Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Terror


__ADS_3

Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam dengan kecepatan tinggi muncul membelah jalan raya. Sontak Syifa terperanjat kaget dan berusaha menghindar sebelum bumper depan mobil nyaris menyentuh tubuhnya. Namun ia merasa mobil itu memang sedang menargetkannya, saat mobil itu terus bergerak seiring kemana pun gerak kakinya melangkah.


Sekarang, Syifa tidak lagi bisa menghindar. Benda bermesin serta beroda empat itu sudah siap menghantam dirinya tanpa ampun.


"Kyaaaaa...." pekik Syifa memecah keheningan malam.


“Tolong…. Tolong….” Pekik Syifa tanpa henti meminta bantuan. Berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkannya. Dalam hati ia sempat berdoa agar mobil yang tengah mengejarnya berhenti kehabisan bensin, atau sopirnya lelah, atau apalah yang penting mobil itu tidak mengejarnya lagi. Pikirannya benar-benar kalut.


Rasa lelah sudah tidak bisa ditawar lagi. Seluruh tenaganya telah terkuras habis. Suaranya pun sudah serak tidak bisa terdengar lagi. Kali ini ia benar-benar sudah menyerah. Mungkin hidupnyan akan berakhir…


“Sayang…. Syifa…” terdengar suara Zikra tiba-tiba namun entah berada dimana dia. Syifa mengalihkan pandangannya di tengah kepanikannya ke kanan dan kiri. Tidak ada seorang pun di sana. Hanya dirinya sendiri dan mobil yang terus mengejarnya.


“Sayang… sayang…. Bangun!” pekikkan suara Zikra terdengar lagi terasa memekakkan telinga, Syifa membelalakkan mata melihat suaminya ada di ujung jalan di depannya. Kehadiran Zikra bagaikan oase di padang gurun yang gersang baginya. Segaris senyum melengkung di sudut bibirnya, disertai uraian air bening meluncur bebas dari pelupuk mata membasahi pipinya.


"Bangun... ayo bangun sayang..." pekik Zikra berkali-kali membuat Syifa mengerutkan dahi sampai menautkan kedua alisnya yang hitam.


Syifa menoleh ke belakang untuk memastikan jarak yang terentang antara dirinya dan mobil itu. Ia melihat bumper mobil itu sudah semakin dekat dan sangat dekat dengannya. Tinggal setengah meter... lagi... Dan… akhirnya… moncong mobil itu siap menghantamnya tanpa ampun….


"Kyaaaaakk..." pekik Syifa seraya menutupi wajahnya dari sorot lampu mobil yang sangat menyilaukan matanya.


"Sayang! Bangun!" pekik Zikra lagi lebih keras sukses membangunkan Syifa dari mimpi buruknya.


Syifa membuka matanya lebar-lebar. Tatapannya nanar dan linglung. Keringat dingin membasahi keningnya. Nafasnya memburu seperti orang yang habis lari. Degup jantungnya berdetak sangat cepat. Sekujur tubuhnya sangat lemas tak bertenaga. Seakan ia baru saja mengalami peristiwa yang mencekam.


"Sayang... sayanga! Kamu kenapa?” tanya Zikra mengguncang kedua bahu Syifa. Dia sangat panik saat tiba-tiba istrinya berteriak minta tolong. Padahal dirinya tengah tertidur pulas. Tetapi tubuh dan mulutnya memberikan reaksi yang berbeda.


"Zik... " Syifa tersadar dan langsung memeluk Zikra erat. Ia menangis ketakutan. "huhuhu... Zikra..."


"Sayang... sayang... enggak papa... kamu cuma mimpi buruk aja." Zikra mengelus punggung Syifa untuk menenangkan.


"Tapi aku takut... mimpinya terlalu seram. Seakan begitu nyata. Aku takut hal itu menjadi nyata." sahut Syifa disela tangisnya.


"Kamu tenang aja, sayang... itu hanya mimpi. Cuma bunga tidur semata." hibur Zikra.


"Tapi, semua itu terasa begitu nyata. Mereka ingin membunuh aku..." tukas Syifa gemetaran. Walau pun hanya mimpi tapi terasa sangat nyata membuat ia ketakutan.


Zikra berusaha menenangkan Syifa yang tengah kalut. Serta meminta tidur kembali lantaran malam masih panjang. Namun Syifa yang masih sangat ketakutan enggan untuk tidur kembali. Ia khawatir mimpi itu akan kembali hadir menghantuinya.

__ADS_1


Zikra merapatkan tubuhnya pada Syifa. Mendekapnya erat agar istrinya merasa lebih nyaman. Tiba-tiba dia teringat surat kaleng yang pernah diterimanya beberapa hari yang lalu. Surat itu berisi ancaman. Si pelaku mengancam akan melukai bahkan tidak segan menghabisi orang-orang terdekatnya. Tetapi dia tidak bisa mengaitkan hal itu dengan mimpi buruk Syifa.


Setelah lelah menangis dan meracau akhirnya Syifa tertidur juga. Zikra menghela nafas panjang. Dia hanya bisa berharap di dalam hati, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam mimpi, akan tetap berakhir di dalam mimpi saja. Tanpa harus menjadi nyata.


*


Sudah tiga hari berlalu setelah Syifa bermimpi buruk. Suasana hatinya mulai membaik dan sudah mampu melupakannya. Zikra yang tengah melakukan perjalanan bisnis di luar kota pun merasa tenang. Apalagi dalam perjalanannya kali ini dia akan menghabiskan waktu cukup lama. Antara lima atau bahkan satu mingguan.


Sebelum berangkat ke luar kota Zikra sempat meminta Syifa tinggal di rumah baru mereka. Agar ia tidak kesepian, juga mengurus segala kebutuhannya karena ada asisten rumah tangga yang menemaninya. Bukan Syifa namanya yang tidak mau menurut. Ia begitu keras kepala yang memilih tinggal di rumah lama sendiri. Alasannya ia lebih dekat dengan Mama Dio, wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya itu. Ia yang selalu merindukan Bunda dan Ade serta Ayah, merasa terobati bila selalu berdekatan dengan Mama Dio dan si bocah bernama Dio itu. Mereka yang selalu mengisi hari-harinya merasa selalu berada di tengah hangatnya keluarga.


Selain itu Nadya bisa bebas datang untuk main dan menginap di rumahnya. Karena jarak rumah Nadya dan rumah lama tidak terlalu jauh. Hanya sekali naik angkot dan sedikit berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya. Berbeda dengan letak rumah yang baru dibeli Zikra. Butuh dua atau tiga kali naik angkot yang berbeda. Setelah itu harus disambung naik ojek untuk masuk ke dalam kompleks perumahan elit itu.


Alhasil, Zikra hanya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Dia hanya berpesan agar selalu berhati-hati selama tinggal sendiri di rumah. Syifa pun hanya mengangguk patuh, mengiyakan apa yang dipesankan suaminya untuknya.


*


Entah mengapa sudah dua hari belakangan Syifa merasa ada seseorang yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Baik di rumah maupun di kampus. Tetapi ia selalu mematahkan pemikirannya itu, lantaran tidak ada alasan untuk orang lain mengincarnya. Apalagi sampai melukainya. Meskipun hal itu tetap membuatnya selalu dirundung ketakutan.


PERGILAH DARI KEHIDUPAN ZIKRA. KALAU HIDUPMU INGIN SELAMAT!


"Dasar orang iseng, gak punya kerjaan." umpatnya.


Hari ini Syifa harus mengikuti mata kuliah terakhirnya yang akan dimulai jam delapan nanti. Otomatis ia akan pulang sekitar jam setengah sepuluh malam. Itu pun bila ada angkot yang lewat di depan kampusnya. Bila tidak ia akan memesan ojol.


"Hari yang melelahkan..." imbuhnya sambil bergumam memasuki kelas untuk mengikuti mata kuliah terakhirnya.


"Enak banget si Nadya udah pulang duluan. Dosennya enggak datang, cuma ngerjain tugas doang buat di rumah." keluh batinnya. Meletakkan tasnya di atas meja.


"Fa, di sini udah ada orangnya belum?" tanya Hani teman satu kelasnya yang baru saja tiba, menunjuk kursi kosong di sisi Syifa.


"Kayanya enggak ada. Duduk aja." sahut Syifa.


"Oke. Thanks." Hani duduk di kursi itu. Mengeluarkan buku mata pelajaran yang diampunya.


Syifa mendengus resah. Ia tampak tidak bersemangat.


"Kenapa lo, Fa?" telisik Hani heran.

__ADS_1


"Bete gue. Pulang malam sendirian. Di rumah juga sendirian." sahut Syifa jujur.


"Emangnya kemana ayank embeb elo?" Hani tersenyum. Gadis itu sebenarnya tidak tahu jika Syifa sudah menikah. Karena dia pernah melihat Zikra beberapa kali datang menjemput, ditambah Syifa memperkenalkannya sebagai tunangannya.


"Lagi keluar kota selama seminggu."


"Pantesan elo uring-uringan gitu."


Syifa menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangannya yang telah terlipat di atas meja.


"Udah... jangan sedih. Masih banyak ikan di laut."


Syifa mendongakkan wajahnya menunjukkan sedikit ekspresi terkejut. Ia tersenyum miring.


"Elo pikir gue nelayan? Pake bahas ikan segala. Gue kan lagi sendirian. Ngapain juga elo nyuruh gue minta temanin sama ikan segala?"


"Ih, elo tuh sensi banget sih? Itu kan cuma peribahasa doang."


"Udah ah, gue lagi bete gini diajakin ngomong peribahasa segala."


Hani menggelengkan kepala sambil mendengus pelan.


"Dasar, emang ribet ya, kalo ngomong sama orang yang lagi galau." keluh Hani mengalihkan pandangannya ke depan.


Kelas pun di mulai saat seorang dosen lelaki datang. Suasana kelas pun menjadi lebih serius mendengar penjelasan sang dosen.


Syifa yang benar kata Hani sedang galau, mengikuti mata kuliah itu setengah hati.


Bersambung...


***


🙋 Hai readers... 🙏 maaf ceritanya sampai di sini dulu ya... 🤭🤭🤭. Jangan lupa buat kasih vote, like, komen yang positif ya... kalo bisa sekalian tip-nya ya 😁😁🤗✌️


❤️❤️ Luv u all 😁🥰🥰


Happy reading 🤗✌️

__ADS_1


__ADS_2