Bukan Kisah Siti Nurbaya

Bukan Kisah Siti Nurbaya
Extra Part 1 - Menyapa Anakku


__ADS_3

Pesta penyambutan Syifa sudah berakhir sejak sore tadi, ditutup dengan acara pengajuan tujuh bulanan atas kehamilan Syifa. Ritual adat itu dibuat kecil-kecilan yang dihadiri oleh kerabat dekat dan tetangga sekitar rumah. Agak dadakan memang acaranya karena mengingat situasi dan kondisi yang memang serba dadakan.


Acara selesai para tamu pun berpamitan pulang secara berjamaah. Begitu pula Bonang, Rifa'i, Nadya, Mama dan Dio. Mama dan Papa Surya serta Aini pun ikut pulang setelah yang lainnya pulang. Namun Syifa meminta khusus pada Zikra agar membiarkan Ayah, Bunda dan Ade tetap tinggal. Ia masih rindu dengan mereka, ingin menghabiskan waktu bersama untuk sementara waktu. Zikra langsung menyetujui permintaan istrinya.


Setelah makan malam, Syifa bersama Ayah, Bunda dan Ade duduk di ruang keluarga. Syifa bermanja-manja dipelukan Bunda. Bercerita berbagi kisah yang telah masing-masing lalui selama perpisahan mereka. Senda gurau dan canda tawa pun lolos bibir mereka begitu saja. Kini Syifa mendapatkan kembali kehangatan yang pernah hilang dari hidupnya. Meskipun selama ini Zikra tidak pernah kurang memberinya kehangatan. Tetap saja rasanya berbeda.


Puas bernostalgia dengan kedua orang tuanya dan Ade, Syifa kembali ke kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya dalam keadaan kosong. Entah kemana perginya Zikra yang memang sedari tadi sengaja tidak ikut bergabung dengannya di ruang keluarga. Dia khawatir kehadirannya akan mengganggu kebersamaan Syifa dengan kedua mertuanya dan adik iparnya. Sudah tentu mereka akan bernostalgia tentang masa-masa yang pernah lewati. Sementara dirinya tidak tahu apa-apa dan akan menjadi nyamuk yang tidak diharapkan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Syifa mendengar ada suara gemericik air di dalam kamar mandi. Ia langsung bisa menebak keberadaan Zikra. Kemudian ia berjalan menuju tempat tidur. Memposisikan diri senyaman mungkin di atas kasur yang sudah lama ditinggalinya.


"Sayang, kamu udah kembali?" todong Zikra saat melihat Syifa sudah duduk manis sambil selonjoran di atas tempat tidur. Punggung dan kepalanya disandarkan di kepala tempat tidur. Dia habis mandi masih melingkarkan handuk di pinggangnya, dan handuk kecil dikepalanya untuk mengeringkan rambutmya yang basah.


Zikra berjalan ke arah kasur hendak mengambil baju dan celana, yang telah disiapkan sendiri dan di letakkan sebelum mandi. Dia memang berencana akan mengganti baju tidak di ruang ganti. Tanpa malu dia memakai semua pakaiannya di depan Syifa.


"Iya. Ayah harus istirahat lebih awal. Ade juga enggak diizinin Bunda begadang. Besok dia sekolah takut kesiangan bangunnya." sahut Syifa apa adanya. Ia sedikit canggung melihat Zikra memakai baju di depannya. Sesekali dipalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah yang mejalar di sekitar pipinya.


Pemandangan yang hampir ditemuinya. Selama menikah dan tinggal di satu atap yang sama. Namun diawal kebersamaan mereka tidur di kamar yang berbeda. Bisa dibilang ini adalah perdana Syifa melihat Zikra seperti itu.


"Kenapa harus melengos?" tegur Zikra terkesan tidak senang. Syifa tampak salah tingkah dan agak gugup.


Zikra meletakkan handuk yang telah dipakainya di jemuran khusus handuk yang berada di balkon. Setelah itu dia merangkak naik di atas tempat tidur di sisi Syifa.


"Kamu malu ya? Apa enggak suka sama bentuk tubuh aku yang seksi ini?" goda Zikra membuat Syifa tidak bisa berbicara apa-apa.


"Kamu ngomong apaan sih? Enggak penting banget!" tukas Syifa pura-pura tidak mengerti.


"Oke. Aku emang gak penting buat kamu." Zikra merajuk manja langsung membaringkan tubuhnya dengan memunggungi Syifa.


Melihat sikap Zikra yang mendadak ngambek, Syifa jadi bingung tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.


"Maaf, bukan begitu maksud aku... kamu penting kok buat aku. Penting banget malah. Apalagi sebentar lagi ada anggota keluarga baru yang akan mengisi dan melengkapi kebersamaan kita." Syifa berusaha membujuk sambil mengelus pelan punggung suaminya.


Zikra merasa tersentil dengan ucapan Syifa. Lalu dia membalikkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Syifa. Netranya menatap senyum tulus yang tersungging di bibir wanita muda yang tengah mengandung buah cintanya. Sedetik kemudian, dia membaringkan kepalanya di atas pangkuan Syifa yang masih duduk tanpa merubah posisinya.


Wajahnya langsung berhadapan pada perut buncit Syifa. Bentuk indah dan seksi tempat calon anaknya berdiam manja selama tujuh bulan, dan akan terakhir pada usia sembilan bulan. Dengan sayang Zikra mencium perut Syifa.

__ADS_1


Syifa tidak keberatan dengan tingkah Zikra yang diluar dari kebiasaan. Toh, perutnya menggendut hasil perbuatan Zikra. Ia sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Baik hanya sekedar sentuhan yang berkembang menjadi belaian atau pun ciuman.


"Sayang... kamu lagi ngapain di dalam perut Mama?" tanyanya menyapa calon buah hatinya. Lalu mendekatkan telinganya ke perut Syifa. Seakan sedang menguping aktifitas yang ada di dalam sana.


Syifa tersenyum menahan geli. Sentuhan tangan Zikra yang tidak dikondisikan merajalela di atas perutnya.


"Aku lagi baca buku Papa..." sahut Syifa dengan suara dibuat seperti anak kecil. Lalu mengulurkan tangan kanannya menyentuh rambut Zikra yang hitam dan tebal. Setelah itu melakukan gerakan menyisir dengan lembut.


Zikra berjengit kaget serta merta menatap Syifa heran.


"Lho? Emangnya di dalam perut ada perpustakaannya ya?" tanyanya bingung.


Syifa terkekeh geli melihat ekspresi kaget suaminya.


"Ya enggaklah... kamu pikir perutku perpustakaan umum?"


"Tapi, kamu bilang, anak kita lagi baca..."


Syifa mendengus cepat. "Dari pada aku bilang lagi masak, entar kamu pikir, di perutku ada dapur umumnya." selorohnya.


Syifa tersenyum lebar.


Zikra merasakan di dalam rongga dadanya terdapat perasaan yang masih ada seperti dulu. Getaran, desiran dan debaran yang tidak berkurang sedikit pun. Bahkan terasa lebih dahsyat dari sebelumnya. Mungkin efek sudah lama tidak bertemu. Sekarang dia bisa meluapkan rasa rindunya yang sudah menyiksanya selama berbulan-bulan lamanya.


Tangan Zikra menangkup pipi yang sudah tidak tembam lagi. Tatapan matanya sayu dan sendu. Syifa menyentuh punggung tangan Zikra yang masih menangkup pipinya.


"Sayang..."


"Ada apa?" tanya Syifa lembut.


"Aku rindu kamu." Zikra menurunkan tangannya. Menyentuh pundak istrinya lalu memeluk hangat. Syifa yang mendapatkan serangan tiba-tiba tampak terkejut. Namun setelah itu ia membalas pelukan suaminya.


"Aku juga." sahutnya singkat.


Zikra melepaskan pelukannya masih tetap memegang kedua pundak Syifa.

__ADS_1


"I love you..." suara Zikra terdengar parau dan lirih.


"I love you too." jawab Syifa yang langsung mendapat serangan mendadak lagi. Zikra menarik tengkuk Syifa, menempelkan bibirnya pada bibir Syifa. Keduanya berciupan lembut namun tidak terlalu lama.


Zikra menghujani wajah Syifa dengan ciuman. Mulai dari puncak kepala, turuk ke kening, kedua matanya secara bergantian. Lalu hidung, pipi kanan dan kiri. Terakhir mengecup bibir ranum yang memiliki sejuta candu. Lama dia berkutat di situ. Berawal lembut hingga beralih berpagutan menjadi ciuman panas. Kemudian melepaskan pagutannya saat Syifa hampir kehabisan nafas.


"Sayang..." bisik Zikra di depan wajah Syifa yang dijawab dengan gumaman. "aku kangen... boleh aku melakukan..."


Syifa langsung mengerti maksud ucapan Zikra. Ia langsung mengangguk sebagai jawaban dan persetujuan darinya.


Tentu saja Zikra tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia membaringakan bumil itu di kasur setelah melepaskan baju daster yang membungkus tubuhnya. Tersisa bra dan celana dalam yang melekat. Ditatapnya tubuh yang kini sudah berubah bentuk. Payudara yang membesar nan seksi. Perut yang menjulang membuncit.


Masya Allah maha karya yang luar biasa.


Zikra membuka bajunya sendiri juga celana pendek yang masih menempel di badannya. Tatapannya nanar menatap keindahan yang terpampang nyata di depan mata. Pandangannya sudah berkabut nafsu. Si Otong sudah menegang dan meronta meminta pelepasan.


"Zik, aku lagi hamil..." ujar Syifa membuyarkan konsentrasi Zikra.


"Tenang sayang. Aku akan pelan-pelan supaya kamu nyaman, anakku juga anteng." sahut Zikra menenangkan.


Syifa mengangguk mengerti.


"Sayang... aku mulai ya..."


Syifa menjawab dengan anggukan sebagai persetujuannya. Dan... silahkan berfantasi sendiri ya... 🤭🤭🤭


***


🙋 Hai readers... maaf ya author update nya rada lama. Maklum menjelang akhir tahun gini pekerjaan author di dunia nyata lagi banyak-banyaknya. So, happy reading...


Oya, tolong dukungan para readers yang budiman untuk memberikan vote, liken komen untuk karya author yang lagi ikut kontes.



__ADS_1


__ADS_2