
Tiga bulan kemudian
Berita perihal kematian Syifa sudah tidak lagi wartakan di media cetak maupun media elektronik. Seakan menguap begitu saja tanpa bekas. Orang-orang pun sudah melupakan peristiwa itu.
Universitas tempat Syifa menimba ilmu sudah berjalan normal seperti biasanya. Walaupun sempat heboh pada awal pemberitaan yang akhirnya mencuat dan menjadi trending topic.
Berbeda dengan kisah percintaan Nadya yang hanya diam di tempat. Kisahnya dengan Daniel berlalu begitu saja bagai angin yang menyapu debu tanpa ada kejelasan. Dia pun tidak mau ambil pusing akan hal itu.ย
Sedangkan hubungannya dengan Rifa'i sebisa mungkin mungkin dia akan bersikap senormal seperti sebelumnya. Meskipun masih sulit mengenyahkan perasaan cinta yang pernah ada terhadap pemuda itu.
Nadya tidak menyalahkan Rifa'i atas derita sakitnya ditolak cinta yang ditanggungnya. Karena itu adalah kesalahannya sendiri yang sudah lancang jatuh cinta pada pemuda tampan, bersih, tinggi dan berkacamata minus itu.
Bonang pun tidak pernah menyetujui jika dia benar-benar menjalin hubungan dengan salah satu sahabatnya. Jadi, kini dia berusaha menjadi orang yang ikhlas menerima nasib cintanya yang selalu tanpa balas.
Akhir-akhir ini hampir setiap pulang kerja atau hari libur, Rifa'i sering main ke rumah Nadya. Entah apa tujuan kedatangannya, Nadya tidak pernah mau tahu. Yang jelas pemuda itu akan berakhir di dalam kamar Bonang. Mungkin Rifa'i punya projek bareng dengan Bonang. Pikir Nadya berusaha tidak terusik dengan kehadiran pemuda itu.
"Hai, Nad..." sapa Rifa'i saat Nadya membukakan pintu untuknya. Setelah sebelumnya lelaki berambut hitam dan kelimis itu mengetuk pintu.
"Oh, Bang Fa'i. Silahkan masuk." sahut Nadya ramah. Di dalam dua rongga dadanya masih ada desiran halus menggoda pertahanan hatinya. Rifa'i segera masuk.
Nadya masih berdiri sambil satu tangan memegang gagang pintu dan satu tangan lagi memegang ujung sisi pintu.ย Dia menunggu Rifa'i benar-benar masuk ke dalam rumah. Baru akan menutup pintu.
Sepasang netra Rifa'i bertemu dengan netra Nadya yang sedang menatapnya dalam.
"Bang Bonang ada di kamarnya. Masuk aja." ujar Nadya seakan tahu apa yang akan ditanyakan Rifa'i.
Pemuda itu mengangguk kikuk.
"Makasih, Nad." sahut Rifa'i dengan senyum tulusnya. Nadya membalasnya dengan senyuman kecil.
Hari ini adalah hari Sabtu. Biasanya Bonang akan memanfaatkan hasil liburnya dengan bermalas-malasan di dalam kamar.
Tanpa banyak bicara Rifa'i langsung meluncur masuk ke dalam kamar Bonang.
Nadya mendengus berat. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Tatapan matanya menengadah ke atas plafon kamarnya yang berwarna putih polos.
Pikirannya menerawang jauh melanglang buana ke dunia sana. Dia teringat masa-masa kebersamaannya dengan Syifa.
__ADS_1
Biasanya bila saat libur kuliah seperti ini mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan tak tentu arah. Hanya menghabiskan uang jajan dengan berbelanja barang-barang yang kurang penting. Tentu saja dengan harga yang murah. Memang uang saku mereka tidaklah banyak. Atau bahkan mereka hanya sekedar jalan keluar rumah untuk menghilangkan penat.
Namun sejak Syifa meninggal tidak ada kegiatan seperti itu lagi. Walaupun ada begitu banyak teman yang dimiliki selain Syifa. Semuanya terasa berbeda. Mungkin karena persahabatan mereka yang sudah terjalin sangat lama. Hingga tidak bisa tergantikan oleh siapa pun.
Kini dia benar-benar kehilangan teman curhat. Meskipun dia bisa saja curhat dengan teman yang lain. Tetapi rasanya tidak nyaman.
Tok! Tok! Tok!
Nadya bangkit dari tempat tidurnya setelah mendengar pintu kamarnya diketuk. Dia berjengit kaget kala melihat orang yang berdiri di depan kamarnya.
"Bang Fa'? Ada apa?"
Rifa'i menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pemuda itu tampak sedikit kikuk. Begitu pula dengan Nadya yang susah payah menata hatinya agar tidak lagi terjebak pada lubang yang sama.
"Ehm...anu..."
Nadya mengernyit heran melihat ekspresi wajah Rifa'i yang tampak salah tingkah.
"Apa?" tanya Nadya tidak sabaran.
"Aku... maksud aku... kamu lagi sibuk gak?" Rifa'i balik tanya.
"Kalo gitu, bisa gak temanin Abang ke luar?"
"Keluar?" Nadya mengulangi mengernyit dengan memasang wajah datar. Dalam hati dia berteriak kegirangan.
"Iya. Aku minta tolong ditemanin mencari sesuatu."
"Oh. Kenapa enggak sama soulmate Abang aja?"
"Siapa?"
"Yah... sama pacar dong. Masa sama bang Bonang? Gak masuk akal banget."
Rifa'i terdiam sejenak. Dengan senyum miris dia berusaha tetap terlihat cool.
"Kita udah putus." satu kalimat yang meluncur dari bibir Rifa'i mampu menyirami hati Nadya dengan ribuan bunga-bunga kebahagiaan.
__ADS_1
Ups! Jangan image! Nadya hampir melonjak kegirangan.
"Oh." gadis itu berusaha bersikap acuh.
"Kalo kamu mau, nanti akan aku traktir makan di resto. Gimana?" bujuk Rifa'i.
"Ya ampun... Bang Fa'i. Gue seneng banget diajak jalan sama Abang. Tapi bukan karena gue pengen ditraktir. Tapi emang karena Abang semata." bisik batin Nadya.
"Kenapa sama Bang Bonang aja?" kilah Nadya sok jual mahal.
"Kamu kaya gak tahu aja. Mana mau si Bonang temanin Abang. Katanya dia takut dibilang jeruk makan jeruk."
Nadya terkekeh geli.
"Kalo kamu gak mau, ya udah Abang jalan sendiri aja." tukas Rifa'i sengaja mengetes keteguhan hati Nadya. Pasalnya dia tahu gadis itu diam-diam masih menaruh hati padanya. Apalagi setelah mendengar cerita dari Bonang tentang kisah cinta Nadya yang selalu berakhir dengan kesedihan, membuat hatinya ikut sedih.
Di mata Rifa'i, Nadya adalah gadis yang baik. Ceria dan unik. Hampir sama uniknya dengan Bonang. Selama ini dia memang sengaja menjaga jarak dengan gadis itu. Agar perasaannya tidak berkembang menjadi cinta. Selain itu dia ingin tetap menjaga hubungan yang sudah terjalin baik dengan Bonang. Namun siapa sangka Nadya malah nekat menyatakan cinta padanya. Dengan berat hati dia pernah menolak cintanya.
Rifa'i sempat berpikir gadis itu akan marah dan tidak mau dekat dengannya lagi. Pada kenyataannya Nadya cukup dewasa dalam bersikap. Meskipun di dalam hatinya kecewa, tidak sampai mempengaruhi persahabatan Abangnya dengan Rifa'i. Bonang pun sepertinya tidak keberatan bila Rifa'i mendekati Nadya. Itu terbukti saat Bonang meminta Rifa'i menghibur Nadya yang sepertinya kehilangan semangat pasca kematian Syifa.
*
Zikra duduk di kursi putar di belakang meja kerja kantornya. Setelah kematian Syifa dirinya berubah menjadi workaholic. Bahkan pada hari libur pun dia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Hilang gairah untuk hidup normal. Apalagi membina hubungan baru dengan wanita lain sebagai pengganti Syifa.
Surya dapat mengerti penderitaan yang dialami putranya. Berbeda dengan sang istri yang justru sangat bersemangat menjodohkan Zikra dengan anak teman-teman sosialitanya. Bahkan juga sempat menjodohkannya dengan Tasya.
Sayangnya, semua itu tidak menggoyahkannya pendirian Zikra. Pemuda itu semakin menyibukkan diri dan tenggelam dalam aktivitas di kantor. Banyak proyek yang ditangani di dalam kota maupun luar kota. Bahkan sampai luar negeri. Dalam waktu singkat PT. Surya Abadi Jaya menjadi perusahaan yang mapan.
Sepak terjang Zikra tidak bisa diremehkan oleh lawan bisnisnya. Tentu saja hal ini membuat Haryanto Atmaja kalang kabut. Banyak tender berharga milyaran rupiah yang gagal diraih oleh perusahaannya. Akibat kalah saing dengan PT. Surya Abadi Jaya.
Haryanto Atmaja salah mengira, bahwa setelah kematian Syifa maka PT. Surya Abadi Jaya yang berada di bawah kepemimpinan Zikra akan jatuh terpuruk dalam kebangkrutan.
"Sial!" Haryanto Atmaja menggebrak meja kerjanya. Dia sangat kecewa dengan kinerja bawahannya yang dianggap tidak becus memenangkan tender itu. Akibatnya tidak sedikit kerugian yang dialami oleh perusahaan.
Bersambung...
***
__ADS_1
๐Hai readers... author update lagi nih. Semoga para readers sekalian suka dengan ceritanya. Jangan lupa vote, like n komen positifnya agar author tambah semangat update. โค๏ธโค๏ธ Luv u all... ๐๐
Happy reading... ๐คโ๏ธ๐๐