Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Jadi Mahasiswa


__ADS_3

Tahun pelajaran baru telah tiba. Saatnya Syifa masuk universitas. Nadya menyambut kedatangannya dengan antusias di depan gerbang kampus. Rasa senang yang tidak bisa diungkapkan mereka bisa kuliah di universitas yang sama, namun berbeda fakultas. Untuk pertama kalinya mereka pisah kelas. Setelah sebelumnya di SMP sampai SMA selalu berada dalam kelas yang sama.


Kegiatan kuliah Syifa banyak menyita waktunya. Hingga pekerjaan rumah tangga yang selalu dikerjakannya dengan baik, perlahan mulai terbengkalai. Piring kotor yang menumpuk di dapur, pakaian yang belum sempat disetrika, dan makanan yang seharusnya tersedia saat Zikra pulang kerja nyaris tidak ada lagi tersedia di atas meja makan. Membuat pemuda itu mau tidak mau harus turun tangan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut sepulang bekerja di kantor.


Harus banyak toleransi yang harus diberikan Zikra kepada Syifa. Mengingat dulu dia pernah mengalami betapa banyaknya tugas seorang mahasiswa. Dia mendengus lega setelah semua pekerjaan yang dilakukannya selesai.


Menjadi seorang mahasiswa sekaligus sebagai seorang istri ternyata tidaklah mudah. Apalagi gadis yang akan menginjak usia sembilan belas tahun seperti Syifa. Begitu banyak godaan yang membuatnya dilema. Sementara ia selalu dikelilingi oleh anak-anak muda millenial yang tidak terikat oleh tali pernikahan sepertinya. Walaupun Zikra tidak pernah menuntutnya macam-macam, ia harus sadar diri siapa dirinya.


"Nad, elo senang apa enggak, kita bisa kuliah?" tanya Syifa saat istirahat di kantin kampus.


"Seneng dong, apalagi senior-senior kita ganteng-ganteng," sahut Nadya excited.


"Senior kita bukan cowok semua, Nad. Tapi ada yang cewek juga."


"Iya, maksud gue juga begitu."


"Ah, elo kerjaannya copy-paste omongan gue aja."


Nadya terkekeh.


"Gue pikir elo senang bisa kuliah karena bisa tambah ilmu."


"Itu juga termasuk. Berhubung gue masih enggak faham sama mata kuliahnya, jadi enggak gue pikirin banget."


"Kalo enggak ngerti, kenapa elo enggak tanya sama dosennya?"


"Elo tahu sendiri kan, kalo gue orangnya pemalu. Mana berani gue tanya-tanya."


"Malu bertanya dibudayain. Malu bertanya sesat di jalan."


"Gue bukan tipe orang kayak gitu. Tapi, malu bertanya gue enggak jalan-jalan."


Syifa mendengus seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gimana hubungan lo sama si Zikra?"


"Aman-aman aja. Enggak ada yang aneh."


"Hei, Pa. Gimana rasanya tinggal bareng sama dia? Terus, malam pertama kalian ..."


"Ssstt! Jangan keras-keras ngomongnya," ujar Syifa setengah berbisik. "nanti ada yang tahu kalo gue udah nikah."


"Santai aja kali ... enggak papa mereka tahu, elo kan nikahnya bukan karena MBA. Ngapain pake malu segala."


Tidak lama berselang. Teman satu jurusan Nadya datang bersama dua orang teman yang lain. Mereka langsung bergabung. Nadya pun memperkenalkan teman-temannya itu kepada Syifa. Mereka adalah Isti, Kirana, dan Salsa.


"Kalian lagi bahas apa?" tanya Salsa penasaran.


Syifa menyikut lengan Nadya.


"Enggak, kita lagi enggak bahas apa-apa, cuma ngobrol biasa aja," sahut Nadya.


"Hai ..." sapa seorang mahasiswa tiba-tiba datang mendekati mereka.

__ADS_1


Kontan mereka menoleh ke sumber suara. Nadya langsung terpana melihat sesosok pemuda tampan itu.


"Hai, Kak," Kirana menimpali.


Pemuda itu tersenyum ramah. Sepasang manik matanya terpatri pada Syifa terlihat menggemaskan.


"Guys, kenalin ini senior kita," jelas Kirana. "namanya Kak Panji."


"Jangan panggil kakak dong, kesannya gue tua banget. Lagian umur gue sama kalian enggak terlalu jauh. Paling beda satu atau dua tahun doang. Jadi panggil aja gue Panji." pemuda itu duduk di samping Nadya.


"Kak Panji, kenalin mereka teman-teman aku satu jurusan. Kecuali Syifa beda jurusan," kata Kirana lagi.


Nadya tersipu bisa dekat dengan Panji. Tanpa basa-basi dia mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


"Halo, gue Nadya."


"Panji."


"Aku, Salsa."


"Panji."


"Dan aku Isti."


"Panji." pemuda itu melirik ke arah Syifa. "kalo kamu?"


"Syifa," sahutnya tidak mengulurkan tangan hingga membuat Panji hanya menggenggam angin. Gadis itu merasa canggung bila bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya.


Pemuda itu tersenyum kecil. Dia pun memulai obrolan yang disambut hangat oleh Nadya. Sepertinya gadis itu telah melupakan perasaannya kepada Zikra. Pemuda yang selalu membuat hatinya berdebar.


"Oya?"


"Iya. Waktu kuliah umum kemarin."


"Sori. Gue enggak ingat. Maklum mahasiswa yang hadir kan banyak, jadi gue enggak bisa mengenali satu per satu. Kecuali orang yang sudah gue kenal sebelumnya," tuturnya dingin.


Pemuda itu mengangguk-angguk seraya menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal.


Syifa sangat menikmati peran barunya sebagai mahasiswa. Ia merasa lebih bebas dari sebelumnya. Bagaikan mendapat angin surga. Aturan Bunda dan Ayah yang selalu mengikat kebebasannya, sudah tidak berlaku lagi. Zikra pun tidak pernah membatasi gerak langkahnya. Waktu luangnya sepulang kuliah sering dihabiskan untuk hang out bersama teman-teman kampusnya. Ia ingin belajar bersosialisasi. Memiliki teman banyak dan dapat menikmati masa muda yang nyaris hilang dari dalam hidupnya.


Hari sudah gelap. Waktu makan malam pun telah berlalu. Ia langsung masuk ke dalam kamar setelah lelah seharian berada di luar rumah. Belum sempat kakinya melangkah masuk, tiba-tiba langkahnya mendengar suara teguran.


"Apakah tugas kuliah kamu terlalu padat? Sampai kamu pulang seterlambat ini?"


Syifa bergeming. Memutar tubuhnya ke sumber suara. Ia terkejut melihat Zikra sudah berdiri di hadapannya. Rona wajah pemuda itu terlihat garang seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Iya. Kenapa?"


"Emangnya kamu enggak bisa bagi waktu antara kuliah dan tugas rumah?" tatapannya tajam seakan siap menembus jantung gadis di hadapannya. Melepaskan lipatan tangannya. "sebelum kamu menjadi mahasiswa, aku duluan yang mengalami menjadi mahasiswa. Aku tahu benar segala kegiatan mahasiswa di dalam maupun di luar kampus."


Syifa tertunduk diam membisu. Gadis itu tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya.


"Kemana aja kamu setelah selesai kuliah? Jam segini baru pulang?" semprot Zikra.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya semenjak tinggal dalam satu rumah, Zikra yang dikenalnya ramah, penyabar, dan pengertian, mendadak jadi semarah itu padanya.


"Kamu kenapa sih, biasanya kamu enggak pernah ngomong begitu sama aku?" ungkapnya kecewa.


"Aku enggak pernah melarang kamu untuk melakukan apa pun. Tapi, kali ini kamu udah keterlaluan."


"Keterlaluan? Apanya yang keterlaluan? Aku enggak keterlaluan. Aku ngerasa biasa-biasa aja, tuh!"


"Apa? Enggak keterlaluan?" Zikra mengerutkan dahinya.


Syifa mengkerut ketakutan.


"Pulang kuliah terlambat, pekerjaan rumah terbengkalai. Bahkan kamu lupa membeli stok makanan dan belanja bulanan. Itu yang menurut kamu enggak keterlaluan?" ungkap ZIkra seraya berjalan mendekati Syifa. Sedangkan Syifa semakin Zikra mendekat, ia akan berjalan mundur ke belakang hingga punggungnya menyandar ke dinding. Lengan panjang pemuda itu terulur menyentuh dinding. Membuat gadis itu tidak bisa bergerak bebas. "sekarang kamu udah berubah."


Syifa baru ingat uang belanja yang diberikan Zikra tempo hari tersisa beberapa puluh ribu saja. Karena telah terpakai untuk belanja dan jajan acap kali ia pergi nongkrong bersama teman kampusnya.


"Terserah apa katamu," sahut Syifa dengan nada suara meninggi. Dengan berang mendorong tubuh kekar itu menjauh darinya. Hilang sifat penurut dan pasrahnya dari diri gadis itu. "emangnya kamu siapa? Kamu bukan Ayah-Bundaku. Enggak ada hak kamu menyuruhku ini-itu seperti pembantu."


"Hak? Kamu bicara tentang hak?" wajah Zikra merah padam menahan amarahnya.


"Iya. Kamu enggak punya hak atas diriku," tukasnya.


"Baik. Aku akui aku memang bukan Ayah-ibumu. Tapi aku suamimu. Dan aku berhak atas dirimu," sanggahnya sengit.


Syifa tampak kebelingsatan mendengar ucapan Zikra.


"Sekarang akan aku tunjukkan hakku terhadapmu." menggendong perempuan itu dengan kasar.


Syifa meronta dan berteriak meminta dilepaskan. Namun kegagahan lelaki itu telah melemahkan upayanya. Zikra seperti orang kalap. Melempar Syifa ke atas kasur. Lalu menindih tubuh gadis itu seraya menarik serta mencengkram kedua lengannya erat. Hingga tidak bisa berkutik.


"A-apa yang kamu mau lakukan? Lepaskan aku!" air mata gadis itu berderai tanpa henti. Rasa takut menyelimuti hatinya. Degup jantungnya berdetak sangat cepat seakan mau kabur dari tempatnya.


Zikra menyeringai dengan sorot mata kejam.


"Bukankah kamu tadi meminta aku menunjukkan hakku?" tanyanya dingin.


"Jangan ... jangan ..." pinta Syifa lirih. Menggeleng-gelengkan kepala. "aku mohon, jangan lakukan ..."


"Kenapa? Kamu takut? Sampai berubah pikiran."


"Istigfar Zik ... ingatlah, kita enggak boleh melakukannya," suara Syifa parau.


Zikra tersadar akan perbuatannya yang telah menakuti sekaligus menyakiti hati Syifa. Sorot matanya tidak lagi terlihat kejam.


"Jagalah Syifa. Jangan sekali-kali kamu melukainya. Ingatlah Syifa seusia adikmu, Aini. Jika kamu menyakiti Syifa, itu sama saja seperti kamu menyakiti Aini." pesan Ayah sebelum berangkat ke Batam. Tiba-tiba terngiang di telinganya. Dan menyadarkannya.


"Maaf," ucap Zikra pelan. Melepaskan Syifa. Dilihatnya gadis itu masih menangis pilu. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping istri yang diam-diam sangat disayanginya.


Suara tangis Syifa memecah keheningan ruang kamar tidur Zikra. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Maaf," ucapnya Zikra lagi memeluk istrinya erat untuk meredam rasa bersalahnya. Matanya basah menyaksikan kesedihan yang diderita Syifa.


Bodoh! Bodoh! Bodoh! Apa yang udah aku lakukan? Mengapa aku membuatnya menangis lagi? Dasar bodoh! Dungu! Dalam hati Zikra merutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2