
Sebelum pergi meninggalkan rumah Syifa mengunci pintu terlebih dahulu. Setelah itu Zikra mengulurkan tangannya dan langsung disambut hangat oleh Syifa. Sepanjang perjalanan menuju tukang nasi goreng pinggir jalan yang terletak diujung jalan, mereka berdua bergandengan tangan mesra layaknya sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran.
Akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju setelah menempuh jarak kurang lebih dua ratus meter. Sebuah gerobak terbuat dari kayu dan berbingkai kaca pada bagian penyimpanan telur, sayur, moe telur, kwetiau dan lain-lainnya. 'NASI GORENG PAK MIN', kalimat itu tertulis pada dinding kaca yang sengaja ditulis dengan karakter besar.
Tidak ada yang istimewa pada tempat itu. Hanya beratapkan terpal dan kain bekas spanduk tidak terpakai untuk sekatnya. Sebuah meja panjang berukuran satu setengah meter, dan beberapa bangku plastik yang diletakkan si sisi kanan dan kiri meja.
Syifa langsung duduk di kursi yang berada di pinggir sisi meja. Zikra duduk di kursi yang berhadapan dengan Syifa. Kebetulan malam ini, kedai nasi goreng Pak Min tidak sedang ramai hingga keduanya bebas memilih tempat sesuka hati.
Sesekali terdengar suara kendaraan yang kebetulan melintas. Seakan memberi kesan ramai memecah keheningan hari yang sudah beranjak malam.
"Pak, nasi goreng spesial dua, ya." seru Syifa setengah memekik. "yang satu pedas, yang satunya lagi sedang." ia sengaja memesan dua rasa yang berbeda. Pasalnya saat ini ia sedang ingin merasakan makanan dengan sensasi berbeda.
"Mau makan disini, atau dibungkus?" tanya Pak Min sebelum membuat pesanan Syifa.
"Makan di sini, Pak." jawab Syifa cepat.
"Oke." Pak Min langsung menurunkan kuali yang berukuran lumayan besar dari atas atap gerobaknya. Sebenarnya Pak Min memiliki dua kuali yang berukuran sama. Namun memiliki tugas yang berbeda. Jika kuali yang yang baru saja diturunkannya untuk menggoreng. Berarti kuali yang lainnya digunakan untuk memasak makanan yang berkuah. Tujuannya agar kuali yang digunakannya tidak lengket.
Suara kompor menyala, denting permukaan kuali yang mendapat gesekan dari samsi yang digunakan Pak Min, ditambah suara minyak panas yang digunakan untuk menggoreng telur serta menumis bumbu, seakan menciptakan irama tersendiri mengisi ruang sederhana yang sedang didiami Syifa dan Zikra. Aroma masakan khas nasi goreng menguar menusuk rongga hidung. Seakan merangsang cacing-cacing yang bersamayam di dalam perut untuk bergeliat menunjukkan aksinya. Lalu meronta dan menuntut minta diberi makan.
"Kamu mau makan pedas, Yank?" tanya Zikra.
"Iya. Mulut aku lagi hambar, jadi biar ada rasa menggigit sedikit." jawab Syifa asal.
"Kamu ini gimana sih, Yank. Kalo cuma pingin rasa menggigit, kenapa gak bilang sama aku aja? Aku yakin, aku bisa ..."
Refleks Syifa mencubit lengan Zikra hingga memekik kesakitan.
"Aww! Sakit, Yank..."
__ADS_1
"Kamu sih, makanya kalo ngomong engak usah menjurus..."
"Jurus apa? Jurus silat?"
"Stop! Stop! Jangan diterusin!" sergah Syifa melarang Zikra melanjutkan ucapannya. Ia merasa jengah bila membahas masalah yang bersifat pribadi di muka umum. Zikra hanya mendengus diam sambil mencebikkan bibirnya sampai terlihat maju beberapa mili meter.
"Aroma masakannya enak ya, maknyus." Syifa mengalihkan pembicaraan.
"Emangnya kamu udah gak mual lagi?"
"Kayanya enggak deh. Perut aku rasanya nyaman dengan bau ini, hhmmm..." Syifa menghirup udara dalam-dalam.
"Menurut aku malam ini kamu agak aneh." ujar Zikra tiba-tiba.
"Hmm, aneh?" Syifa mengernyit sampai kedua alisnya bertaut.
"Iya. Bau masakan kamu bilang enak. Terus aku, kamu bilang bau padahal aku habis mandi. Masa sabun mandi aku yang wangi kalah sama bau masakan yang terasa pedas sih, Yank..."
*
Di waktu yang bersamaan di dalam rumah kontrakan sederhana. Bunda, Ade dan Ayah sedang menikmati santap malam mereka yang sangat jauh dari sifat mewah. Hanya nasi bungkus dengan lauk tempe dan tahu sepotong ikan kembung.
Akhir-akhir ini Ade sering protes. Bocah itu sangat ingin makan ayam goreng tepung kesukaannya. Sejak pindah ke Batam sampai terdampar di kota hujan ini, makanan itu belum sempat dicicipinya lagi. Bukan karena tidak ada, tetapi memang uang yang dimiliki Bunda hanya cukup untuk membeli nasi bungkus. Jika ingin membelinya wanita itu harus mengeluarkan uang lagi seharga satu bungkus nasi yang biasa dibelinya setiap hari.
Bunda harus pintar-pintar mengatur uang untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, dan membayar uang kontrakan agar tidak menunggak. Jika tidak akan berdampak pada mereka bertiga. Apalagi Ayah harus pergi ke rumah sakit untuk check up juga terapi setiap satu bulan sekali.
"Bunda .... kapan sih Ade bisa makan ayam garingnya? Ade udah bosan makan ini-ini terus setiap hari." gerutu bocah itu merajuk. Mendorong makanannya menjauh dari hadapannya.
Ayah hanya diam menatap tingkah anak bungsunya dengan hati sedih. Dia yang kini menjelma menjadi pria lemah dan pengangguran terkurung dalam ketidak berdayaan. Seandainya dulu dia menghargai apa yang sudah dimilikinya pasti nasibnya juga anak dan istrinya tidak akan sengsara seperti ini. Dulu dia terlalu egois hanya mementingkan perasaan sendiri yang begitu larut dalam kesedihan saat ibunya meninggal dunia. Berhari-hari sampai berminggu-minggu tidak masuk ke kantor hanya mengedepankan sifat cengengnya. Akhirnya dia dipecat secara tidak terhormat oleh atasannya. Setelah itu, dia mudah terperdaya dengan rayuan teman lamanya untuk bekerja di salah satu perusahaan ternama di Batan. Namun semua itu hanya fatamorgana saja. Kini... hanya ada penyesalan yang selalu datang terlambat.
__ADS_1
"Ade... dengerin Bunda ya... Ade makan aja nasi yang ada dulu. Bunda janji akan beliin Ade ayam garing besok, ya." bujuk Bunda lemah lembut.
"Enggak mau!" pekik Ade menolak keras. "huuu... huuu..." tangis bocah itu akhirnya pecah.
Hati Bunda terenyuh mendengar tangis lirih anak bungsunya. Ayah pun sedih dengan ketidak berdayaannya.
"Ya Tuhan, sampai kapan Engkau memberi hamba cobaan seperti ini? Tolonglah, sudahi semua ini." batin Ayah lirih.
*
Syifa tampak sudah tidak sabar melahap nasi goreng yang baru saja diletakkan di atas meja oleh Pak Min. Sementara sendok makan dan garpu sudah dicengkramnya di tangan kanan dan kirinya sejak tadi.
Zikra hanya tersenyum melihat sikap kekanak-kanakkan istrinya itu.
"Baca doa dulu sebelum makan." seru Zikra mengingatkan Syifa yang hendak memakan nasi gorengnya tidak sabaran.
"Oh iya." Syifa buru-buru membaca doa dengan cepat di dalam hati. "amin!" ujarnya mengakhiri doanya. Tanpa menunggu lama lagi ia langsung memasukkan nasi goreng panas itu ke dalam mulutnya.
Zikra terkekeh melihat Syifa hampir mengeluarkan air mata karena mulutnya kepanasan.
"Pelan-pelan, ditiupin dulu makanannya supaya enggak terlalu panas."
"Iya. Aku lupa kalo masih panas." sahutnya dengan mulut yang sibuk antara sedang mengunyah dan berusaha mendinginkan makan di dalam mulutnya. Sedangkan tangannya terus saja berkibas-kibas di depan mulutnya.
Bersambung ....
************
Happy reading!
__ADS_1
Hai readers 🙋... 🙏 maaf baru segini dulu updatenya secara author masih enggak enak body 🥶. Semoga para readers semua masih bisa menikmati alur ceritanya. 🙏 Thanks buat semua readers yang selalu setia membaca novel ini. ❤️❤️ Luv u all! 😁🤗✌️