Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Dia Istriku


__ADS_3

Syifa berjalan mengekor di belakang Zikra dengan tangan saling berkaitan. Gadis itu menundukkan wajahnya


menyembunyikan mata sembabnya sehabis menangis tadi. Sementara Zikra melangkah mantap menuju ruang kerjanya. Dia tidak mempedulikan tatapan ingin tahu para karyawannya yang terpaksa teralihkan.


Sosok bos muda tampan seperti Zikra memang punya daya tarik yang sangat kuat. Terlebih lagi di mata karyawan wanitanya. Bukan hanya dihormati dan disegani tetapi juga digilai. Apalagi selama ini tidak ada kabar yang berhembus tentang statusnya. Hingga mereka menganggap sang big bos masih bujangan.


Namun melihat pemandangan yang tidak biasa itu membuat mereka sedikit heran dan ingin tahu. Seakan mereka berkata, "Siapa sih cewek yang digandeng bos?"


Zikra membuka dan menutup pintu ruang kerjanya dengan kanan kirinya. Dan tangan kanannya menarik serta terpaksa menyeret Syifa masuk. Lantaran gadis itu mendadak menolak masuk dan ingin kabur lagi.


Syifa merasa tidak punya muka setelah penghinaan yang diterimanya tadi. Membuatnya minder setengah mati. Bahkan rasa mindernya saat ini lebih besar dibanding dari yang pernah dirasakannya saat Ayuniatara mencoba merebut Zikra darinya. Hingga ia hanya ingin bersembunyi seperti komang-komang di dalam cangkangnya.


“Kamu dari mana sih, Zik? Tega banget ninggalin aku gitu aja sendiri di sini.” Keluh wanita itu beranjak


berdiri dari sofa panjang di dalam ruangan kerja Zikra. Bergerak menghampiri Zikra.


Syifa langsung menyembunyikan dirinya di balik tubuh kekar Zikra setelah mendengar suara wanita itu berbicara. Ia malu bersitatap dengan wanita itu, mengingat kejadian tadi di depan meja resepsionis. Ia khawatir wanita angkuh itu akan mencemooh dan menghinanya lebih parah lagi di depan Zikra.


“Aku…” wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. Dia tertarik dengan sosok yang ada di belakang Zikra. Apalagi lelaki itu menggenggam tangannya sangat erat seakan tidak ingin melepaskannya.


“Hei, siapa orang yang ada di belakang kamu, Zik?” tanyanya penasaran. "kamu enggak tertarik untuk mengenalkannya padaku?"


“Oh, sori. Tasya perkenalkan ini Syifa.” Zikra menarik tangan Syifa agar maju ke depan, lalu merangkul bahunya erat.


"Apa dia itu pacar kamu?" tanya wanita bernama Tasya itu seraya mengulurkan tangan.


Syifa mengangkat wajahnya sambil menyunggingkan senyum terpaksa dan membalas jabatan tangan Tasya.


“Hmm… kamu gadis kecil yang tadi kan? Yang mengaku sebagai istrinya Zikra kan?” wanita itu langsung


mengintrogasi Syifa sambil terkekeh kecil, mengingat kejadian tadi.


“Apa benar begitu?” Zikra menoleh kearah Syifa mencoba memastikan, yang dijawab anggukan pelan dengan perasaan takut. Ia takut Zikra akan marah setelah mendengar aduan dari wanita yang tidak dikenalnya.


Hati Zikra menghangat, tanpa sadar seulas senyum kecil tersungging di bibir tipisnya. Ada sebersit bahagia


terselip dihatinya. Namun ada rasa kesal secara bersamaan menyelinap masuk menyumbat rongga dadanya. Karena wanita itu sudah mentertawakan istrinya yang dianggap sebagai bentuk penghinaan.


“Hahaha…” Tasya itu terkekeh melihat penampilan Syifa yang terkesan culun, kampungan dan kekanakan. “tapi... kayanya bukan. Karena aku tahu kamu suka tipe cewek seperti apa. Dan untuk dia kayanya... enggak masuk dalam kriteria cewek idaman kamu deh. Sori, aku tarik pertanyaanku yang menanyakan dia pacar kamu atau buka. Tanpa dijawab juga aku bisa tahu jawabannya.” tuturnya penuh percaya diri.

__ADS_1


Syifa menundukkan wajahnya.


Zikra mengepalkan tangannya erat seakan sedang menahan emosi yang hampir membuncah. Dia ingin menyemburkan nafas apinya seperti naga untuk memberi peringatan pada Tasya. Dan berkata, "Jangan pernah menghina istriku, jika ingin selamat."


Namun sentuhan tangan Syifa pada lengannya menyadarkannya dan menoleh. Seakan sedang memohon, "Tenanglah Zik."


Padahal sesungguhnya gadis itu tengah memohon, "Zik, lepaskan tanganmu, tanganku sakit kamu remas seperti ini. Bisa-bisa jari-jari tanganku akan terlepas dari tempatnya."


Tasya mengerutkan dahinya melihat pegangan tangan Zikra, yang bergerak mulai dari bahu hingga menggenggam jemari Syifa semuanya terlihat tidak biasa di matanya. Walaupun dia tidak tidak terlalu kenal akrab. Tapi Zikra memang tidak pernah memperlakukan wanita mana pun begitu spesial selain kepada adik perempuannya. Entah ada hubungan apa antara pemuda itu dan gadis culun di sebelahnya. Sepertinya bukan hubungan mereka yang sederhana.


"Tasya," suara Zikra terdengar rendah dan berat. "perkenalkan dia istriku." mengalihkan pandangannya kepada Syifa. Sontak Syifa menatap Zikra tidak percaya.


Deg! Degup jantung Syifa mendadak berdentum kencang. Ia sangat terkejut mendengar pengakuan Zikra.


Apa? Zikra mengenalkan aku sebagai istrinya? Pikirnya tidak percaya.


"Jadi, aku minta tolong jangan menghinanya lagi."


"Zik." Syifa mencubit lengan Zikra.


Tasya tidak kalah syok. Pengakuan Zikra membuatnya bagai disambar petir di siang bolong. Pasalnya dia tidak pernah mendengar kabar pernikahan Zikra sebelumnya. Bahkan ibu kandung Zikra yang selama ini sudah menjodohkannya (secara sepihak karena Zikra tidak tahu alasan Tasya mendekatinya selama ini) tidak pernah menyinggung masalah gadis yang dekat dengan Zikra.


"Kamu pasti sedang bercanda kan, Zik?" Tasya tidak percaya dan memang tidak ingin mempercayainya. "mana mungkin kamu tiba-tiba memperkenalkannya sebagai istrimu? Ah, aku tahu. Kamu pasti sedang bersandiwara kan, karena enggak mau terjebak rencana Mamamu kan?" kilahnya namun terdengar seakan sedang menghibur dirinya sendiri.


Wanita cantik hampir lebih berusia paruh baya itu sudah berulang kali memintanya meninggalkan Syifa. Dan berniat melakukan pernikahan bisnis dengan gadis cantik dari keluarga kaya untuk memajukan bisnis Surya. Namun selalu ditentang Zikra yang kadung cintanya sudah berkarat dan berurat kepada Syifa. Zikra pun sudah bersumpah tidak akan meninggalkan istrinya sampai hayat di kandung badan.


"Aku enggak pernah bercanda jika berhubungan bisnis dan cinta." jawab Zikra bagai pukulan telak terhadap Tasya.


Tasya speechless.


"Kami sudah menikah. Bahkan sebentar lagi kami akan memiliki anak. Saat ini Syifa sedang mengandung anakku." ucap Zikra serius, sukses membuat Tasya dan Syifa tidak bisa berucap. "aku harap setelah tahu ini, kamu bisa lebih menghormati Syifa sebagai istriku, Nyonya Zikra."


Tasya langsung meraih tas merk X edisi terbatas yang sebelumnya di letakkan di atas sofa. Dia sudah tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama di sisi Zikra di depan istri sah Zikra. Dia pun tidak ingin dianggap pelakor dalam rumah tangga mereka. Meskipun dalam hati dia sangat ingin menjadi pendamping hidup Zikra.


"Oke. Selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku enggak bisa memberikan hadiah untuk pernikahan kalian." ucap Tasya canggung.


"Terima kasih atas perhatian kamu." sahut Zikra tersenyum puas.


"Maaf, aku enggak bisa berlama-lama di sini, karena aku sudah ada janji dengan orang lain. Bye Zik, dan ... nyonya Zikra. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian." begitu kata Tasya dengan senyum palsunya, kemudian meninggalkan ruangan Zikra.

__ADS_1


Tasya mengeluarkan ponselnya setelah masuk ke dalam lift. Menghubungi satu nomor kontak penting dan memberitahu tentang apa yang telah terjadi kepada orang di seberang.


*


Zikra duduk di sofa. Syifa berdiri mematung sambil meremas ujung bajunya.


"Hai, Nyonya Zikra, sedang apa kamu di situ? Ayo, duduk!" Zikra langsung menarik lengan Syifa hingga gadis itu jatuh tersungkur dalam pelukannya. Lalu melakukan serangan mendadak pada bibir ranum istrinya.


"Dasar mesum!" hardik Syifa kesal mendorong tubuh Zikra menjauh darinya.


"Kenapa? Kok jadi esmosi?"


"Kamu enggak sayang melepas cewek cantik yang bodinya montok, semok kayak Mbak tadi?" Syifa balik tanya dengan luapan emosi.


"Oh, kamu mau merestui aku punya istri lagi?" goda Zikra seraya mengerlingkan matanya.


"Boleh. Kalo kamu mau aku kebiri." sahut Syifa.


"Ya ampun ... istri aku kok sadis banget sih, masa suaminya mau dikebiri?" Zikra mencubit pipi tembam Syifa. "kalo aku dikebiri, gimana kita mau punya kesebelasan? Soalnya aku punya planning mau punya anak sebanyak-banyaknya."


"Apa?!"


Zikra terkekeh melihat ekspresi terkejut Syifa yang terlihat imut. Namun malah membuat Syifa geram.


"Kenapa kamu kasih tahu kita sudah menikah sama Mbak Tasya? Juga, bilang aku hamil segala. Padahal aku kan ..." mendadak Zikra menutup mulut Syifa dengan bibirnya hingga tidak bisa melanjutkan ucapannya. Syifa terkejut.


Zikra melepaskan ciumannya. Mengusap bibir Syifa yang basah karena ulahnya dengan ibu jarinya.


"Sayang, aku harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Tasya salah faham. Dan memang kita harus segera mengumumkan pernikahan kita, biar dunia tahu bahwa Muhammad Zikra Al Fatir sudah memiliki istri yang cantik, Nuzulul Syifa Fauziah." tutur Zikra bangga. "untuk ... kehamilan kamu, aku yakin akan segera tumbuh bibit yang aku tanam di dalam rahim kamu." lanjutnya mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Kepedean kamu!"


"Aku harus pede!"


Syifa hanya mencebikkan bibirnya sambil mengedikkan bahu.


"Emangnya kamu enggak ngerasain kejantanan aku?" selidik Zikra dengan tatapan tajam.


"Ih, kamu ngomong apaan sih? Mesum kamu!" Syifa mendorong tubuh Zikra sambil memalingkan wajah.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2