
Satu kotak masker wajah yang baru saja dibelikan Zikra teronggok di atas meja kamar Syifa. Raut wajahnya tampak tidak senang. Karena tidak yakin akan menggunakannya dilain waktu. Selain tidak hobi dandan, Syifa tidak punya banyak waktu untuk memanjakan diri atau mempercantik diri seperti gadis-gadis pada umumnya.
"Elo harus selalu tampil cantik, Pa." cetus Nadya. Merubah posisi duduknya di atas kasur Syifa. Dia tahu benar sahabatnya itu tidak pernah bersolek.
"Ah, enggak perlu. Gue bukan artis, ngapain juga pake acara dandan-dandan segala." sahutnya asal-asalan.
"Nah, ini ... penyakit lo."
"Kampret lo, Nad!" Syifa geram seraya memukul Nadya dengan bantal. Namun langsung ditangkis dengan
cepat. "elo nyumpahin gue punya penyakit."
"Ini, ini nih yang paling ngeselin dari elo."
Syifa mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Elo bilang takut Bang Zikra diambil sama Mbak Ayu yang cantiknya kayak artis Korea. Tapi elo sendiri enggak
ada usaha buat menarik perhatian Bang Zikra. Payah lo, Pa."
Tok! Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar Syifa diketuk.
"Hai, gadis-gadis makanan udah siap!" pekik Zikra dari balik pintu.
Nadya terlihat terkejut. Matanya terbelalak tajam ke arah Syifa.
"Gue enggak salah dengar kan, Pa?"
Syifa mengangkat kedua bahunya seraya mengangkat kedua alisnya.
"Bang Zikra ... masak?" tanyanya ragu.
Syifa mengangguk pelan dan lambat. Ia baru ingat setelah pulang belanja tadi belum sempat memasak makanan karena kedatangan Nadya yang tiba-tiba. Dengan suka rela Zikra menggantikan posisi Syifa memasak di dapur. Membiarkan istrinya menemani sahabatnya mengobrol di kamar.
"Ya amplop ..." menggelengkan kepala, kemudian mengacungkan kedua ibu jari tangannya di depan wajah Syifa. "hebat! Elo cewek paling beruntung di muka bumi ini." seringainya lebar.
"Ayo cepetan keluar gadis-gadis, nanti makanannya keburu dingin!" seru Zikra lagi.
Nadya menghirup dalam aroma masakan yang dibuat Zikra. Meskipun hanya memasak makanan biasa. Tetapi aromanya sangat menggugah selera.
"Woowww ..."
Syifa hanya diam, menatap tingkah polah Nadya heran.
Zikra tersenyum lebar melihat gadis yang selalu membuatnya teringat sahabatnya. Tingkah laku dan dialek yang mereka gunakan bisa dianggap sebelas dua belas. Betapa tidak, karena keduanya adalah kakak beradik.
"Eh, Pa. Elo pasti senang punya suami kayak Bang Zikra."
Zikra tersenyum senang.
Syifa hanya senyum tidak berarti, menganggkat kedua alisnya.
"Udah ganteng, baik, pinter masak lagi." puji gadis itu jujur.
"Udah dari dulu kali ..." sahut Zikra gede rasa.
"Sombong!" sungut Syifa pelan.
Nadya langsung mecicipi dengan jumlah banyak. Tepatnya melahap makanan di atas piringnya.
"Wah ... ini sih namanya warrbiasa!" pujinya lagi terlalu menyanjung.
"Lebay lo!" Syifa tampak tidak senang.
"Gue enggak lebay. Tapi emang faktanya. Kalo enggak percaya makan aja. Pasti elo nyaho!"
Dalam hati Syifa tidak menamfik makanan buatan Zikra memang enak. Bahkan lebih enak dari masakannya sendiri. Hanya saja ia enggan untuk memujinya di depan Nadya. Tetapi ia tidak senag mendengar pujian gadis itu pada suaminya. Entah mengapa ada perasaan tidak nyaman tiba-tiba mengusik ketenangan jiwanya.
"Udah. Kalo lagi makan dilarang bersuara, apalagi ribut. Kalo udah keselek pasti rasanya enggak enak. Iya kan?" Zikra seakan menenangkan mereka.
Tidak ada yang buka suara. Nadya tersenyum bahagia. Sementara Syifa hanya diam dengan wajah cemberut.
"Kamu enggak makan?" tegur Zikra melihat piring Syifa yang masih kosong. "kamu enggak suka makanannya? Mau aku masakin apa?"
"Wiiihh ... ternyata bang Zikra perhatian sama romantis juga? Jadi iri deh! Bikin jiwa jombloku meronta-ronta."
"Apaan sih lo, Nad? Orang biasa aja."
Nadya hanya mencebikkan bibirnya seakan mengejek Syifa.
"Sikap lo enggak sebanding sebelum elo nikah sama Bang Zikra. Gue jadi ingat waktu elo tahu mau dijodohin dulu," imbuhnya tersenyum mengenang peristiwa itu.
"Udah deh ... enggak usah diungkit," rajuk Syifa.
"Kenapa? Elo malu?" tanyanya menggoda. Terkekeh geli.
"Elo ngomong, gue jitak kepala lo."
__ADS_1
"Uuuh! Sadis!"
"Memangnya kenapa waktu itu?" tiba-tiba Zikra buka suara.
Syifa mendadak gelisah. Wajahnya merona menahan malu. Refleks membungkam mulut Nadya dengan telapak tangannya. Namun gadis itu berhasil mengelak dan buka suara.
"Tahu enggak Bang? Dulu Syifa enggak mau nemuin abang. Makanya waktu kencan buta, dia nyuruh Nadya nemuin calonnya. Terus, lucunya yang datang bukan abang. Tapi cowok yang dikejar-kejar Syifa di tempat KKN sama di kampus abang. Cowok cupu yang giginya ompong dua di depan, ha ha ha ..." tuturnya tidak dapat menahan tawanya yang nyaring.
Syifa menggelengkan kepala. Menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya.
Dasar rese!
Zikra tersenyum lebar seraya melirik Syifa yang tampak frustasi.
"Dia emang begitu, terkadang suka aneh," Nadya memicingkan mata. "yang ancur dikejar, yang ganteng dibiarin nganggur."
Syifa mencubit pinggang Nadya agar tidak melanjutkan keceriwisannya.
Nadya terlonjak kaget. Menahan antara rasa geli dan sakit, karena cubitan Syifa yang masih menempel di pinggangnya.
"Oya?"
"Bang Zikra, Nadya boleh dong sering-sering mampir ke sini? Numpang makan, soalnya masakan bang Zikra enak sih," tuturnya mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum jenaka.
"Boleh."
"Enggak boleh!" sahut Syifa ketus.
Zikra terkesiap langsung mengalihkan pandangannya pada istrinya, Tidak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
Nadya tersentak kaget. Menoleh menatap gadis yang duduk di sebelahnya.
"Cih! pelit lo, Pa. Bang Zikra aja bilang boleh masak elo yang teman gue bilang enggak boleh? Parah lo!" gugatnya berdecih tidak terima.
"Pokoknya elo enggak boleh sering datang ke sini, titik!" tukasnya.
"Kenapa? Nah ... gue tahu, elo takut gue digosipin sama emak-emak rempong tadi, ya? Eh, atau jangan-jangan elo cemburu ya sama gue? Takut bang Zikra gue ambil, iya kan? Iya kan?"
Ucapan Nadya berhasil membuat wajah Syifa merah padam. Nyaris tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Apaan sih lo, Nad? Gue enggak pernah ngomong begitu," kilahnya cepat. Tersenyum malu.
"Enggak papa kali, Pa ... wajar kalo elo cemburu. Jujur aja deh!"
Syifa menendang kaki Nadya di bawah meja sampai meringis kesakitan.
Zikra tersenyum menggelengkan kepala.
"Baru gue pake hari ini."
"Hmm ... pantesan tadi ibu-ibu tadi tanya kehamilan elo." Nadya teringat cerita Syifa tadi.
Zikra menyimak obrolan dua gadis cantik di seberangnya sambil menikmati makanannya sedikit demi sedikit.
"Apa hubungannya hamil sama daster? Ngarang lo!"
"Kata emak gue, ada beberapa alasan seorang wanita memakai daster. Tapi, mayoritas para ibu hamil pake daster. Kayak tetangga sebelah rumah gue. Lagi hamil besar, pake daster." Nadya langsung menyuap nasi yang sudah terisi pada sendok makannya ringan.
Syifa bertukar pandang dengan Zikra diam-diam. Ekspresi wajahnya terkesan malu namun ada sorot marah terselip di manik matanya.
"Tapi gue kan enggak hamil, Nad." rajuknya.
"Iya. Kalo lo hamil pun enggak papa kali, Pa. Toh, elo kan udah punya suami. Yang belum punya suami aja hamil santai-santai aja tuh." katanya ringan.
Zikra tersenyum. Dia tidak ingin buka suara. Khawatir ucapannya akan memperkeruh suasana hati Syifa.
Syifa menghela nafas resah.
"Oya, gimana elo sama Panji masih ..." Nadya tidak jadi melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba kakinya ditendang lagi di bawah meja. Gadis berambut bergelombang itu tidak sengaja membahas tentang cowok yang membuat pendengaran Zikra alergi. Padahal dia hanya ingin menanyakan tentang rencana Syifa hendak resign dari tempat kerjanya bersama Panji. Namun dia langsung sadar waktunya tidak tepat.
"Panji?" Zikra mengerutkan dahi menuntut penjelasan.
Mata Syifa nyaris keluar memelototi Nadya sangar. Seakan berbicara untuk menutup mulutnya.
"Iya, Bang. Itu Panji teman kampus kita. Tapi satu jurusan sama Syifa," Nadya terbata.
"Lalu apa hubungannya dengan kamu? Kamu enggak ..."
"Apaan sih kamu? Aku sama Panji kan teman. Jangan pake curiga begitu dong. Seolah-olah kamu lagi cemburu aja."
"Aku memang cemburu, Syifa." jawab Zikra dalam hati. Rona wajahnya berubah merah padam seketika. Menunjukkan rasa tidak senangnya.
Syifa dan Nadya hanya bisa kasak-kusuk saling menyalahkan.
Setelah Nadya pergi Syifa langsung merapikan meja makan. Lalu mencuci piring di westafel dapur.
Satu demi satu piring, mangkuk, gelas, sendok makan, dan perabot masak lainnya disabuninya menggunakan spons cuci piring dengan banyak busa. Angannya melayang teringat ucapan ibu-ibu tetangga rumahnya saat belanja tadi, Hingga ucapan Nadya semuanya berbaur dan terangkum dalam otaknya.
__ADS_1
Tiba-tiba Zikra melingkari kedua tangan kokohnya di pinggang Syifa dari belakang. Kedua tangannya bertumpu pada perut Syifa yang rata. Sontak gadis itu terlonjak Kaget. Terdiam membeku tidak dapat bergerak. Degup jantungnya berdesir cepat. Aroma parfum yang menyatu dengan aroma tubuh Zikra menguar menyusup masuk ke dalam indera penciumannya. Aroma maskulin yang berciri khas tubuh pria.
"A-apa yang kamu lakuin?" tanyanya gugup. "a-aku lagi cuci piring, tolong lepasin!"
Zikra meletakkan dagunya di atas bahu Syifa. Kemudia wajahnya ditundukkan dan mencium bahu istrinya lembut.
Bulu roma Syifa meremang menahan geli. Tanpa sadar tubuhnya bereaksi untuk menghindar. Tetapi tidak ada gunanya. Suaminya terlanjur mendaratkan ciuman hangatnya diiringi hembusan nafasnya mengenai kulit lehernya yang telanjang.
"Biarkan!" titahnya berbisik di telinga Syifa.
Syifa terdiam tanpa suara. Sesekali menggerakkan kepalanya menahan geli.
"Biarkan aku menyentuhmu seperti ini." dengan nada suara yang sama Zikra mengeratkan pelukannya. "aku takut aku kalah."
Syifa mengerutkan dahinya tidak mengerti kalimat terakhir yang diucapkan Zikra.
Zikra memutar keran air di depan wajah Syifa. Setelah itu menengadahkan telapak tangannya di bawah kucuran air yang sedang mengalir. Dengan jahil dia menyipratkan air itu ke wajah Syifa yang sangat tegang agar lebih rileks sedikit.
Syifa tidak tinggal diam. Ia langsung melakukan serangan balik hingga Zikra mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Senyum yang berkembang menjadi gelak tawa memecah keheningan pagi.
Baju Syifa dan Zikra basah. Terpaksa mereka harus menggantinya.
*
Syifa menyodorkan sebuah amplop panjang coklat yang dilipat ujungnya kepada Zikra.
"Apa ini?" tanyanya Zikra penasaran.
"Uang."
"Untuk apa?"
"Kebetulan aku baru dapat tranferan uang dari Ayah. Maaf kalo kelamaan."
"Maksudnya?" Zikra menuntut penjelasan.
"Tempo hari aku pernah pakai uang kamu buat kesenangan aku yang enggak jelas," jawabnya jujur tetapi ia berbohong tentang uang yang diterimanya. Pasalnya sampai detik ini Ayah masih belum ada kabar. "berhubung kemarin-kemarin aku belum punya uang, karena enggak tahu kenapa Ayah belum ..." nyaris Syifa mengatakan yang sebenarnya.
Zikra geram dengan sikap Syifa yang masih menganggapnya orang lain. Sementara dirinya sudah menganggap pasangan hidupnya. Mendengus berat. Dia tidak bisa menunjukkan rasa marahnya kepada gadis di hadapannya.
Syifa terkejut ketika Zikra mengembalikan amplop itu kepadanya.
"Tolong maafkan aku, karena aku belum bisa membahagiakanmu," ujar Zikra lirih.
"Maaf?" Syifa bingung. "kok kamu malah minta maaf ke aku? Seharusnya aku yang minta maaf ke kamu. Aku udah enggak bisa pegang amanah kamu." menundukkan wajahnya menatap amplop coklat di tangannya.
Syifa terbeliak kaget, tiba-tiba Zikra memeluk tubuhnya erat. Tubuhnya pun membeku terlalu syok.
"Aku janji sama kamu, aku akan bekerja lebih keras lagi agar kamu bisa bahagia." bisiknya di telinga Syifa.
Enggak! Gue enggak boleh berharap lebih darinya. Sadar Syifa ... Zikra cuma cinta sama mbak Ayu.
"Me-maaf, bisa dilepas enggak?" tanya Syifa tidak nyaman. Ia tidak bisa membiarkan perasaannya terbuai dalam pelukan pemuda itu. Ia khawatir Zikra mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Karena takut Zikra akan menolaknya. "aku enggak nyaman. Lagian acara kencan kita kan udah kelar." lanjutnya risih. Namun hatinya berdecih merutuk dirinya sendiri yang tidak kompak antara hati dan ucapan. Hatinya ingin tetap berada dalam pelukan Zikra. Ucapannya malah menghindari.
Zikra melepaskan pelukannya seraya menatap pipi Syifa yang merona malu. Wajah gadis itu tertunduk dan menggigit bibir bagian bawahnya. Dia tersenyum. Lalu menyeretnya keluar. Meminta duduk di jok boncengan sepeda motornya.
"Kita mau ke mana?" tanya Syifa heran.
"Kita pergi ke suatu tempat."
"Di mana?"
"Udah, nanti kamu juga tahu. Pegangan aja yang kencang soalnya aku mau ngebut nih."
Zikra mengajaknya ke mall. Menyuruhnya memilih barang yang dimau Syifa. Tetapi gadis itu menolak. Ia takut akan menyusahkan Zikra bila menuruti hasrat belanjanya. Akhirnya Syifa membeli baju atas desakan Zikra. Setelah itu mereka akan membeli hadiah untuk Mamanya Zikra yang sedang berulang tahun.
Tiba-tiba rasa nyeri di perut Syifa datang menyerangnya. Rasa yang khas bagi wanita yang sedang datang bulan. Dan benar saja. Warna merah kehitaman menodai celana dalamnya. Untungnya tidak sampai tembus ke pakaian luar. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya pun mengkerut menahan rasa nyeri yang mengganggunya.
Awalnya Zikra tidak mengerti perubahan sikap Syifa. Namun perlahan Zikra mengerti apa yang dialami gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu. Karena dia memiliki adik perempuan yang sebaya dengan Syifa. Setiap datang bulan Aini mengalami hal yang sama dengan istrinya.
Tanpa rasa malu Zikra membelikan celana dalam dan pembalut untuk Syifa. Gadis itu merasa canggung dengan sikap Zikra yang sedikit berlebihan. Kendati dalam hati ia sangat berterima kasih padanya. Jika dia tidak cekatan membelikan keperluannya, sudah dipastikan ia akan menanggung malu yang tidak bisa dilupakan seumur hidup.
"Udah selesai?" tegur Zikra ketika Syifa baru keluar dari toilet wanita.
Syifa mengangguk malu. Mengulum senyum canggungnya. Entah mengapa ia merasakan Zikra sedang menunjukkan rasa cinta yang besar kepadanya. Walaupun pemuda itu tipikal lelaki yang cuek tapi perhatian. Sikapnya dari hari ke hari yang ditunjukkan kepada Syifa, bukan lagi sekadar perasaan seorang teman seperti dulu, yang pernah diucapkan saat pertama kali tinggal satu atap. Kini telah berkembang menjadi hubungan sebagai lawan jenis.
Sejak kencan kemarin ZIkra tidak lagi menahan diri menyentuh Syifa. Apalagi dia sempat mengecup bibir gadis itu, walaupun kecupannya tidak mendapat balasan. Mungkin Syifa terlalu syok hingga dia mematung tidak bergerak. Dan pagi ini dia berani memeluk dan mencium bahunya meskipun dari belakang. Sungguhkah sikap Zikra tidak main-main terhadap Syifa? Gadis itu belum bisa meyakininya. Masih ada Ayuniatara yang berusaha membolak-balikkan hati Zikra agar bisa berpaling darinya.
Sebenarnya kamu cinta enggak sih sama aku? Kalo enggak cinta, kenapa sikap kamu seperti ini? Membuat aku berharap lebih dari hubungan yang akan aku tinggalkan. Aku takut aku salah mengartikan sikap kamu yang hanya membuat aku kecewa. (Syifa)
Semoga kamu bisa merasakan cinta dan perhatianku kepadamu. Karena aku udah enggak bisa menahan perasaanku untuk selalu ada bersamamu. (Zikra)
Petualangan di dalam mall itu belum selesai. Mereka masih menjelajah arena permainan. Tetapi tidak berlangsung lama karena terlalu didominasi anak kecil. Syifa dan Zikra beralih ke tempat lain.
Sepasang sejoli itu berjalan saling bersisian. Diam-diam Zikra menyentuh punggung tangan Syifa dengan punggung tangannya. Gadis itu tidak memberi reaksi berlebihan. Kemudian menggamit jari Syifa. Akhirnya menggandengnya erat.
Syifa pura-pura tidak tahu. Ia memalingkan wajahnya seperti sedang melirik barang-barang yang dipajang di depan toko. Dalam hati ia sangat bahagia bisa berjalan bersama bergandengan tangan dengan orang yang dicintainya. Terakhir ia pernah mengalami hal yang sama saat sebelum diputusin Angga. Syifa mendesah sangat pelan. Hingga Zikra tidak mendengar suara nafasnya yang keluar dari hidungnya.
__ADS_1
Bersambung ...