Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Dear My Diary


__ADS_3

Setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya, Syifa membuka buku diary berwarna merah muda dengan gambar salah satu tokoh kartun ternama. Semua peristiwa yang pernah dialami masih tergambar jelas dalam memori ingatannya. Lalu ia menumpahkan semua isi hati di dalam buku diary-nya.


Dear My Diary


Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan bagi gue.


Gue sedih melihat Angga ternyata sangat mencintai Rima. Bodohnya gue kenapa sampai sekarang belum bisa move on dari dia.


Gue mungkin masih cemburu melihat kemesraan mereka. Kemesraan yang enggak pernah gue rasain sebelumnya. Bagaimana bisa gue ngelakuin hal itu, karena rasa malu gue lebih besar dari pada rasa cinta gue ke Angga.


Makanya dia sering bete kalo lagi berduaan sama gue. Gue selalu memberi batasan untuk menyentuh bagian tubuh yang mana boleh dan dilarang. Sebenarnya hal itu demi keamanan gue sendiri sih, karena gue takut kalo kebablasan.


Dan yang paling gue takutin adalah kalo sampai orang tua gue tahu. Walaupun pada akhirnya mereka tahu juga.


Dan mereka sangat marah dengan perbuatan gue.


Alhasil gue enggak bisa menolak perjodohan yang udah mereka atur sejak gue kecil.


Gue enggak mau menjalani perjodohan ini, tapi gue takut kalo orang tua gue marah dengan sikap pembangkang gue. Apalagi setelah gue ketemu dia. Ih, enggak banget. Kalo seandainya masih bisa memilih, gue mau cowok aneh itu, cowok yang tiba-tiba ngajak gue pergi tapi malah buat gue jadi biduan dengan suara ala kadarnya. Hahaha ... lucu. Namun gue enggak berani banyak berharap dengan dia. Karena sekarang gue udah tahu ternyata dia pacarnya Aini. Pantang bagi gue nikung teman. Meskipun gue dan dia enggak pernah saling akrab satu sama lain.


Syifa menghela nafas panjang setelah menyelesaikan tulisannya. Lalu menutup buku diary-nya. Merentangkan kedua tangannya ke udara. Beranjak berdiri menuju tempat tidurnya yang berjarak beberapa langkah dari meja belajar.


Udah jam sepuluh malam. Waktunya tidur ...


Memadamkan lampu duduk yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Menarik selimut hingga dadanya.


*


Sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Syifa masuk ke dalam kelas bersama Nadya.


"Pa, gimana kelanjutan ceritanya?" todong Nadya penasaran.


"Cerita apa?"


"Cerita waktu lo kencan buta itu, lho."


"Bukannya gue udah ceritain semuanya ke elo?"


"Kalo udah ngapain gue tanya lagi? Emangnya elo lupa, kemarin elo gak jadi lanjutin cerita gara-gara si Boncu tengik bikin lo nangis Bombay."

__ADS_1


"Ckk! Udah deh enggak usah dibahas, enggak penting juga kan. Lagian elo pasti udah bisa nebak gimana kelanjuta ceritanya, iya kan?" Syifa tidak ingin mengungkit masalah kencan butanya lagi, khawatir Aini akan mengendus cowok yang bersamanya waktu itu. Pasalnya Syifa takut keceplosan bicara. Maklumlah gadis itu selalu jujur dan terlalu naif menumpahkan isi hatinya pada Nadya.


Nadya mendengus kesal seraya mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa sentimeter ke depan.


*


Nadya dan Syifa sedang berjalan di koridor sekolah menuju kantin. Di tengah jalan Angga dan Rima tengah bersama bergandengan tangan.


Dengan cepat Nadya langsung mengalungkan lengannya ke leher Syifa. Menggereknya menjauh dari mantan yang selalu sengaja mengumbar kemesraan di depan Syifa.


"Anggap aja elo enggak lihat apa-apa barusan," ujar Nadya.


Syifa hanya diam, seakan mengiyakan ucapan sahabatnya. Lalu mengangguk pelan dengan menahan air mata.


Sepiring somai dan semangkuk mie ayam sudah tersaji di meja tempat Syifa dan Nadya duduk. Tak ketinggalan segelas air jeruk peras dan sebotol teh dingin juga sudah tersedia.


Nadya menyesap sedikit minuman botolnya, lalu menyantap mie ayam yang sudah dibubuhi saus dan sambal.


Mendadak Syifa ingin ke kamar mandi karena panggilan alam. Setelah menitipkan makanan dan minumannya pada Nadya, ia beranjak ke kamar mandi.


Syifa menghela nafas lega setelah keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba ia mendengar ada suara orang berbicara dekat tempatnya berdiri. Awalnya ia tidak peduli. Tetapi lama-kelamaan suaranya terdengar meninggi.


"Pokoknya elo harus bertanggungjawab," terdengar suara perempuan yang berbicara. Suaranya terdengar lirih.


"Kalo elo enggak mau, kenapa elo harus melakukannya?" pekik perempuan itu.


Syifa terbeliak kaget melihat sepasang muda - mudi yang sedang bertengkar itu. Dahinya mengerut hingga alisnya bertaut.


Angga dan Rima, sedang apa mereka di sini? pikirnya heran.


Mereka langsung menoleh setelah menyadari kehadiran Syifa. Mereka terperanjat kaget. Wajah yang selalu terangkat dengan tatapan penuh kesombongan, kini tertunduk malu tidak mampu menunjukkan kebanggaannya seperti biasa.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tegur Syifa polos.


Mereka terdiam. Tidak ada yang mau buka suara. Mereka saling beradu pandang.


"Sori. Gue bukan bermaksud mau mengganggu. Tapi gue rasa masih banyak tempat lain yang lebih romantis dari pada toilet sekolah. Karena gue rasa, kehadiran kalian berdua di sini, apalagi sampai berisik, cuma bikin buyar konsentrasi orang - orang yang lagi nikmatin ..." belum sempat Syifa menyelesaikan ucapannya, mereka sudah melenggang pergi.


Syifa tersenyum puas melihat muka mereka merah padam. Entah karena menyangka Syifa telah mendengar semua percakapan mereka. Atau karena tertohok oleh ucapan pedas Syifa. Mungkin setelah hari ini mereka berdua tidak lagi mengumbar kemesraannya di muka umum. Jika masih, berarti mereka tak tahu malu.

__ADS_1


Nadya dan Syifa menunggu angkot di depan gerbang sekolah bersama teman-teman lainnya. Seperti biasa Aini dijemput oleh pemuda yang sama di tempat yang sama pula. Nadya dan teman-temannya langsung berdecak kagum atas ketampanan pemuda itu. Sementara Syifa hanya mendengus pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap norak teman-temannya.


"Dasar jomblo! Enggak boleh lihat cowok ganteng sedikit, udah meleh aja kayak es krim kena udara gurun," decaknya setengah berbisik.


Syifa menghela nafas panjang seraya melihat ujung jalan raya memastikan angkot yang sedang ditunggunya segera datang.


*


Ruang makan malam ini seperti biasa terasa begitu hangat. Ayah, Bunda, Syifa, dan Ade menikmati makan malam dengan santai. Diiringi obrolan ringan seputar kegiatan yang telah mereka lakukan seharian ini.


Berbagi cerita antara satu dengan yang lainnya akan menciptakan keakraban dan kenyamanan.


Mulut kecil Ade yang dipenuhi makanan, tetapi tidak membuatnya berhenti berbicara. Meskipun sudah berkali-kali diingatkan agar tidak berbicara saat makan. Namun tidak digubrisnya. Semua anggota keluarga terhibur dengan tingkah polah bocah ingusan itu.


Berbeda dengan Syifa yang mendadak jadi diam ketika Ayah mulai membahas hubungannya dengan pemuda itu. Dalam hati gadis itu ingin segera kabur dari percakapan yang semakin lama membuat hilang selera makannya.


"Teh, kenapa Nak Zikra tidak pernah diajak ke rumah? Hubungan kalian baik-baik saja kan? Kalian masih telpon-telponan, kan?" teguran Ayah membuat Syifa sulit menelan makanan yang sedang dikunyah.


Syifa terbatuk.


"Ya, sudah biar Ayah undang saja mereka datang untuk makan malam di rumah kita, setuju tidak, Bun?"


Hah?!


Syifa terperanjat kaget hingga membuatnya tersedak.


"Pelan-pelan dong kalo makan, tidak usah terburu-buru," Bunda menyodorkan segelas air putih pada Syifa.


Syifa langsung meneguknya hampir setengah gelas.


Bunda mengiyakan ucapan Ayah.


"Sekalian Ayah membicarakan tentang kelanjutan perjodohan Teteh dan Nak Zikra." senyum semringah lelaki berkumis tipis itu tampak melebar.


"Zikra?" Syifa mengerutkan kening, seakan sedang berpikir sesuatu.


"Iya. Kalian berdua sudah saling mengenal, kan?" tatapan Ayah yang teduh membuat Syifa hati-hati dalam berucap. "Nama lengkapnya Muhammad Zikra Al Fathir."


 

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2