rencanya mau ke sana. Kamu, kamu sedang apa sekarang?" Zikra menguji kejujuran Tara.
Tara langsung merubah posisi duduknya. "Aku ... aku ... masih di sekolah," sahutnya gugup dengan menjawab sekenanya.
"Masih di sekolah? Sekarang kan udah sore, sedang apa kamu di sekolah?"
Ayuniatara tertegun nyaris kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Zikra. "Aku ikut kelas tambahan. Karena tahun ini aku udah kelas tiga SMA, jadi butuh banyak persiapan untuk menghadapi UAN."
"Oya?"
"Kamu udah enggak percaya sama aku lagi?"
"Aku percaya, aku percaya dengan apa yang aku lihat. Tapi aku belum tentu bisa percaya dengan apa yang aku dengar. Karena terkadang lidah yang tidak bertulang akan dengan mudahnya bersilat lidah, menutupi kebenaran yang ada."
"Apa maksud kamu?"
"Enggak apa-apa." Zikra segera mengakhiri sambungannya. Bangkit dari tempat duduknya.
"Halo? Fatir ..." Tara tampak khawatir.
"Ada apa Honey? Kayaknya enggak rela gitu?" tegur pemuda itu.
"Enggak papa. Lupain aja, toh orangnya juga entah ada dimana." sahutnya ringan meletakkan ponselnya di atas meja.
Zikra pergi meninggalkan kafe. Langsung bertolak ke Bekasi dengan hati yang sedih.
"Kisah cinta kita udah terkubur bertahun-tahun yang lalu. Untuk apa kamu datang ke sisiku lagi? Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu kelabuhi dengan cinta palsumu itu." Zikra mengakhiri kenangannya. "aku tahu hubunganmu dengan cowok lain di belakangku. Jadi, jangan coba menunjukkan ekspresi wajah enggak berdosamu itu kepadaku. Karena aku sudah muak melihatnya."
"Fatir, aku dan Panji enggak ada hubungan apa-apa. Sungguh ..."
"Hemph! Enggak punya hubungan apa-apa tetapi berani bermesraan di muka umum."
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar memecah keheningan malam.
"Kamu, kamu gimana tahu tentang hal itu?" Ayuniatara tergagap.
"Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu dan dia bersikap layaknya sepasang kekasih yang sedang mabuk kepayang."
"Jadi, hari itu kamu benar-benar datang ke Surabaya?"
"Benar."
Ayuniatara terkesiap.
"Fatir ..." Ayuniatara menitikkan air mata.
"Pergilah dari sini! Aku udah enggak mau lagi melihatmu di sini. Pergi!" seru Zikra sangat dingin.
Ayuniatara berjalan mundur perlahan dengan air mata yang turun ke pipinya. Lalu membalikkan badan berlari dengan cepat sambil menyeka air matanya.
Hujan perlahan turun rintik-rintik diseratai desiran angin yang berhembus pelan. Cahaya lilin-lilin yang berjajar satu per satu mulai padam terkena air hujan. Zikra tetap bertahan pada posisinya berharap gadis itu akan datang. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan Syifa di sini.
Pandangan mata Zikra menyisir ke seluruh penjuru taman. Syifa belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Cepatlah datang, sayang! Setelah malam ini kita akan menjadi pasangan yang utuh dalam ikatan cinta pernikahan.
*
Langit malam tampak hitam kelam sempurna. Di bawah guyuran air hujan yang deras Syifa masih terduduk di atas
aspal pinggir jalan raya. Menangis meratapi nasib cintanya yang malang. Tidak ada seorang pun yang mempedulikannya. Deru suara kendaraan yang bergerak melintas silih berganti. Para pengendara yang melihatnya seakan acuh tak acuh dengan pandangan sinis.
Sesekali terdengar suara Guntur disertai kilatan seolah ingin mengoyak langit. Desir angin malam yang berhembus dingin merasuk menusuk ke dalam tulang. Membuat gadis itu menggigil kedinginan. Namun tidak ada niat mencari tempat untuk berteduh. Berdiam membiarkan diri sendiri basah kuyup.
Akhirnya, entah dari mana asalnya tiba-tiba seseorang datang memayunginya. Kemudian mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit berdiri.
“Untuk apa kamu nangis-nangis enggak jelas di bawah guyuran hujan deras di pinggir jalan seperti ini? Bisa-bisa elo bisa sakit nanti,” ujarnya mengejek penderitaan Syifa
Sontak Syifa membelalakan mata menatap sepasang kaki berdiri tepat di hadapannya. Kemudian mendongakkan
wajahnya ke atas. Dalam hati ia sempat berharap orang itu adalah Zikra. Dia datang untuk menjelaskan peristiwa tadi hanya sebuah kesalahpahaman belaka. Senyum bahagia pun mengulas di ujung bibirnya.
Tetapi semua itu hanyalah angan Syifa semata. Senyumnya langsung memudar. Hatinya remuk redam karena kecewa. Ternyata pemuda yang sedang berdiri sambil memegang payung itu bukanlah Zikra. Setelah itu ia menurunkan pandangannya ke bawah. Air matanya kembali jatuh, kembali terisak menangisi kebodohannya yang terlalu mengharapkan cinta Zikra.
"Bodoh! Mana mungkin dia yang datang? Jelas-jelas dia udah mengungkapkan perasaannya sama cewek itu," gumamnya menghardik diri sendiri seraya tertawa kecil.
Panji membawa Syifa masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada. Suara isak gadis itu masih terdengar jelas.
"Apa gue bilang, elo enggak akan bahagia sama dia." Panji ingin menghibur tetapi ucapannya terlalu ketus hingga membuat Syifa tidak respek mendengarnya.
"Tolong antarin gue ke rumah Nadya sekarang," pinta Syifa dingin.
__ADS_1
"Kenapa ke rumah Nadya? Emangnya elo enggak mau pulang ke rumah lo sendiri? Gue anterin pulang ya sekarang. Sekalian gue aduin cowok lo sama nyokap-bokap lo di rumah."
Air mata Syifa mengalir deras mendengar kata nyokap-bokap yang meluncur dari mulut Panji. Hatinya sedih mengingat dirinya kini berada jauh dari mereka. Tidak ada tempatnya lagi untuk mengadu setelah kepergian mereka.
"Gue bilang anterin ke rumah Nadya titik!" serunya geram.
"Oke! Oke!" Panji tidak punya pilihan lain.
Sepanjang perjalanan Syifa hanya diam dengan terus menitikkan air mata. Panji pun tidak bisa menjadi seorang penghibur yang baik. Pasalnya gadis itu tidak pernah merespon setiap kata-katanya yang kocak yang berakhir garing.
Hujan mulai reda ketika mobil Panji baru tiba di depan perkarangan rumah Nadya. Syifa langsung turun dari jok mobil. Panji hanya bengong melihat kepergian Syifa yang tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk mengakhiri perjumpaan mereka.
Tidak lama berselang Nadya membukakan pintu. Dia terkesiap melihat Syifa yang basah kuyup, lalu memeluknya erat sambil menangis pilu.
"Elo kenapa? Kenapa bisa begini?" tanyanya bingung.
Syifa hanya diam berusaha menahan isak.
Nadya mengajaknya masuk ke dalam rumah. Memberikan Syifa pakaian ganti. Membantu mengeringkan rambut sahabatnya dengan handuk kering.
Syifa duduk di pinggir kasur Nadya. Tatapannya hampa mengekspresikan kesedihan yang mendalam. Perlahan Syifa mengalihkan pandangannya pada Nadya. Air matanya kembali jatuh.
"Nad, ternyata dia enggak mencintai gue," ujarnya lirih, memeluk Nadya.
"Elo yakin?"
"Tadi gue lihat dia berpelukan sama Mbak Ayu. Dia bilang ... dia cinta sama Mbak Ayu ..."
"Yang benar lo!" Nadya terkejut spontan mendorong tubuh Syifa menjauh darinya.
Syifa mengangguk mantap.
"Tapi Abang gue bilang, dia dan Bang Fa'i udah bantuin Bang Zikra buat acara penembakkan cinta buat elo," Nadya mengerutkan dahi. "masak sih Abang gue bohong?" menghela napas pendek. "awas aja kalo si keribo sampai bohong. Bakalan gue botakkin kepalanya sampai bersih." gumamnya sewot.
"Nad, sekarang gue udah enggak punya harapan lagi buat dapatin cinta Zikra. Cintanya udah dikasih ke Mbak Ayu secara terang-terangan," katnya lirih mengingat peristiwa di taman tadi.
"Tenang aja, Pa. Ada gue. Gue akan selalu ada buat bantuin elo merebut cinta Bang Zikra dari si pelakor gak berotaak itu," Nadya berusaha menghibur. "walau gimana pun Bang Zikra itu udah resmi jadi milik elo. Jadi, elo enggak boleh putus asa. Kita basmi si pelakor itu seperti membasmi nyamuk pakai fogging." tukasnya penuh tekad.
"Elo yakin mau nyemprot Mbak Ayu pakai asap fogging?" tanya Syifa tidak mengerti.
"Ya ampun ... bukan begitu Cipa ..." sahut Nadya gemas. "itu cuma istilah yang gue ciptain aja. Aduh ... kayaknya otak lo mulai gesrek gara-gara patah hati."
Syifa hanya mengernyit tidak mengerti.
Nadya menghela nafas panjang.
*
Zikra masih menunggu kedatangan Syifa di taman meskipun di bawah guyuran hujan. Namun sampai hujan reda gadis itu belum juga kunjung datang.
Berkali-kali dia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa istrinya akan datang. Hingga rasa frustasi dan kecewa mematahkan semangat yang sempat berkobar di dalam hatinya.
Berkali-kali dia menelepon Syifa, tetapi ponselnya tidak aktif. Hanya suara mesin yang memberi tahu tentang jaringan di luar jangkauan.
Ada apa dengan kamu Syifa? Mengapa sampai selarut ini kamu belum juga datang ke sini. Aku sungguh-sungguh mengharapkan kehadiran kamu disini. Mendengarkan ungkapan cinta aku padamu.
Akhirnya Zikra memutuskan untuk pulang ke rumah dengan perasaan hampa.
"Syifa ... Syifa ..." Zikra langsung mencari gadis itu ke kamarnya. Namun tidak ada. "kemana dia perginya." tanpa pikir panjang dia menelepon Nadya, karena Zikra tahu dengan benar dialah satu-satunya sahabat yang paling dipercayai Syifa.
Nadya beranjak duduk dari pembaringannya ketika mendengar dering ponselnya terdengar memekakkan telinga.
Syifa yang berbaring di samping Nadya ikut beranjak duduk.
"Dari Bang Zikra," ujar Nadya memberi tahu.
Syifa menggelengkan kepala seakan berkata, "jangan bilang gue ada di sini."
"Halo, Bang Zikra." Nadya agak terbata menjawab.
"Syifa ada di tempat kamu, nggak Nad?"
"Oh, Cipa ya? Tadi sih datang ke sini tapi ..." Nadya menoleh ke arah Syifa, memberi kode dengan gerakan matanya. Syifa hanya menggelengkan kepala memberi penolakan. "u-udah pulang dari tadi."
"Begitu ya? Ya udah, makasih ya, Nad." Zikra langsung menutup sambungannya.
Tanpa ba-bi-bu buket bunga mawar merah yang dibawanya pulang langsung dimasukkan ke dalam tong sampah di dapur. Dia sangat marah dan kecewa dengan sikap Syifa yang seakan sedang mempermainkan perasaannya.
Syifa menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur Nadya. Hatinya masih sangat terluka mengingat peristiwa di taman itu. Ia merasa sangat dipermainkan oleh sikap Zikra selama ini, yang seakan memberinya angin segar untuk mendapatkan cintanya. Tetapi pada kenyataannya semua itu hanya harapan hampa. Bagaikan debu yang tertiup angin tanpa meninggalkan bekas.
Mungkinkah semuanya akan berakhir?
__ADS_1
Bersambung ....