
Sebelum subuh Syifa sudah bangun dari tidurnya. Mandi dan berganti pakaian. Setelah suara adzan subuh berkumandang, ia langsung sholat di kamarnya sendiri. Sementara Zikra sholat berjamaah di masjid tidak jauh dari rumahnya.
Tanpa berleyeh-leyeh Syifa segera pergi ke dapur membuat sarapan pagi untuk suaminya yang akan berangkat bekerja. Padahal dulu ketika belum menikah dengan Zikra, ia tergolong gadis pemalas yang selalu kenyang menerima omelan dari Bunda, tidak mau turun tangan membantu di dapur. Ia hanya akan membantu saat libur sekolah saja. Itu pun hanya menyapu dan mengepel lantai.
Syifa tampak sangat lihai menggunakan pisau memotong sayur dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Gadis itu memang sudah terbiasa melakukannya setiap hari sejak hidup bersama dengan Zikra. Pasalnya memang tidak ada pembantu yang dipekerjakan di rumahnya. Bukan karena pelit atau tidak mau memanjakan istrinya, tetapi Zikra berpikir rumah mereka tidak terlalu besar, dan tidak mengalami kesulitan jika melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Selain itu dapat mengeratkan hubungan suami istri dengan bekerjasama antara Zikra dan Syifa.
Zikra memberi salam saat masuk ke dalam rumah. Samar-samar dari ruang tamu dia mendengar suara mesin penggiling berdesir cepat memecah keheningan pagi. Segaris senyum tersembul di sudut bibirnya ketika melihat kesibukan istrinya menjadi ratu dapur. Gadis itu tampak serius menjalankan aktifitasnya. Sesekali tangannya bergerak mengaduk wajan yang telah terisi ayam dengan bumbu berwarna coklat kehitaman agar tidak gosong. Menguar aroma lezat mengisi memenuhi dapur kecilnya. Sepertinya gadis itu telah menjelma menjadi wanita dewasa.
"Selamat pagi, sayang." satu kecupan mendarat di pelipis Syifa.
Sontak gadis itu menoleh terkejut. Kemudian berganti dengan senyuman indah.
"Pagi ..." bergeming dari aktifitasnya.
"Kamu lagi masak apa? Kelihatannya enak." Zikra melingkarkan tangannya di pinggar ramping Syifa manja.
"Aku lagi nyoba resep masakan Mama Dio, bikin ayam saus tiram."
"Perlu bantuan?" Zikra mengangkat kepalanya semangat yang tadi disandarkan di bahu istrinya.
"Enggak usah. Udah selesai kok." Syifa langsung memutar kenop pada kompornya untuk mematikan api.
"Cepat banget?" keluhnya tidak puas.
Syifa mendengus cepat. Menepis tangan Zikra seraya memutar tubuhnya hingga menempatkan diri saling berhadapan. Lalu meletakkan kedua tangannya pada pipi Zikra sambil diuyyel-uyel gemas, mirip orang yang sedang menguleni adonan kue.
"Suamiku sayang ... emangnya mau dimasakin apalagi, hah? Emangnya kamu mau aku terus-terusan masak sampai besok subuh?" tanyanya sambil menggertakkan giginya. Zikra tampak pasrah.
"Enggak. Aku enggak mau apa-apa, cuma mau bantuin kamu doang," Zikra menepis tangan Syifa, mengelus pipinya sendiri. "ya ampun, sayang, muka aku kamu uyel-uyel udah kaya bikin adonan kue."
"Maaf, maaf, aku kekencengan ya ..." Syifa buru-buru mengelus pipi Zikra merasa bersalah dan khawatir.
Zikra tersenyum menikmati kepanikan Syifa. Wajahnya terlihat imut saat berekspresi seperti itu. Akhirnya dia menyadari bahwa istrinya memang tipikal orang yang gampang panik. Namun mudah marah saat kepura-puraannya terbongkar. Dengan cepat tangannya langsung mencubit pinggangnya seperti capit kepiting. Dia pun menggeliat kesakitan.
"Aaww!" pekik Zikra kesakitan.
"Rasain tuh yang sakit benaran! Emang enak! Makanya jangan suka bikin orang panik."
"Ya ampun, istri aku kok galak banget, ya?" goda Zikra. Syifa memasang wajah masam tetapi tidak lama. Setelah itu suasana kembali mencair, dengan candaan dan lelucon yang diucapkannya mampu meledakkan suara gelak Syifa.
Hari-hari bahagia yang dilalui Syifa telah terbit seperti mentari yang menyinari dunia. Tidak ada lagi kegundahan dan keraguan serta air mata kesedihan mengisi relung hatinya. Semua itu kini seakan musnah berganti keceriaan. Tetapi ada sesuatu yang masih mengganjal di sudut hatinya. Apalagi jika bukan mengenai keberadaan kedua orang tua dan adik bungsunya yang belum menemukan titik terang. Ia hanya bisa menyimpannya diam-diam dalam sanubarinya, agar tidak merusak kebahagiaan yang telah tercipta.
__ADS_1
Syifa telah berjanji pada hatinya akan selalu mencintai Zikra seumur hidupnya. Begitu pula dengan Zikra. Mereka memiliki cIta-cita sangat sederhana. Yaitu, membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Dan memiliki anak sebanyak mungkin, sesuai jatah yang Tuhan berikan sebagai anugerah terindah.
Selain kebahagian di dalam rumah tangga. Ada kebahagiaan lain yang dapat direngkuh Syifa. Zikra mengizinkan Syifa kuliah kembali. Masalah administrasi yang berhubungan dengan kuliahnya di kampus sudah diselesaikan oleh Zikra. Alhasil Syifa dapat melanjutkan pendidikannya tanpa harus memikiran embel-embel yang berbau D-U-I-T atau U-A-N-G lagi.
Rasa bahagia Syifa seakan membuncah ketika kakinya memasuki koridor kampus yang sudah cukup lama ditinggalkan. Apalagi kehadirannya disambut hangat oleh sang sahabat, Nadya. Peluk haru dan gembira berbaur menjadi satu.
"Akhirnya, gue bisa lihat elo lagi di kampus."
"Iya. Gue juga enggak nyangka bisa kuliah lagi."
Tanpa menyia-nyiakan waktu Nadya langsung menariknya duduk dan mengobrol di kantin kampus. Banyak hal yang mereka bicarakan. Sesekali terdengar gelak tawa mereka yang renyah. Tetapi semua itu mendadak menghilang dalam sekejap. Suasana terkesan sangat canggung ketika Panji datang dan bergabung bersama mereka. Tentu saja wajar bila terjadi demikian. Pasalnya di antara Syifa dan Panji pernah terjadi peristiwa yang kurang mengenakan. Namun keduanya berusaha bersikap wajar, seakan tidak ada yang pernah terjadi.
"Hai!" sapa Panji.
"Oh, hai!" sahut Syifa.
"Plis deh, kalian berdua jangan pada kaku gitu. Kita ini kan temanan, masa bertingkah kaya orang yang baru kenal? Enggak lucu tahu!" keluh Nadya.
"Boleh gue gabung?" tanya Panji terlihat canggung. Netranya bergerak ke arah Syifa lekat. Tanpa disadarinya Nadya mengikuti arah pandangannya.
"Boleh, boleh, ayo duduk!" seru Nadya cepat. Namun Syifa hanya diam menekuri layar ponselnya, memeriksa notifikasi yang masuk hingga terlihat acuh. "Cipa ..." bisiknya menyenggol lengan Syifa.
Nadya mengendus gelagat kecanggungan yang masih terasa kental antara Syifa dan Panji. Walaupun mereka berusaha bersikap biasa, tetap saja tidak bisa menipu indera Nadya. Begitu pula dengan hatinya yang masih belum move on dari Panji. Tetapi dia cukup cerdik menutupi perasaan itu sampai tidak ada seorang pun yang tahu, kesakitan yang dideritanya di hati. Cinta bertepuk sebelah tangan, plus sering melihat gebetan dekat dengan rival sekaligus sahabat karibnya. Meskipun Syifa tidak membalas cinta Panji. Tetap saja sakitnya tuh di sini!
Nadya mendengus pelan seraya mengangkat satu alis dan tersenyum kecil. Bangkit dari tempat duduknya, undur diri dengan alasan harus masuk ke kelasnya. Dia ingin memberikan kesempatan Panji untuk berbicara pada Syifa hanya berdua saja. Gadis itu cukup tahu diri tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara mereka.
*
"Benaran kamu jemput aku?" tanya Syifa via telepon antusias, setelah keluar dari kelas pada mata kuliah terakhirnya. Wajahnya tampak berseri-seri. "asyiiikk! Benar ya." pungkasnya mengakhiri sambungan teleponnya. Melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Syifa langsung menyimpan ponselnya ke dalam tasnya. Tetapi belum sempat ponselnya melewati mulut tas sudah kembali berdering. Tanpa membuang waktu ia langsung menerimanya.
"Kamu udah sampai?" tanyanya masih dengan hati senang, mengira orang di seberang sana adalah Zikra.
"Teteh." suara dari seberang terdengar familiar. Mata Syifa membulat terkejut.Tangan kanannya langsung menutup mulutnya yang terbuka. "Teteh ..."
Air mata Syifa langsung memenuhi pelupuk matanya tanpa permisi. Beberapa orang teman kampus melihat ke arahnya dengan tatapan heran. Tetapi ia tidak mempedulikannya.
"A, ade?" suaranya bergetar menahan haru. "Ade ..."
"Teteh ... Ade ingin pulang, tapi Ayah enggak punya uang." suara bocah di seberang terdengar polos dan jujur. Membuat Syifa terperanjat kaget mendengar pengaduan adik bungsunya.
__ADS_1
"Ayah enggak punya uang?" Syifa menuntut penjelasan.
"Iya. Sekarang Ayah lagi sakit. Bunda kasihan capek cari uang."
Air mata Syifa langsung tumpah tidak kuasa menahan tangis. Ia sangat sendih mendengar curahan hati Ade. Ingin rasanya langsung datang menemui mereka. Namun apalah daya dirinya bukan Doremon yang memiliki kantong ajaib, bisa mengeluarkan pintu kemana saja.
"Ade, Ade sekarang ada dimana? Kirimin Teteh alamat tinggal Ade dan Ayah Bunda ya, biar Teteh bisa segera datang menyusul ke sana."
"Teteh ... " tiba-tiba sambungan telepon dari seberang terputus.
"Halo! Halo! Ade ... Ade ..." Syifa tampak panik hanya mendengar nada tut tut di ponselnya. Sesekali tangannya bergerak menyeka air matanya yang turun tanpa kontrol.
*
Zikra langsung turun dari mobilnya setelah melihat Syifa keluar dari gerbang kampusnya. Dengan senyuman hangat dia menyambut istrinya. Namun senyum itu mendadak menyusut, berubah kernyit dengan tatapan khawatir ketika melihat rona kesedihan yang tampak jelas di matanya.
Tanpa malu Syifa berhambur dalam pelukan Zikra. Setelah itu terisak membuat suaminya bingung.
Zikra segera mengajak Syifa masuk ke dalam mobil karena sedikit canggung begitu banyak pasang mata melihat mereka. Mungkin jika dalam kondisi ceria dia tidak terlalu mempermasalahkan. Bahkan tidak ragu untuk mengumbar kemesraan di muka umum.
Zikra menarik sehelai tisu yang berada di atas dasbor mobilnya. Kemudian digunakan untuk menyeka air mata Syifa yang sedari tadi tidak bisa berhenti, setelah sebelumnya menceritakan tentang Ade yang tiba-tiba meneleponnya beberapa saat yang lalu. Dia pun telah berjanji akan melacak keberadaan mertua dan adik iparnya.
"Iya, aku janji secepatnya menemukan Ayah, Bunda dan Ade buat kamu. Tapi kamu harus berhenti nangis dulu." bujuk Zikra sambil membersihkan tetesan demi tetesan bulir bening, meluncur bebas dari pelupuk mata Syifa penuh kasih sayang.
"Sungguh?"
"Tentu." Zikra mengecup kening Syifa hangat. Setelah itu menghidupkan mesin mobilnya, bergerak pergi membelah jalan raya.
"Makasih." ujar Syifa setengah berbisik sambil tersenyum pahit.
Zikra mengelus rambut Syifa lembut sambil tersenyum dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kirinya sibuk memegang setir mobil. Kemudian dia fokus melihat ke depan memperhatikan jalan.
Syifa memiringkan tubuhnya dekat jendela mobil. Matanya tampak sembap setelah menangis, menatap ke luar jendela dengan hati gundah. Teringat semua kenangan manis bersama kedua orang tuanya dan Ade sewaktu di rumah dulu. Gelak tawa, canda, dan tangis yang pernah dilalui bersama mereka kembali terulang di dalam memori otaknya. Rasa rindunya kian berat ingin segera bertemu mereka. Namun Ade belum sempat memberikan alamat tinggal mereka kepada Syifa. Hingga menjadi pr beratnya untuk menemukan mereka semua.
Hatinya sangat sedih memngingat ucapan Ade yang mengatakan, Ayah sakit, dan Bunda capek bekerja. Ada apa sebenarnya dengan mereka? Mengapa sekian lama berpisah tidak ada kabar sama sekali? Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi dengan mereka di sana? Syifa mendengus berat.
Ayah ... Bunda ... Ade ... bersabarlah! Syifa janji akan datang menjemput kalian semua. Kita akan berkumpul kembali seperti dulu. Batin Syifa lirih, melirik suaminya yang sedang fokus melihat ke depan. Lalu menoleh dengan senyumnya setelah merasa sedang diperhatikan. Tangan kirinya kembali bergerak meraih ujung kepala Syifa seakan sedang memberi semangat. Syifa pun tersenyum membalasnya. Dan juga Zikra ... kita bahagia bersama.
Bersambung ...
__ADS_1