
Syifa masih terjaga. Malam terasa hening. Bunda tertidur setelah mencurahkan semua perasaannya pada Syifa. Meskipun gadis itu kurang mengerti maksud ucapan sang ibunda.
Orang yang sedari tadi melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an dari dalam kamar Uwa sudah tidak terdengar. Suara orang mengobrol di ruang tamu pun sudah senyap. Ruang tengah yang sejak sore tadi dipenuhi bocah-bocah tanggung menonton acara televisi, kini menyisakan pemandangan tidak biasa. Pemandangan yang tidak pernah dijumpainya sebelumnya.
Sekumpulan orang-orang yang tidur di lantai, hanya beralaskan karpet seadanya. Mereka berjejer tidak tentu arah. Mirip sekumpulan ikan asin yang sedang di jemur di bawah sinar matahari. Mungkin mereka tidak kebagian kamar, karena satu-satunya kamar kosong di rumah Uwa, sudah ditempati Syifa dan keluarganya.
Sesekali terdengar suara dengkuran keras, seakan mampu memecah kesunyian malam. Suara nyanyian katak seolah bersahutan dengan senandung suara jangkrik. Syifa menghela nafas panjang. Menatap wajah-wajah lelah yang terbaring di bawah kakinya. Tentu saja mereka lelah mengurus Uwa. Serta lelah menangisi wanita renta yang hidupnya berada di ambang kematian.
Syifa masuk ke dalam dapur hendak mengambil minum. Setelah puas membasahi tenggorokkannya, ia kembali ke kamarnya. Tiba-tiba ia urung, ketika melihat pintu kamar Uwa yang agak terbuka. Kemudian ia berinisiatif untuk menutup pintu.
Lagi, ia urung. Ketika melihat Ayah sedang duduk di kursi samping tempat tidur Uwa. Matanya lelah dan sembab. Tatapan matanya terus tertuju pada wajah pucat di hadapannya. Kedua tangannya tidak henti mengelus tangan keriput yang pernah menyuapinya makan. Tangan yang dulu memberinya belaian lembut.
Ayah agak terkejut melihat kedatangan Syifa. Senyum kecilnya tersungging getir. Menyiratkan kesedihan yang mendalam.
“Ayah belum tidur?” tegur Syifa pelan.
“Ayah enggak bisa tidur, dan enggak akan bisa tidur sebelum Uwa sehat,” sahutnya lirih.
“Tapi, yah …”
“Ssstt! Sudah, sebaiknya kamu saja yang pergi tidur. Ayah enggak apa-apa. Lagi pula kalau Ayah tidur, Ayah malah jadi khawatir, takut Uwa terbangun dan butuh sesuatu, tidak ada yang tahu. Sedangkan yang lain sudah tertidur semua.”
Syifa terdiam. Ia mengerti apa yang dimaksud Ayah.
“Ayah. Untuk masalah besok …” gadis itu tidak berani melanjutkan ucapannya.
“Jangan dipikirkan.”
Hembusan angin segar terasa berhembus menerpa hati Syifa. Ia mengira rencana pernikahannya esok hari akan dibatalkan. Senyum pun menyembul di ujung bibirnya.
__ADS_1
“Semuanya sudah diatur sama Encang Madih dan Encang Sholeh,” tutur Ayah sukses menghancurkan senyum Syifa. Angin segar yang tadi Syifa rasakan langsung berubah menjadi angin gurun yang panas nan gersang. “makanya, sekarang kamu tidur. Supaya besok pagi bisa bangun lebih fresh.”
Syifa langsung beranjak pergi, kembali ke kamarnya.
Nenek atau Uwa, panggilan khas untuk orang yang lebih tua. Walau tidak semua daerah menggunakan Bahasa yang sama. Tapi, begitulah sebutan yang sering diucapkan di kampung halaman Ayah. Wanita yang usianya lebih dari setengah abad itu, sudah sejak lima tahun lalu menderita sakit. Hingga sempat dirawat di rumah sakit.
Namun, untuk kali ini Uwa menolak di bawa ke rumah sakit, dengan alasan bisa dibilang sepele. Yaitu, dia khawatir semua anak dan cucunya tidak bisa menemaninya dengan leluasa. Berbeda bila dirawat di rumah. Tidak ada halangan atau peraturan yang mengikat. Jikalau harus mati, dia akan ikhlas menghembuskan nafas terakhirnya di tengah semua anak dan cucunya.
Alhasil, dengan perlengkapan seadanya wanita tua renta itu menjalani sisa nafasnya. Menunggu sesuatu yang telah lama dinantinya. Dalam diam dia berharap, dapat menyaksikan sebelum malaikat maut benar-benar mencabut ruhnya dari ubun-ubun.
Waktu tidur yang sedikit membuat kepala Syifa sedikit pusing. Ia merasa baru terlelap tidur, tetapi malam sudah buru-buru beranjak pagi. Setelah bangun tidur dan melakukan segala ritual pagi, tidak lupa sholat subuh. Ia beranjak pergi ke dapur.
Rumah Uwa sangat ramai dengan segala aktifitas emak-emak rempong. Ada yang sibuk mencuci piring, memasak nasi goreng, menyiangi sayuran, bahkan ada yang sibuk menyeboki anak balita yang tiba-tiba pup. Belum lagi suara omelan yang terasa memekakkan telinga, menambah keramaian yang melebihi pasar.
Syifa mendengus berat. Pemandangan aneh. Mendadak ia merindukan suasana pagi di rumahnya yang hening. Meskipun terkadang suara Bunda pecah, mengomel seperti bunyi terompet tahun baru, karena ia telat bangun pagi.
“E-eh! Calon pengantin enggak boleh masuk dapur,” titah Cang Rosyidah, istri Cang Sholeh, ketika Syifa hendak membantu para emak yang bekerja.
“Kenapa?” tanyanya heran.
“Nanti masakannya enggak mateng-mateng,” sahut wanita lima puluh tahun lebih itu.
Mitos yang sangat dipercaya di kampung Ayah, apabila ada calon pengantin datang ke dapur, apalagi sampai menyentuh bahan makanan yang ada di dapur, dipercaya akan mengganggu proses masakan. Entah menjadi lama matang, atau malah tidak matang alias masih mentah.
“Udah sono pengantin, duduk manis aja di depan. Nungguin masakan mateng aja,” timpal Cang Saroh, istri Cang Madih.
Bunda menyorong tubuh anak gadisnya, yang dalam hitungan jam akan meninggalkan masa remajanya. Wajah wanita itu terlihat pucat tanpa polesan bedak. Tetapi terlihat lebih tegar dari semalam. Sepertinya dia sudah bisa menerima kenyataan.
Masih segar diingatan Syifa. bagaimana Bunda menolak pernikahannya. Dia rela beradu argument dengan Ayah agar mengurungkan niatnya. Sebenarnya sudah sejak awal dia keberatan dengan rencana perjodohan sang putri. Tetapi dia terpaksa menyetujuinya karena pernikahannya akan berlangsung setelah Syifa sudah siap berumah tangga.
__ADS_1
Sementara saat ini, jangankan untuk siap mengarungi bahtera rumah tangga. Menyiapkan mental menghadapi ujian kelulusan Syifa sudah pontang-panting, mencari tempat bimbel professional untuk membantunya menyerap materi yang akan diujikan. Walaupun ia tidak berharap mendapatkan nilai sempurna, setidaknya gadis penurut itu bisa
mendapatkan ijazah kelulusan tahun ini. karena ia sadar kemampuannya yang standar. Tidak pintar-pintar amat, tapi tidak bodoh dan idiot juga.
Akhirnya, tembok pertahanan Bunda runtuh dan bersedia mengalah. Alasan yang tidak bisa ditoleransi. Permintaan orang yang berada di ujung sakaratul maut, harus dijalankan agar memudahkan jalan ketengannya menuju alam sana. Bunda menangis sejadi-jadinya. Menangisi nasib putri tercinta. Meskipun tidak adil baginya, itulah yang harus dijalani. Toh, cepat atau lambat gadis itu akan menikah pada jodohnya.
Seandainya usia gue bisa kembali ke masa kecil dulu. Mungkin gue enggak perlu sesedih ini. sedih melihat pemandangan berselimut kekalutan. Dan menangisi nasib diri yang tidak bisa memilih antara iya dan tidak.
Di saat kaum ibu sedang sibuk dengan tugas mereka di dapur. Kaum bapak pun tidak kalah repot. Membersihkan rumah dan menggelar karpet di dalam ruangan dikerjakan oleh Cang Madih, dan Cang Idris, kakak Ayah yang lainnya. Sesekali mereka harus mengomeli bocah-bocah tidak mengerti apa-apa, berlarian kesana- kemari
mengganggu pekerjaannya.
Pernikahan yang sebentar lagi digelar, hanya bersifat tertutup. Dihadiri oleh kerabat dekat dan beberapa orang tetangga. Tidak ada pesta mewah. Ataupun kursi pelaminan indah. Semuanya serba sederhana dan swadaya keluarga.
Cang sholeh pergi memberitahu amil kampung yang bertugas sebagai penghulu. Kemudian menjemputnya
datang ke rumah walimatul arusy.
Seorang perias pengantin dengan membawa perlengkapan lenongnya masuk ke dalam kamar Syifa. mendudukan gadis itu di kursi menghadap cermin. Setelah itu wanita yang ahli merubah setiap wajah dengan alat make up-nya bak layaknya seorang penyihir. Begitu lihai menggunakan alat tempurnya seperti serdadu yang sedang berlaga di
medan perang.
Syifa hanya terdiam menikmati setiap pulasan kuas yang menyapu wajahnya dengan bedak dan make up lainnya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya terasa bagai sayatan pisau yang melukai setiap inci hatinya. Ingin rasanya ia menjerit, meneriakkan kepiluan hatinya yang tidak berdaya. Tetapi lidah terlalu keluh untuk berkata-kata, mencurahkan isi hati pada siapa pun. Hanya Nadya yang paling mengerti setiap desahan nafasnya. Sayang, kini gadis berambut keriting itu tidak sedang berada bersamanya. Dia berada nun jauh di sana.
Syifa menggenggam erat semua jemarinya untuk melampiaskan kepiluan dan kegelisahannya yang tidak berujung. Dalam hati ia berharap semua ini hanyalah mimpi semata. Ia pun akan segera bangun serta melupakan mimpi buruk ini. Ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Bersambung …