Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Me Vs Pelakor


__ADS_3

Pagi-pagi Syifa sudah berkutat di dapur. Memeriksa persediaan bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas. Ia menghela nafas melihat stok makanan yang tersisa tinggal sedikit.


Harus segera belanja nih!


Setelah menanak nasi dengan magic com, Syifa keluar rumah mencari tukang sayur langganan. Biasanya Abang sayur itu selalu mangkal di ujung jalan dekat rumah Bu Fera.


Gerobak sayur yang tidak terlalu besar nyaris tidak terlihat oleh ratu-ratu rumah tangga sekitar kompleks. Dari kejauhan terdengar suara mereka mengobrol atau lebih tepatnya ngerumpi antara satu sama lain. Ada saja yang mereka jadikan bahan rumpian.


Terkadang kepekaan mereka terasa lebih tajam dari silet. Gosip-gosip yang mereka bicarakan selalu lebih up to date dari gosip artis di tv.


"Eh, Mbak Syifa ..." sapa Mama Adel. "belanja nih?"


"Iya Mama Adel."


"Kemana aja nih Mbak Syifa kok baru nongol?" tegur Bu Astuti. Wanita yang pernah memfitnahnya tempo hari.


Syifa tersenyum kecil. Langsung memilih sayur yang akan dibelinya.


"Ah, Bu Astuti pura-pura enggak tahu, atau emang enggak tahu sih? Mbak Syifa orang sibuk. Selain jadi ibu rumah tangga, tapi juga jadi mahasiswa. Wajarlah kalo jarang kelihatan, iya kan Mbak?" terang Mama Adel.


Syifa mengangguk pelan.


"Wah ... hebat ya Mbak Syifa. Walaupun udah menikah, pendidikan enggak dilupakan," decak Bu Fera kagum.


"Tapi Mbak Syifa yakin bisa menjalani keduanya dengan baik?" Bu Astuti tampak ragu.


"Itu sih tergantung gimana kita bisa ngimbangin atau enggak. Kalo saya sih insyaallah aja."


"Insyaallah apa nih? Kayaknya enggak yakin gitu?"


"Eh, Bu Astuti kok jadi sinis gitu sih?" Bu Fera mengerutkan dahinya.


"Ho-oh."


"Bukan begitu bu-ibu ... saya kan cuma tanya aja. Lagian yang namanya orang hidup berumah tangga pasti enggak selamanya mulus-mulus aja kayak jalan tol. Pasti ada gonjang ganjingnya." katanya membela diri seraya melirik Mama Dio yang baru saja tiba.


Mama Dio sudah lama dipoligami suaminya. Suaminya jarang pulang setelah menikahi wanita lain. Padahal selama pernikahan mereka sudah dikaruniai dua orang anak. Namun tidak mengurungkan niat suaminya untuk berpoligami. Mama Dio pun sepertinya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia seakan ikhlas menerima takdirnya.


Sementara para tetangga malah sibuk menggosipkan Mama Dio seenak jidat mereka. Terkadang mereka menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Hingga menimbulkan fitnah yang membuat orang lain menderita. Sama seperti yang pernah dialaminya ketika itu.


"Assalamu'alaikum ... bu-ibu ..." sapa Mama Dio ramah.


"Wa 'alaikum salam, Mama Dio ..." sahut yang lain hampir bersamaan.


"Ngomong-ngomong, Mbak Syifa udah ngidulin apa belum nih?" tanya Bu Astuti mengalihkan pembicaraan.


"Ngidulin? Ke rumah siapa ya?" Syifa balik tanya. Tidak mengerti arah pembicaraan ibu bertubuh subur itu. Ia hanya mengerti ngidulin bahasa daerah di pulau Jawa, asal dari kata kidul artinya selatan.


"Oh, bukan itu. Tapi udah hamil atau belum?" tersenyum palsu.


Syifa tersentak kaget. Rona wajahnya mendadak pucat pasi. Ia ragu untuk menjawab. Mustahil rasanya mengatakan yang sejujurnya kepada mereka semua. Emak-emak rempong yang hobinya suka menggosip. Tidak berani membayangkan jika mereka tahu. Sudah pasti ia akan menjadi bulan-bulanan gosip mereka setiap hari.


"Hati-hati lho Mbak. Kalo istri belum kasih keturunan, biasanya suami akan mencari-cari alasan buat selingkuh, abis itu poligami deh," kata Bu Astuti dengan nada mengejek.


Dug! Degup jantung Syifa seakan berdetak kencang. Sontak membuatnya terdiam membisu.


"Eh, tahu gak bu-ibu ... anak Bu Etty yang baru kemarin nikah, ternyata sudah hamil dua bulan lho."


Ya Tuhan ... mulutnya udah lancar banget bikin gosip.


"Bu Astuti, hati-hati lho, enggak boleh ngomong sembarangan," Mama Dio mengingatkan. "khawatir jadi timbul fitnah."


"Beneran, saya enggak mengada-ada."


"Masak sih, Bu?" Mama Adel tidak percaya.


"Iya. La wong saya dapat info dari sumber terpercaya kok."


Syifa hanya mendengus pelan. Sedikit membayangkan bila dirinya ada di posisi orang yang sedang dijadikan bahan gosip.


Semua ibu-ibu yang mendengar kabar itu tampak telah termakan omongan Bu Astuti hingga percaya.


"Oiya. Mbak Syifa, siapa perempuan yang sering datang ke rumah Mbak?"


OMG! Akhirnya gue ketemper juga.


"Perempuan yang mana, Bu?" Syifa berusaha menghindar.


"Itu lho, yang sering datang bareng sama Mas gan. Orangnya tinggi, penampilannya apik, cantik lagi."


"Oh, Mbak Ayu. Itu temannya suami saya. Dulu mereka pernah satu sekolah," Syifa berusaha sewajar mungkin dalam menjawab. Berharap tidak menjadi santapan gosip.


"Eh, si Mbak Syifa ... enggak boleh ngomong begitu. Emang sih awalnya bilang teman. Tapi hati-hati takutnya lama-kelamaan mereka jadi demen."


Sebenarnya mereka udah demen tapi sekarang entah jadi teman, atau malah masih demen. Pikirannya membatin.


"Mbak Syifa enggak boleh tinggal diam. Kita sebagai istri, sebisa mungkin Mbak harus mempertahankan pernikahan tanpa pelakor. Soalnya yang namanya pelakor bisa merebut suami kita dengan segala akal bulusnya. Kalo udah kepincut, hehhh ... yang ada kita cuma bisa gigit jari." Bu Astuti sangat menggebu-gebu seperti caleg yang sedang orasi di depan massa pendukungnya. Dia melirik Mama Dio seakan sedang menyindir.


"Bu Astuti, jangan nyalahin perempuan lain terus dong," protes Abang sayur.


"Emang bener begitu kok bang."


"Iya. Tapi ibu juga harus instrospeksi diri. Kenapa pelakor bisa merajalela? Kenapa suaminya bisa terlena sama rayuan maut pelakor?"


"Ih, si Abang kok ngomong begitu sih? Kayak mau menyumpahi saya?"


"Bukan begitu Bu Astuti. Ada kata bijak mengatakan, 'tidak ada asap kalo tidak ada api. Jadi, enggak ada perselingkuhan kalo keluarga harmonis."


Haduuuhh! Ini orang kudu diapain biar dia enggak ceriwis lagi.


"Udah, Mbak Syifa buru-buru hamil biar suaminya enggak kecantol pelakor." Bu Astuti yang sok bijak. Membuat gadis itu menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


Bener-bener deh, ini orang ...


Syifa hanya menyeringai canggung seperti orang bodoh.


Mama Dio langsung pamit pulang menyudahi acara belanjanya. Rona wajahnya terlihat sangat tersinggung dengan ucapan Bu Astuti.


Bu Astuti menyeringai sinis menatap kepergiannya.


Bu Fera, Mama Adel, dan beberapa orang ibu yang lain satu per satu meninggalkan gerobak Abang sayur. Kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Syifa.


Sejak belanja sayur tadi Syifa sudah menahan rasa gondoknya. Daun kupingnya terasa panas dan berasap seperti tersulut bara api. Hingga ia berulang kali ia beristighfar untuk memadamkan hatinya yang berkobar. Tanpa sadar keresek belanjaannya dibanting di atas meja dapur.


"Ada apa sama kamu, pulang belanja marah-marah enggak jelas? Terus, tiba-tiba jadi religius begitu?" Zikra menatapnya heran. Menuang air dingin yang diambilnya dari dalam kulkas ke dalam gelas. Meneguknya sedikit. Bergerak ke meja makan yang berjarak hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


Syifa mendengus kesal. Mungkin bila divisualisasikan keluar asap dari lubang hidungnya, saking kesalnya teringat ucapan Bu Astuti tadi. Memutar tubuhnya menghadap Zikra seraya menyandarkan bokongnya di pinggir meja dapur. Kedua tangannya mencengkram erat tepian meja, seakan ingin mencabiknya kuat.


"Aku sebal!"


Serta merta Zikra memutar kepalanya. Terperangah melihat ekspresi wajah kesal istrinya. Mengerutkan keningnya menebak apa yang telah terjadi.


"Sebal? Sama aku?"


Syifa beranjak duduk di samping Zikra. Mendengus berat.


"Bukan."


"Terus?"


"Aku sebal sama ibu yang tempo hari datang ke sini. Bete!"


"Siapa?" Zikra berusaha mengingat orang-orang yang pernah datang ke rumahnya. "hmmm ... Mama Dio?"


"Bukan!" sahutnya cepat. "Mama Dio enggak bakalan bikin aku sesebal ini." gumamnya.


Syifa menceritakan semua yang telah terjadi dengan berapi-api. Zikra tersenyum melihat ekspresi Syifa yang sedang kesal, tapi begitu menggemaskan di matanya.


"Lalu?"


"Ah ... gimana sih, aku udah ngomong panjang lebar, tapi kamu malah balik tanya, 'lalu?' nyebelin!" gerutunya. "sama nyebelinnya sama ibu yang tadi."


Zikra terkekeh geli.


Syifa beranjak berdiri seraya menghentakkan kaki di lantai. Membalikkan badan hendak bergerak pergi.


Secepat kilat Zikra menahan kepergiannya dengan menarik lengan gadis itu hingga. Syifa langsung menoleh.


Zikra beranjak berdiri di sisinya. Merapatkan tubuhnya. Wajahnya yang tampan terlihat sangat jelas memenuhi pandangan gadis itu. Melahirkan desiran halus di sanubari hatinya.


"Kamu mau hamil?" bisiknya iseng di telinga Syifa.


Gadis itu terlonjak kaget. Refleks mendorong tubuh kekar di dekatnya pelan. Matanya terbelalak melihat senyum yang tersungging di bibir tipis pemuda itu.


"Itss!" desis Syifa marah. "kamu ... aaahhh ..."


Zikra terkekeh geli.


"Sori-sori." memalingkan wajah dan membalikkan badannya ketika melihat Syifa dan Zikra sedang berdiri berdekatan.


Kontan Syifa dan Zikra saling menjauh.


"Nad ..."


Malu-malu Nadya membalikkan tubuhnya kembali. Tersenyum bodoh menunjukkan deretan giginya yang rata dan bersih.


"Bang Zikra ..." sapanya malu-malu dengan senyum konyolnya.


"Hai."


Syifa mengajak Nadya mengobrol di dalam kamarnya. Sementara Zikra memilih membersihkan sepeda motornya di depan rumah.


"Sori, Pa. Gue enggak bermaksud ..."


"Udah. Santai aja, gue kan enggak ngapa-ngapain sama dia. Cuma ..."


"Wajar kok elo berdua mau ngapa-ngapain. Kalian kan udah nikah."


"Tapi enggak gitu juga kali, Nad ..."


"Iya, gue ngerti. Woles aja ..." Nadya tersenyum bijak.


Syifa menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidurnya. Wajahnya terlihat lesu.


"Kenapa?" selidik Nadya ingin tahu.


"Gue lagi bete, Nad."


"Bete?" mengerutkan dahi.


Syifa menganggukkan kepala. Bibirnya mengerucut sebal.


"Elo sebel sama Bang Zikra?" tanya Nadya ragu.


"Bukanlah!"


"Terus?"


"Gue bete sama omongan emak-emak rempong."


"Hah? Emak-emak rempong?"


"Itu, tetangga sekitar sini."

__ADS_1


"Ooohh ..." mengangguk-anggukkan kepala.


Tanpa tedeng aling-aling Syifa menceritakan semua keluh kesahnya kepada sahabatnya. Air mata nyaris meluncur bebas di pipinya.


"Sabar... tapi kalo gue pikir-pikir ada benernya juga omongan tetangga lo."


"Maksud lo?"


"Elo harus bisa mempertahanin rumah tangga elo sama Bang Zikra. Kalo bisa elo cepetan hamil biar semua perhatian Bang Zikra buat elo aja."


"Ah, elo ..."


"Ya iyalah. Walau bagaimanapun elo harus menangin hatinya Bang Zikra. Jangan sampai kalah sama si pelakor berbulu domba itu."


"Elo ngomong apaan sih?" Syifa pura-pura tidak mengerti.


"Yah elo ... war terhadap pelakor. Oke?"


Syifa mendengus kencang.


Selesai membersihkan sepeda motornya, Zikra masuk ke dalam rumah. Lalu ke dapur untuk mengambil minum. Dia tersenyum mendengar obrolan kedua sahabat yang sedang bertukar pikiran ketika melewati kamar Syifa. Tanpa ingin mengganggu kebersamaan mereka, dia langsung masuk ke dapur.


Syifa keluar dari kamarnya, beranjak ke dapur untuk mengambil minum untuk Nadya. Zikra yang baru meneguk air minumnya mendadak tersedak, lalu memuntahkan sebagian air yang tidak bisa tertelan, dan terbatuk saat melihat wajah istrinya putih menyeramkan.


"Astaghfirullah."


Syifa terdiam melihat ekspresi wajah ketakutan Zikra.


"Ka-kamu ... kenapa?" Zikra menunjuk wajah Syifa.


"Apa?" sahut Syifa terdengar bergumam, karena masker yang menempel di wajahnya mulai mengering dan terasa kencang.


"Itu, muka kamu. Kenapa begitu?"


Hah?!


Gadis itu langsung menyentuh wajahnya, tersadar bahwa dirinya sedang menggunakan masker wajah.


Nadya buru-buru keluar dari kamar Syifa setelah mendengar sedikit keributan di dapur.


"Maaf Bang, Syifa lagi pakai masker wajah." ujarnya cepat.


"Masker?" mengerutkan dahi.


Syifa mengangguk cepat.


"Aku lagi demo masker wajah supaya cantik alami."


"Kamu jualan?" tanya Zikra menebak isi pikiran gadis memiliki cengiran mirip Bonang. Hingga dia selalu ingat dengan sahabatnya yang suka ngocol itu.


"Iya." Nadya menyeringai lebar. Rupanya diam-diam gadis itu berjualan kosmetik impor untuk menambah uang jajan. "murah kok Bang, pembungkusnya cuma empat ribuan doang. Tapi kalo beli satu kotak gini, isi 10 harganya cuma tiga puluh ribu." menunjukkan produk kosmetik yang dibawanya.


Syifa hanya terdiam dengan ekspresi datar. Pasalnya ia tidak bisa menggerakkan wajahnya yang sudah terasa kaku. Sesekali ia mengelus bagian wajahnya yang terasa sedikit sakit karena tertarik oleh gerakan yang terjadi.


Nadya menyeringai lebar penuh harap. Berharap barang dagangannya dibeli oleh Zikra. Syukur-syukur diborong semua.


Zikra melirik Syifa tengah berjalan masuk ke kamar mandi. Dia menghela nafas panjang.


Nadya mengeluarkan semua isi Tote bag yang dibawanya. Berbagai macam merk dan beraneka jenis kosmetik ditunjukkan di hadapan sepasang suami istri itu. Menjejernya di atas meja makan. Tidak lupa menjelaskan semua kegunaan kosmetik yang dijajakan dengan semangat.


Syifa dan Zikra duduk berhadapan, saling bertukar pandang.


"Sori, Nad. Gue enggak beli. Mending elo rapihin semua dagangan lo." imbuh Syifa.


"Yah, elo ... tega banget sih... Masak enggak beli?" rajuk Nadya kecewa. "beli dong, yang mana kek ... enggak perlu beli semua. Seenggaknya ada yang elo beli. Plis ..." lanjutnya memohon.


"Tapi elo kan tahu, kalo gue enggak biasa pakai make up. Jadi, ngapain juga gue beli."


"Plis dong ... ayo dong ... elo beli," ujarnya memaksa. "ingat pelakor," bisiknya seraya menyelubungi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Syifa tidak bergeming. Kendati dalam hati ia ingin membelinya. Tetapi untuk saat ini ia belum punya uang, maklum belum gajian. Dia pun tidak berani meminta kepada Zikra. Padahal pemuda itu tidak keberatan jika Syifa mengatakan ingin membelinya.


"Ya ampun ... elo adalah customer pertama gue. Jadi kalo elo beli, gue dapat penglaris pagi ini." masih berharap Syifa mau membeli barang dagangannya. Namun gadis itu tetap pada pendiriannya.


Rona wajah Nadya mendadak kecut. Dia sedih dagangannya tidak dibeli Syifa. Dengan lemas dia mengemasi barang dagangannya ke dalam Tote bag.


"Tadi Syifa pakai yang mana aja?" tanya Zikra tiba-tiba. Seakan memberi angin segar untuk Nadya.


Dengan cepat Nadya menyodorkan merk masker yang tadi dipakai Syifa.


"Untuk apa?" Syifa mengerutkan dahi. "aku kan ..."


"Berapa harganya?" tanya Zikra tidak mempedulikan ucapan istrinya.


"Tiga puluh ribu." sahut Nadya singkat.


Tanpa sungkan Zikra merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet, lalu mengambil satu lembar uang lima puluh ribu rupiah.


"Ambil aja kembaliannya." serunya menyodorkan selembar uang tersebut di atas meja.


Sepasang manik mata Syifa mengikuti gerakan tangan Zikra.


"Zik, enggak perlu ..."


"Asyik ... makasih ya Bang," pekik Nadya sambil menjembreng selembar uang yang baru dikasih oleh Zikra, lalu mengibas-ngibaskan di depan wajahnya.


"Nih, pakai yang teratur sesuai petunjuk penggunaan. Tapi ingat, jangan dipakai saat tengah malam." menyodorkan di depan Syifa. Kemudian beranjak pergi.


Syifa mendengus kencang.


"Laris manis tanjung kimpul. Dagangannya abis, duitnya pada kumpul ..." ujar Nadya seraya mengibas-ngibaskan di atas dagangannya. "muka jadi manis, pelakor langsung pada kabur ..." tambahnya setengah berbisik.

__ADS_1


Syifa hanya terdiam dengan wajah masamnya.


Bersambung ...


__ADS_2