
Hari berganti hari terus bergulir menjadi minggu bahkan bulan. Kesibukan Zikra menjadi seorang CEO dari
perusahaan milik Surya, yang merupakan warisan dari orang tuanya, tidak lain adalah kakeknya Zikra. Diwariskan secara turun menurun. Perusahaan yang bergerak dibidang properti itu pernah mengalami masa kejayaan. PT. Surya Abadi Jaya itu tengah mengalami keterpurukan dibawah kepemimpinan Surya. Akibat menangani perusahaan yang tidak kunjung menunjukkan tanda ke arah lebih baik, Surya jatuh sakit. Membuatnya pesimis akan kelangsungan masa depan perusahaan dan ribuan karyawannya. Puluhan karyawan pun terdampak kena PHK untuk menekan krisis yang melanda perusahaan.
Setelah tampuk kepemimpinan perusahaan diambil alih Zikra dengan segala upaya dan susah payah. Bolak balik keluar kota bahkan sampai keluar negeri dilakoninya, untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kelas kakap. Guna mendapatkan investor agar dapat menyuntikkan dana pada perusahaan yang nyaris koleps.
Kini, perlahan tapi pasti kondisi perusahaan yang dipimpinnya berangsur membaik. Pemuda tampan behidung mancung, berkulit bersih dan bermata coklat, juga idaman para kaum hawa, sebisa mungkin menstabilkan kondisi perusahaan untuk menghindari PHK yang berdampak buruk bagi ribuan karyawannya. Tentu saja hal itu dapat memberi udara segar bagi kelangsungan hidup perusahaan maupun seluruh karyawannya.
Kondisi kesehatan Surya sudah tampak membaik. Dokter sudah membolehkannya pulang. Pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad, dengan postur tubuh tinggi kekar terlihat lunglai duduk di atas
kursi roda. Seorang bruder membantu mendorongnya meninggalkan ruang rawat inap
kelas VIP sebuah rumah sakit swasta ternama di kota Bekasi.
Menjelang sore Syifa datang
menjenguk Papa mertuanya di rumah besar. Surya menyabut hangat anak menantunya
itu. Hati Syifa menghangat seakan menemukan sosok Ayah yang selama ini ia
rindukan. Namun sikap dingin yang ditunjukkan Mama mertuanya membuat gadis
berparas ayu itu mengkerut takut.
Wanita yang terlihat masih cantik diusianya
yang tidak muda lagi. Penampilannya begitu elegan menunjukkan strata sosial
yang tinggi. Seakan menunjukkan betapa jauh level yang dia miliki dengan anak
menatunya yang berasal dari rakyat jelata. Dalam hati dia selalu berharap putra
kebanggaannya dapat memiliki pendamping yang sepadan dengannya. Oleh sebab itu,
dia meminta Tasya mendekati Zikra. Dia berharap dengan dekatnya Tasya dan Zikra
dapat melangsungkan pernikahan bisnis yang membawa dampak baik untuk
perusahaan. Setelah sebelumnya usahanya gagal menjodohkan Zikra dengan
Ayuniatara.
Tetapi usaha wanita itu tidaklah
mudah. Zikra terlalu keras kepala. Cintanya terhadap Syifa pun terlalu besar.
Sangat sayang untuk ditinggalkan. Tidak aneh bila dia memilih tetap bertahan di
bawah tekanan sang Mama.
“Bagaimana kondisi Papa sekarang?”
tanya Syifa canggung saat menemui Surya di ruang keluarga. Pria yang wajahnya
ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar di atas bibir yang bersambung kea rah dagu
serta cambang itu, rupanya sudah tidak betah berbaring terus menerus di atas
Kasur. Setelah cukup lama berdiam diri di atas pembaringan ruang rawat inap di
rumah sakit.
Sebenarnya yang membuat Syifa
canggung menghadapi Bapak mertuanya adalah absennya dirinya ketika bapak
mertuanya masih dirawat di rumah sakit. Bukan karena ia tidak ingin datang
__ADS_1
untuk menjenguk. Tetapi semua itu disebabkan ulah Zikra yang selalu melarangnya
dengan seribu alasan yang terkesan dibuat-biat. Dan bodohya Syifa dengan
mempercayai semua ucapan Zikra tanpa mencaritahu kebenarannya.
Surya tersenyum bahagia melihat
putri sahabatnya, sekaligus anak menantunya dalam kondisi baik. Meskipun dalam
hati dia sangat mengkhawatirkan kondisi Fauzi, sang sahabat, yang entah dimana
rimbanya kini.
Gadis itu pasti sangat merindukan
kelarganya. Pikir Surya.
“Papa pasti sudah baik-baik aja, iya
kan Pa?” sahut Zikra seakan mewakili Surya berbicara. Pria itu pun mengangguk
mengamini ucapan putranya dengan senyum hangatnya.
“Buktinya Papa sudah diperbolehkan
pulang sama dokter.”
Syifa tersenyum kecil, menundukkan
wajahnya.
“Maafin Syifa, Pa. Syifa baru bisa
datang buat jengukin Papa.” Imbuhnya dengan penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa. Melihat kamu datang
nakal ini.” Surya menepuk pelan bahu Zikra beberapa kali dengan senyum bangga.
“Papa ngomong apa sih? Masa aku
dibilang nakal, aku kan udah punya istri. Mana mungkin tingkah aku seperti anak
kecil. Lagian aku ini tipe suami setia lho, Pa.” kilah Zikra.
Syifa tersenyum simpul.
“Iya. Kamu memang anak kebanggaan
Papa yang nakal. Karena di mata Papa, kamu tetap anak kecil.” Surya terharu
melihat kematangan Zikra dalam berumah tangga dan dalam karier. Putra kecilnya
yang selalu menunjukkan hal-hal yang menakjubkan sejak taman kanak-kanak. Tingkat
kecerdasannya pun di atas rata-rata.
Selama dirawat di rumah sakit diam-diam
Surya mengawasi Zikra. Melalui asisten pribadinya dia sering mendengar laporan
mengenai kinerja Zikra yang mampu membuat perusahaan merangkak menuju perbaikan.
Tentu saja sangat melegakan hatinya. Tidak sia-sia dia berakting sakit agar
sang putra mau melanjutkan perjuangannya mengurus perusahaan keluarga.
__ADS_1
“Hemph! Kenapa harus baru sekarang kamu menunjukkan batang hidungmu di hadapan kami?” hardik Mama seakan tidak menerima permintaan Syifa. Sontak membuat gadis itu mengkerut takut.
“Itu… itu karena….”
“Ma, Syifa sedang sibuk dengan urusan kuliahnya. Namanya juga menjelang ujian semester, pasti dia sibuk
mengejar sks.” Potong Zikra menyela pembicaraan. Dia tahu pembelaannya terhadap Syifa terkesan mengada-ada. Tetapi dia tidak mau istrinya terluka dengan kata-kata Mamanya yang begitu menusuk hati.
“Mama rasa itu hanya alasan kamu saja. Ingat Zikra, kamu punya adik yang juga sedang berkuliah sama dengan
Syifa. Tapi, kenyataannya Aini tidak sesibuk apa yang kamu bilang tentang kuliah Syifa. Dan adikmu masih bolak-balik menjenguk Papamu, walaupun tempat kuliahnya jauh berada di luar kota.” Sanggah Mama.
“Tetap beda Ma, Syifa dan Aini kuliah di kampus yang berbeda. Tentu aja dengan peraturan dan kebijakan yang
berbeda pula.” Sahut Zikra mematahkan pendapat Mamanya.
Mama tampak mulai emosi.
“Cukup! Tidak ada yang perlu diperdebatkan!” sergah Surya melerai pertengkaran ibu dan anak yang mulai
sengit.
“Zik…” ucap Syifa lirih seraya menyentuh lengan suaminya yang duduk di sisinya. Lalu menggeleng seakan berkata, “Jangan lanjutkan perdebatan ini!”
Zikra menoleh ke arah Syifa dan langsung mengerti maksud Bahasa kalbu istrinya. Dia tidak lagi membuka suara.
Mama mendengus kesal. Dia tidak berani melanggar titah suaminya.
*
Menjelang makan malam Tasya datang
berkunjung yang langsung disambut hangat oleh Mama. Sangat berbeda perlakuannya
terhadap Syifa.
Syifa hanya menjadi penonton betapa
akrabnya Mama dan Tasya. Seperti layaknya ibu dan putrinya. Mengingatkan Syifa
saat acara makan malam beberapa waktu yang lalu. Ketika itu Mama menunjukkan
sikap yang sama terhadap Ayuniatara. Dan lagi-lagi, Syifa hanya sebagai
penonton. Juga menjadi orang asing di antara mereka.
Surya menyambut baik kedatangan putri salah satu koleganya itu. Sementara Zikra yang tidak mau ambil bagian tampak bisa saja dengan kehadiran gadis itu. Dia lebih memilih menyibukkan diri bersama Syifa. Pasalnya dia tahu istrinya hanya akan menjadi kambing congek jika ikut larut bersama mereka.
Bersambung...
***
🙋 Hai, readers… 🙏🙏 mohon maaf atas
keterlambatan dan kesalahan seputar update cerita. Karena semuanya pure
kesalahan teknis dan jaringan yang sempat terganggu. Semoga hal ini tidak
terjadi lagi dilain waktu. Semoga cerita ini dapat mengobati kesalahan kemarin,
dan kerinduan para readers tentang kelanjutan cerita cinta antara Syifa ❤️
Zikra. Terima kasih kepada para readers yang selalu setia menunggu juga membaca
cerita ini. jangan lupa kasih vote, like, komen juga tip ya. Supaya author
semangat update cerita. Karena author selalu berupaya 💪 agar bisa update setiap
__ADS_1
hari. Walau pada kenyataannya sering telat🤭🤭
Happy reading… 🤗 ❤️❤️ luv u all… 😁✌️