
Hari beranjak senja ketika sepeda motor Zikra masuk ke dalam garasi rumah orang tuanya. Dia mengernyit melihat sedan merah milik Ayuniatara juga terparkir di sana. Syifa hanya diam karena sudah bisa menebak akan kehadiran gadis itu.
Setelah melepas helm dan membawa beberapa paper bag Zikra dan Syifa masuk. Sesuai dugaan mereka si mpunya mobil ada di dalam sedang mengobrol cantik bersama Sita, wanita yang paling Zikra hormati.
"Hai." sapanya hangat.
"Oh, halo," sahut Zikra.
Tanpa malu-malu Ayuniatara langsung cipika-cipiki di depan hidung Syifa. Gadis itu terbeliak kaget, lalu mengalihkan pandangannya. Rasa sakit karena cemburu mendadak menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Ayu tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Syifa. Seakan dia berkata, "sebentar lagi aku akan berhasil merebut cinta Fatir. Dan dalam waktu singkat, dia akan menjadi milikku untuk selamanya."
"Sayang ... kenapa kamu baru datang?" Sita memeluk hangat tubuh tinggi putra sulungnya. Mengacuhkan Syifa yang hendak mencium tangannya.
Syifa mendengus pelan.
Ayu tersenyum sinis.
"Iya Ma. Tadi kami mampir dulu ke mall buat mencari hadiah untuk Mama."
"Ya ampun ... enggak usah repot-repot mencari hadiah untuk Mama. Kamu datang ke sini saja itu sudah hadiah terindah untuk Mama." menerima paper bag yang diberikan Zikra.
Zikra tersenyum bahagia.
"Syifa."
"Iya Ma." sahutnya cepat dengan senyum terbaiknya.
"Tolong kamu ke dapur ya, ambilkan Zikra segelas minuman dingin. Sirupnya ada di dalam kulkas," titah Sita seakan Syifa pembantu di rumahnya.
Syifa terhenyak mendengarnya.
"Ma, kok nyuruh Syifa kayak pembantu gitu?" protes Zikra tidak terima. "ingat Ma, Syifa itu istri aku."
"Sayang ... justru karena Syifa istri kamu Mama menyuruhnya begitu. Ingat lho, salah satu kewajiban istri yang paling besar adalah melayani suaminya dengan baik. Masak sih Mama menyuruh nak Ayu mengerjakannya untuk melayani kamu." kilahnya membela diri.
Ayu menyeringai miring.
"Tapi Ma ... Syifa tamu di sini. Dan kita baru sampai."
"Zik, enggak papa." Syifa menyentuh tangan suaminya sambil menggelengkan kepala.
"Ya udah deh Tante, biar Ayu aja yang buatin minum buat mereka," Ayu berusaha mencari muka di depan Zikra dan Sita.
"Mbak Ayu, biar aku aja yang buatin." Syifa langsung ambil alih.
Zikra kecewa dengan sikap Sita yang memperlakukan istrinya layaknya seorang pembantu. Padahal mereka memiliki dua orang pembantu yang siap melakukan apa pun yang mereka suruh.
Syifa berusaha mengesampingkan rasa kecewanya dengan bersikap positif thinking. Ia yakin ibu mertuanya tidak menganggapnya seperti pembantu. Hanya penerapan kewajiban seorang istri terhadap suami. Membawa gelas minuman dingin dengan nampan agar lebih sopan.
Seulas senyum bahagia mengembang di sudut bibir Syifa. Tetapi tidak bertahan lama. Semua pudar melihat Ayu yang tampak tidak tahu malu duduk di samping Zikra sambil memeluk lengannya erat. Seringai di wajah cantiknya tidak ubah seperti wanita pengganggu. Tidak peduli seberapa sering Zikra menepis dan memerintahkan agar menjaga jarak.Namun gadis itu tidak bergeming.
Syifa hanya berdiri terpaku melihat pemandangan yang hanya membuat sakit matanya. Keduanya mencengkram erat ujung nampan yang sedang dipegangnya. Air matanya nyaris tumpah. Buru-buru ia membalikkan tubuh kembali ke dapur. Meletakkan nampan itu di atas meja dengan kasar.
"Ada apa, Neng?" tegur Minah.
Syifa menoleh kasar ke sumber suara.
"Enggak papa Bi," jawabnya cepat. Menarik segaris senyum yang terasa sangat getir. Matanya basah oleh air mata.
Minah membelalakan mata melihat raut wajah gadis itu murung.
"Syifa." Zikra menyusul ke dapur setelah cukup lama gadis itu tidak kunjung muncul.
Syifa memutar kepalanya ke sumber suara. Tetapi ia langsung memutar kembali ke arah sebaliknya agar Zikra tidak tahu kesedihan di matanya.
Minah langsung keluar meninggalkan mereka hanya berdua di dalam dapur.
"Ada apa?" tanyanya dingin sambil menyeka air matanya diam-diam.
"Kamu kenapa lama banget sih, cuma bikin minum doang kayak buat pabrik sirup."
Syifa hanya diam tidak ingin menjawab.
Zikra menarik lengan Syifa kasar. Hingga tubuh gadis itu berada dalam jarak yang sangat dekat.
Syifa terbelalak kaget. Menepis pelukan Zikra. Namun pemuda itu tidak mau melepaskan. Malah menambah kekuatan untuk mengeratkan pelukannya. Desiran halus tiba-tiba bergejolak dalam dadanya. Syifa sangat risih dan malu berada dalam jarak sedekat itu. Menundudukkan wajahnya menghindari tatapan mata pemuda di hadapannya. Hembusan nafas Zikra sangat terasa menerpa wajahnya.
Entah kenapa beberapa hari belakangan ini sikap Zikra terkesan agresif terhadap Syifa. Padahal sebelumnya Zikra tidak pernah seperti ini. Bahkan di saat mereka hanya berdua di dalam rumah. Mungkinkah gara-gara kencan tempo hari? Sungguhkah begitu ...
"Zik, tolong lepasin!" seru Syifa canggung. "malu dilihat orang."
"Biarin aja mereka seperti ini."
"Ihts!" Syifa mendorong dada Zikra.
Zikra memegang dagu Syifa. Menariknya hendak mencium bibir ranum gadis itu. Dia senang mempermainkan istrinya yang lugu. Melihat wajahnya bersemu merah setiap kali didekatinya merupakan suatu kesenangan tersendiri. Sekaligus ingin menunjukkan pada Ayu atau Tara sudah bersikap seperti bayangan Zikra selalu tidak mau jauh darinya sejak awal kedatangannya. Bahwa perasaannya kini hanya untuk Syifa, hingga tidak ada celah lagi untuk gadis itu masuk dalam kehidupannya.
__ADS_1
Ayu sangat marah ingin sekali menarik Syifa menjauh dari pria yang dicintainya. Tetapi dia langsung menenangkan diri sendiri, mengendalikan emosinya dengan mencengkeram erat semua jemarinya dalam genggaman tangannya sendiri.
"Apa-apaan ini?" Sita geram melihat pemandangan yang seharusnya tidak dilihatnya. Mengurungkan niat Zikra mencium Syifa. Melirik Syifa tidak senang. " kalo ingin mesra-mesraan pergi ke kamar sana. Bukan di dapur. Dasar anak zaman sekarang." langsung pergi meninggalkan dapur.
Syifa langsung melepaskan diri dari pelukan Zikra. Rona wajahnya bersemu merah.
"Ah, Mama ... ganggu aja nih..." rajuk pemuda itu sambil mendengus pelan. Zikra tersemyum puas melihat gadis itu salah tingkah.
Zikra, Syifa, Sita, Ayu dan Surya sudah duduk di meja makan. Surya sengaja mengundang anak dan menantunya makan malam bersama untuk yang pertama kalinya sejak mereka menikah. Senyum bahagia pun mengembang di sudut bibirnya. Tetapi senyumnya memudar melihat kehadiran Ayu. Pasalnya dia tidak mengundang kehadiran gadis itu di rumahnya. Setelah itu mempersilahkan menikmati makan malam yang telah disiapkan oleh Minah.
Sita tersenyum bahagia berhasil menghadirkan Ayu di tengah-tengah mereka. Karena disela kesibukannya Ayu bersedia menerima undangan makan malamnya. Namun dia sedikit kecewa tidak bisa menyandingkan tempat duduk Ayu dan Zikra. Tentu saja karena dia takut Surya akan marah.
Masih segar diingatannya tentang kemarahan suaminya delapan tahun yang lalu. Ketika itu Surya mengetahui hubungan Zikra dan Ayu sewaktu keduanya masih SMA. Walaupun tidak menunjukkan kemarahannya pada anak dan istrinya dengan meledak-ledak. Sita dapat merasakan kemarahan Surya saat tiba-tiba memindahkan sekolah putranya di tempat yang sangat jauh.
"Bagaimana kabar Ayah dan Bundamu, Syifa? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Surya memulai pembicaraan.
Syifa tersentak kaget. Ia terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
"Ada apa? Mengapa tidak dijawab?" selidik Surya.
Semua orang menatap Syifa menuntut jawaban darinya.
"Sebenarnya ... udah hampir tiga bulan ini Ayah dan Bunda enggak bisa dihubungi." jawabnya dalam hati. "Ayah Bunda baik-baik aja kok, Pa." sahutnya setelah cukup lama terdiam. Senyumnya terlihat kaku.
"Syukurlah kalau begitu. Karena udah lama Papa enggak bertemu mereka. Terakhir Papa hubungi Ayahmu nomornya sudah tidak aktif."
Tiba-tiba wajah Syifa menegang. "Masak sih, Pa?" menggigit bibir bawahnya.
Zikra memperhatikan wajah Syifa yang begitu tegang seakan sedang menyembunyikan sesuatu.
"Iya."
"Soalnya baru kemarin kami telepon-teleponan. Jadi ... kayaknya enggak mungkin deh ..."
"Mungkin di sana signalnya lagi jelek kali, Pa. Atau bisa jadi hpnya Ayah lagi enggak aktif," timpal Zikra. "bukan begitu, sayang?" mengerlingkan satu matanya pada Syifa nakal.
Syifa terkejut melihat sikap Zikra berubah agresif. Ia hanya tersenyum canggung.
"Bisa jadi." Surya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sita mengunyah makanannya lalu tanpa sengaja berkata, "Ingat ya Syifa, kalo Ayah kamu datang nanti kamu harus segera angkat kaki dari rumah Zikra. Karena kamu hanya gadis titipan."
"Mama!" bentak Surya dengan nada tinggi.
Syifa kaget setengah mati mendengar ucapan itu meluncur dari mulut ibu mertuanya. Tidak sepatutnya dia berkata seperti itu di depan suami dan anaknya, juga di depan Ayu yang notabene hanya orang luar saja. Tanpa menjatuhkan sendok makannya di atas piring dengan keras. Wajahnya tertunduk dalam.
Zikra mengepalkan tangan di atas meja. Bangkit berdiri.
"Syifa istri aku bukan gadis titipan. Dia enggak akan pergi kemana pun tanpa seizin aku," tukas Zikra berang. "
Sita masih menutup mulut dengan tangannya. Sepasang manik matanya melirik suaminya dengan perasaan sangat takut. "maaf, Pa." gumamnya.
Surya mendelik marah pada istrinya.
Ayu hanya diam menikmati pertunjukkan tidak berani ikut campur.
"Kamu jangan marah," Syifa menyentuh tangan Zikra seraya tersenyum getir. "Mama benar kok. Aku akan pergi saat Ayah datang menjemput aku."
"Tapi kamu ..."
"Ya udah enggak ada yang salah. Ayo kita lanjutin makan malamnya, nanti makanannya keburu dingin." Syifa berusaha menetralisir suasana dengan senyum lebar. Walaupun dalam hati ia sangat terluka.
"Maafin Mama ya Syifa. Mama enggak bermaksud ..."
"Enggak papa kok Ma. Syifa mengerti maksud Mama." Syifa menunjukkan senyum terbaiknya.
"Karena makan malamnya belum selesai, mari kita lanjutkan. Anggap saja tadi intermezo," Surya berusaha menunjukkan senyumnya yang pahit.
Makan malam pun dilanjutkan tanpa suara atau obrolan santai. Suasana di meja makan pun terasa kaku dan dingin.
Syifa menerik tangan Zikra agar mau duduk kembali. Ia berusaha merayu dengan tatapan matanya yang sendu. Meskipun enggan akhirnya Zikra mau menuruti permintaannya. Syifa tersenyum ceria. Menyuapkan makanan dari sendok makannya untuk mencairkan suasana. Zikra menggelengkan kepala, lagi hatinya luluh dengan ekspresi manja dan merajuk gadis itu. Mulutnya dibuka lebar agar sendok makan itu bisa masuk.
Selesai makan malam Surya langsung memanggil Sita dan Zikra ke ruang baca. Sementara Syifa dan Ayu memilih berjalan-jalan di taman belakang rumah yang indah.
"Aku sangat cemburu melihat sikap Fatir terhadap kamu sewaktu di dapur tadi," ucap Ayu lirih. "dulu, Fatir enggak pernah memperlakukan aku seperti itu."
Syifa tersenyum senang.
"Tapi aku sangat senang karena sebentar lagi kamu akan pergi. Dan Tante Sita sepertinya enggak mengharapkan kamu menjadi menantunya." melirik Syifa dengan senyum kemenangan. "perlu kamu tahu kalo Tante Sita udah melamar aku. Emang sih enggak formal. Tapi ... Tante Sita berjanji akan melamarku secara resmi dihadapan kedua orang tuaku di Surabaya, tepat setelah kamu pergi dari kehidupan Fatir. Dan itu akan terjadi sebentar lagi. Aku jadi enggak sabar menunggu hari itu."
Mungkinkah sepert itu? Sakit banget mendengarnya.
"Oya, kamu kan selama ini tinggal bersama Fatir. Apa kamu pernah melihat kado-kado yang dibungkus denga kertas warna pink?"
"Kado?"
"Iya. Sejenis kado ulang tahun. Kado yang selalu dipersiapkan setiap tahunnya. Lalu hanya berakhir di dalam lemari. Karena kado itu tidak pernah diberikannya kepada seseorang."
__ADS_1
Syifa menggelengkan kepala. Tidak tahu kegiatan Zikra yang satu itu. Kemudian ia teringat saat di mall tadi Zikra sempat mengatakan ingin membeli hadiah untuk Mamanya yang sedang ulang tahun.
"Mungkin kado itu untuk Mamanya. Karena tadi sebelum datang ke sini, Zikra membelikan kado ulang tahun untuk Mamanya di mall." sahutnya polos.
"Oya? Hahaha ..." Ayu terkekeh geli. "lalu kamu percaya begitu aja?"
Syifa menganggukkan kepala.
"Dasar gadis bodoh!" hardik Ayu. "mau aja dibohongi."
Syifa mengerutkan dahi.
"Hari ulang tahun Tante Sita udah lewat beberapa bulan yang lalu."
Syifa terdiam sungguh-sungguh tidak mengerahui banyak tentang keluarga Zikra. Ia hanya kenal Aini dan mengetahui tanggal lahirnya karena tertera di dalam absen kelas. Tentu saja bukan hari ini. Atau barang kali ...
"Pasti kamu sedang berpikir tentang Om Surya." ungkap Ayu seakan bisa membaca isi pikiran Syifa. "Om Surya enggak pernah merayakan hari ulang tahunnya."
"Mbak Ayu jangan mengada-ada." Syifa tidak percaya.
"Apa? mengada ada kata kamu. Heh! Sebelum mereka pindah ke kota ini, akulah tentangga mereka. Kedua orang tua kami sangat akrab. Maka, hanya sekedar informasi hari ulang tahun mereka semua bukan masalah besar bagiku. Kalo kamu enggak percaya kamu bisa cek di lemari pakaiannya. Di situ ada ruangan khusus untuk meletakkan semua kado-kado itu. Kado yang udah disiapkan sejak dari sembilan atau sepuluh tahun yang lalu. Jadi jumlahnya lebih dari tiga buah kado."
"Neng Syifa," seru Minah datang menghampiri. "maaf kalo saya datang mengganggu."
"Iya Mbak. Ada apa?"
"Neng Syifa diminta Mas Zikra datang ke kamarnya."
"Baiklah."
Minah langsung beranjak pergi.
Setelah berpamitan dengan Ayu, gadis itu segera masuk ke dalam kamar Zikra di lantai dua. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Lalu ia memutuskan menunggu dengan duduk di atas kasur. Seprai putih yang menutupi kasur itu tiba-tiba ternoda oleh darah haidnya tembus hingga keluar ke mana-mana.
Syifa panik. Buru-buru ia menarik seprai itu dari kasur. Membawanya ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Zikra. Mencuci dengan sabun mandi, secara di dalam kamar mandi cowok satu ini tidak menyediakan sabun cuci. Menguceknya dengan bersih sambil sesekali dicium untuk memastikan tidak meninggalkan bau anyir darah haid.
Rasa ragu memasang kembali seprai itu mengurungkan niatnya. Apa tidak mungkin Zikra akan marah bila mengetahui hal itu? Langsung saja Syifa membuka lemari empat pintu tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sayang, pintu kesatu, kedua dan ketiga terkunci. Hanya pintu keempat yang tidak dikunci. Belum sempat membuka tiba-tiba ada satu tangan kokoh dari arah belakangnya, mendorong balik dan menutupnya rapat. Namun ia sempat melihat dari celah pintu lemari ada sesuatu berwarna pink. Ia yakin itu adalah kado seperti apa yang diceritakan Ayu.
Syifa membalikkan tubuhnya. Matanya terbeliak kaget melihat Zikra berdiri di hadapannya dengan satu tangan masih menempel pada pintu lemari. Kontan gadis itu langsung menyandarkan tubuhnya di pintu lemari karena terkurung olehnya.
"Apa yang sedang kamu cari di sini?" selidiknya dengan tatapan tajam.
Syifa memutar bola matanya. Lalu mengerjapkan matanya.
"Eeehhh ... aku lagi ... cari ... seprai. Ah iya, seprai." sahut Syifa gugup.
"Seprai?" mengerutkan dahi meminta penjelasan. "untuk ..."
"I-itu ... ta-tadi a-aku enggak sengaja mengotorinya. Karena tiba-tiba aku tembusss ..." memberi isyarat. Zikra langsung mengerti.
Dengan cepat Zikra membuka pintu lemari kedua. Mengambil seprai baru dengan warna biru laut yang didominasi bunga-bunga warna senada. Setelah itu memasangnya tanpa meminta bantuan siapa pun.
Syifa berdiri mematung tidak berani untuk duduk lagi.
Zikra menatapnya heran.
"Kenapa masih berdiri aja di situ? Ayo duduk!" Zikra menepuk kasurnya agar gadis itu segera duduk.
"A-aku ... aku ..." menggigit bibir bawahnya, lalu menundukkan kepalanya.
Zikra mendengus pelan. Sepertinya dia sudah mulai memahami sikap istrinya. Dia kembali membuka lemarinya mengambil baju kemeja dan celana miliknya.
"Pakailah!" menyodorkan pada gadis itu.
"Enggak usah, kita kan mau pulang. Sebaiknya sekarang aja yuk kita pulangnya. Aku udah enggak betah nih."
"Malam ini kita menginap di sini."
"Menginap?" Syifa meneguk salivanya.
“Kenapa? Kok kamu tegang gitu sih, dengar kita akan menginap?” tatapan mata Zikra terlihat tajam menusuk pandangan Syifa.
Gadis itu segera melihat ke arah lain agar pemuda di hadapannya tidak menyadari betapa gugupnya ia akan tinggal
di satu ruangan yang sama. Untuk pertama kalinya sepasang suami istri yang selalu terpisah ruang, kini terperangkap dalam satu ruang dan berbagi udara.
“Uh! Siapa yang tegang? Aku biasa aja tuh,” kilahnya berpura-pura tidak ada masalah. “aku Cuma enggak biasa aja
tidur di rumah orang lain. Karena dulu Bunda sama Ayah enggak pernah mengizinkan aku menginap di rumah orang lain. Kecuali di rumah kerabat terdekat. Itu pun hanya kalo ada acara-acara tertentu aja.”
“Oya?”
Syifa mengangguk mantap.
__ADS_1
Bersambung ....