
"Kenapa kamu tiba-tiba mengajak aku kencan?" selidik Syifa ingin tahu saat baru turun dari jok motor Zikra.
Zikra tersenyum sambil membantu melepaskan helm yang masih melekat di kepala Syifa.
"Apa jangan-jangan kamu terprovokasi ucapan Dio tadi?"
"Enggak juga," sahutnya ringan dengan senyum yang belum memudar.
Syifa mengernyitkan alis.
Zikra langsung menggandeng tangan Syifa erat ketika memasuki pusat taman hiburan ternama di jantung kota.
"Lho, pertanyaan aku enggak dijawab?" protes gadis itu tidak puas.
Pemuda itu menoleh sekilas, menggelengkan kepala terkekeh kecil.
"Mau dijawab gimana lagi?" sahutnya balik tanya.
"Ya ... kenapa? Karena apa?"
"Ah, kamu aneh. Diajak kencan malah banyak tanya. Kalo mau kencan, ya kencan aja. Enggak perlu alasan."
Syifa menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Zikra. Namun cengkraman tangannya lebih kuat dari yang dibayangkan. Rona wajah dara manis itu terlihat masam, menunjukkan ketidak sukaannya dengan ucapan Zikra.
Zikra menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya lalu sedikit membungkukkan badan agar menjadi sejajar dengan tinggi badan Syifa. Dia mencubit hidung gadis itu gemas.
"Dasar gadis keras kepala!" decaknya gemas.
Syifa terbeliak kaget dengan perubahan sikap pemuda yang selama ini dikenalnya sangat serius dan terkadang dingin. Entah kenapa hari ini sikapnya cenderung lebih mesra dan hangat. Desiran lembut mengalun syahdu di dadanya.
"Aku memang udah lama kepingin ngajak kamu jalan. Tapi enggak pernah sempat," Zikra kembali menggandeng tangan Syifa melanjutkan langkahnya. "Nah, baru sekarang aku pikir kita berdua memiliki waktu yang tepat untuk melaksanakannya," lanjutnya santai.
"Tapi ... kenapa harus kayak gini tangannya? Aku rasa enggak gini juga kali ..." Syifa menggerakkan tangannya yang sedang digandeng Zikra. "dituntun kayak aku mau kabur kemana ... gitu."
Zikra menghentikan langkahnya kembali, menoleh ke arah gadis yang mulai bawel.
Syifa tampak mengkerut ditatap dengan tatapan maut Zikra. Seakan mampu menggoyak hatinya hingga berkeping tidak nyata.
"Sayang ..."
Dug! Degup jantung Syifa mendadak berdegup kencang terkejut mendengarnya.
Apa? Sayang? Ah, enggak mungkin, palingan aku cuma salah dengar aja kali .
"Yang namanya pacaran cuma pegangan tangan kayak gini doang udah lumrah kali. Emang kamu mau aku tarik pakai tali pengait kayak truk gandeng, gitu?"
"Enggak mau." Syifa menggelengkan kepala.
"Tuh kan, enggak mau. Ya udah mulai sekarang kamu enggak usah bawel deh, banyak tanya ini-itu. Lagian kita kan udah halal. Kalo pun sekarang kita pacaran, berarti kita pacaran halal. Aku pegang kamu seperti ini juga enggak dosa, malah dapat pahala." tuturnya menjelaskan.
Syifa terdiam sembari menggigit bibir bawahnya erat.
"Emangnya waktu kamu pacaran dulu, enggak pernah dipegang seperti ini sama pacar kamu?" selidik Zikra iseng.
Syifa menggelengkan kepala.
"Masak sih?"
Mana berani aku pegangan tangan sekencang ini? Kencan berduaan kayak gini aja enggak pernah.
"Wah, beruntung banget aku. Karena aku bisa mendapatkan kamu seutuhnya, tidak terkontaminasi oleh tangan-tangan jahil si kumbang ******." gumam Zikra bahagia.
"Apa kamu bilang?"
"Enggak papa. Ayo kita cari wahana permainan yang asyik!" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Syifa mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Zikra.
Keduanya sempat bingung saat memilih wahana permainan yang hendak dinaiki. Akhirnya mereka sepakat memilih wahana komidi putar.
Syifa naik ke atas salah satu punggung kuda kayu. Menikmati putaran demi putaran. Tidak lupa ia mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.
Zikra yang juga duduk di atas punggung kuda kayu di sebelah Syifa terlihat sangat bahagia. Dia langsung merapatkan tubuhnya iseng ketika melihat Syifa sibuk sendiri berselfi ria. Tanpa peduli dengan ekspresi tidak suka gadis itu, sampai diusir berkali-kali pun agar tidak mendekatinya tetap bergeming. Tiba-tiba Zikra merebut ponsel Syifa. Kemudian memotret wajah mereka berdua.
Syifa terkejut lalu merengek ingin merebutnya kembali. Namun postur tubuh Syifa yang kalah tinggi dari Zikra tentu saja menyulitkannya untuk menjangkau.
"Ingatlah, sekarang kita adalah sepasang kekasih. Tersenyumlah ke kamera!" seru Zikra mengarahkan kamera.
Bukannya melihat ke arah kamera, Syifa malah spontan menoleh ke sumber suara. Tanpa sengaja bibirnya mendarat di pipi Zikra. Tanpa terduga momen itu refleks terabadikan dalam jepretan lensa kamera ponselnya.
Zikra dan Syifa tampaknya saling terkejut. Beradu pandang dalam kebisuan.
Wajah Syifa merah padam menahan rasa malunya. Buru-buru ia menyambar ponselnya hendak menghapus foto itu.
"Jangan! Jangan dihapus! Plis!" sergah Zikra penuh harap.
Syifa tertegun.
"Biarkan foto itu menjadi sejarah perjalanan kisah kita."
"Tapi ..."
"Plis! Aku mohon."
Syifa mendongakkan wajahnya. Sepasang manik matanya menatap mata Zikra yang sedang menatapnya lekat. Desiran itu kembali hadir dengan kekuatan yang lebih dahsyat, mampu menerjang dinding sanubarinya. Hingga nyaris luluh lantak.
Setelah puas menaiki wahana komidi putar, mereka beralih ke beberapa wahana lainnya. Salah satu wahana yang mereka naiki adalah roller coaster. Awalnya Zikra tidak setuju menaiki wahana tersebut dengan berbagai alasan. Namun Syifa memaksa. Ia akan tetap naik wahana itu dengan atau tanpa Zikra di sampingnya. Alhasil pemuda itu menyerah atas dasar kasih sayangnya kepada gadis yang baru saja diproklamirkan menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Syifa tersenyum lebar berhasil menaiki wahana itu. Tanpa mempedulikan raut wajah masam pemuda yang duduk di sampingnya.
Suara teriakan yang memekik berbaur dengan suara derit gesekan pada lintasan roller coaster membahana tidak bisa diurai telinga yang mendengarnya. Rasa takut, tegang dan gembira bercampur mengaduk adrenalin.
Waktu zhuhur telah tiba. Zikra segera mengajak Syifa ke tempat ibadah setelah turun dari wahana yang menguji adrenalin itu. Menjalankan kewajiban sebagai umat beragama yang taat. Tanpa membantah gadis itu mengikuti ajakannya.
Tidak dipungkiri sejak hidup dalam satu atap dengannya Syifa bertambah religius. Karena kedisiplinan Zikra dalam beribadah membawanya lebih dekat kepada Sang Khalik. Bak alarm yang selalu mengingatkan Dia tidak pernah lelah mengingatkan, serta mengajak Syifa mengenal dan berbakti pada Tuhannya.
Syifa terduduk lemas di kursi menunggu Zikra keluar dari Mushola. Rasa lapar menyerang lambungnya hingga sesekali terdengar dentuman ringan dari dalam perutnya. Sudah bisa ditebak gadis itu diserang rasa lapar.
Zikra minta maaf kepada Syifa karena telah membuatnya menunggu sambil menahan lapar. Untuk menebus rasa bersalahnya dia segera mengajak kekasihnya ke restoran tidak jauh dari sana.
"Sayang." panggil Zikra kepada Syifa.
Mendadak Syifa yang sedang menikmati makan siangnya, terkejut hingga terbatuk mendengar panggilan itu. Buru-buru ia meraih gelas minumannya lalu menyesapnya.
"Kamu kenapa kok batuk-batuk enggak jelas gitu? Perasaan tadi kamu enggak batuk. Terus kenapa sekarang jadi batuk?" tegur Zikra heran. "masak sih cuma aku panggil kamu sayang aja, pake batuk-batuk segala."
"Seharusnya aku yang tanya kamu kenapa? Panggil aku pake sayang-sayang segala. Biasa aja kali enggak usah lebay-lebay amat," sahutnya balik tanya.
Zikra menyeringai geli.
"Ih, kamu kenapa sih protes mulu sedari tadi? Harus berapa kali lagi sih aku kasih tahu ke kamu? Kalo hari ini kita sedang kencan. Wajar dong aku panggil kamu dengan panggila romantis juga. Masak sih kamu aku panggil mbak? Mbak jamu?"
"Enggak gitu juga kali, kamu kan bisa panggil aku yang kayak biasa aja. Soalnya aku risih aja kamu panggil aku begitu."
"OMG!" Zikra menepuk jidatnya pelan.
Syifa menyeringai lebar hingga terlihat barisan gigi-gigi depannya yang rapi.
"Hai!" tiba-tiba terdengar suara yang terdengar familiar datang menyapa.
Sontak sepasang sejoli itu menoleh ke sumber suara bersamaan. Zikra mendengus nafas berat melihat sosok itu. Syifa tersenyum kecut.
"Boleh aku bergabung dengan kalian?" tanyanya sopan membawa gelas minuman dinginnya.
Zikra membuang muka seakan tidak ingin melihatnya. Berharap orang itu segera enyah dari pandangannya. Namun Syifa malah bersikap sebaliknya. Mempersilahkannya duduk meskipun ia tahu akan melukai hatinya sendiri. Gadis itu pun berterima kasih kepadanya.
"Sayang, ayo kita pergi aja dari sini!" Zikra beringsut dari tempat duduknya. Meraih tangan Syifa siap menariknya keluar.
"Kenapa sih Fatir, kamu selalu menghindari aku? Padahal demi kamu, aku udah banyak berkorban waktu dan perasaan," gugatnya lirih.
"Aku enggak pernah dan sampai kapan pun, aku enggak pernah meminta kamu berkorban, iya kan?" geram Zikra.
Syifa hanya diam tidak mengerti masalah yang terjadi di antara mereka.
"Plis, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua kesalahan aku," pintanya lirih seraya memegang tangan Zikra.
"Maaf, tolong jangan ganggu kencan kami berdua," ujar Zikra dingin.
"Kencan?"
"Sori, aku pergi dulu. Sebaiknya kalian berbicaralah secara bijak," sela Syifa seraya menepis tangan Zikra hendak meninggalkan tempat itu.
"Kamu mau kemana? Kenapa jadi kamu yang pergi? Seharusnya dia yang enyah dari hadapan kita," sergah Zikra garang.
Ayuniatara terkesiap.
"Enggak papa," Syifa kini mendadak menjadi orang yang sok kuat dan sok tegar. Padahal batinnya sedang merintih kesakitan.
"Biarkan dia pergi Fatir. Tetaplah kamu bersamaku di sini. Plis!" Ayu menahan Zikra.
Zikra menatapnya dingin. Tidak peduli seberapa kencang genggaman tangan Ayu padanya. Atau lirihnya kata-katanya yang meluncur dari mulutnya hingga menimbulkan simpati dari orang lain. Tidak membuat goyah pendirian pemuda itu.
"Kamu mau kemana? Biar aku ikut!" Zikra menahan kepergian kekasihnya, tetap memegang erat tangannya yang hampir terlepas dari genggaman.
Ayu terluka melihat sikap Zikra. Air mata mulai menggenang memenuhi pelupuk matanya.
"Tapi aku cuma ke toilet doang."
"Biar aku antar." ucapnya mantap setelah melepas genggaman tangan mantan pacarnya.
"Tap-tap-tapi ..."
Zikra tidak ingin mendengar alasan Syifa. Dia tahu alasan itu hanya dibuat-buat olehnya. Serta seakan tidak ingin menoleh pada masa lalu, dia langsung bergerak maju ke depan tanpa menoleh pada Tara.
Dering ponsel Syifa mengejutkan dirinya sendiri ketika sedang berdiri di depan cermin toilet. Ia mendengus melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Ia ragu mengangkatnya. Sampai keluar toilet ponselnya masih berdering di genggamannya.
"Kenapa kamu angkat?" tegur Zikra.
Syifa terhenyak nyaris ponsel itu terlepas dari genggamannya. Kontan ia menjadi gugup khawatir Zikra akan bertambah marah setelah tahu orang yang menghubunginya.
Zikra mengambil ponsel itu dari tangannya yang sudah tidak berdering lagi. Matanya terbeliak saat ponsel itu kembali berdering, dan melihat nama orang yang menelepon kekasihnya. Tanpa bertanya dia langsung merejek panggilan itu.
"Pantas aja tadi kamu seakan memberi aku dan Tara kesempatan. Ternyata kamu mau teleponan sama dia?" imbuh Zikra geram. "jadi, kamu masih berhubungan sama dia?" mengembalikan ponsel pada Syifa.
"Enggak. Aku sama dia enggak punya hubungan apa-apa. Kami berdua hanya berteman aja kok, enggak lebih," sahut Syifa berusaha menjelaskan.
"Oya?"
"Sungguh, Zik. Aku bicara yang sejujurnya. Kami hanya teman sekampus doang enggak lebih."
Zikra bergerak maju hingga Syifa tersudut di dinding depan toilet umum. Amarahnya seakan siap membuncah karena rasa kecewa dan cemburu berkecamuk di dalam hatinya. Tatapannya nanar.
Syifa mengkerut ketakutan tersandar di dinding. Ia bingung dengan perubahan sikap Zikra yang begitu drastis.
Ada apa ini? Sebenarnya apa yang membuatnya marah seperti ini?
__ADS_1
"Tolong jangan khianati aku!" pekiknya setengah berbisik.
"Aku enggak bohong. Percayalah!" ujar Syifa meyakinkan dengan rasa takut yang tinggi, tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya.
Zikra memeluknya erat. Syifa terlonjak kaget.
"Maaf, aku sudah membuatmu takut," bisiknya lembut.
Ketegangan yang terjadi tidak lantas merusak segalanya. Kencan belum berakhir. Zikra masih mengajak Syifa berkeliling mencari hiburan untuk mencairkan suasana. Ketika di stan game, dia berhasil mendapatkan boneka beruang Teddy besar sesuai permintaan gadisnya.
Zikra sadar gerak-geriknya masih dikuntit oleh Ayu. Kemudian dia mengajak Syifa masuk wahana rumah hantu.
Syifa yang takut kegelapan, sudah tentu menolak ajakannya. Tetapi ia berhasil dibujuk kekasihnya, bersedia memasuki wahana angker itu.
Ayu yang keras kepala tidak akan diam begitu saja melihat kebersamaan dua sejoli itu. Sekuat tenaga dia akan memisahkan mereka berdua, walau harus masuk ke rumah hantu sekali pun. Tetapi dia harus gigit jari saat kehilangan jejak mereka di dalam gelapnya wahana itu. Dia pun berkali-kali menguatkan diri sendiri agar bisa melewati semua keangkeran yang ada.
Dari dalam wahana bianglala yang dinaiki Zikra dan Syifa tertawa geli, membayangkan Ayu ketakutan sendiri di dalam wahana rumah hantu. Tampak sangat jahat dan kejam sikap mereka. Tetapi gadis pelakor seperti dia memang harus dikasih pelajaran agar jera.
"Kenapa kamu melakukannya? Bukankah kalian berdua masih saling mencintai?" tanya Syifa menyelidiki.
Serta merta Zikra meliriknya tajam. Membuat Syifa menggigit bibir bawahnya erat ketakutan.
Ya ampun gue udah ngomong apaan? Gimana kalo dia marah? bisik batinnya khawatir.
Pemuda itu menyeringai sinis.
"Iya. Aku dan Tara memang saling mencintai," jawabnya dingin seakan tidak ingin mengenang masa-masa itu.
Sorot mata Syifa menyiratkan kecemasan, namun ditutupi dengan senyum tulus dari bibirnya. Ia berharap agar Zikra tidak menyadari rasa sakit yang dideritanya. Teriris pisau bernama cemburu sedang mengoyak hati dan perasaannya.
"Tapi itu dulu," lanjutnya tegas.
Syifa mengernyitkan akis hingga nyaris bertaut menjadi satu.
"Udah pasti sampai sekarang kan?" sambungnya merasa dirinya konyol seraya memeluk boneka beruang Teddy segede gaban menutupi kesedihannya.
"Dasar gadis bodoh! Ngomong apa kamu barusan?" decak Zikra meraih bahu Syifa.
Syifa terlonjak kaget. Kontan mendongakkan wajahnya.
"Mana mungkin itu terjadi sampai sekarang?" menepuk pelan lalu mencengkram bahu Syifa lembut.
Gadis naif itu hanya melongo mendapat perlakuan seperti itu.
"Sekarang ada kamu yang mengisi hari-hariku, dari aku buka mata di pagi hari, sampai aku tutup mata menjelang tidur," jelasnya meletakkan kepala Syifa di dadanya. "aku enggak mau hal itu berubah."
"Tapi kamu harus sadar, ada saatnya aku akan pergi dari sisi kamu," ujar Syifa tiba-tiba.
"Apa maksud kamu?" tanyanya meminta penjelasan.
Syifa beranjak dari pelukan Zikra seraya menggeser sedikit tempat duduknya.
"Aku akan pergi ketika Ayah datang menjemput aku. Dan aku akan selamanya tinggal bersama kedua orang tua aku, juga adikku," jawabnya lirih. "maka dari itu aku selalu berusaha menjauhi kamu, agar saat itu tiba aku enggak terlalu merasa kehilangan kamu banget," mengalihkan pandangannya ke luar jendela bianglala yang tertutup rapat. Diam-diam ia menyeka air mata yang mulai menetes.
"Apa?" Zikra terkesiap. Hatinya pilu mendengarnya.
"Maka dari itu aku enggak keberatan kamu dekat dengan Mbak Ayu. Karena aku pikir cinta kamu cuma buat Mbak Ayu. Kamu akan bahagia selamanya bersama dia, iya kan?" Syifa melihat wajah Zikra dengan senyum getir.
"Kamu ini gadis naif atau emang bodoh sih? Masak enggak bisa bedain, mana perasaan cinta sama benci sih?" keluhnya kecewa. "baik, aku akan bahagia bersamanya asalkan kamu mau aku poligami."
Kalimat terakhir Zikra seperti pukulan telak, mampu menumbangkan bangunan kokoh di dalam dirinya bernama kesabaran. Kata poligami itu seperti pohon putri malu yang sangat sensitif bila terkena sentuhan. Begitulah dengan perasaan gadis itu yang begitu alergi saat kata itu mampir di telinganya.
"Kamu berani berpoligami, aku akan kebiri kamu," semprotnya sewot. Tanpa sadar kalimat itu telah mampu mengungkapkan perasaannya yang mendalam pada lelaki yang telah resmi menikahinya empat bulan lalu. Tetapi mereka baru tinggal satu atap, setelah pernikahan berusia menjelang dua bulan.
Zikra terkekeh geli. Dia sepertinya mengerti makna tersirat di dalam ucapan istrinya.
"Ternyata dimana-mana perempuan itu sama."
"Maksudnya?"
"Alergi dengan kata poligami," sahut Zikra masih terkekeh.
Syifa merasa malu sendiri dan menyesali kalimat yang telah terlontar dari mulutnya.
"Sekarang aku udah tahu perasaan kamu," entah sedang menebak atau memang benar-benar telah menyadari. Tatapan matanya lekat dan sendu.
Syifa hanya diam sambil menghindar. Zikra menyentuh pipi mulus kekasih halalnya agar pandangannya hanya terfokus padanya. Gadis itu kini tidak lagi bisa berkutik. Hanya diam mematung merasakan hembusan nafas lawan bicaranya. Sentuhan tangannya terasa hangat, dan tatapan matanya lembut, namun tajam menembus jantung.
"Aku enggak ingin berpisah lagi dengan kamu. Setelah bertahun-tahun lamanya kita berpisah. Lalu kita dipertemukan dalam ikatan suci perkawinan. Udah pasti aku enggak akan melepaskan kamu begitu aja," tuturnya pelan, tetapi jelas terdengar di telinga.
"Tapi kita kan enggak saling mencintai," sanggah Syifa membantah ucapan Zikra.
"Tataplah ke dalam mataku, maka kamu akan melihat seberapa dalamnya perasaan aku kepada kamu," titahnya mengarahkan pandangan Syifa.
Syifa tertegun serta sangat gugup. Tidak pernah ia berada dalam posisi sedekat ini. Ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa mulai kering.
Degup jantungnya yang tidak bisa dikondisikan agar tetap tenang. Kini terdengar seperti suara gendang yang bertalu. Berisik mengusik ketenangan jiwa.
Tanpa sadar ia menjatuhkan boneka beruang dari tangannya, ketika Zikra semakin merapatkan tubuhnya.
Satu kecupan hangat mendarat di kening dan pipi kanan Syifa. Gadis itu terlonjak kaget. Tubuhnya pun bergetar. Refleks ia menghindar. Tetapi tangan kokoh Zikra telah menguncinya erat hingga tidak bisa berontak.
"I love you," bisik Zikra. Lalu mendaratkan bibirnya di bibir Syifa. Pelan dan lembut mengemut bibir ranum istrinya yang masih perawan.
Syifa membisu menikmati ciuman pertamanya. Kedua tangannya meremas ujung jahitan kaos couple-nya.
Apakah ini yang dinamakan pacaran? Kenapa dia bisa lepas kendali seperti ini? Lalu kenapa aku bisa diam aja mematung seperti ini? Tidak bisakah aku menolaknya? Tapi aku kini tenggelam dalam lautan cintanya.
__ADS_1
Bersambung ...